Watergius's Journal

The world as I see it

dua jam bersama Pak Dahlan Iskan

Sabtu, 10 Februari 2011

**********

Sabtu pagi, sekitar pukul 10.00 WIB, menjelang siang, ruang galeri utama CC Timur sudah penuh dengan orang-orang yang antusias mengikuti kuliah umum dari dirut PLN. Judul kuliahnya itu sendiri adalah Bisnis Ketenagalistrikan PLN di Masa Depan. Cukup menarik memang judulnya tersebut, terlebih lagi bila mendengarkannya langsung dari sang dirut.

Pukul 10.00 WIB seharusnya kuliah sudah dimulai, sebagaimana telah diberitahukan sebelumnya. Namun, peserta tetap perlu menunggu selama 10-15 menit hingga beliau datang beserta dengan rombongannya dan beberapa petinggi ITB.

***

Kuliah umum dimulai dengan serangkaian kata sambutan dari beberapa rombongan Pak Dahlan, termasuk juga dari ITB, seperti Pak Suwarno dan Pak Ngapuli. Barulah, sebagai pembicara terakhir dan utama, Pak Dahlan memberikan kuliahnya.

***

“Awal karir saya dimulai sebagai seorang wartawan”, kata beliau. “Dari seorang wartawan kemudian saya menjadi seorang pemimpin redaksi dan akhirnya menjadi seorang penerbit. Lalu, suatu saat, terjadilah krisis kertas. Saya pun berpikir, kenapa saya tidak membuat pabrik kertas sendiri. Akhirnya, ide itu saya wujudkan hingga saya memiliki sebuah pabrik kertas kepunyaan saya sendiri.”

“Saya sudah memiliki sebuah pabrik kertas. Kenapa saya tidak membuat satu lagi atau mungkin dua lagi”, kata beliau sambil tertawa yang kemudian diikuti oleh tepuk tangan peserta kuliah umum.

“Memiliki beberapa pabrik kertas ternyata menimbulkan masalah lain”, kata beliau melanjutkan kuliahnya. “Pertama, mahalnya tagihan listrik yang perlu dibayarkan setiap bulannya. Dan yang kedua, suplai listrik dari PLN itu sering trip (padam), terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Karenanya, dulu itu, instansi nomor 1 yang paling saya benci adalah PLN”, kata beliau sambil tertawa.

“Akhirnya, dulu itu saya kepikiran untuk membuat pembangkit sendiri. Namun, karena tidak memiliki background listrik, awalnya saya kesusahan. Saya pun pergi ke China untuk melihat-lihat pembangkit listrik dan akhirnya bertemu dengan seorang mantan guru besar China. Beliau menyarankan agar saya menekuni bisnis listrik. Alasan beliau hanya satu, teknologi listrik itu tidak cepat berubah seperti telekomunikasi dan komputer. Makanya kau tidak akan perlu pusing-pusing untuk memperbaharui teknologimu dalam waktu yang cepat. Akhirnya, saya pun membangun pembangkit sendiri untuk menyuplai kebutuhan listrik pabrik saya”.

***

“Lalu, beberapa tahun berikutnya, saya didiagnosis terkena kanker hati”, Pak Dahlan melanjutkan ceritanya. “Akhirnya saya pun melakukan transplantasi hati. Hal ini membuat saya tidak boleh terlalu kecapaian yang berarti saya tidak boleh bekerja terlalu keras lagi. Akhirnya saya pun mengundurkan diri dari Jawa Pos”.

“Saat berada dalam keadaan tanpa pekerjaan (menganggur) tersebut, saya dihubungi oleh Pak Presiden dan ditunjuk untuk menjadi Dirut PLN. Wah, saya tidak punya background listrik sama sekali Pak”, kata saya kepada presiden. “Lagipula, saya orangnya terkadang tidak menurut aturan dan suka melakukan sesuatu menurut keinginan saya sendiri”.

“Bagus, justru itulah yang kita butuhkan saat ini untuk mengatasi krisis kelistrikan yang sudah semakin parah”, balas Pak Presiden.

“Saya pun menjelaskan kondisi kesehatan saya kepada Pak Presiden. Kemudian saya minta izin untuk memeriksa kondisi kesehatan ke dokter di RRC sekalian menanyakan apakah saya diperbolehkan untuk memangku jabatan itu apa tidak. Sayangnya, kata dokter di sana, saya OK dan siap untuk mengemban tanggung jawab itu”, kata Pak Dahlan berkelakar. Akhirnya saya pun menerima tawaran Pak Presiden dan menjadi Dirut PLN.

“Sebelum menjabat sebagai Dirut PLN, saya mengajukan syarat kepada Pak SBY. Saya mengatakan kalau seluruh direksi PLN itu harus saya sendiri yang memilih. Kalau tidak, saya tidak bersedia menjadi dirut PLN”, kata Pak Iskan. “Dan sayangnya, sekali lagi Pak Presiden menyanggupinya dan jadilah saya dirut PLN.. haha”.

“Tujuan saya memilih sendiri direksi PLN adalah agar mereka itu taatnya bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirutnya. Kalau direksi ini dipilih oleh mentri ini, maka dia akan lebih takut kepada mentri tersebut dibandingkan kepada saya. Gimana caranya nanti kita berjalan sebagai suatu tim yang kompak”, beliau menjelaskan. “Akhirnya, saya pun menemui satu per satu calon direksi yang akan saya pilih”.

Masuk menjadi bagian PLN, bahkan mengepalainya, merupakan hal yang sangat baru. Lalu, bagaimana caranya Pak Iskan menginventarisasi persoalan-persoalan yang ada?

“Apa yang saya benci dari PLN seharusnya serupa dengan yang dibenci oleh rakyat. Dan dari situlah saya bergerak untuk membenahi PLN”, kata Pak Dahlan.

  • Dalam 6 bulan kita berusaha untuk mengatasi krisis listrik yang ada di Indonesia. Tak peduli bagaimana caranya, yang penting krisis listrik itu teratasi, bahkan dengan menggunakan genset sekalipun. Dan ternyata bisa. Kemampuan kita untuk mengatasi krisis listrik ini akhirnya menimbulkan kepercayaan dalam lingkungan PLN sendiri, bahwa masalah-masalah lain dapat diatasi.
  • Kemudian, dalam 6 bulan berikutnya, kita harus bisa melayani daftar tunggu yang sudah bertumpuk. Program ini dikenal dengan nama “Program Sejuta Sambungan”. Dan ternyata, kita berhasil juga. Malah, dengan adanya program satu sambungan ini, masalah inter dalam PLN juga terselesaikan. Yang dulunya ada pegawai PLN suka menyimpan daftar permohonan sambungan (menunggu sampai pemohon memberikan insentif lebih), kini malahan daftar permohonan sambungan itu dicari-cari guna memenuhi tuntutan satu juta sambungan🙂

Pak Dahlan kemudian melanjutkan kuliahnya dengan menyebutkan beberapa prioritas PLN di tahun ini :

  1. Menuntaskan seluruh daftar tunggu yang ada di Indonesia
  2. Masih terdapat 15 ibukota kabupaten di Indonesia yang belum dialiri listrik. Dalam tahun ini masalah itu harus sudah selesai.
  3. Terdapat 5 ibukota kabupaten yang listriknya tidak menyala 24 jam. Dalam tahun ini, listrik mereka harus menyala dalam 24 jam.
  4. Masih ada provinsi-provinsi yang rasio elektrifikasinya 30-40%. Dalam tahun ini, rasionya harus naik menjadi 70%.

“Untuk mengatasi masalah di atas, salah satu solusi yang akan kita lakukan adalah dengan menggunakan Sistem Listrik Kepulauan. Dan uji cobanya sendiri akan coba kita lakukan di NTT”, kata Pak Dahlan.

“Selain di NTT, di 5 pulau kecil Indonesia yang cukup dikenal dunia : Bunaken, Wakatobi, Raja Ampat, Banda, dan satu lagi Pulau di sekitar Kalimantan (*aku lupa namanya:penulis), kita juga akan menerapkan sistem ini. Malahan, kita akan menggunakan tenaga surya sebagai satu-satunya sumber energi listriknya, tanpa adanya genset (diesel) sebagai cadangan”, tambah Pak Dahlan. “Bila ada genset, saat solar cell tadi rusak, genset akan tinggal dipakai sehingga sering kali PLTS (solar cell) tadi terbengkalai. Maka, genset tidak boleh ada”.

Selain prioritas-prioritas PLN tersebut, Pak Dahlan juga menyampaikan beberapa target PLN lainnya, termasuk ambisi pribadinya, untuk masa depan.

-> Tahun depan, pola peaker (beban puncak) kita, khususnya Jawa-Bali, harus berubah. Hal ini dapat dilakukan dengan merubah pola pikir kita.

-> Mengingat pembangkit kita mayoritas menggunakan batu bara, maka kita harus sudah dapat meningkatkan kalorinya yang rendah.

-> Tahun 2013, rasio elektrifikasi kita harus ditingkatkan agar kita tidak menjadi omongan negara lain. Pada tahun ini, Pak Dahlan juga memiliki mimpi yang besar: Penggunaan mobil listrik. “Coba bayangkan, malam hari itu listrik di seluruh Indonesia digunakan untuk mengecharge mobil listrik. Tentu kurva beban kita akan sangat bagus (datar) dan listrik kita tidak sia-sia di malam hari. Lalu, siangnya, mobil listrik itu akan menggantikan mobil-mobil berbahan bakar fosil”, kata Pak Iskan. “Dan juga, saya membayangkan kalau nantinya pom-pom bensin itu akan menjadi milik PLN, diganti jadi tempat untuk ngecharge baterai mobil”, tambah beliau sambil tertawa.

-> Tahun 2014, akan diadakan restrukturisasi (perombakan) PLN besar-besaran. “PLN itu terlalu mengurusi segala-galanya, mulai dari pertambangan, pembangkitan, penyaluran, dan penjualan. PLN itu pelanggannya puluhan juta. Mana ada perusahaan yang memiliki pelanggan sebanyak itu, dengan tugas serumit itu”, kata Pak Dahlan mengakhiri kuliah umum pagi itu.

***

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: