Watergius's Journal

The world as I see it

hanya jam mandi yang membuatnya mau melepaskanku

Minggu, 26 Februari 2012

***

Langit mendung siang itu dan rintik-rintik hujan pun mulai turun. Setelah beberapa lama menunggu sendirian, teman-teman dari Angel’s Assistant pun mulai berdatangan. Di situ, di depan Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah, kami mulai menurunkan barang-barang sumbangan yang kami bawa dan bersiap untuk masuk. Tapi, tunggu dulu, tak lengkap rasanya bila tidak berfoto dulu. Dan jadilah kami berfoto di depan pintu masuk panti tersebut dengan senyum mengambang disertai lirikan penjaga panti yang terheran-heran melihat ulah anak-anak muda ini.

Angel’s Assistant, sebuah komunitas yang baru kuikuti adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam ruang lingkup kepedulian terhadap nasib anak anak yatim piatu dan terlantar khususnya di Kota Bandung (lebih lengkapnya dapat dilihat di sini : http://angelsassistant.blogspot.com/). Bagiku pribadi, komunitas dan kegiatan seperti ini sangat positif dan terutama mengingatkanku untuk selalu bersyukur atas apa yang aku miliki. Dan lagipula, berbuat baik dan menolong orang lain akan mengasah hati nurani kita agar tidak tumpul dan menjadi berkarat.

Panti asuhan itu ternyata tidak hanya menampung bayi saja, melainkan ada juga anak2 usia 3 tahun ke atas. Namun, karena kami datangnya tepat pada saat jam istirahat mereka, hanya ruangan anak2 bayilah yang rencananya akan kami datangi. Dan lagipula, kebanyakan teman-teman dari Angel’s Assistant pinginnya sih kesitu. Mau ngapain? Ya ngapain lagi kalau bukan belajar untuk menjadi seorang ibu.. eh, bukan deng, ternyata mereka sangat senang berfoto dengan bayi yang lucu-lucu itu..šŸ˜€

Di lantai 3 gedung panti itu ternyata bukan hanya ada bayi saja, melainkan ada juga anak2 kecil (kurang tahu umurnya berapaan) yang sedang asyik-asyiknya bermain di dalam sebuah ruangan. Beberapa teman pun mulai masuk ke ruangan itu dan bermain-main dengan mereka. Aku sendiri awalnya memutuskan untuk melihat-lihat saja dari luar. “Aku kurang cocok dengan anak-anak”, kataku kepada salah seorang teman yang mengajakku untuk masuk bergabung dengan mereka. Namun, tidak untuk lama hal itu dapat bertahan sebab beberapa menit kemudian aku telah berada di ruangan itu dengan seorang anak kecil dipangkuanku.

Awalnya aku memutuskan untuk masuk supaya bisa melihat-lihat mereka lebih dekat. Namun, tak butuh waktu lama hingga mereka berkumpul di dekatku dan mulai melirik helmku yang kupegang sejak tadi. Seorang anak pun segera mengambilnya dari tanganku dan memakainya. Memakainya di kepalanya yang sangat kecil untuk ukuran helm orang dewasa. Namun, dia sepertinya cukup gembira sebab dia berkeliling-keliling di ruangan itu dengan senyum mengambang yang masih terlihat di wajahnya di balik helm yang kebesaran itu. Bahkan saat seorang temannya ingin gantian memakainya, dia tidak memberinya. Dan si temannya inilah yang akhirnya “nempel” terus samaku hingga akhirnya tiba saatnya buat mereka untuk mandi.

Berawal dari melerai sesuatu yang sepertinya pertikaian untuk memperebutkan hak pemakaian helmku, aku pun berhadapan dengan seorang anak kecil yang sepertinya kalah dalam pertikaian tadi. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk dia melupakan tentang kekalahannya tadi. Kini dia telah berada di gendonganku dan memintaku untuk membawanya ke sini dan ke situ.

Selama kugendong tak banyak yang bisa kungerti dari apa yang diucapkannya. Sepertinya sih karena umur mereka yang masih kecil. Namun, hal itu tak berdampak banyak sebab mereka tinggal merengek dan menunjuk saja lokasi yang mereka inginkan. Dan itu jugalah yang dilakukan bocah kecil digendonganku ini. Bocah kecil yang namanya aku tidak tahu sebab dia tidak mau menyebutkannya. Bahkan, setelah kusogok untuk kugendong lagi dan membiarkannya menyalakan televisi yang ada di ruangan itu, dia tetap tidak menyebutkan namanya secara jelas. Koko, itulah yang kutangkap dari ucapannya namun aku yakin itu bukan namanya..

Cukup lama aku menggendong si “Koko” itu hingga tanganku cukup pegal juga. Saat kuminta temanku yang lain untuk gantian menggendongnya, Koko menolak dengan tidak melepaskan pegangannya dari tubuhku. Bahkan teman-temanku sampai tersenyum dan mulai menyemangatiku.. haha. Tetapi, hal itu menjadi membuatku terpikir, apakah mereka segitu rindunya untuk digendong seseorang? Atau, apakah mereka merindukan untuk digendong oleh sebuah sosok yang mereka panggil ayah.

Setelah penolakan Koko untuk digendong oleh orang lain, aku pun melanjutkan untuk menggendongnya selama beberapa saat lagi. Namun, karena tanganku memang udah cukup pegal, aku pun memutuskan untuk duduk dan meletakkannya. Bahkan saat aku sudah duduk pun, dia tetap duduk di pangkuanku dan memintaku untuk menggendongnya lagi. Waduh, aa udah capek loh dek. Dan, saat ada seorang temannya yang tiba-tiba saja duduk di pangkuanku, si Koko tadi malah menendangnya agar temannya itu segera menjauh. Akibatnya, mulainya terdengar isak tangis dan aku yang menjadi kebingungan. @_@ Untunglah teman-teman yang lain segera turun tangan..šŸ˜€

si Koko lagi ngerengek minta di gendong

Berbagai bujuk rayu tidak berhasil untuk membuat Koko mau pindah ke pangkuan orang lain, termasuk untuk “melepaskan” dirinya dariku (dengan cara baik2 tentunya). Akhirnya, setelah beberapa waktu, tiba-tiba saja anak-anak yang lain pada berlarian ke luar. Wah, kesempatan nih, pikirku. Dengan bujuk rayu aku pun berhasil menyuruhnya untuk bergabung dengan teman-temannya, yang akhirnya kuketahui ternyata tiba saatnya bagi mereka untuk mandi.

Sampai ketemu lain kali Koko..šŸ˜€

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: