Watergius's Journal

The world as I see it

tomodachi, dua hari itu tak terlupakan

Hanya butuh beberapa menit untuk kita bertukar nama dan dua hari itu kita jalani sebagai teman. Sayang sekali kau di sini hanya sebentar, kalau tidak, kita pasti sudah menjadi sahabat.

***

Aku hanya mengerti beberapa kata bahasa Jepang sama seperti kalian yang hanya bisa mengucapkan beberapa kata bahasa Indonesia. Kami pun menggunakan bahasa Inggris, namun hanya beberapa dari kalian yang benar-benar mengerti. Katanya salah satu tujuan traveling kalian ini adalah untuk belajar bahasa Inggris. Oh… Akhirnya kita pun menggunakan bahasa seadanya. Bahasa Inggris, Jepang, dan bahasa tubuh.

Aku masih ingat bagaimana bahasa Inggris yang kugunakan secara tidak sengaja berubah seolah-olah menjadi “katakana”. Bunyinya mungkin seperti katakana, tapi aku yakin artinya tidak seperti yang kalian ketahui. Malah beberapa dari kalian tampak menjadi semakin bingung. Aku tahu itu, walaupun kalian mengangguk seolah mengerti sambil tetap tersenyum. Gomen nasai ne..

Saat bertemu dengan penduduk Indonesia kalian pasti akan menyapanya dengan “halo” atau terkadang “selamat pagi”. Kalian juga tidak lupa untuk selalu berusaha mengucapkan terima kasih, bahkan saat turun dari angkot. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan.

Kalian juga mengajarkanku akan arti apresiasi. Aku ingat tiap kali kalian melihat anak kecil, kalian pasti mengatakan “kawai” (lucu). Tiap kali kalian melihat sesuatu yang baru, kalian pasti mengatakan “sugoi” (hebat). Terus terang aku bingung dengan sikap kalian itu. Anak kecil yang kalian bilang kawai itu adalah sama seperti anak kecil lainnya di Indonesia dan sesuatu yang kalian bilang sugoi itu adalah sesuatu yang sangat biasa bagi kami, seperti hamparan sawah di daerah dekat Curug Dago. Tetapi ada satu hal yang aku dan beberapa dari kalian sepertinya sepakat yakni saat kita mengatakan kirei di Saung Angklung Mang Udjo.🙂

Sabtu pagi, kalian katakan ingin berjalan-jalan di sekitar wisma di Jalan Dago Pojok sambil mengunjungi sebuah desa yang ada di daerah situ. Wisma tempat kalian menginap adalah batas paling jauh Jalan Dago Pojok yang pernah kujalani. Jadi, walaupun kalian mengatakan bisa pergi sendiri, aku dan beberapa orang Indonesia lainnya tetap ikut bersama kalian. Kalian berjalan di depan dan kami di belakang, seakan kalian adalah guide-nya dan kami adalah turisnya.

Kita berjalan semakin jauh hingga akhirnya sampai ke sebuah sekolah. Sekolah Alam, itu yang tertulis di papan namanya. “Karena ini hari Sabtu maka sekolahnya libur”, kata Ibu yang ada di sekolah tersebut. Aku tak tahu apa ini hal bagus sebab kalian bisa bebas berkeliling di sekitar sekolah, atau kurang bagus sebab kalian tidak bisa bertemu dengan anak-anak yang ada di situ. Yang pasti, kalian sepertinya sangat menikmatinya. Bagiku, ini adalah pertama kalinya datang ke situ. Tentu momen ini tak akan kusia-siakan.

salah satu ruangan kelas di Sekolah Alam

salah satu sarana bermain di SA

Puas mengelilingi sekolah tersebut (sambil berfoto tentunya), kalian melanjutkan perjalanan. Semakin lama kita berjalan, daerahnya semakin kukenal. Iya, ternyata kita sampai ke Curug Dago. Aku ke sini tahun lalu sehingga ingatan akannya masih tetap jelas di benakku.

Aku memang pernah ke sini, tapi hanya sebatas ke Curug-nya (termasuk turun ke prasasti yang ada di bawah). Aku bertanya apakah kalian ingin turun, ternyata tidak. Kalian memilih untuk menyebrangi jembatan itu dan berpetualang ke desa di seberangnya.

Mengunjungi desa? Ehm, terkesan aneh bagiku, namun tidak bagi kalian sepertinya.

Kalian menyapa setiap orang yang kalian temui. Mengambil gambar apapun yang menarik menurut kalian: anak kecil, tumbuhan, rumah, orang dewasa, dan hewan peliharaan. Namun, bukan itu yang menarik perhatianku. Yang paling berkesan adalah saat masyarakat di sana sangat terbuka dan ramah menyambut kalian. Kalian memang tidak dapat berkomunikasi secara verbal, namun komunikasi melalui bahasa tubuh dan senyuman sudah cukup untuk menggambarkan keingintahuan dan keinginan untuk berteman.

anak2 yang rumahnya kita datangi

Aku ingat satu kejadian lucu. Ibu dari salah satu anak-anak di atas mengundang kita duduk di teras rumahnya. Kebetulan mereka sedang makan dan Ibu itu pun menawari kalian makan. Lauknya adalah tempe, ikan, mie, dan jengkol. Ya, jengkol. Aku katakan itu adalah khas Indonesia (tak tahu benar apa gak) dan kalian harus mencobanya. Sugi-san dan Masaki-san pun mencobanya. Aku tak akan lupa ekspresi muka mereka kemudian. Sepertinya lidah mereka tidak cocok dengan rasa pahit jengkol itu… hahaha

***

Malamnya kita adakan farewell party. Salah satu malam yang tidak akan pernah kulupakan. Terima kasih atas dua hari ini temanku.

last night in Bandung with Japanese friends

Sebagai lagu perpisahan, kalian nyanyikan Cherry (by Spitz) untuk kami.

**

-> Teks bahasa Jepang dapat dicari dari google

-> Teks bahasa Inggris terjemahan dari mereka

I will always remember you

Down the windy roads rise before me now

Early kisses from the friendly morning sun

And the golden sand that carries all my dreams


I know that I cannot return

To the days we used to play laugh on the sand

But now all I can do is trust

Future that waits for us

Imagination cannot show


Thanks a billion is all that I want to say

But these words can’t cover my feeling

I will hold these lovely memories dear

Because you my friends are all that I need


LALALA….

****

2 responses to “tomodachi, dua hari itu tak terlupakan

  1. Pujo March 7, 2011 at 8:36 am

    Wah, ketemu orang Jepang Gus? Mantep banget…

    Mau cobain ke Tokyo lagi Gus?😉 Bareng yuk?
    Masih banyak jalan ke Tokyo :p Terus semangat yaaa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: