Watergius's Journal

The world as I see it

negara barat dan masakan pedas

Kamis, 17 Mei 2012

***

Sudah hampir dua minggu aku tinggal di negara ini, tepatnya di salah satu kota dengan tingkat keanekaragaman penduduk yang sangat majemuk di dunia, Toronto. Saking majemuknya, bahkan beberapa dari kelompok suku bangsa tertentu telah membentuk semacam distrik mereka sendiri, seperti China town, Korea town, Little Italy, Greek Town, dan beberapa nama lainnya. Tak hanya dari distrik seperti itu, bahkan dari bahasa yang akan kau dengar saat berjalan di tengah keramaian ataupun saat di subway, kau akan dengar banyak sekali bahasa yang berbeda. Yaa, termasuk bahasa Indonesia, sebab kami (orang Indonesia) ada di sini..ūüėÄ

Dengan adanya beragam suku bangsa dunia, beragam pulalah jenis makanan yang dapat kau temukan di kota ini. Tapi, buat “lidah” orang Indonesia seperti kami, menemukan makanan yang benar2 cocok itu lumayan susah.

Sarapan di penginapan dan makan siang dari kantor pada umumnya adalah makanan barat, seperti sandwich, salad, dan roti. Terkadang di sediakan juga kentang dan daging serta pernah juga mie. Hanya saja, ada satu yang penting yang hilang dari semua itu, rasa (secara teori indera perasa bukan rasa sih, tapi lupakanlah hal itu) PEDAS. Di sini cabe ada sebab mereka memiliki sambal. Hanya saja, rasanya asam dan terkadang manis, dan bukan pedas.. Karenanya, hampir untuk tiap makan malam kami berusaha mengelilingi kota ini untuk mencari beragam menu makanan yang menawarkan rasa pedas.

Aku telah mencoba masakan China. Apakah pedas? Tidak. Sambal mereka malah manis padahal warnanya sudah merah banget. Lalu, kami juga telah mencoba masakan Vietnam. Lumayan sih rasanya, cuma kalau mau dibilang pedas, tidak bisa dibilang pedas juga. Kemudian masih ada masakan Thailand yang pernah kami coba. Enak, tapi lagi-lagi tidak pedas. Dan bahkan, masakan Korea yang terkenal dengan rasanya yang pedas (bahkan di menunya ditulis spicy food dan warna masakannya merah banget) tidaklah pedas sama sekali, melainkan manis..

Namun, dengan semangat pantang menyerah, akhirnya malam ini kami menemukan tempat makan yang menawarkan masakan yang benar-benar pedas. Salad King namanya dan ianya adalah restoran cepat saji Thailand. Walaupun cepat saji, tapi makanan di dalamnya adalah sama seperti makanan di restoran-restoran (dengan kata lain bukan junk food).

© littleladylove

Jadi, tadi malam saat akan memesan makanan, di menunya tertulis pilihan tingkat kepedasan yang kita inginkan. Dengan sok jago kita pun memesan makanan yang cukup pedas (bahkan ada yang meminta 10 chili- paling pedas adalah 20 chili). Aku sendiri hanya memesan 3 chili, namun meminta chili tambahan di luar siapa tahu cabe di sini memang tidak pedas. Saat chili tambahan tadi diantar duluan, aku mencobanya dan rasanya manis. Sempat aku hampir menambah chili di masakan pesananku, namun tidak jadi.

Setelah makanan diantar dan aku telah mencicipi sebagian kecil darinya, mulailah lidah dan mulutku terasa panas. Ternyata cabe yang di masakannya benar-benar pedas. Dan tak hanya itu, bahkan panas di perut. Bahkan, sampai saat aku menuliskan ini perutku masih cukup panas akibat makan masakan Thailand tadi. @_@. Untunglah aku sok jagonya gak terlalu berlebihan. Coba kalau tadi sempat minta sampai 10 atau lebih cabai, bisa-bisa sampai beberapa hari ke depan aku sakit perut terus-menerus.. haha

***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: