Watergius's Journal

The world as I see it

Bukan supir (taksi) biasa

Senin, 26 Mei 2014

***

Saat itu waktu menunjukkan hampir setengah lima sore. Langit Kota Jakarta sedang gelap-gelapnya siap menumpahkan jutaan galon air ke jalanan ibukota yang mulai padat dengan kendaraan.

Aku baru saja keluar kosan, berjalan menuju jalan utama ibukota ketika hujan deras tiba-tiba saja turun. Rencana yang semula ingin naik bus harus dibatalkan dan secara refleks aku langsung memberhentikan Taksi Ekspress yang lewat di depanku.

“Bandara ya Pak, ” kataku kepada supir taksi itu sambil berusaha mengeringkan air hujan yang membasahi kepalaku.

Mobil sudah berjalan beberapa menit ketika dia akhirnya bertanya memastikan : ” Kita ke Bandara Soekarno-Hatta kan ya Pak?”

“Iya,” jawabku.

“Hanya memastikan saja Pak soalnya Halim juga kan sudah terbuka untuk umum…,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Bertanya tentang pool taksi berdasarkan kode mobil mereka adalah hal yang biasa kutanyakan untuk memulai pembicaraan dengan supir taksi.

” DT itu pool Depok ya? ”

” Depok-Tangerang Mas,” jawabnya. ” Tapi kita lagi dipinjamkan ke daerah ini (lupa nama daerahnya).”

Dan kita pun mulai cerita tentang banyak topik, mulai dari sistem kredit mobil di Ekspress (setelah 6 tahun mobil taksi ekspress akan menjadi hak milik supir),  jalanan yang macat akibat hujan, hingga pertanyaan supir taksi itu lebih suka macet atau jalanan lancar. Dan jawabannya, jalanan yang lancar, walaupun jarak antarnya hanya dekat.

” Bila macet gitu, palingan duit argonya pas-pasan buat menutupi biaya bensin saja,” katanya, “belum lagi kita jadi kecapekan dan ngantuk dibuatnya.”

” Ngomong2 masnya mau ke mana?”

” Papua Pak, Sorong.”

” Di mananya di Sorong? ”

Agak bingung sih ditanyain detail seperti itu.

” Saya soalnya sudah pernah ke Sorong, Manokwari, Jayapura, Biak, dan Wamena Mas. Dulu saya dipercaya bos menjadi koordinator pemasaran alat masak di daerah2 itu. Ya hitung-hitung sekalian kerja jalan2 gratislah Mas,” katanya.

Hebat juga bapak nih, pikirku.

” Yah mumpung dulu masih lajang mas,” katanya. Kalau sekarang mah kayaknya seribu dua ribu tuh sangat diperhitungkan.”

**

Bandara pun semakin dekat dan sebelum sampai si Bapak itu telah menyebutkan sederetan tempat2 di Indonesia : seluruh provinsi di Kalimantan, Aceh, Medan, dan beberapa provinsi lainnya di Sumatra, Ternate, dan Tidore, sebagai tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.

Salut Pak. Dirimu telah bertualang ke lebih banyak tempat di negara ini dibandingkan aku.

***

Solaria Terminal 1B sembari menunggu keberangkatan pesawat yang baru 4 jam lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: