Watergius's Journal

The world as I see it

Penjaga Mata Air

Alkisah ada seorang tua penghuni hutan berpembawaan tenang yang tinggal di dataran tinggi di pedusunan Austria, sepanjang lerang Pegunungan Alpen bagian Timur. Beberapa tahun yang lalu pria tua itu dipekerjakan oleh dewan kota untuk membersihkan sampah pada genangan air di celah-celah gunung yang mengalir ke sumber mata air indah yang melewati kota mereka. Dengan setia dan teratur ia berpatroli mengelilingi bukit, membuang ranting-ranting dan dedaunan, juga limbah dan endapan lumpur yang berpotensi menyumbat dan mencemari air yang segar itu.

Segera dusun tersebut menjadi tempat yang memiliki daya tarik dan popular bagi para pengunjung. Angsa-angsa yang anggun berenang di sepanjang air yang bening seperti kristal, kincir angin yang menggerakkan roda bisnis di daerah itu berputar siang-malam, tanah pertanian mendapatkan irigasi secara alamiah, dan pemandangan yang tampak dari restoran sangatlah indah bagai lukisan.

Tahun demi tahun berlalu. Pada suatu hari dewan kota mengadakan rapat enam bulanan. Saat meninjau anggaran, seseorang menyoroti masalah gaji yang dibayarkan kepada penjaga mata air yang tidak dikenalnya. Sang bendahara berkata, “Siapa orang itu? Mengapa kita terus mempertahankannya? Tak seorang pun pernah melihatnya. Kita semua tahu penjaga yang tak dikenal itu tak ada gunanya. Ia tidak diperlukan lagi!” Dengan suara bulat mereka memutuskan untuk membuang jasa bapak tua itu.

Selama beberapa minggu tak ada yang berubah. Namun, menjelang musim gugur daun-daun mulai berguguran. Ranting-ranting kecil bergemeretak dan jatuh ke dalam kolam, menghambat aliran air yang berkilauan. Pada suatu siang seseorang melihat setetes warna coklat kekuningan di mata air itu. Beberapa hari kemudian warna air itu bertambah gelap. Setelah seminggu, selaput tipis mulai menutupi sebagian air dan segera tercium bau tak sedap. Kincir-kincir angin berputar lebih lambat, dan beberapa diantaranya akhirnya berhenti. Angsa-angsa mulai meninggalkan tempat itu, demikian pula para turis. Pada akhirnya, cengkeraman sakit penyakit dan wabah menyerang desa tersebut.

***

Ilustrasi di atas menggambarkan hati kita. Hati adalah sebuah mata air jernih yang diberikan mandat kepada kita untuk dijaga. Rawatlah dia agar airnya tetap jernih, maka tak ada seorang pun yang tidak terpesona olehnya. Tetapi, biarkanlah dia dicemari oleh berbagai hal yang tidak baik, maka tak seorang pun yang terpesona lagi olehnya.

**

dikutip dari buku I Kissed Dating Goodbye (John Harris) dan Penjaga Mata Air dengan sedikit tambahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: