Watergius's Journal

The world as I see it

tentang kerja di perantauan …

Ceritakanlah kepadaku tentang peluang mendapatkan kerja…

**

Seorang pemuda sedang merencanakan liburan bersama temannya.

Kebetulan mereka bersekolah di kota yang sama, tapi asal mereka dari dua pulau besar yang berbeda di negeri ini. Berangkatlah mereka ke suatu daerah di pedalaman Celebes, tempat kakak si temannya itu menjadi bupatinya. Saat itu masih tahun tujuh puluhan sehingga satu-satunya transportasi yang sesuai dengan isi kantong mereka adalah kapal laut, dari bagian selatan negeri ini menyebrang ke arah timur laut.

Setelah beberapa hari berlayar, sampailah mereka di ibukota provinsi bagian selatan Celebes yang terkenal dengan kapal-kapal Phinisinya. Lalu, mereka pun kemudian menyambung perjalanan lewat darat menggunakan bus selama kurang lebih 8 jam ke suatu daerah bernama Palopo. Ternyata daerah ini adalah tujuan akhir bus yang mereka naiki sementara tempat yang ingin mereka tuju masih berjarak beberapa ratus kilometer lagi. Berhubung kondisi jalan ke Malili, tujuan akhir mereka, masih jelek, pilihan mereka pun tinggal satu, naik kapal laut lagi. Hanya saja, kali ini kapal tersebut jauh lebih kecil, mirip kapal nelayan bertenaga motor dengan ruangan kecil beratap kayu dan berjendela kaca sebagai tempat kemudi.

Tidak semua orang terlahir menjadi pelaut, demikian juga halnya dengan mereka berdua. Hujan lebat disertai angin kencang di suatu sore membuat kapal yang mereka tumpangi layaknya bongkahan kayu yang terombang ambing di tengah arus sungai yang deras. Merasa pusing dan mual akibat duduk saja di dalam ruangan kemudi, si pemuda tadi pun mencoba berdiri. Namun, apa daya, goyangan ombak lebih perkasa sehingga dia pun terdorong menghantam salah satu jendela kaca di ruangan itu sampai pecah. Kini tinggal jendela kaca di sisi satunya lagi yang sedang bekerja keras menghalau hantaman air hujan yang mencoba masuk. Tapi itu pun tak bertahan lama, sebab teman si pemuda tadi mengulangi kesalahan yang sama dengan mencoba berdiri…

” Maaf Pak, nanti begitu sampai di Malili kita akan ganti biaya perbaikan kaca kapalnya.”

Kapal pun berlabuh dan sebuah mobil VW Kodok memasuki pelabuhan. Saat yang empunya turun, teman si pemuda tadi pun bergerak mendekat sambil menjabat tangan kakaknya itu.

” Teman saya itu adiknya bupati Pak, ” kata si pemuda itu saat melihat rasa penasaran di wajah di bapak nahkoda kapal.

” Dek, kacanya tidak usah diganti ya.. Gak apa2. Nanti bapak saja yang ganti kacanya”, si bapak nahkoda tiba-tiba berkata.

Antara segan dan lega, si pemuda tadi pun berusaha memastikan lagi ke bapak nahkoda. Akhirnya, sambil mengucapkan terima kasih si pemuda tadi pun beranjak pergi. Mungkin dia berpikir dalam hatinya, orang di sini sangat hormat terhadap pimpinannya.

*

Rencana yang semula hanya untuk liburan di pedalaman Celebes berubah menjadi kunjungan ke sebuah pabrik pengolahan hasil tambang berjarak kurang lebih 70 km ke arah timur laut. Dengan status sebagai pejabat pemerintah daerah, kakak teman si pemuda tadi sedang senang-senangnya berkunjung ke pabrik itu sehingga kedua orang tersebut pun diajaknya. Melihat dua orang anak muda yang datang bersama Pak Bupati itu, seorang petinggi pabrik pun menanyakan kepada mereka apakah mereka tertarik bekerja. Gajinya sekitar 45 ribu rupiah per bulan, ketika uang bulanan si pemuda tadi hanyalah sebesar 5 ribu rupiah sebulan. Sungguh merupakan angka yang sangatlah besar.

Setelah merenung semalaman, si pemuda tadi pun memutuskan untuk tetap tinggal dan menerima tawaran pekerjaan tadi. Hari ini dia mengatakan iya dan mengurus beberapa keperluan dengan HRD, besoknya dia sudah langsung mulai bekerja. Berbekal pakaian dan perlengkapan seadanya yang memang hanya dipersiapkan untuk liburan, dia mencoba bertahan hidup sambil menunggu datangnya gaji pertama. Gaji pertama yang sangat besar untuk mulai menata hidupnya…

Kini, tanpa terasa puluhan tahun telalu berlalu. Yang awalnya hanya rencana untuk liburan akhirnya berubah menjadi kerja sampai pensiun.

**

Ceritakanlah kepadaku tentang kapan waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan pertamaku…

**

Seorang pemuda sedang negosiasi alot dengan seorang tukang ojek. Setelah dapat kata sepakat, ojek itu pun melaju sambil membawa si pemuda tadi ke bandara utama negeri ini, subuh-subuh sambil menempuh jarak puluhan kilometer.

Saat itu sekitar bulan Mei tahun sembilan puluh delapan. Saat-saat ketika negeri ini sedang dilanda demo yang sangat besar sehingga dicatatkan dalam sejarah bangsa. Saat ketika si pemuda itu mendapatkan panggilan untuk mengunjungi sebuah pabrik pengolahan hasil tambang di pedalaman Celebes agar dia bisa memutuskan menerima pekerjaan itu atau tidak.

Singkat cerita, si pemuda tadi pun berhasil sampai di bandara, naik pesawat ke Celebes, lalu sampai dengan selamat di pedalaman hutan tempat pabrik tersebut berada. Entah dia melihatnya sebagai sebuah keberuntungan atau tidak, yang pasti dia cocok dan diterima bekerja di perusahaan tersebut dan esok harinya dia sudah dapat langsung mulai berkerja.

” Tapi Pak, saya ke sini kan hanya mau site visit. Dan lagian, saya tidak bawa persediaan pakaian Pak.”

“Kamu dapat membeli beberapa potong pakaian di pasar. Dan lagipula, kita akan memberikan kepadamu baju kerja khusus sehingga kamu sebenarnya tidak perlu banyak persediaan pakaian.”

Kini, tidak ada lagi “tapi-tapi” yang keluar dari mulutnya. Keinginannya memang bekerja di tempat ini, hanya saja dia tidak pernah menyangka akan langsung disuruh bekerja esok hari. Dia bahkan belum sempat pamit ke orang tuanya.

” Pak, saya ingin menelepon ke kampus untuk meninggalkan pesan ke orang tua saya jikalau mereka tiba-tiba menghubungi pihak kampus (keluarganya memang tidak punya telepon rumah). Saya ingin menyampaikan ke mereka kalau saya baik-baik saja di sini, dan bukan kenapa-kenapa di Jakarta. Sebab, tujuan awalnya saya berada di Jakarta adalah untuk mengikuti demo besar. Jadi, saya takut nanti mereka kuatir bila tidak ada kabar..

*

Rencana yang awalnya hanya untuk site visit berubah menjadi kunjungan sehari sebagai persiapan kerja keesokan harinya. Hanya ada kata “sekarang” dan “secepatnya” untuk menjawab pertanyaan itu.

**

Ceritakanlah kepadaku tentang warna-warni hidup di perantauan sampai gaji pertama…

**

Dua orang pemuda berangkat dari sebuah kota besar ke pedalaman hutan untuk mulai bekerja. Saat itu, persediaan duit mereka masing-masing hanyalah sebesar lima ratus ribu rupiah, sebuah jumlah yang cukup besar untuk masa-masa 90an.

Sesampainya di tempat kerja, mereka mulai berbenah. Mencari ini, mencari itu, termasuk mencari nomor telepon baru sebab nomor telepon yang mereka bawa jauh-jauh dari kota besar tidak berfungsi sama sekali di pedalaman hutan ini.

Di sebuah toko, yang sepertinya toko satu-satunya di desa tempat pabrik itu berada, mereka sudah bersiap-siap untuk membeli nomor telepon yang baru. Hanya saja, saat ingin membayar, mereka terkejut sebab harganya selangit. Harga yang semula sebesar seratus ribu (ada tertulis di bungkus kartunya) dicoret dan diganti secara sepihak oleh si empunya toko menjadi tiga ratus lima puluh ribu rupiah.

Kini mereka dilema. Tapi apa boleh buat, mereka butuh nomor telepon itu untuk menghubungi keluarga mereka.

Jadilah mereka berdua hidup dengan sisa duit sekitar seratus ribu lebih sampai akhir bulan sebelum mendapatkan gaji pertama. Bagaimana caranya bertahan hidup?

Untunglah kantin dan tempat makan dekat pemondokan mereka mengijinkan mereka berhutang sampai hari gajian tiba. Semua itu terjadi hanya gara-gara si penjual nomor telepon mencoret dan mengganti sendiri harga kartu telepon yang dijualnya.

***

atampubolon

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: