Watergius's Journal

The world as I see it

I am sorry for my bad English

Jika Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, masih perlukah kita untuk menguasai bahasa Inggris? Mungkin tidak. Namun, bagi sebagian orang, hal itu terlepas dari pengaruh tersebut. Kejadian ini sama halnya dengan adanya “bule” yang menguasai bahasa Indonesia (bahkan ada yang sampai menguasai bahasa daerah tertentu).

Kembali ke realitas, oke, ternyata Bahasa Inggris adalah bahasa internasional, maka sudah seharusnyalah kita mempelajarinya. Dan salah satu tujuan akhirnya adalah kita dapat menggunakannya untuk berkomunikasi dengan native speaker.

Kini coba bayangkan Anda sedang berbicara dengan native speaker atau mungkin terlalu susah ya. Bagaimana kalau kita ganti kasusnya saat Anda menghadiri sebuah seminar dengan pembicaranya adalah mereka dan Anda ingin menanyakan sesuatu. Sudah terbayang?

Bagi Anda yang dapat menyampaikan pertanyaan Anda dengan lancar seperti layaknya bertanya dalam Bahasa Indonesia, salut buat Anda. Namun, tak sedikit yang masih terbata-bata, bahkan tidak lagi memperhatikan penggunaan tenses. Apakah Anda termasuk salah satunya? Pernahkah kalimat ini Anda ucapkan di bagian akhir kalimat: “I am sorry for my bad English” atau kalimat sejenis yang intinya sama, yakni meminta maaf karena Anda belum dapat menggunakan Bahasa Inggris sebaik mereka.

Siang ini, saat sedang mengikuti general lecture dengan pembicara seorang entrepreneur dari Amerika, Steven R. Koltai, salah seorang peserta mengatakan persis kalimat di atas setelah selesai menyampaikan pertanyaannya. Sebelum Mr.Steven menjawab pertanyaan itu, sang moderator (seorang dosen SBM) menyampaikan sesuatu hal yang sangat bagus menurut saya..

“Jangan meminta maaf karena bahasa Inggris Anda buruk. Anda harusnya bangga Anda dapat berbicara dalam bahasa mereka sementara mereka tidak bisa berbicara dalam bahasa kita”.(kalimatnya mungkin tidak persis sama, namun intinya adalah seperti itu)

Sedikit arogan mungkin, namun saya rasa ada benarnya juga. Mungkin bahasa kita belum memiliki kekuatan yang cukup untuk dapat bersaing di level internasional. Namun saat kita masih di Indonesia, bahasa Indonesialah yang lebih tinggi levelnya.

Melakukan kesalahan dalam pengucapan atau penggunaan kalimat atau apapun dalam belajar bahasa adalah hal yang wajar. Namanya juga belajar. Namun, saat kita salah dalam menggunakannya bukan berarti kita minta maaf. Baru kalau mereka (lawan bicara kita) melakukan koreksi kita menerima koreksi itu dengan lapang dada. Dan hal ini berbeda jauh dengan meminta maaf karena menggunakan bahasa mereka kurang baik. Well, Anda bukan mereka dan bahasa yang Anda dengar sejak lahir bukanlah bahasa mereka.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: