Watergius's Journal

The world as I see it

Mau Kuliah di ITB, USM atau SNMPTN ?

Tulisan ini berawal dari sebuah notes di facebook yang diambil dari situs resmi ITB dengan judul BIAYA PENDIDIKAN BAGI PESERTA SNMPTN 2011 JALUR UJIAN TULIS [1].
Sudahkah Anda membuka dan membaca isinya ?

Kalau belum, ini saya coba berikan cuplikan isi beberapa hal atau poin yang menurut saya cukup menarik :

  1. Berdasarkan perhitungan, satuan pembiayaan pendidikan di ITB rata-rata Rp. 27 juta/mahasiswa/tahun. Artinya bila seorang mahasiswa lulus tepat waktu (4 tahun) diperlukan biaya sebesar Rp. 108 juta per mahasiswa.
  2. Untuk tahun 2011 BPM (Biaya Pembayaran Muka – dibayar sekali saja pada awal pendaftaran) ditetapkan Rp. 55.000.000,- per mahasiswa dan BPP (Biaya Penyelenggaraan Pendidikan) Rp. 5.000.000,- per mahasiswa per semester.….
  3. Orang tua yang memerlukan bantuan untuk pembiayaan putra/putrinya yang diterima di fakultas/sekolah bukan SBM dapat mengajukan permohonan subsidi untuk pembayaran BPM yang akan dipertimbangkan sesuai dengan bukti-bukti yang menunjukkan kemampuan ekonomi orang tua. Besarnya subsidi akan bervariasi: 25%, 50%, atau 75%.

  4. Sesuai dengan ketentuan pemerintah, ITB juga mempersiapkan subsidi 100% baik BPM maupun BPP, bagi minimum 20% mahasiswa yang akan diterima, yakni untuk lebih dari 600 mahasiswa baru, termasuk untuk mahasiswa SBM. Subsidi ini diberikan kepada mahasiswa baru yang berasal dari keluarga golongan ekonomi lemah dengan penghasilan keluarga yang tidak memungkinkan membiayai studi anggota keluarganya di perguruan tinggi.

Mari kita coba bahas sedikit lebih dalam tentang poin-poin di atas

1. Satuan pembiayaan pendidikan, apa itu? Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan :

a) Pasal 42 ayat (1) : Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan

b) Pasal 62

• Ayat (1) : Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal

• Ayat (2) : Biaya investasi satuan pendidikan … meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap

• Ayat (3) : Biaya personal … meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan

• Ayat (4) : Biaya operasi … meliputi :Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi,pajak, asuransi, dan lain sebagainya.

Oke, data mengenai biaya personal telah kita ketahui dari poin nomor 2 (BPP). Sedangkan data mengenai kedua jenis biaya lagi tidak ada informasi lebih lanjut. Namun, dapat kita katakan bahwa biaya BPM sebesar 55 juta rupiah pada poin nomor dua tersebut merupakan salah satu komponen biaya, entah itu biaya operasi maupun investasi. Lalu, dari mana datangnya kisaran angka Rp 108 juta tersebut? Bila kita mengalikan besarnya biaya BPP yakni Rp 5 juta per semester dengan 8 (4 tahun), akan kita dapatkan nilai sebesar Rp 40 juta dan ditambah dengan BPM sebesar Rp 55 juta, maka total biaya pendidikan selama 4 tahun adalah Rp 95 juta. Namun, seperti saya katakan sebelumnya, data-data untuk mendukung kedua jenis biaya lainnya masih kurang lengkap.

2. BPP sebesar Rp 5 juta ini berarti sebanyak apapun SKS yang kau ambil, biaya yang kau bayarkan tetap Rp 5 juta, beda halnya dengan mahasiswa ITB angkatan 2009 dan 2010 yang BPP-nya dihitung dari banyaknya SKS yang diambil. Dengan sistem ini, biaya yang akan dikeluarkan secara tidak langsung sedikit lebih besar. Hal ini terutama akan dirasakan saat berada di semester akhir, dimana beban sks tinggal sedikit lagi.

3. Kenapa besarnya subsidi yang diberikan hanyalah sebesar 25%, 50%, dan 75%. Coba kita ambil subsidi yang paling besar, 75%, yang berarti besarnya subsidi tersebut adalah sekitar Rp 41,25 juta. Dengan subsidi ini, sisa biaya yang perlu dibayarkan masihlah sebesar Rp 13,75 juta. Wow, nilai ini masihlah cukup besar, jangankan bagi golongan ekonomi lemah, bagi yang golongan menengah aja masih harus mempertimbangkannya lagi.

Lalu, pada poin berikutnya, ternyata ada subsidi sebesar 100%. Kenapa penulisannya dipisah? Ternyata karena subsidi itu hanyalah untuk 20% dari total mahasiswa yang diterima satu angkatan. Saya tidak tahu dari mana besarnya jumlah 600-an mahasiswa itu diperoleh. Pada tahun saya masuk ITB dulu (2007), jumlah mahasiswa S1 yang diterima hanyalah sekitar 2000-an orang, yang berarti 20%-nya hanyalah sekitar 400-an orang. Entahlah jika mahasiswa S2 dan S3 turut diperhitungkan juga.

Dan satu hal lagi yang membuat pengurusan beasiswa semacam ini susah adalah pengurusan surat keterangan tidak mampu dari daerah asal. Kita ambil contoh kasus.

Andaikan seorang anak memiliki orang tua yang bekerja sebagai PNS dan tinggal di sebuah kota maupun daerah kecil yang mayoritas penduduknya adalah petani. Tergolong manakah kondisi mereka? Keluarga mampukah ? Menengah atau kurang mampu? Dibandingkan dengan penduduk sekitar mereka, mereka termasuk menengah atau bahkan lebih. Namun, saat sang anak datang ke kota besar dan dihadapkan dengan kondisi seperti ini, masihkah dia tergolong mampu? Dan masalah sebenarnya akan muncul saat dia meminta orang tuanya mengurus surat keterangan tidak mampu dari ketua RT/RW tempat tinggalnya. Pendidikan itu memang mahal, namun terkadang bukan dari segi biayanya saja tetapi juga menyangkut harga diri.

******

Pada tanggal 12 Januari 2011, judul salah satu artikel di website www.berita-terbaru.com berbunyi seperti ini : [Mantabs gan..] ITB Hanya Terima Mahasiswa Program Sarjana Melalui SNMPTN. Secara sederhana, tanpa perlu membaca isi artikel secara keseluruhan, kita dapat menebak bahwasanya ada kepuasan atau perasaan senang karena ITB hanya menerima mahasiswanya lewat jalur SNMPTN. Namun, sepertinya itu hanyalah euforia sementara sebab pada saat artikel itu ditulis ITB masih merembukkan rencana selanjutnya terkait keputusan tersebut, seperti masalah keuangan, beasiswa, dan program studi yang selama ini hanya menggunakan penyaringan mandiri [2].

Ada salah satu poin dari artikel di atas yang cukup menarik, yakni : “Atau seperti yang ditulis oleh Billy Richardo pada akun nya @billyrch: USM ITB GA ADA LAGI>>>> SPEKTAKULAR>>> itb dpt duit drmana donk? “ [2].

ITB dapat duit dari mana? Haha.. Bahkan orang umum saja sudah dapat dengan mudah menyimpulkan bahwasanya ITB itu lagi membutuhkan duit. Dan memang benar bahwa salah satu cara yang ditempuh sebelumnya adalah lewat USM. Seperti yang dikatakan oleh Pak Adang Surachman, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik, dalam petikan wawancara berikut:

Kemudian timbul pertanyaan, apakah ide USM ini berangkat dari kebutuhan akan uang? Adang menjawab dengan tegas, “Bukan!” Namun kemudian beliau melanjutkan,’ Tapi begini, menurut saya sih, (uang, Red.) itu iya juga. Jadi di USM itu, ada USM 1 dan USM 2 dan kriteria yang digunakan salah satunya adalah uang.” [3]

Kalau begitu, seharusnya ITB tetap saja membuka jalur USM. Kenapa? Karena setidaknya masih akan tersedia jalur SNMPTN yang biayanya tidak gila-gilaan, walaupun persentase totalnya dari seluruh mahasiswa ITB akan semakin kecil. Dan karena masih banyak orang berduit di luar sana yang tahu bahwa ada jalur masuk ke ITB yang salah satu kriterianya adalah uang. Kenapa tidak membebankan ke mereka saja?

Kalau sudah sampai kepada keputusan begini, siapa yang salah ? ITB-kah? Pemerintah? Atau undang-undang?

“Kalau di luar negeri dana pendidikan itu 90 persen datang dari pemerintah. Itu idealnya, tapi kita kan tidak bisa mengharapkan itu dan harus mengerti kondisi yang terjadi. Kalau kita mau bersaing menjadi world class, tetapi bensin aja gak punya, terus bagaimana? (tertawa).” [4]

***

baca juga :

http://www.masukitb.com

***

Pustaka

[1] http://www.itb.ac.id/usm-itb/nas-t-4.htm

[2] http://www.berita-terbaru.com/berita-nasional/mantabs-gan-itb-hanya-terima-mahasiswa-program-sarjana-melalui-snmptn.html

[3] [BOULEVARD 61] : LAPORAN UTAMA ‘ITB BUTUH DUIT’ EDISI AGUSTUS 2008 (http://boulevarditb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=60:saat-harga-kembali-bicara&catid=35:majalah&Itemid=54)

[4]Artikel dalam website bataviase.co.id : Kami Ikuti Pemerintah Saja (http://bataviase.co.id/node/162131).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: