Watergius's Journal

The world as I see it

Jalan “itu” tidak mudah

Oktober 2010

**
Itu adalah job fair pertama yang kudatangi. Saat itu statusku masih mahasiswa semester tujuh di salah satu perguruan tinggi negeri, namun, berhubung karena tempat diadakannya job fair itu sangat dekat dengan kampusku, kuputuskan untuk menyempatkan diri mengunjunginya.

Sembari berkeliling, aku menemui banyak booth yang menarik. Sambil terus berjalan, akhirnya aku sampai di depan salah satu booth yang semua petugas jaganya adalah alumni fakultasku. Dan booth yang mereka jaga juga cukup menarik, yakni salah satu perusahaan manufaktur besar asal Jepang.

Cerita punya cerita, ternyata mereka juga melamar di perusahaan yang sekarang mereka wakili ini saat mereka dulu berada di semester tujuh, sama seperti aku saat ini. Dari cerita mereka, perusahaan ini akan mengadakan tes hingga tahun depan sekitar bulan Februari. Dan bila ntar kita lulus dan ditawari kontrak kerja, kita baru akan mulai kerja bulan Oktobernya. Jadi, cukup menarik juga mekanisme rekrutmen yang mereka lakukan. Satu lagi, bila seandainya ntar diterima kerja, kita tuh kerjanya bukan di Indonesia, melainkan di perusahaan pusatnya langsung, di Jepang. Tambah menarik bukan?

*
Hingga beberapa hari sebelum tenggat waktu pengumpulan formulir lamaran perusahaan itu, aku belum juga mengirimkannya ; antara gak yakin dengan pilihan kerja di perusahaan itu, gak yakin bakalan di terima, dan gak yakin apa ingin kerja atau ingin lanjut kuliah lagi setelah menyelesaikan program sarjana tahun depan. Namun akhirnya, pada hari-H batas waktu pengiriman formulir lamaran, aku pun mengirimkannya, tepat beberapa jam sebelum pergantian tanggal.

Beberapa minggu berselang hingga akhirnya di suatu sore aku mendapatkan telepon yang intinya menyampaikan kalau aku lulus seleksi dokumen dan diundang untuk tes wawancara perusahaan itu minggu depannya. Hmm, sungguh sebuah kabar yang tak terduga.

*
Sekitar setengah jam lebih aku diwawancarai oleh HRD perusahaan itu. Berbagai pertanyaan standar, mulai dari keluarga, jurusan, alasan memilih perusahaan ini pun mulai ditanyakan. Hingga akhirnya, dekat-dekat dengan penghujung wawancara dia bertanya, kalau seandainya diterima kerja dan harus tinggal di Jepang minimal 10 tahun, bersedia tidak? Dengan pasti aku menjawab iya, walaupun pada saat itu aku belum menyampaikan tentang hal ini kepada orang tuaku.

Sebulan berlalu dan sebulan itu aku hampir tidak pernah terpikir akan hasil wawancara itu. Hingga akhirnya, sekitar siang hari tepat pada hari terakhir di tahun 2010, bapak yang sama yang meneleponku untuk wawancara pertama kalinya, menelepon lagi dan mengatakan kalau aku dipanggil untuk lanjut ke tahap berikutnya.

mulai merasa kuatir

*
Ada tiga orang di dalam ruangan itu saat wawancara berlangsung, dua orang manager (sepertinya) dan satu orang dari HRD yang belakangan akhirnya aku tahu kalau beliau ternyata atasannya HRD buat kawasan Indonesia. Singkat cerita, wawancaraku saat itu menyangkut tentang apa topik tugas akhirku serta tentang alasan dibalik tiga posisi yang kupilih seperti yang tercantum di formulir lamaran. Menjelang akhir wawancara, mereka bertanya kenapa aku tidak memilih sebuah posisi pekerjaan yang setidaknya ada kaitan dengan tugas akhirku? Dari semua posisi yang ditawarkan, hanya ada satu posisi yang setidaknya menyangkut objek yang menjadi penelitian tugas akhirku, hanya saja posisi yang ditawarkan adalah posisi sebagai Sales Engineer sebuah produk tertentu. Dan pada saat itu, persepsiku akan sales engineer belum terlalu matang sehingga yang ada di pikiranku tentang posisi ini adalah sama dengan sales seara umum.

Menangkap geligat kebingungan dari wajahku, salah satu dari manager itu pun kemudian  menjelaskan lebih jauh tentang posisi ini, sekaligus menawariku untuk mengganti posisi pilihanku. Sekadar informasi, posisi pilihanku itu, tak satupun yang aku punya pengalaman akannya. Setelah dia menjelaskan panjang lebar, dia pun bertanya kembali kepadaku : ” Jadi, apakah Anda mau mengganti pilihan Anda? ”

Dengan berusaha bersikap sesopan mungkin, aku menolak tawaran mereka dan mengatakan kalau posisi yang mereka tawarkan itu bagus, hanya saja aku akan tetap bertahan dengan pilihanku tadi.

Keluar dari ruangan wawancara aku merasakan sedikit penyesalan. Dengan menerima tawaran posisi yang mereka sampaikan tadi, peluangku untuk diterima akan sangat besar sebab sepertinya mereka berpikir aku akan sangat cocok berada di posisi itu. Lagipula, kemungkinan buat orang lain melamar posisi yang sama dengan yang mereka tawarkan itu sangat kecil, mengingat hal itu cukup baru dan di fakultasku, hanya aku, dari beberapa orang yang aku tahu, yang mempunyai topik tugas akhir yang sama.

*

Sore itu adalah pertandingan semifinal bola voli antara timku dengan fakultas lain. Aku, yang main sebagai starter, menunjukkan tanda-tanda tidak bersemangat dan tidak konsentrasi. Penyebabnya adalah beberapa jam sebelumnya aku dapat sms dari beberapa teman-temanku yang kebetulan mengikuti wawancara kedua juga, kalau mereka tidak lolos tahap ini. Dan ditambah lagi, salah seorang rekan timku beberapa jam yang lalu juga mendapatkan telepon kalau dia lolos tahapan kedua dan diundang untuk mengikuti wawancara tahap akhir ke Jepang. Sedangkan aku, tak ada kabar sedikit pun, baik lewat sms maupun telepon.

Tertinggal set pertama dan tidak menunjukkan performa positif di set kedua, tim kami pasti akan kalah sore itu kalau pertandingan tetap dilanjutkan. Untunglah sore itu hujan turun sehingga pertandingan ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Sungguh sebuah kabar yang menyenangkan. Ditambah lagi, dari salah seorang temanku aku dapat kabar kalau aku sebenarnya lulus wawancara kedua kemarin dan akan berangkat ke Jepang bulan depannya untuk wawancara, hanya saja bapak yang biasa menelepon untuk mengasih informasi itu tidak bisa meneleponku. Tidak yakin dengan informasi ini, aku pun memutuskan untuk segera menelepon bapak itu. Dan ternyata benar, dia beberapa kali mencoba menghubungiku namun tidak pernah nyambung. Penyebab hal ini, yang akhirnya kuketahui beberapa hari setelahnya, adalah mereka salah menulis nomor telepon genggamku. Terlepas dari itu, sore itu aku sangat senang dan sangat bersyukur pada Tuhan.

*

Menginjakkan kaki di Jepang adalah salah satu impianku yang akhirnya terwujud. Tujuh jam perjalanan terbayarkan oleh suasana baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tujuh jam perjalanan penanda perjuangan akhir untuk meraih sebuah pekerjaan akan segera dimulai.

Jepang, akhirnya…

*

Ada tiga wawancara yang harus kujalani selama di Jepang. Wawancara pertama adalah dengan manager pilihan posisi pertamaku, yakni dibagian Nuclear Power Generation. Di posisi ini ada satu orang sainganku, seorang Taiwan, yang telah memiliki pengalaman kerja cukup lama di bidang industri. Pada wawancara untuk posisi kedua, aku diwawancarai oleh dua orang manager yang tak disangka-sangka juga memberikan sebuah tes tertulis tentang beberapa pelajaran yang dulu pernah kuambil. Dan bisa kukatakan hasilnya cukup mengecewakan, termasuk sainganku untuk posisi yang sama juga mengatakan hal yang sama. Tidak tahu apakah aku harus bahagia atau tidak saat itu. Dan pada wawancara yang terakhir, aku menjalaninya dengan manager dari bagian Human Resources. Ada semacam kesalahpahaman yang kulakukan dalam mengerti sesuatu sepertinya saat itu sebab sebelum wawancara berakhir, bapak itu bertanya mengenai pendapatku tentang posisi sales engineer itu (lagi). Aku, yang sejak semula memang tidak punya niat untuk mengambilnya pun kebingungan dan mengatakan kalau aku tidak mengerti dan memang tidak berminat akan posisi itu sejak semula. Singkat cerita, wawancara pun selesai dan mereka akan mengabarkan kepadaku hasil wawancaranya dalam waktu singkat. Hatiku pun mulai tidak tenang sebab beberapa teman yang ikut wawancara denganku di tempat itu langsung mendapatkan surat penawaran dari mereka.

*

Sehari setelah pulang ke Indonesia aku masih belum mendapatkan kabar apa-apa. Gelisah dan tidak tenang dengan wawancara terakhir dengan HRD, aku mengirim email ke salah seorang HRD yang kebetulan mewawancarai aku untuk pertama kalinya di Indonesia dulu dan mengirim pesan yang intinya bahwa aku bersedia untuk kerja di bagian Sales Engineer itu dan bahwa sepertinya aku telah melakukan kesalahan dalam memahami maksud dari manager HRD yang dulu mewawancarai aku. Kalau aku pikir-pikir sekarang, email-ku itu ternyata lebih mirip sebuah pesan putus asa dan permohonan agar diberi sesuatu walaupun tidak sesuai dengan hati kecilku. Sebuah hal yang malah membuatku tersenyum bila diingat-ingat lagi sekarang.

*

Dua hari berlalu dan pesan itu pun masuk ke kotak pesan yahoo-ku. Menerima kenyataan kalau itu bukanlah jalan yang ditentukan Yang Maha Kuasa buatku tidaklah semudah mengatakannya. Butuh waktu lama untuk menerimanya, setidaknya itulah yang kurasakan. Pengalamanku melamar kerja dan ditolak untuk pertama kalinya.

**

April 2011

**

Merasa percaya diri dengan wawancara cukup sukses yang pernah kulakukan, pada pameran kerja bulan April di kampusku, aku cukup tenang. Dari beberapa perusahaan yang membuka lowongan, kupilih untuk memasukkan beberapa lamaran. Besarnya penghasilan dan nama perusahaan pun menjadi prioritasku, sama seperti kebanyakan orang yang melamar pekerjaan di situ, di tempat itu.

*

Dari beberapa perusahaan yang aku lamar, salah satu perusahaan manufaktur kendaraan bermotorlah yang pertama kali mengadakan tes. Ada tiga tes yang aku jalani di satu hari itu dan ternyata aku lulus dan dipanggil untuk diskusi kelompok esok harinya. Hanya saja, besok harinya itu aku kebetulan diundang mengikuti tes salah satu perusahaan yang bergerak di bidang oil service yang bermarkas di Perancis. Bingung harus memilih yang mana, aku pun memutuskan untuk meninggalkan perusahaan manufaktur itu, yang tiga tesnya baru saja aku selesaikan hari ini.

Keesokan harinya, dalam waktu tidak sampai tiga menit, tesku dengan perusahaan oil service itu berakhir. Hasilnya, aku gagal. Hehehe. Lebih dari setengah hari menunggu hanya untuk ngomong (baca : tes) dalam waktu tak sampai tiga menit, dan itupun tidak lulus. Hahahaha.

hahaha

*
Kira-kira dua hari berlalu, aku pun kembali lagi berkutat dengan tes kerja yang lain. Kali ini tes yang kujalani adalah dengan sebuah perusahaan minyak dengan inisial CP. Tes hari pertama cukup berat dan melelahkan. Di mulai pagi hari dan berakhir cukup sore. Dan, di sore harinya mereka juga langsung mengumumkan nama-nama yang akan mengikuti wawancara keesokan harinya. Namaku tercatat di situ dan keesokan harinya aku mengikuti wawancara yang mereka maksud. Hasilnya? Mereka tidak memberikan kabar, bahkan hingga saat ini. Karena itu, mengasumsikan kalau kita gagal adalah hal umum bila tidak mendengarkan kabar apa-apa. Sungguh sebuah pembenaran publik yang kurang menyenangkan.

*

Perburuanku mencari kerja pun terus berlanjut. Ada beberapa perusahaan lain yang aku lamar dan ikutin tesnya, bahkan ada yang sudah sampai ke posisi wawancara terakhir juga, misalnya perusahaan  manufaktur komputer asal USA dan berkantor di daerah elit Bundaran HI. Hanya saja, sepertinya mungkin belum waktunya aku untuk mendapatkan pekerjaan.

*

Bulan Juni 2011 pun mendekat dengan cepat dan belum ada tanda-tanda kalau tugas akhirku akan selesai dalam waktu dekat. Dan memang benar. Kesempatan untuk wisuda Juli pun kulupakan. Kini, aku punya waktu setidaknya tiga bulan untuk fokus dulu dengan tugas akhirku dan melupakan urusan mencari kerja…

**

Oktober 2011

**

Jadwal wisuda sudah keluar dan semua urusan menyangkut hal itu juga sudah beres. Kini saatnya untuk kembali fokus mencari kerja. Dan kebetulan, tiap bulan Oktober ada pameran kerja di kampusku, sama seperti pameran kerja yang aku datangi tepat setahun yang lalu untuk pertama kalinya.

Cukup banyak lamaran yang aku masukkan kali ini, mulai dari perusahaan minyak (nasional dan multinasional), konsultan, hingga perusahaan manufaktur yang sama yang awal tahun ini telah mengantarkanku menginjakkan kaki di Jepang.

Satu persatu tes mereka pun kujalani. Hanya saja, aku selalu terhenti di tengah jalan dan harus merelakan kesempatan saat itu lepas.
*
Dengan semakin mudahnya akses informasi melalui internet, lamaran kerja yang kumasukkan tidak lagi hanya melalui pameran kerja, tapi juga melalui laman-laman website kerja yang salah satunya disediakan oleh almamaterku. Dan melalui laman website inilah aku akhirnya menemukan pekerjaanku saat ini, pekerjaan yang telah membawaku ke sisi lain bumi ini, jauh dari tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Hanya saja, jalan ke situ juga tidak semulus itu…

*
Ada beberapa tes perusahaan yang aku jalani cukup jauh sebelum aku mendapatkan pekerjaanku saat ini. Perusahaan pertama adalah perusahaan servis minyak asal Houton, Amerika Serikat yang memiliki kantor cabang di Jakarta dan Balikpapan. Cukup besar usaha dan pengorbanan yang kulakukan selama tes perusahaan ini. Berangkat malam hari ke Jakarta dan menumpang semalam di tempat kenalan sebab esoknya harus mengikuti tes pagi-pagi kulakukan sebanyak tiga kali selama mengikuti tes ini. Hasilnya? Aku berhasil mendapatkan surat kontrak kerja dari mereka. Bila aku setuju dengan isinya lalu menandatangai dan menyerahkannya kepada mereka, maka aku akan dijadwalkan menjalani tes kesehatan dan setelahnya akan mengikuti training dari mereka selama tiga bulan. Namun, dengan beberapa pertimbangan dari isi kontrak dan setelah bertanya kepada beberapa orang kenalan yang bekerja atau pernah bekerja di perusahaan yang sama, aku pun memutuskan untuk menolak tawaran mereka.

Perusahaan lainnya yang pernah kulamar adalah perusahaan rokok yang merupakan bagian dari perusahaan rokok multinasional, PMI. Awalnya aku hanya iseng-iseng saja mencoba mengikuti tes perusahaan ini. Hitung-hitung cari pengalaman, itu dulu alasanku. Lagipula, aku tidak suka dengan rokok dan menganggapnya sebagai sesuatu yang merugikan. Tapi entah kenapa iseng-iseng mengikuti tes perusahaan ini berjalan mulus hingga tahap akhir. Bahkan, aku juga diundang untuk mengikuti salah satu acara besar mereka yang diadakan di hotel mewah di Jakarta. Kemewahan dan perlakuan inilah yang sempat membuatku terpikat bahkan melahirkan pembelaan diri dalam hati bahwasanya kerja di perusahaan ini cocok buatku. Hanya saja, aku tidak berhasil lolos untuk posisi yang aku inginkan dan akhirnya ditawarkan posisi lain. Pada saat inilah aku kembali mendengarkan hati kecilku dan memutuskan kalau kerja di perusahaan rokok bukanlah jalanku. Akhirnya, aku pun menolak tawaran mereka lewat telepon dan berterima kasih atas tawaran yang mereka sampaikan.

*

Perusahaan minyak seakan tidak lepas dari daftar salah satu pekerjaan yang selalu kulamar. Selain melamar CP pada bulan April yang lalu, sebenarnya aku juga memasukkan lamaran ke salah satu perusahaan minyak asal Inggris yang juga memiliki ladang minyak di Papua. Hanya saja, di bulan April kemarin aku hanya sampai pada tahapan interview HRD lewat telepon. Namun kini, setelah mencoba peruntunganku lagi, aku berhasil lolos hingga tahap interview user dan dipanggil ke kantor mereka di Jakarta.

Interview dengan dua orang user berpengalaman dari perusahaan itu benar-benar membuatku tidak dapat berkata apa-apa. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka utarakan sangat teknis sekali, lebih-lebih dari tes awal praktikum yang dulu pernah  kujalani saat masih duduk di bangku kuliah. Kata maaf dan tidak tahu menjadi kata-kata yang paling banyak kuucapkan sepertinya. Untunglah mereka orangnya cukup bijaksana dan malah membantu mengarahkanku untuk dapat melanjutkan alur berpikir mereka sehingga aku dapat menyampaikan garis-garis besar dari pertanyaan yang mereka sampaikan. Dan sebelum meninggalkan kantor tempat mereka mewawancaraiku, mereka menyampaikan sesuatu kepadaku : “Banyak-banyaklah berdoa,” dan aku pun hanya bisa tersenyum sedih.

😦

Lama tak terdengar kabar akan hasil tes dengan perusahaan minyak tadi, tesku dengan perusahaan tempat aku kerja sekarang pun terus berlanjut hingga tahun depannya, tahun 2012.
*
Saat itu mendekati akhir bulan Januari dan aku belum mendapatkan kabar apa-apa dari dua perusahaan yang hasilnya sedang aku tunggu, perusahaan minyak asal Inggris tadi dan perusahaan tempat aku kerja sekarang. Untuk perusahaan minyak itu aku sebenarnya sudah pesimis mengingat buruknya wawancara yang dulu kulakukan dengan mereka. Namun, berhubung selama ini aku tetap mengontak HRD dari perusahaan itu dan jawaban dari mereka pun selalu sama, masih dirundingkan, akhirnya aku pun cukup merasa tenang walaupun porsinya sangatlah kecil. Sementara itu, kabar dari tempat kerjaku sekarang hasilnya baru kuketahui beberapa minggu setelahnya.

Saat itu pagi hari, sekitar pukul 9, dan aku masih berada di kamar kosanku, di depan komputer, berusaha mencari-cari lowongan pekerjaan lain dan juga beasiswa. Lalu hpku pun berbunyi dan nomor yang memanggil sepertinya cukup kukenal. Aku mengangkat telepon itu dan bersiap untuk mendengarkan apapun hasilnya.

Maaf, tapi untuk program yang Anda lamar Anda tidak lulus, itulah isi berita yang disampaikan oleh wanita dari seberang telepon yang aku tahu adalah HRD dari perusahaan tempat aku kerja sekarang. Tapi, untuk program regular dan kerja di site Indonesia Anda akan masuk pertimbangan kami dan kemungkinan akan direkrut, mbak itu kemudian menambahkan.

Sebelumnya, marilah kuperjelas apa yang dimaksud dengan program yang kulamar. Jadi, perusahaan tempatku kerja sekarang memiliki sebuah program baru untuk mengirimkan pegawai2 mereka belajar serta mendapatkan ilmu baru dari daerah operasi yang ada di Kanada, untuk kemudian dibawa kembali ke Sulawesi. Dan, yang dimaksud dengan program regular itu sendiri adalah aku akan bekerja langsung di Indonesia dan tidak akan dikirim ke Kanada.

Oh, oke Mbak. Terima kasih atas informasinya. Itulah kata-kata yang dapat kuucapkan setelah menerima kabar itu lewat telepon. Aku tidak tahu betapa sedih dan kecewanya aku saat itu. Namun, ya sudahlah. Setidaknya aku masih dapat tawaran untuk bekerja dan tidak benar-benar ditolak, kataku berusaha untuk menghibur diri.

Tidur, makan, main, dan menunggu adalah ritualku selama beberapa hari, bahkan minggu, kedepan. Bahkan, dapat dihitung berapa banyak waktu yang kuhabiskan di kosanku sendiri dibandingkan dengan waktuku di kosan teman. Tidak adanya telepon yang masuk menambah kerisauan selama masa-masa penantian itu yang malah membuatku semakin merasa tidak ingin sendirian. Sambil tetap berharap dan berdoa, aku pun menjalani hari-hariku hingga suatu siang sesuatu yang tidak terduga terjadi.

menunggu…

*
Siang itu aku berada di kosan temanku seperti biasa. Kami sedang bermain game di komputernya ketika hpku tiba-tiba berbunyi. Aku melihat ke layar dan aku mengenali nomor itu, nomor HRD perusahaan tempatku kerja sekarang.

Halo… Apakah kamu masih berminat untuk berangkat ke Kanada?”, itulah pertanyaan darinya yang tak akan pernah kulupakan. Bercampur antara kaget, senang, dan tidak percaya, aku pun dengan sigap menjawab : “Iya Mbak, tentu saja”, tanpa pernah menanyakan alasan dibalik kenapa akhirnya aku dipilih kembali untuk mengikuti program ini. Sambil berusaha menahan teriakan saking senangnya, aku lanjut mendengarkan instruksi dari dia menyangkut masalah pemeriksaan kesehatan akhir di site perusahaan langsung dan persiapan tanda tangan kontrak bila lolos tes kesehatan tersebut.

Singkat cerita, aku pun berangkat ke Sulawesi, menjalani tes di rumah sakit perusahaan, lulus pemeriksaan kesehatan, dan akhirnya menandatangani kontrak kerja dengan mereka. Kontrak kerja pertama yang pernah kutandatangani.

**
Pengurusan visa kerja dan berbagai persiapan lainnya pun menjadi kesibukanku selama hari-hari kedepan. Dan oh ya, HRD dari perusahaan minyak asal Inggris itu pun kembali meneleponku beberapa hari setelah aku menandatangani kontrak kerjaku. Dia bilang kalau aku lulus tahapan wawancara itu dan akan melaju ke tahapan terakhir, ke tahapan presentasi. Dengan ucapan terima kasih dan permintaan maaf aku pun menyampaikan kalau aku tidak akan bisa mengikuti tes mereka sebab aku telah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan lain.

**

Manusia hanya bisa berharap dan melakukan yang terbaik yang dia mampu, selebihnya serahkanlah kepada Tuhan, itulah yang kualami dan itulah yang kuyakini.

***

Agus Praditya Tampubolon

Thompson, MB

2 responses to “Jalan “itu” tidak mudah

  1. Ardianto November 19, 2012 at 5:02 pm

    Sepertinya ada yang salah dengan tahunnya,

    Should be April 2011 and October 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: