Watergius's Journal

The world as I see it

terkurung di laboratorium konversi

Selasa, 22 Maret 2011

****

Sore, pukul 15.00 WIB, sekelompok mahasiswa dan seorang mahasiswi arus kuat ITB  baru saja memulai “debat” mereka mengenai saklar di dalam laboratorium konversi ITB. Tujuan mereka sangatlah mulia yakni agar mereka benar-benar memahami materi praktikum yang akan diberikan ke adik-adik angkatannya sehingga adik2 angkatannya itu nantinya benar-benar paham apa yang akan dilakukan dan apa tujuannya🙂

Seperti ucapan yang sering kita dengar, “kalau benar-benar menikmati suatu pekerjaan maka waktu itu terasa singkat”. Demikian jugalah yang mereka alami sebab tak terasa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 16.50 WIB. Perlu diketahui bahwa laboratorium konversi ini akan ditutup pukul 17.00 WIB. Mereka pun berbenah sambil membicarakan pertemuan selanjutnya. Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja sampai salah satu dari mereka datang membawa berita buruk itu.

Kita misalkan nama salah satu dari mereka yang membawa berita buruk itu Fabio. Fabio ini sebelumnya ditugasin untuk ngomong ke bapak yang jaga laboratorium agar lab jangan dikunci dulu sebab mereka masih harus mendiskusikan sesuatu (jadwal pertemuan selanjutnya). Nah, saat Fabio datang kembali menemui mereka, mereka kira Fabio telah menyampaikan amanatnya tadi. Namun, yang dibawa malah berita buruk. Si bapaknya telah pergi sebelum Fabio sempat ngomong maksud dan tujuannya.

Oke, sekarang mereka mulai kebingungan.

Sebagai mahasiswa/i mereka pun mulai menggunakan nalarnya. Yang pertama dihubungi adalah seorang mahasiswa S2 (kita misalkan namanya Kang Dadan) sebab kunci buat mahasiswa biasanya dia yang pegang. Oh ya, lab ini punya peraturan bahwa kunci untuk mahasiswa itu hanya satu yang berarti mahasiswa S1 dan S2 yang TA di sana harus saling berbagi.

Telepon ke Kang Dadan memang berhasil dilakukan. Namun, sepertinya mereka tidak beruntung sebab Kang Dadan tersebut sedang berada di Tol Jakarta-Bandung. Dan ternyata juga, Kang Dadan itu bersama dengan Pak Nana yang merupakan salah satu pegawai lab yang memiliki kunci. Dengan begini harapan mereka telah hilang. Dari Kang Dadan ini mereka pun meminta nomor pegawai lab konversi lainnya, kita sebut saja namanya Pak Umar.

Telepon ke bapak ini pun mulai dilakukan dan berhasil tersambung dengan baik. Namun sayang, bapak ini tidak memiliki kunci lab konversi.

Alternatif lain adalah menghubungi dosen-dosen konversi. Namun, membayangkan reaksi yang bakalan diterima dari mereka (disamping ide ini membutuhkan keberanian besar), usul ini pun tidak jadi dieksekusi.

Oke, sekarang mereka mulai kebingungan. Bahkan mereka pun mulai mempertanyakan kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi.

“Biasanya kan kalau masih ada mahasiswa di dalam bapak penjaganya akan menyampaikan ke mereka kalau lab akan segera di tutup. Kok kali ini gak ditanyain ya?”, salah satu dari mereka mulai ngomong.

“Mudah-mudahan kasus kita gak kaya kasus anak Arsitek ITB yang dulu ya”, ada yang ngomong gitu juga.

“Sebenarnya mudah sih kalau kita mau keluar, cuma caranya brutal dan kayanya kita bakalan kasus”, sambung yang lain.

Oke, sejauh ini belum ada satupun ide yang cukup masuk akal.

Sementara itu, salah seorang dari mereka mulai mencoba membuka secara paksa sebuah pintu lain yang ada di dekat pintu yang dikunci tadi. Pintu ini adalah model pintu kuno yang memiliki dua daun pintu dan sebuah palang yang bisa diputar di tengah-tengahnya. Dengan kata lain, pintu ini adalah jenis pintu yang dapat dengan mudah dibuka secara paksa dari dalam.

ini adalah gambaran keadaan mereka di dalam lab

Dengan usaha ternyata tidak ada yang tidak dapat dilakukan. Ya, pintu tadi pun berhasil dibongkar oleh sang jagoan kita (kita sebut saja namanya Radit). Pintu terbuka, mereka akan segera terbebas. Namun, ada masalah lain. Tidak mungkin pintu lab itu dibiarkan terbuka hingga besok pagi.

Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menghubungi Kang Dadan lagi. Disamping menyampaikan kabar gembira kebebasan mereka, mereka pun menyampaikan kondisi yang membuat mereka tidak dapat merayakan kebebasan itu sebebas-bebasnya (bingung juga apa maksudnya ini).

Sekitar 2 menit seorang dari mereka yang dipercaya untuk menjadi negosiator (sebut saja namanya Jaya) berbicara dengan Kang Dadan. Telepon dimatikan. Dia menyampaikan hasilnya : “Yang pingin pulang gak apa2 pulang aja duluan. Kata Kang Dadan lab jangan dibiarkan tanpa dikunci seperti ini. Mereka sekitar sejam lagi akan sampai di Bandung dan akan segera ke sini.”

Setelah mencapai kesepakatan, beberapa dari mereka yang bersedia untuk menunggu di lab pun menunggu di situ.

ini adalah beberapa dokumentasi saat kejadian

muka-muka lagi kebingungan

sang jagoan (radit) sedang melaksanakan tugasnya

salah seorang dari mereka (sebut saja Aji) merayakan kebebasannya

berpisah dengan teman2 yang bersedia menunggu di lab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: