Watergius's Journal

The world as I see it

ke Jakarta, ke Ibukota

Rabu, 11 Mei 2011

****************

Sepertinya ungkapan “There’s always a first time for everything”  bakalan dialami setiap orang. Dan itulah yang gw alami saat pergi ke Ibukota negara kita ini sendirian (setidaknya awalnya gw berpikiran seperti itu).

**

Minggu lalu gw dapat kabar untuk mengikuti wawancara final IBM Apprentice 2011 di Plaza Indonesia, Jakarta. Hal ini membuat gw senang dan juga malas. Senang karena gw lolos sampai ke tahap itu, malas karena gw harus ke Jakarta untuk mengikuti interviewnya. Kenapa interview finalnya gak di Bandung saja, pikir gw.

Setelah menghubungi beberapa teman yang gw tahu ikut dan lolos ke tahapan selanjutnya, ternyata tidak  ada satupun dari mereka yang jam interviewnya sama kaya gw. Dan hal ini berarti gw harus pergi ke Jakarta sendirian.

Minggu malam gw sibuk nanya2 ke teman yang tinggal dan tahu tentang Jakarta kira2 travel apa yang paling dekat ke daerah Plaza Indonesia. Jawaban pertama mengatakan naik Cititrans dan turun di sekitar daerah Sudirman. Lalu dari situ ntar naik busway. Jawaban lainnya menyarankan naik Xtrans ataupun Cipaganti tujuan Blora dan kemudian naik busway juga. Namun, karena gw gak tahu daerah2 itu di mana saja, akhirnya gw pun berkutat hampir semalaman dengan mbah google.

Pertama gw cari situs buat masing2 travel. Ada 2 travel yang akhirnya gw pilih, yakni antara Cititrans dan Xtrans. Setelah dicari-cari mengenai poolnya masing2, ternyata yang paling dekat adalah Xtrans jurusan Blora. Dan hal ini didukung juga oleh google maps yang sedang gw pelajari. Beres dengan travel, permasalahan berikutnya adalah dari poolnya tersebut ke Plaza Indonesia bagaimana. Dan gw pun mengetikkan di google keyword berikut : “halte busway paling dekat ke Blora” dan gw dapat jawabannya, halte Tosari.

Hal berikutnya yang gw lakukan adalah mencari peta jalur busway terbaru yang ternyata sangat banyak di internet. Lalu, setelah dicari-cari, ternyata dari halte Tosari ke halte Bundara HI itu jaraknya cuma satu halte. Hal ini berarti Xtrans tujuan Blora merupakan tujuan paling tepat. Dan untuk amannya, peta jalur busway tersebut bahkan gw print🙂

Rabu pagi, sekitar pukul setengah 7, gw udah standby di pool Bumi Xtrans Bandung. Gw emang sengaja pesan travel jam 7 soalnya wawancara gw mulai jam 11.15. Begitu masuk ke ruang tunggu, ternyata gw nemu anak ITB yang ternyata ikut wawancara IBM ini juga. Wah, gw ada teman dong ni ke Jakarta..

Pukul 9 kurang travel kita sebenarnya sudah sampai ke Jakarta, cuma belum ke pool Xtransnya. Namun, karena relasi kota Jakarta yang erat dengan kemacetannya, kita pun baru nyampai di Blora pukul 10.00. Gila, 1 jam habis di jalanan doang hanya gara-gara macet.. pfuuhh

**

Mencari halte busway Tosari dari pool Xtrans ternyata sangatlah mudah. Lu cuma perlu jalan ke jalan utama dan ntar tuh halte bakalan kelihatan. Atau, biar gak nyasar buat jalan ke mana, bertanya kepada orang yang ada disitu juga tidak ada salahnya. Kemudian, dari jembatan penyebrangan menuju halte Tosari lu akan bisa melihat Bundaran HI dan Plaza Indonesia juga. Dah sangat dekat bukan. Itulah sebabnya kami pun memutuskan untuk berjalan saja menuju Plaza Indonesia tersebut.

Mewah dan Borju, itulah kesan pertamaku saat memasuki Plaza Indonesia. Toko-toko dengan berbagai fashion terbaru, baik itu tas, pakaian, dan sepatu, berjajar di kiri dan kanan lorong-lorong Plaza itu saat kami menyusurinya. Untunglah eskalator segera tampak sehingga pemandangan2 itu pun segera berakhir.

Lokasi interview kami berada di lantai 5, tepatnya di Food Culture Urban Kitchen. Sebuah tempat yang strategis bila sesi interviewnya ternyata akan berlangsung cukup lama. Sembari berjalan menuju lokasi interview yang berada di ujung ruangan, gw melirik menu-menu masakan yang ada beserta harganya. Masakannya jelas menggiurkan, namun harganya siap menerkam dompet. Mudah2an ntar diberi makan siang, kataku dalam hati.

Sesampainya di tempat wawancara ternyata beberapa anak ITB lainnya telah berada di situ, bahkan ada yang telah selesai wawancara. Kata mereka, yang ditanyain adalah seputar CV dan kehidupan pribadi kita. Dan itu berarti wawancara ini seharusnya tidak begitu sulit sebab wawancara pertama juga sama seperti ini.

Sembari menunggu giliran, mbak2 dari IBM-nya meminta kita untuk mengisi daftar hadir dan juga formulir aplikasi IBM. Selain itu, dia juga memberikan kita voucher makan senilai Rp 100.000,- yang mana merupakan kabar gembira buatku.. haha

voucher makan Urban Kitchen

Wawancaraku berlangsung dengan Mas Vincent (sepertinya senior di IBM) dan berjalan cukup lancar. Selesai wawancara itu aku diberitahu agar tetap stay di tempat itu dulu sebab ntar jam 1 bakalan ada wawancara lanjutan lagi. Dan ternyata bukan gw doang yang harus ikut sesi selanjutnya sebab hampir semua yang ada di situ (hampir 90%-nya anak ITB) juga harus ikut. Akhirnya kita pun makan bareng, membelanjakan voucher seharga Rp 100.000 tersebut.

Pernah dengar gak sewaktu di pelajaran IPS atau ekonomi dulu kalau barang itu punya nilai tempat. Demikian jugalah uang. Bila di luar, dengan uang Rp 100.000, lu bisa belanja makanan sampai kekenyangan, di tempat ini, uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli makanan satu porsi, segelas jus, dan semangkok es campur. Yaa, walaupun dengan makanan segitu sebenarnya voucher gw masih sisa sekitar Rp 16.000 dan gw udah benar-benar kekenyangan..🙂

Sekitar pukul 14.00, gw wawancara lagi (molor sejam dari jadwal sebenarnya). Kali ini pewawancara gw adalah Mas Ivan (senior juga dan merupakan lulusan FT ITB). Pertanyaannya juga ternyata tidak jauh-jauh dari CV dan seputar kehidupan pribadi kita. Dan satu lagi, gw diminta untuk menanyakan 2 pertanyaan seputar IBM kepada dia. Untung gw sudah ada bayangan sebelumnya apa yang ingin gw tanyakan.

Pukul setengah 3 kurang gw dan beres wawancara. Karena gw telah memesan travel untuk jam 3 maka gw pun segera permisi kepada HR IBM yang ada di situ dan langsung cabut menuju pool Xtrans. Untung jaraknya dekat sehingga 15 menit kemudian pun gw udah sampai di situ (dengan badan yang keringatan tentunya..).

Gw membayar tiket, mengambilnya, dan duduk manis di ruang tunggu hingga akhirnya gw dipanggil untuk menuju meja kasir. Ternyata uang Rp 20.000 yang gw kasih tadi adalah uang palsu.. What?? Seingat gw uang tuh adalah kembalian saat pembayaran tiket Xtrans di Bandung tadi pagi. Karena bentuknya yang benar-benar mirip maka gw gak tahu sama sekali itu palsu atau tidak sampai si mas2 yang ada disitu menyuruh gw periksa sendiri dibawah lampu ultraviolet. Dan ternyata benar. Uang yang gw pegang tuh saat berada di bawah lampu tidak menujukkan tanda khusus layaknya uang asli.. Gw pun sempat sedih sebab bakalan rugi Rp 20.000. Namun, untunglah gw masih menyimpan tiket pembayaran tadi pagi sehingga ntar gw tinggal ngelapor lagi di pool Bumi Xtrans Bandung.

ada hologramnya saat diterawang, namun palsu..😦

Pukul 15.00 gw meninggalkan Jakarta dan sekitar setengah 6 sore telah tiba dengan selamat di Bandung. Begitu turun gw segera menuju meja kasir dan menjelaskan duduk perkaranya. Orang yang gw temui bukanlah petugas yang tadi pagi. Namun, untunglah mereka mengerti dan gw pun mendapatkan Rp 20.000 yang asli. Cuma  sayang 20.000 yang palsu itu gak boleh gw bawa sebagai souvenir..

**

Tak hanya Jakarta, ternyata kemacetan Bandung juga sudah parah. Masa dari depan masjid Cipaganti menuju simpang Gandok angkot gw butuh hampir setengah jam lebih padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Untunglah di angkot tuh kebetulan ada anak kecil yang tingkahnya sangat lucu dan 30 menit lebih pun berlalu tanpa terasa..🙂

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: