Watergius's Journal

The world as I see it

mewah, lampu jalan, dan senyuman

Sabtu, 3 Agustus 2013

***

Memasuki pintunya, atmosfer tiba-tiba berubah..

Mewah… Mahal… Berkelas… Berduit…

Ada dua jenis orang di tempat itu malam itu menurut dia, orang-orang seperti dirinya yang menurutnya kehidupannya pas-pasan dan orang-orang yang dilihatnya lalu lalang dengan fashion terbaru dan setumpuk kantong belanjaan di kedua tangan..

Matanya memandang kesana kemari, tampak malu-malu..

Antara ingin menikmati suasana itu tapi tidak ingin kelihatan oleh orang lain..

Tidak ingin kelihatan seperti baru pertama kali berada di tempat seperti ini padahal tidak..

Tidak ingin kelihatan orang lain kalau dia sedang memandang ke arah mereka.. menatap keindahan perpaduan make up dan fashion, padahal iya..

Dan terutama, tidak ingin kelihatan seperti orang bodoh di hadapan mereka semua yang dianggapnya berkelas itu..

Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku.. tidak kosong sebab ada sepasang muda-mudi juga duduk di situ, sepertinya pasangan kekasih..

Dia duduk, mengambil hp, berharap waktu berjalan cepat agar dapat segera menyelesaikan urusannya…

Sesekali melihat ke hp, sesekali juga matanya mencuri lihat ke depan tiap kali sekelompok orang melintas…

Secara refleks, dia segera memandang ke kehampaan, pura-pura tidak tahu saat dia menyadari ada sesorang dari kelompok yang melintas tadi itu memperhatikannya… benarkah dia menyadarinya atau itu hanya permainan mata dan pikirannya, dia pun kurang tahu, tapi itulah yang diperintahkan alam bawah sadarnya untuk dilakukan…

Entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu, dia pun tidak menghitungnya.. yang dia tahu, akhirnya waktunya tiba dan dia pun segera meninggalkan tempat itu…

Dalam perjalanan pulang, dia melihat realita kehidupan yang lain…

Tidak mewah… Tidak mahal… Tidak berkelas… Tidak berduit….

Di bawah deretan lampu-lampu jalan, orang-orang membentuk kumpulannya masing-masing…

Ada yang duduk bersama sambil mengobrol, ada pula yang tidur…

Ada yang masih memakai pakaian kerjanya dan ada pula yang memakai satu-satunya pakaian yang mungkin dia punya…

Dia merasa kasihan melihat mereka, tidak lagi mengasihani dirinya sendiri…

Inilah realita, pikirnya…

Sembari kendaraan yang ditumpanginya subuh itu bergerak meninggalkan orang-orang di bawah lampu-lampu jalan tadi, dia pun akhirnya tersenyum…

 

***
Agus Praditya Tampubolon

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: