Watergius's Journal

The world as I see it

Angkot, ada beragam orang penggunamu

Angkutan umum, semisalnya angkot, benarlah buat semua orang…

**

Minggu pagi, saat ingin pergi beribadah, aku menaiki angkot yang cukup kosong, bahkan hingga hampir sampai ke tempat tujuanku. Beberapa meter sebelum aku sampai, angkot yang kunaiki pun berhenti karena lampu merah. Dan di persimpangan jalan itulah aku melihat mereka, lebih tepatnya berada sangat dekat dengan mereka.

Pengamen di persimpangan jalan sepertinya hal yang sudah biasa di kota ini. Bahkan, pengamen yang naik ke angkot untuk menyanyi juga sudah cukup sering. Namun, selama yang pernah aku alami, mereka sebatas hanya duduk di dekat pintu masuk, dan itu juga paling satu atau dua orang. Tetapi mereka berbeda..

Mereka ada empat orang, tiga lelaki dan seorang perempuan. Dengan tidak bermaksud buruk dan menghakimi, tidak ada terlintas di pikiranku sedikit pun kalau mereka bakalan naik dan masuk ke dalam angkot, apalagi mengamen. Penampilan mereka tidak mirip sama sekali dengan pengamen yang biasa aku lihat, melainkan lebih menyerupai tuna wisma. Tak ada perasaan lain yang kurasakan saat itu selain takut dan pingin cepat-cepat turun. Betapa tidak, tiga diantara mereka duduk tepat di sebelahku dan yang seorang lagi duduk tepat di depanku, di pintu masuk. Dan bukan hanya karena itu aku merasa takut, melainkan sebab mereka juga sepertinya senang “tertawa-tawa”, bahkan saat mulai menyanyikan “pesawat tempurku.”

Saat telah turun dan mulai berpikir rasional, aku berharap semoga penilaian awalku terhadap mereka salah dan mereka itu benar sekelompok orang baik-baik yang benar-benar mengamen untuk mencari sesuap nasi.

**

Siang harinya, aku dan teman-teman satu kosan kebetulan ada acara di suatu tempat yang mengharuskan kami untuk menggunakan angkot…

Saat kami masuk ke dalam angkot, bapak itu telah duduk di pojokan, duduk dengan posisi yang menurut penilaianku kurang bersahabat (lagi-lagi penilaian sesaat yang tidak kuharapkan). Bapak itu menaikkan kedua kakinya sembari melipatnya mirip orang yang bersila di atas tempat duduk. Sementara itu, di tangan kirinya dia memegang sebatang rokok yang sedang menyala, yang secara cepat dikeluarkannya melalui jendela yang terbuka di sebelahnya.

Kira-kira beberapa meter sebelum kami sampai, penumpang lain di angkot itu, selain kami berlima dan bapak itu, kebetulan turun. Lalu, sembari angkot yang kami tumpangi mulai bergerak, bapak itu bertanya kepada kami dengan sopan: “Mas, boleh ngerokok gak ya? “, sambil memegang kantung plastik hitam dan mulai mengeluarkan sebungkus rokok dari dalamnya. “Pahit soalnya… “, dia kemudian menambahkan sambil menunjuk mulutnya.

“Oh,.. silahkan Pak,” teman-teman kosanku pun mulai menjawab sambil tertawa-tawa kecil, merasa terheran-heran mungkin.

Ini adalah kali pertama aku menemui orang yang meminta izin sebelum merokok, apalagi di dalam angkutan umum seperti ini. Sangat salut aku kepada bapak itu.

“Maaf ya saya tidak bagus ngomong bahasa Indonesianya,” dia kemudian berbicara lagi. “Saya buruh pabrik di Karawang… ,” itu adalah kata-kata terakhirnya kepada kami yang aku dengar sebab kami telah sampai dan temanku telah menghentikan angkot yang kami naiki ini. Besar sebenarnya rasa penasaranku ingin bertanya lebih banyak tentang beliau: tentang apa yang dimaksud beliau dengan tidak bagus ngomong bahasa Indonesianya, tentang apa yang sedang dilakukannya jauh dari Karawang,.. namun, angkot telah berhenti dan kami harus segera turun dan mulai berlari, berlari menghindari gerimis yang semakin deras..

***
Agus Praditya T

(Minggu, 29 Januari 2012)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: