Watergius's Journal

The world as I see it

kerja akhir pekan dan makanan Indonesia

Tolong-menolong sebagai sesama perantau di negeri orang adalah hal yang wajib, bila boleh dikatakan begitu, apalagi bila jumlah kita bisa dihitung dengan jari. Dan yang namanya tolong menolong, tentu dilakukan dengan sukarela dan tulus iklas. Yaa, walaupun terkadang bila ditawarin dengan imbalan juga tidak apa-apa sih, apalagi kalau imbalannya berupa makanan…🙂 . Hal inilah yang kami alami di kota ini, Sudbury, dengan sesama keluarga perantau dari Indonesia (Mas Aqnus dan Ali).

**

Berawal dari acara ramah tamah yang dulu kami lakukan ke tempat Mas Aqnus dan Mas Ali, terciptalah suatu kesepakatan. Sebuah simbiosis mutialisme tepatnya. Kebetulan mereka berdua kontrakan rumahnya masing-masing akan habis dan ingin pindah ke kontrakan yang baru. Dan kebetulannya lagi, istri mereka senang masak masakan Indonesia namun jarang ada tamu yang bisa diundang untuk mencicipi.. Nah, kebetulan sekali dong. Kita ada berdelapan cowok-cowok dengan fisik yang bisa diandalkan di sini. Namun yang paling penting, kita akan sangat senang untuk mencicipi masakan Indonesia, tak peduli seberapa banyak makanan itu..😀 ..

Setelah dilakukan perundingan dan negosiasi, dapatlah keputusan untuk melakukan pindahan itu di dua weekend yang berbeda. Hal ini tentunya sangat menguntungkan buat kita. Selain kita tidak terlalu kecapaian, yang paling utama adalah kita bisa mendapatkan dua kali makan siang (bahkan sampai makan malam) gratis, masakan tanah air lagi…

**

Rumah Mas Aqnus menjadi rumah pertama yang menerima kunjungan kita. Sebelum kita bahkan mulai membantu untuk pindahan, kita sudah diajak makan terlebih dahulu. Biar ada tenaga buat pindahan, demikianlah Mas Aqnus memberitahu kami. Yaa, benar juga sih… dan tanpa malu-malu kami pun mencicipi Coto buatan istri Mas Aqnus. Enak dan pedas adalah kata yang cocok untuk menggambarkan masakan itu, menurutku.

Setengah jam berlalu dan kita pun mulai bekerja. Cukup banyak juga barang Mas Aqnus. Truk untuk pindahan yang disewanya cukup besar juga, namun sudah penuh duluan sebelum semua barang berhasil kita masukkan. Untung saja rumah barunya dekat, hanya berjarak beberapa rumah, sehingga kami melakukan pindahan sampai bolak-balik tiga kali..

ada apa tuh di atas…

Banyaknya energi yang kami keluarkan untuk pindahan siang itu terbayarkan sudah dengan lezatnya makanan yang kami makan. Tak hanya Coto saja yang menanti setelah semua barang selesai kami pindahkan, masih ada makanan lain, termasuk gorengan pisang keju yang sangat lezat. Sungguh sebuah akhir pekan yang memanjakan perut..

**

Berselang dua minggu sejak rumah Mas Aqnus, kini giliran rumah Mas Ali yang kami samperin.

Sekitar pukul 10 pagi di hari Sabtu nan cerah kami telah di terima di ruang tamu Mas Ali. Yang menanti kami, selain Mas Ali tentunya, adalah martabak dan minuman kaleng. Ternyata strateginya sama juga kali ini. Kita disuguhin makanan dulu agar ntar punya tenaga buat ngangkat perabotan yang ada di dalam rumah.

Dengan waktu selama setengah jam yang disediakan untuk makan makanan pembuka, sekitar pukul setengah sebelas lewat kami pun mulai mengangkut barang ke truk pindahan. Tak sampai sejam semua barang di rumah Mas Ali telah selesai kami masukkan ke dalam truk. Ternyata barang-barang Mas Ali tidak terlalu banyak. Dan disamping itu juga, bebeapa barang-barang yang kecil sudah dibawa duluan oleh Mas Ali ke rumah mereka yang baru, tempat istri dan anak2nya sekarang berada.

diratain atuh ngangkat mejanya…

Sekali perjalanan sudah cukup untuk mengangkat semua barang Mas Ali. Dan untung saja sekali perjalanan juga sih sebab jarak ke rumah barunya cukup jauh juga, hampir 20 menit naik mobil.

Proses menurunkan barang dari truk dan memasukkannya ke dalam rumah entah kenapa terasa jauh lebih cepat, tak sampai setengah jam.  Kini, tibalah saatnya untuk mencicipi makanan yang telah dipersiapkan oleh istri Mas Ali. Dan ternyata, tak hanya kami saja yang menjadi tamu undangan siang itu. Mas Aqnus dan keluarganya juga turut bergabung untuk meramaikan acara makan siang itu.

Rendang, ayam gulai, dan sayur yang mirip daun singkong menjadi lauk kami siang itu. Dan tentu saja, nasi putih dan kerupuk tidak kelupaan. Serasa itu saja masih kurang banyak, istri Mas Ali juga menyiapkan bakso tahu, lengkap dengan bumbu kacangnya sebagai makanan penutup di sore hari itu. Sungguh kali ini makanan yang kami makan tidak sebanding dengan energi yang kami keluarkan..😀

bakso tahu Sudbury, tak ada duanya..

***
Agus Praditya T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: