Watergius's Journal

The world as I see it

Jalan-jalan eksternal (part-1)

Dah jam 4 nih, kok pada belum datang juga. Bukannya seharusnya berangkat jam 4 ya, gue mulai menggerutu sendiri.Gue ngelihat langit, semakin gelap dan awan bergerak dengan cepat. Wah, bisa kacau nih semua rencana hari ini.

Berbarengan dengan datangnya rintik-rintik hujan, sang komandan keberangkatan, Manu, pun kelihatan. Semakin dekat dia, semakin menjadi-jadi pula sang hujan mengeluarkan tangisannya. Gue hanya bisa berharap hujan nih akan segera reda.

“Eh, travel dah di pesan belum?”, gue bertanya pada Manu. Jawaban yang paling tak diinginkan pun dilontarkan olehnya.. What?? oke, oke, gue sempat panik. Langsung gue ambil hp dan bersiap menelepon. Gue buka phone book, cek sana cek sini. Gue senyum-senyum sendiri. Eh, ternyata gue gak punya no telp travel, adanya Cipaganti bandara doang.. Boleh sih, kita naik travel ke bandara, trus dari bandara naik Damri ke stasiun Gambir, tapi buat apa boo… habis-habisin duit n gak praktis sama sekali.

“Oke, lo punya no telp travel gak?”, gue tanya ke dia. Adanya Baraya doang, kata dia. Langsung tuh nomor gue telepon. Lagi-lagi terjadi hal yang tidak menyenangkan, semua travel buat hari nih dah penuh semua. “Terima kasih ya mbak”, gue pun mengakhiri pembicaran dengan si mbak recepsionis. Bersamaan dengan itu, sms masuk ke hp gue. Ternyata no telp travel yang tadi gue minta dari teman gue yang anak Jakarta gak bertepuk sebelah tangan (halah, emangnya kisah cinta … ).

Xtrans, ******, begitulah yang tertera di layar hp gue. Gue coba telepon, dan coba tebak apa yang terjadi.. “Lo dapat travelnya, kita jadi berangkat sore nih dan semuanya beres”.. well, hampir mendekati sih. Setidaknya berangkatnya tetap jadi sore nih, namun yang pastinya bukan dengan travel. Dah penuh juga boo, begitulah kata si recepsionisnya.. (gokil juga ya si recepsionis, pakai kata boo… haha, gak penting banget)

Tinggal dua pilihan nih, naik kereta atau bus. Setelah melalui analisis SWOT ,ci elah, keren gak tuh namanya… , bus pun menjadi solusi terbaik. Perlu diketahui, sampai pada saat keputusan ini ditetapkan, yang dua lagi tuh belum juga nongol…

***********

Pukul 6 sore, sambil berharap akan keajaiban, kami berempat menunggu dengan setia di depan halte bus Boromeus. Keajaiban apakah??? teng.. nenengg… berharap bahwa bus Damrinya ada yang molor sehingga jam segitu masih ada yang mengantarkan penumpang ke Leuwi Panjang. Tapi, hal itu tak kunjung terjadi. Bus Damri terakhir telah lewat di depan mata kami 10 menit sebelum Erick  datang.. kini, harapan untuk hanya mengeluarkan Rp 1800 ke Leuwi Panjang pun hilang sudah..

Perdebatan seru antara Olo, Manu, dan Erick di angkot menimbulkan rasa keingintahuan mbak yang duduk di sampingku.. Tak jarang dia melirik, atau bahkan tersenyum kali ya, hanya dia dan kegelapan malam yang tahu. Sebelum sampai tujuan, dia pun memperkenalkan diri dan mengatakan kalau dia adalah orang Medan.. Wah, ada ito kita rupanya nih, otak gue secara langsung mengeluarkan pendapat tu. Sayangnya dia gak memperkenalkan dirinya dari awal sebab tak lama kemudian dia pun meninggalkan kami berempat…

*******

Pukul 23.00, bus Primajasa yang kami naiki pun memasuki terminal Lebak Bulus, tujuan akhir kami. Begitu menginjakkan kaki, kami langsung disambut oleh sosok yang tak asing lagi.. Siapakah dia??? o..o… siapa dia.. (kok jadi kaya kuis jadul yang dulu sering gue tonton ya.. haha). Anyway, sosok tuh bukanlah yang kami nantikan. Sesuai dengan sms Gabby a.k.a Gabriella Allodia (sang tuan rumah yang telah berbaik hati menampung kami dan 2 orang “petualang tanggung” lainnya di rumahnya).. Kenapa “petualang tanggung”, ntar ada kisahnya.

Di parkiran, mobil AVP Silver tuh terparkir. Dilihat sekilas, penumpangnya kayanya sedang sibuk menonton. Saking sibuknya, kami yang telah berdiri tepat di luar mobil pun tak dilihat. Akhirnya, setelah ditelepon, barulah mereka sadar.. kalau gue pikir2, ternyata telepon gak hanya alat komunikasi jarak jauh lagi nih, jarak dekat juga … haha

Badan emang letih, tapi perut kelaparan euy. Dengan sangat bijaksananya Gaby mengajak kami ke tempat makan. Langsung tuh menu kami kerubunin. Saat sedang asyik melihat daftar minuman, mata kami semua tertuju pada semua minuman, Tequila.

Gue tahunya tequila tuh minuman keras yang biasa diminum di bar2 gitu, setidaknya dari film2 yang pernah gue tonton begitulah. Gile juga nih tempat, ngejual kaya ginian. Manu, yang saking penasarannya (sebenarnya  semua sih penasaran) mengambil inisiatif untuk memesan. Saat si mas pelayannya mencatat pesanan kami + Tequila tuh, dia kayanya biasa aja. Wah, gue mulai ngerasa ada yang gak beres nih.. hmm..

Pesanan kami pun datang, plus segelas es teh manis. Karena ngerasa gak ada yang pesan es teh, gue pun nanya ke masnya. Terjawab sudahlah misteri tequila tersebut. Pingin tahu apakah itu tequila versi mereka, ini dia gambarnya :

ya, benar. Segelas es teh manis. Gokil ga tuh.. Namanya keren banget, tapi ternyata hanya segelas teh..

************

Saat sampai di rumah Gaby, mamanya (yang gue panggil tante, biar keren kedengarannya. tapi, bukannya orang sini emang biasa panggil tante ya.. gak tahulah) sudah menunggu kami. Satu kalimat dari tante itu yang selalu gue ingat, “santai aja”🙂

Malam ditutup dengan tidur di kamar yang adem. Jauh dari bayangan gue. Gue pikir di Jakarta bakalan panas, tapi malah dingin banget boo.. Mau tahu kenapa? Coba pikirkan sendiri.. apalagi coba yang bisa membuat kamar doang dingin padahal di luarnya panas.. ya, betul, buka baju saat tidur… hahaha.. kagaklah, emangnya di rumah lo. Sopan dong boi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: