Watergius's Journal

The world as I see it

Tidak semudah mengatakannya

Semuanya berawal dari korupsi. Pejabat ini korupsi, ketua sana korupsi. Para koruptor semakin kaya dan merajalela, rakyat jelata semakin miskin dan tertindas. Serasa tak ada keadilan lagi, apalagi saat para koruptor mendapatkan hukuman ringan, bahkan lebih ringan dari hukuman masyarakat biasa yang seharusnya kasusnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Masyarakat pun mulai kesal, bahkan marah. Marah dan mulai mengutuk…

*

Tiap kali ada berita di harian online mengenai korupsi maupun kebobrokan pemerintah (bahkan terkadang di berita yang gak ada hubungannya sama sekali), aku selalu melirik dan membaca kolom komentar. Entah kenapa bagian itu selalu lebih seru dibaca, walaupun terkadang isinya terkesan kasar dan tanpa sensor. Dan bahkan, bila menyangkut masalah korupsi, isinya pastilah hujatan terhadap si pelaku dan pemerintah (oknum) dan “harapan” agar mereka dihukum mati.

Namun, melakukan taklah semudah mengatakannya. Sama seperti menuliskan harapan agar koruptor itu dihukum mati tidaklah semudah melakukannya…

*

Dalam film Batman : The Dark Night, ada satu bagian yang cukup aku suka, yakni saat kedua kapal feri yang berisi penumpang (satu kapal berisi masyarakat sipil dan yang satu lagi berisi para penjahat) telah dipasangi bom dan berhenti di tengah lautan. Mereka diberi pilihan untuk meledakkan kapal yang satunya lagi sebelum tenggat waktu tertentu, atau kedua kapal mereka yang akan diledakkan…

1) masyarakat sipil berpikir mereka lebih pantas hidup dibanding penjahat2 itu 2) mereka voting untuk memutuskan kebenaran hal itu

1) mereka sepakat untuk meledakkan kapal berisi penjahat, namun tidak ada yang berani melakukannya 2) seorang pria memberanikan diri dengan menegaskan lagi tentang apa yang telah dilakukan si penjahat2 itu

setelah semua pembelaan yang dikatakannya, dia tidak dapat melakukan tugasnya, "menghabisi" nyawa manusia lainnya

*

Mengatakan “hukum mati koruptor” adalah hal yang kedengarannya mudah, semudah memutuskan dan mengetukkan palu. Mengeksekusinya? Aku pikir jauh lebih rumit dari itu.

Sama seperti ilustrasi dari film Batman di atas, masyarakat sipil awalnya sangat antusias untuk mengatakan bahwa kapal penjahat itulah yang layak untuk dibom (dengan kata lain, penjahat2 itu layak dihukum mati). Namun, ketika tiba saatnya untuk mengeksekusi, tidak ada yang mau “mengotori tangannya”. Menurutku, sudah sifat alami seorang manusia normal untuk merasa bersalah setelah melakukan sesuatu yang buruk terhadap sesamanya, apalagi sampai mengambil nyawa mereka. Dan demikian jugalah dengan kasus koruptor dan harapan agar mereka di hukum mati. Mengharapkan agar mereka dihukum mati hanyalah semudah menuliskan tanpa berpikir untuk berbagi tanggung jawab moral dengan si pengeksekusinya…

Bila boleh memberi pendapat, aku lebih memilih hukuman lain buat para koruptor. Sita semua harta mereka, tidak hanya yang hasil korupsi, melainkan benar2 semuanya. Yaa, walaupun aku tidak tahu apakah hal ini bisa diterapkan sesuai dengan hukum perundang-undangan yang berlaku di negara ini..

***

hanya berbagi sebuah pendapat dan pandangan (Agus)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: