Watergius's Journal

The world as I see it

mendapatkan AOW sertifikat

akhir pekan, Maret 2014

***

Hitam…coklat…kuning…hijau…biru muda…biru tua…

Itulah sederatan warna yang kulihat kemudian kutuliskan di kertas khusus tahan air di kedalaman 30 meter. Bisa dibilang 30 meter di bawah air namun bisa dibilang juga di ketinggian 370 meter di atas permukaan laut mengingat Danau Matano itu berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Namun, itu tidaklah penting.

Merah…orange…kuning…hijau…biru tua…ungu…

Itulah warna sebenarnya dari keenam deretan warna yang kutuliskan di atas. Warna sebenarnya saat dilihat di permukaan. Semakin dalam kita di bawah air, semakin sedikit pula cahaya matahari yang dapat merambat masuk sehingga warna akan mulai hilang, dimulai dari merah.

**

Seminggu sebelum berhasil turun ke kedalaman 30 meter, aku hanya mampu mencapai kedalaman 12 meter saat sakit kepala hebat menyerangku. Kuduga penyebabnya adalah ketidakmampuanku melakukan equalizing, sebuah teknik yang wajib diketahui penyelam yang bertujuan untuk menyeragamkan tekanan udara di dalam rongga kepala (saluran rumit yang menghubungkan telinga, hidung, dan daerah kerongkongan) dengan tekanan dari luar telinga (dalam hal ini tekanan air). Akibat kondisi badan yang sedang flu, saluran tadi pun tersumbat sehingga equalizing tidak dapat dilakukan secara sempurna. Karenanya, dengan semakin tenggelamnya tubuhku, semakin sakitlah kepalaku. Akhirnya aku pun memutuskan untuk naik dan beristirahat di permukaan, yang berarti gagallah aku di hari itu menyebut diriku memiliki sertifikat AOW.

Tak lama setelah aku naik, dua orang teman yang bareng dengan aku mengambil Advanced Open Water itu pun naik ke permukaan dan beristirahat – menunggu matahari tenggelam bersamaku agar dapat melanjutkan materi selanjutnya, night dive.

Menyelam malam hari di danau terdalam se-Indonesia tidak pernah terbayangkan olehku. Betapa tidak, mengingat betapa takutnya dulu diriku akan kedalaman danau itu sehingga muncullah hal-hal imaginatif yang malah membuatku panik. Namun, di malam itu, diriku sangat tenang dan bahkan menikmati berada di kedalaman 6 meter dengan hanya berbekalkan sebuah senter menerangai gelapnya air.

Walaupun danau itu tidak seberwarna lautan, namun suasana malam hari menawarkan pemandangan yang berbeda. Ikan-ikan yang tidur pada posisi yang mirip dengan ikan mati, kepiting-kepiting besar yang keluar mencari makan, dan induk-induk ikan yang sibuk menjaga anak2 di sarangnya dengan agresif. Sungguh sebuah sisi lain dari danau itu yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.

**

Ditambah dengan peak performance buoyancy dan navigation skill training yang kulakukan di minggu sebelum aku night dive, lengkap sudahlah semua persyaratanku untuk mendapatkan sertifikasi sebagai seorang Advanced Open Water diver. Sebuah langkah kesekian diantara banyak langkah sebelumnya yang membuatku semakin jatuh hati akan dunia bawah air.

***
atampubolon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: