Watergius's Journal

The world as I see it

memberi di dalam kekurangan

Seorang kaya nan sukses datang menemui seorang guru nan bijaksana. “Guru, saya baru saja terpilih menjadi orang terkaya sedunia untuk yang kedua kalinya. Tak hanya itu, saya juga telah terpilih menjadi salah seorang penemu yang paling terkemuka di dunia. Dan masih banyak lagi, seakan semua gelar bergengsi telah saya raih, “ dia  memulai keluh kesahnya.

“Kini, saya menjadi bosan, tak ada tantangan lagi yang membangkitkan gairah saya. Karena itulah saya mencari guru. Saya ingin guru memberi saya sebuah tantangan. Yaaa, walaupun sepertinya saya akan menjadi yang terbaik lagi.”

“Berbuat baiklah dan bantulah orang yang berada dalam kesusahan, “ sang guru menjawab. “Dan kembalilah lagi ke sini saat kau telah merasa menjadi yang terbaik juga dalam tugas ini.”

Beberapa bulan kemudian, berita mulai ramai mengabarkan mengenai kebaikan sang orang kaya nan sukses tadi. Mulai dari yayasan yang didirikannya, rumah sakit, bantuan pendidikan, dan banyak lagi. Merasa dirinya telah berhasil memenuhi tantangan sang guru, dia pun menemuinya kembali.

“Guru, lihatlah berita di berbagai media dan guru akan tahu bahwa saya telah berhasil, ” dia tersenyum bangga.

Tanpa ekspresi apa-apa sang guru mengajak dia berkeliling lingkungan tempat tinggalnya. “Kau lihat bapak tua dan anak-anak itu? Bapak tua itu hanyalah seorang buruh kasar yang penghasilannya pas-pasan, bahkan terkadang hanya cukup untuk makannya sendiri. Tapi dia tidak tega melihat anak-anak kecil itu terlantar dan dia malah mengasuh mereka. Di dalam keterbatasannya dia masih mau memberi. Tidakkah kau rasa dia lebih layak menjadi orang yang terbaik bila dibandingkan dengan dirimu?,” sang guru berkata kepada orang kaya itu.

“Atau mungkin nenek itu. Sehari-harinya dia hanyalah berjualan makanan tradisional di lingkungan ini. Tak banyak tentunya penghasilannya, cukup-cukup untuk membeli beras bareng sekilo atau dua kilolah. Tapi, tak jarang dia memberi sebagian dari berasnya itu untuk tetangga yang anak-anaknya telah kelaparan karena kurang makan. Nenek-nenek kayak saya makannya dikit kok, jadi segini juga cukuplah buat saya, begitulah selalu alasannya saat menyisihkan sebagian dari berasnya. Tidakkah kau rasa dia itu jauh lebih baik dari padamu?,” sang guru kembali bertanya.

“Tak ada yang namanya menjadi yang terbaik dalam hal menolong sesamanya. Namun, saat seseorang, di dalam kekurangannya, masih bersedia mengulurkan tangannya dengan iklas, hal itu menjadikannya istimewa, ” sang guru berkata kepadanya.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: