Watergius's Journal

The world as I see it

Kemacetan Lalu Lintas dan Kebiasaan Telat

Kepadatan stasiun kereta di Jepang merupakan hal biasa. Padat dalam artian banyaknya jumlah manusia yang lalu lalang di sana, terlepas dari tujuannya. Bila kita datang saat jam-jam sibuk, seperti berangkat kerja (sekolah) dan pulang kerja (sekolah), situasinya akan sama seperti kepadatan lalu lintas kita. Hanya saja, di Jepang yang banyak lalu lalang itu manusianya sehingga sangat kecil kemungkinannya terjadi kemacetan. Sementara itu, di Indonesia, yang banyak lalu lalang itu adalah mobil-mobil pribadi dan motor yang akhirnya menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Suatu saat, ketika sedang mengantri sambil menunggu datangnya kereta jurusan Tokyo, aku memperhatikan papan panel yang ada di dekatku. Di situ tertulis nama line kereta, jurusan, dan juga jam digital yang menunjukkan waktu saat itu serta ketibaan kereta berikutnya. Itu saja sudah membuatku takjub apalagi saat waktu ketibaannya itu bahkan dalam hitungan menit (10.02).

Dari kejauhan suara kereta sudah terdengar. Semakin lama semakin keras hingga akhirnya kereta berhenti tepat di depan kami. Kulihat ke arah papan panel tadi, tepat pukul 10.02. Wah, semakin takjublah diriku.

Di Jepang, kereta seakan menjadi angkutan utama yang tanpanya masyarakat Jepang tidak akan bisa beraktivitas. Kenapa dipilih kereta? Analisisku, kereta tidak mugkin kena macet.

Karena kereta tidak mungkin kena macet maka kereta dapat melaju dengan kencang sesuai dengan kecepatan yang diinginkan. Mengetahui kecepatan kereta dan mengetahui jarak tempuh antarstasiun (datanya pasti ada), kita akan mendapatkan waktu tempuh melalui matematika sederhana. Dengan adanya data keberangkatan kereta di tiap stasiun ini maka orang Jepang dapat merencanakan kegiatannya seharian itu dengan tepat waktu.

Kucoba melihat keadaan di Indonesia. Angkutan mayoritas yang kita gunakan adalah mobil pribadi, bus, motor, dan angkutan lainnya yang menggunakan jalan raya. Jalan raya kapasitasnya terbatas sedangkan angkutan-angkutan tadi jumlahnya sangat banyak, bahkan jauh melebihi kemampuan jalan raya. Akibatnya kendaraan-kendaraan tadi akan jalan tersendat-sendat. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Kita akan sangat kesulitan memperkirakan waktu ketibaan kita di suatu tempat. Dan ini hanya akan menyisakan dua kemungkinan, kita telat atau datang jauh terlalu cepat.

***

Anda ada janji untuk bertemu seseorang 1 jam lagi. Dalam keadaan normal Anda sepertinya kebingungan memperkirakan waktu tempuh antara rumah Anda dengan tempat pertemuan tersebut. Anda hanya tahu bahwa selama ini Anda membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke daerah itu, sebab tempat itu selalu Anda lewati bila ingin berangkat ke kantor. Dan Anda pun berangkat.

Mobil Anda melaju dengan bebasnya di jalan raya. Anda tahu hari itu kantor libur tapi Anda tidak tahu bahwa jalanan akan sekosong ini. Kalau saja bukan janjian dengan orang itu, Anda pasti sedang bersantai menghabiskan akhir minggu di rumah. Jalanan yang kosong membuat Anda tertantang untuk memacu mobil lebih cepat. Cukup cepat hingga Anda tidak sadar telah sampai ke tempat pertemuan. 15 menit, cuma 15 menit dari rumah Anda ke sini. Orang yang ingin Anda temui bahkan belum datang. Dan Anda pun menunggu. Pekerjaan paling membosankan.

**

Lalu, suatu hari, Anda diajak kembali oleh orang yang sama untuk bertemu. Di suatu tempat yang belum pernah Anda datangi, tapi Anda tahu tempat itu dari nama jalan yang diberikannya. Cukup dekat, pikir Anda. Setengah jam juga cukup untuk sampai ke tempat itu.

Anda lupa, tak semua jalan di kota ini sama kepadatannya. Hampir sejam Anda terjebak di jalanan ini. Bangunan tempat Anda akan bertemu orang tersebut sudah terlihat sejak tadi. Cukup dekat, namun tidak bisa Anda capai. Hilang sudah kesempatan Anda untuk membuatnya terkesan dengan hadir tepat waktu, bahkan kalau boleh lebih awal sama seperti pertemuan sebelumnya.

***

Telat bukanlah budaya. Itu adalah kebiasaan yang sadar atau tidak salah satunya dibentuk oleh kondisi transportasi negara kita. Bagaimana mengubahnya? Datang jauh lebih awal dan menjadi penunggu? Ehm, kalau Anda suka menuggu, tidak apa. Namun, tepat waktu bukan berarti Anda datang jauh sebelumnya. Datang pukul 10.00 saat pertemuan 10.00 juga tepat waktu. Lalu, apa yang harus dilakukan? Merubah sistem transportasi kita. Gunakan kereta atau transportasi lainnya yang tidak menggunakan jalan raya.

*******

hasil pemikiran selama beberapa waktu setelah pulang dari Jepang

One response to “Kemacetan Lalu Lintas dan Kebiasaan Telat

  1. Edoh March 10, 2011 at 9:45 am

    Yup, org yg tepat wktu slalu jd pnunggu…,

    tp gpp, it bag dr kualitas diri…,
    n.n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: