Watergius's Journal

The world as I see it

Tujuan Hidup Seorang Kaya dan Nelayan Miskin

Artikel yang sangat menarik ini dikirim oleh Julius Silalahi dari Riau ke email bataknews [at] gmail [dot] com, dan kemudian saya posting ulang:

Syahdan, seorang nelayan, umur 40-an, bertelanjang dada, sedang duduk santai di bawah teduh gubuk pantainya, pada kursi kayu tua yang tak bercat. Matanya menatap jauh ke hamparan lautan, terpampang indah di depannya. Si nelayan sangat menikmati pemandangan sore itu. Semilir angin yang centil menggoyang rambutnya. Nah, aku ingat sekarang, tertulis juga, di sampingnya segelas kopi hangat dan gorengan ubi menambah nikmat suasana santai. Kala sebentar, sang nelayan tersenyum lucu, saat memainkan pasir putih indah di dekatnya. Sangat kontras dengan kulitnya yang menghitam legam, bukti hari-harinya beratapkan langit dan bertemankan terik hari.

Pikirannya nyaman, jiwanya tenteram. Sungguh, kalau kau duduk juga di sampingnya. Maka rasakanlah aroma bahagia yang dia alami, dan itu hampir tiap hari. Dia bahagia, tak merasa kekurangan untuk ukuran yang dia buat. Mampu menghidupi anak istrinya dengan sederhana.

Lalu, sejurus di kejauhan, tubuh samar seseorang menelusuri garis pantai. Semakin dekat, dan sekilas gambaran orang kota sana. Si lelaki, yang berkulit putih bersih, rambut tersisir rapi, pakaian pantai yang pantas tapi pasti mahal, hampir melintasi si nelayan.

Entah mengapa, si lelaki melihat juga si nelayan. Sesaat kemudian si lelaki membelokkan jalannya mendekat. Tersenyum dan menyalami si nelayan, berbasa-basi sebentar, lalu duduk di bongkahan balok kayu di sampingnya. Ternyata lelaki itu seorang pengusaha kaya. Inilah perbincangan mereka.

Pengusaha: Bapak nelayan sini ya? Punya berapa perahu pak?

Nelayan: Iya pak, perahu saya hanya 1, satu-satunya untuk mencari ikan.

Pengusaha: Selama jadi nelayan apa pernah punya perahu lain?

Nelayan: Hanya itu pak.

Pengusaha: Tidak punya keinginan untuk menambah perahu pak?

Nelayan: Ah, tidak pak.

Pengusaha: Saya dulu bekerja dari nol juga. Lalu saya bekerja keras, berpikir keras. Lambat laun saya bisa membangun usaha sendiri. Tambahlah semangat saya. Tambah keras pula usaha saya. Dengan cepat usaha saya jadi besar. Karyawan yang awalnya hanya beberapa, sekarang sudah ratusan. Saya buka cabang di mana-mana. Tentu semakin besarlah penghasilan saya.

Sekarang saya punya banyak perusahaan. Saya angkat beberapa orang yang mampu kelola perusahaan. Saya hanya mengawasi saja. Dan, sekarang saya bisa menikmati kerja keras. Saya bisa santai, mengendurkan otot-otot dan pikiran, wisata seperti ke pantai ini. Hari-hari menikmati hidup.

Seandainya bapak seperti itu sekarang. Bapak bekerja keras sehingga tangkapan banyak. Sebagian hasil penjualan bisa ditabung. Lalu setelah cukup, bapak bisa beli perahu baru. Tentu bisa dikelola tetangga dan hasilnya dibagi. Dengan kerja keras terus, bapak pun bisa beli perahu baru lagi, lagi, dan lagi. Hingga, setelah uang mencukupi, ditambah menjual beberapa perahu jika perlu, bapak bisa beli kapal ikan kecil. Bawahan bapak mulai banyak. Daerah tangkapan makin luas dan tangkapan pun makin besar.

Penghasilan masuk pun makin banyak pula. Hmm…, dengan pengelolaan yang baik, dan kerja yang semakin keras, bapak bisa menambah kapal ikan kecil baru. Dan saatnya tak lama kemudian, bisa membeli kapal ikan samudra. Dari sini, hanya menunggu waktu yang tak lama, bapak bisa menambah kapal-kapal ikan samudra lain.

Terakhir bapak punya armada kapal ikan besar, mengarungi samudra, mengisi karung-karung penghasilan yang sudah melimpah ruah. Pada akhirnya, bapak tidak perlu mengelola langsung semua urusan usaha. Serahkan pada orang yang tepat. Bapak hanya mengawasi dan dan menikmati hasil kerja keras selama itu. Dan, bapak pun bisa mulai bersantai, menikmati hidup dengan tenang dan nyaman, bersenang-senang dengan keluarga.

Nelayan: Ah Pak, untuk apa saya harus bekerja sekeras itu kalau tujuan akhir hidup saya untuk bersantai, menikmati hidup dengan tenang dan nyaman, bersenang-senang dengan keluarga. Toh selama ini saya juga mendapatkannya, merasakannya. Sama seperti sekarang saya duduk di sini, duduk santai dengan bapak.

sumber:

http://www.blogberita.com

http://bataknews.wordpress.com/2007/08/04/tujuan-hidup-seorang-kaya-dan-nelayan-miskin/

One response to “Tujuan Hidup Seorang Kaya dan Nelayan Miskin

  1. poberson naibaho November 20, 2011 at 9:08 am

    Walau sekarang Indonesia sedang diterpa badai, Tapi tanpa badai itu kita tidak akan tahu seberapa besar Tuhan bekerja dalam kehidupan kita.🙂

    http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/11/15/indonesia-kolam-susu-tapi-nelayan-dan-petani-miskin/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: