Watergius's Journal

The world as I see it

Email dari Nicolas Pierre

Pagi ini aku menerima email dari temanku Nicolas Pierre:

Di Brooklyn, New York ada sebuah sekolah khusus untuk anak-anak yang terbelakang bernama Shush.   Ada anak-anak yang sepanjang kariernya tetap di sekolah itu, tetapi ada pula yang disalurkan ke sekolah biasa. Pada suatu acara santap malam yang digelar untuk menggalang dana, ayah dari salah seorang murid Shush menyampaikan pidato yang tak akan pernah terlupakan oleh para hadirin.

Setelah menyampaikan penghargaan terhadap sekolah beserta pengabdian para stafnya, ayah tersebut berseru dengan lantang: ”Di manakah kesempurnaan anak saya Shaya? Segala sesuatu yang Tuhan kerjakan, dikerjakanNya dengan sempurna. Namun anak saya tidak bisa mengerti sebagaimana anak-anak yang lainnya.   Anak saya tidak bisa mengingat fakta dan angka sebagaimana halnya anak-anak yang lain. Di manakah kesempurnaan Tuhan?” Para hadirin terkejut mendengar pertanyaan tersebut, mereka tersentuh oleh kepedihannya dan terdiam oleh karena pertanyaan yang menusuk hati itu.   “Saya yakin,” lanjutnya, “bahwa ketika Tuhan membawa ke dunia seorang anak yang seperti ini, kesempurnaan yang dicariNya terletak di dalam diri orang lain yang bereaksi terhadap anak ini.”

Selanjutnya dia mengisahkan cerita berikut  mengenai putranya: Pada suatu petang Shaya dan ayahnya berjalan melewati lapangan di mana beberapa anak yang Shaya kenal sedang bermain bisbol.   Shaya bertanya, “Menurut ayah apakah mereka akan memperbolehkan aku bermain?”  Ayah Shaya tahu bahwa anaknya sama sekali tidak atletik dan biasanya kebanyakan anak tidak memilih dia masuk ke dalam regu mereka. Tetapi di lain pihak, dia tahu jika Shaya diperbolehkan bermain maka Shaya akan merasa lebih percaya diri.  Ayah Shaya menghampiri salah seorang anak di la pangan dan bertanya kalau Shaya boleh ikut bermain.   Anak ini melihat berkeliling–ke teman seregunya—untuk memperoleh jawaban.  Tidak mendapat tanggapan, dia mengambil keputusan sendiri dengan mengatakan, “Kami sudah kalah enam putaran dan kini sedang berada di putaran ke delapan. Mungkin dia bisa masuk tim kami dan kami akan mencoba memberinya giliran memukul bola pada putaran ke sembilan.

Ayah Shaya sangat gembira dan Shaya tersenyum lebar.   Shaya disuruh mengena kan sarung tangan dan masuk ke tengah lapangan.

Pada akhir putaran ke delapan, tim Shaya berhasil mencetak beberapa kemenan gan tetapi masih tertinggal tiga putaran.  Pada akhir putaran ke sembilan,  tim Shaya berhasil mencetak kemenangan lagi. Sekarang ketinggalan mereka semakin menipis dan ada banyak potensi untuk memenangkan pertandingan. Berikutnya adalah giliran Shaya untuk memukul bola.  Akankah timnya membiarkan Shaya memukul bola den gan resiko kehilangan kesempatan untuk menang?

Dengan tak terduga, alat pemukul bola diberikan kepada Shaya.   Semua orang tahu bahwa mustahil bisa menang karena Shaya tidak tahu bagaimana memegang pe mukul bola apalagi memukul bola.  Namun demikian, ketika Shaya berdiri di atas bidai; pengumpan bola maju lebih dekat ke bidai induk dan melempar bola perlahan-lahan agar paling tidak Shaya dapat menyentuh bola.   Lemparan pertama datang, Shaya dengan kakunya mengayunkan pemukul dan bola tidak terpukul.   Salah seorang tim Shaya datang membantu dan bersama-sama mereka memegang pemukul bola, serta menghadapi pengumpan bola sambil menunggu lemparan berikut.  

Pengumpan bola maju selangkah lagi dan perlahan-lahan mengumpan bola ke arah Shaya.   Sewaktu bola meluncur, Shaya dan temannya mengayunkan pemukul dan bersama-sama berhasil mengenai  bola yang dengan perlahan bergerak ke arah pelem par.   Pelempar memungut bola dan sebetulnya dengan mudah dapat melemparkannya kepada orang di bidai pertama.   Maka Shaya pun harus keluar dan pertandingan akan dianggap selesai.  

Sebaliknya pengumpan memungut bola dan melemparkannya jauh ke lapangan di luar jangkauan orang di bidai pertama.   Semua orang berteriak, “Shaya, lari ke bidai satu, lari ke bidai satu!” Seumur-umur, Shaya belum pernah berlari ke bidai satu. Dia berlari-lari menyusuri garis batas dengan mata terbuka lebar dan terkejut.

Setibanya di bidai satu, penjaga lapangan kanan sudah menguasai bola.   Shaya terus berlari.  Sebetulnya penjaga lapangan kanan bisa melemparkan bola kepada orang di bidai  kedua, yang kemudian dapat melemparkan bola ke Shaya serta men galahkannya.   Tetapi orang ini faham akan maksud dari pengumpan bola dan ia lalu melemparkan bola jauh melewati orang di bidai ketiga.  

Semua orang berteriak, “Shaya, lari ke bidai dua, lari ke bidai dua!”   Shaya ber lari menuju ke bidai dua, sementara pemain-pemain lainnya berlari-lari mengitari bidai-bidai yang menuju ke arah bidai induk. Sesampainya Shaya di bidai dua, penghalang tim lawannya menghampiri dia dan menyuruhnya berlari ke bidai tiga sambi berseru, “Lari ke bidai tiga!”

Ketika Shaya menyelesaikan larinya ke bidai tiga, anak-anak dari kedua tim ber lari di belakangnya sambil berteriak, “Shaya lari ke bidai induk!” Shaya berlari ke bidai induk, menjejak di Klempeng induk dan semua anak yang berjumlah delapan be las itu mengusung Shaya di atas bahu mereka. Shaya menjadi pahlawan. Dia baru saja memukul bola yang membawa kemenangan bagi timnya.

“Pada hari itu,” ayah Shaya berkata dengan suara lemah lembut sementara airmata bergulir di kedua belah pipinya; kedelapan belas anak tadi mencapai taraf kesempur naan Tuhan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: