Watergius's Journal

The world as I see it

Bukan Hanya Masalah antara Energi Terbarukan vs Energi Fosil

Pernahkan Anda terpikir akan perdebatan antara pendukung Energi Terbarukan dengan Energi Fosil ?

Pendukung energi fosil (minyak, gas, dan batu bara) serta energi nuklir akan berkata kita harus mengembangkan jenis energi ini walaupun resikonya besar dan terkadang berbahaya. Kalau tidak, manusia akan hidup seperti zaman batu lagi.

Sementara itu, pendukung energi terbarukan juga akan berkata kita harus berpindah ke energi yang lebih bersih dan menghindarkan energi fosil, seraya menunjukkan contoh-contoh kasus pencemaran oleh energi fosil seperti tumpahan minyak yang mencemari lautan dan krisis nuklir yang terjadi di Jepang setahun yang lalu.

Namun, lagi-lagi pendukung energi fosil akan menyerang dengan dalih energi terbarukan belum siap untuk mengambil alih posisi energi fosil sebagai sumber energi utama..

Tetapi, apakah permasalahannya hanya menyangkut itu saja? Ternyata tidak.

Return on Investment

Thomas Homer-Dixon, direktur Trudeau Center for Peace and Conflict Studies di University of Toronto, mengatakan : “ Ukuran terbaik untuk menyatakan harga produksi minyak atau sumber energi apapun adalah jumlah energi yang diperlukan untuk menghasilkan energi tadi.” Hal inilah yang dikenal oleh ahli ekonomi dan ahli fisika sebagai E.R.O.I (Energy Return on Investment).

Sebagai contoh, untuk sebuah pertambangan batu bara, kita menghitung EROI-nya dengan membagi besarnya energi yang dihasilkan oleh batu bara tersebut dengan total energi yang diperlukan untuk menambangnya hingga pengolahannya menjadi batu bara yang siap dipakai — termasuk energi bahan bakar diesel untuk mesin-mesin, off-road dump trucks, energi listrik pada mesin yang menghancurkan dan memilah-milah batu bara, termasuk juga energi yang dibutuhkan untuk membangun dan merawat mesin-mesin ini.

Besarnya EROI ini sendiri untuk bahan bakar fosil dari tahun ke tahun sepertinya mengalami penurunan. Misalnya EROI untuk minyak di Amerika yang awalnya bernilai 25 banding 1 pada tahun  1970-an, kini telah turun menjadi sekitar 15 berbanding 1. Demikian juga halnya dengan gas alam. Mungkin hal ini disebabkan semakin lama lokasi yang diperlukan untuk mengekstrak minyak dan gas tadi juga semakin ekstrim sehingga semakin banyak energi yang harus dihabiskan untuk mendapatkan energi.

Sementara itu, untuk energi terbarukan sendiri, menurut Professor Charles Hall dari SUNY College of Environmental Science and Forestry gambaran EROI-nya adalah sebagai berikut (bervariasi untuk berbagai daerah)

EROI table

**

Dan dari hasil ini, kita dapat melihat secara sekilas bahwa EROI untuk energi alternatif — angin, geothermal, surya, dan air — lebih besar atau sama dengan EROI bahan bakar fosil dan nuklir.

Namun, ianya bukan hanya masalah antara energi fosil vs energi terbarukan, tetapi juga menyangkut masalah sentralisasi dan desentralisasi.

The National Academic Press mengatakan:

Saat energi ditransmisikan ke konsumen dalam bentuk yang dapat digunakan, ianya telah mengalami beberapa konversi (perubahan). Tiap kali energi berubah bentuk, sebagian kecil darinya akan hilang menjadi bentuk yang tidak kita inginkan ataupun tidak dapat kita gunakan, yaitu dalam bentuk panas.

Usaha untuk mengurangi besarnya energi yang hilang ini (meningkatkan efisiensi) sangat penting untuk masa depan energi dunia sebab jumlahnya jumlah energi yang hilang saat konversi energi sangatlah besar. Contoh yang paling nyata adalah energi listrik. Secara umum, prosesnya dimulai dari pembakaran batu bara di pembangkit. Energi kimia yang tersimpan di dalam batu bara itu pun kemudian akan berubah menjadi energi panas melalui pembakaran yang kemudian akan digunakan untuk menghasilkan uap. Lalu uap akan memutar turbin dan energi mekanis ini akan digunakan untuk memutar generator guna menghasilkan listrik.

Selama proses tersebut, energi awal yang tersimpan dalam batu bara telah mengalami empat kali perubahan menjadi empat jenis energi yang berbeda, tentunya mengalami empat kali rugi-rugi dalam proses konversinya juga. Sebuah pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batu bara setidaknya memiliki efisiensi sebesar 38% sehingga setidaknya hanya lebih dari sepertiga energi kimia yang tersimpan di dalam batu bara ini saja yang dikonversi menjadi listrik. Dengan kata lain, sebanyak 62% energi kimia yang ada di batu bara tidak berhasil mencapai jaringan listrik.

Lalu, saat listrik telah berada di jaringan, ianya juga akan mengalami rugi-rugi. Akhirnya, energi listrik ini akan mencapai bola lampu dan kemudian memanaskan filamen di dalamnya hingga berpijar, tetap menghasilkan rugi-rugi dalam bentuk panas. Dari proses ini, hanya sekitar 2% dari energi kimia yang terkandung di batu bara-lah yang digunakan untuk menghasilkan cahaya lampu.

Jadi, bagaimana cara kita untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi rugi-rugi?

Menggunakan peralatan-peralatan hemat energi dan menggunakan sistem yang pintar (misalnya peralatan power controlling yang akan memastikan bahwa hanya sejumlah besar energi yang diperlukan pada saat tertentu saja yang ditransfer) tentu salah satu cara yang dapat dilakukan. Namun, itu hanyalah gambaran kecilnya. Gambaran besarnya sendiri adalah mendesentralisasi pembangkitan dan transmisi energi tersebut.

Seperti yang ditulis oleh Institut Rocky Mountain : “Terkadang metode paling murah dan paling dapat diandalkan dalam distribusi energi adalah energi yang dibangkitkan pada atau dekat dengan konsumen yang dikenal dengan nama distributed energy atau micro power.”

Hal ini sangatlah jauh bertentangan dengan sistem tradisional yang ada sekarang, dimana energi listrik dibangkitkan di lokasi yang terpencil menggunakan pembangkit skala besar yang kemudian akan ditransmisikan kepada pelanggan melalui saluran transmisi.

Adapun energi mikro ini sendiri dapat berupa panel surya rumahan, turbin angin, hydro, geothermal, dan bahkan pembangkit nuklir yang digunakan secara lokal pada skala kecil, yang tentunya akan lebih aman dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir ukuran besar seperti yang dimiliki Tepco maupun GE.

Tak hanya itu, energi mikro ini juga dapat dihasilkan menggunakan energi panas, menggunakan piezo-electric, serta menggunakan nano teknologi sebagai berikut :

 

**

Sebagai penutup, dengan mendesentralisasi energi (power) kita juga akan membantu mengembalikan demokrasi dan kebebasan kita:

“ Banyak perang yang terjadi karena memperebutkan minyak bumi, diantaranya termasuk monopoli perusahaan-perusahaan energi besar. Selama kita bergantung kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan energi kita, kita tidak akan memperoleh keadilan dan kebebasan kita. Namun, saat kita menginstal panel surya, turbin angin, atau apapun jenis energi mikro lainnya, kita akan mendesentralisasi distribusi energi yang pada akhirnya akan mendesentralisasi kekuasaan jauh dari genggaman perusahaan-perusahaan energi dan sekutu politik mereka.”

***

Agus Praditya T, ST

sumber:

http://www.washingtonsblog.com/2011/12/nanotechnology-can-go-a-long-way-towards-solving-our-energy-shortage.html

http://www.washingtonsblog.com/2011/04/its-not-just-alternative-energy-versus-fossil-fuels-or-nuclear-energy-has-to-become-decentralized.html

http://www.theoildrum.com/story/2006/10/17/18478/085

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: