Watergius's Journal

The world as I see it

ke Baduy Dalam

Sabtu, 16 Agustus 2014

***
Selembar tiket seharga 15 ribu ditangan, setumpuk pakaian tersusun rapi di dalam plastik ziplock di ransel, dan seorang lelaki paruh baya lengkap dengan kaca mata hitamnya yang lalu lalang ke sana kemari – memeriksa semua pesertanya, mengawali perjalananku ke Badui Dalam. Dari Stasiun Tanah Abang ini, aku dan sekitar 26-an orang peserta lainnya akan menempuh perjalanan kereta selama kurang lebih 2-2,5 jam ke Stasiun Rangkas Bitung di Banten yang akan membawa kami sekian kilometer lebih dekat ke Badui.

Perjalanan kereta di pagi hari sekitar pukul 10 itu cukup nyaman. Di kereta banyak kursi kosong sehingga kami semua bisa menumpuk di satu gerbong… Kecuali mungkin ada sekitar 3 orang yang sudah keburu duduk nyaman di gerbongnya sehingga mereka malas untuk pindah lagi walaupun sebenarnya masih bisa pindah ke gerbong 2 itu saking banyaknya kursi kosong..

Gerbong yang penuh dengan anak muda yang haus akan petualangan bukanlah pilihan yang tepat jika kau ingin duduk santai menatap keluar jendela sambil berharap matamu terpejam, dan tahu2 saat bangun nanti tiba-tiba sudah sampai. Sebab ketika matamu baru menutup sekian detik, suara tawa yang membahana memenuhi seisi gerbong akan segera membangunkanmu lagi.

*

Masih ingat dengan lelaki paruh baya lengkap dengan kaca mata hitamnya yang tadi aku katakan sibuk memeriksa pesertanya? Nah, sesampainya di stasiun, dia kembali sibuk lagi. Setelah mendapat kepastian dari supir elf yang akan mengantarkan kami untuk lebih dekat ke Badui Dalam, dia pun memandu kami berjalan keluar dari stasiun, menyebrangi rel2 kereta, menuju sebuah tower pemancar telepon seluler, keluar dari gang sempit ke sebuah tempat lapang tempat kedua elf kami telah menunggu.

Satu per satu tas dinaikkan dan disusun rapi di atas kendaraan agar kendaraan yang memang sudah sempit itu tidak semakin sempit untuk kami naiki. Di tempat ini jugalah kami bertemu dengan dua orang lagi peserta trip ini yang telah menempuh perjalanan panjang dan ‘penuh cobaan’ dari Semarang. Ketika kukatakan ‘penuh cobaan’ itu berarti dimulai dari taksi mereka di Semarang yang salah jalan sehingga mereka ketinggalan kereta, lalu dilanjutkan dengan kejar-kejaran bus malam menuju Jakarta. Nyampai Jakarta, mereka masih harus naik taksi ke stasiun kereta lainnya untuk kemudian disambung dengan kereta api diesel 2 ribuan yang mengantarkan mereka sampai ke tempat ini. Tapi untunglah mereka sudah sampai dengan selamat, bahkan tiba hampir sejam lebih awal dari kami sebenarnya.

*

Perjalanan menuju tempat tujuan kami ‘sangat mengguncang perut’ – jalanan yang rusak parah, berbelok, dan menanjak. Belum lagi ditambah dengan banyaknya debu yang beterbangan masuk dari jendela elf yang memang sengaja dibuka karena panasnya cuaca siang itu. Segala gaya pun dicoba agar perjalanan terasa singkat: mulai dari ngobrol, tidur, terbangun karena diguncang-guncang, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, dan ternyata perjalanan masih panjang. Akhirnya, setelah 2,5 jam perjalanan yang cukup melelahkan, kami pun tiba di Cijahe, salah satu pintu masuk paling dekat ke Desa Baduy Dalam Cikeusik.

gambaran perjalanan kami - jangan percaya waktu tempuh google maps

gambaran perjalanan kami – jangan percaya waktu tempuh google maps

DSC_0022

foto sebelum diajak masuk oleh teman2 Baduy – mereka masih malu2 foto sama kami

DSC_0023

foto tentang peraturan adat suku Baduy – terpajang di Cijahe

*

Dari Cijahe, perjalanan pun dilanjutkan dengan mendaki bukit menuruni lembah sekitar kurang lebih 40 – 45 menit. Dan itu pun sebenarnya masih bisa lebih cepat sebab banyak waktu yang kami habiskan dengan foto2 di jalan. Oh ya, Cijahe itu termasuk daerah luar Baduy (bedakan dengan Baduy Luar) sehingga mulai sejak Cijahe sampai perbatasan dengan Baduy Dalam, kami masih diperkenankan untuk mengambil gambar.

Sebagai informasi, batas antara luar Baduy dengan Baduy Dalam sebenarnya hanya sebuah gubuk yang digunakan sebagai tempat menginap oleh suku Baduy Dalam saat mereka berladang.

DSC_0039

gubuk di persimpangan jalan yang menjadi penanda batas antara luar Baduy dengan Baduy Dalam

*

Setelah melewati jembatan bambu yang membentang di atas aliran sungai yang jernih, resmi sudahlah aku menginjakkan kaki di Cikeusik. Rumah-rumah panggung dari bambu yang berhadapan membentuk jalan setapak kecil ditengah-tengahnya adalah hal pertama yang tampak di hadapanku. Lalu, aku pun menyadari kalau suasana perkampungan sore itu cukup sepi. Kata pengantar kami itu karena penduduk kampung masih berada di ladang mereka.

Kami pun di persilahkan untuk duduk di teras rumah yang nantinya akan kami gunakan untuk menginap. Setelah semua orang sampai dan meletakkan barang-barangnya, kami pun diajak berkeliling kampung. Kami ditunjukkan rumah puun (tetua kampung) dari jauh – ada batas dari bambu yang tidak bisa dilewati oleh pengunjung seperti kami di sekitar rumah puun itu. Lalu, kami pun ditunjukkan tempat (mirip rumah mereka hanya saja berisi alat musik) yang mereka gunakan kalau mereka mengadakan acara kampung (kami tidak diperkenankan masuk saat itu).

*

Sore pun semakin larut dan kami mulai beres-beres. Setelah dipersilahkan tuan yang punya rumah untuk menyimpan tas ke dalam rumah, kami beramai-ramai menuju sungai untuk mandi. Wanita di sisi hulu (dekat dengan jembatan bambu yang tadi kami lewati) dan pria di sisi hilir cukup jauh dari situ. Inilah kali keduaku mandi di sungai (saat dewasa). Oh ya, di Baduy Dalam tidak diperkenankan untuk menggunakan segala macam bahan kimia, mulai dari sabun, shampo, hingga pasta gigi.

*

Malam tiba dan suasana perkampungan gelap gulita. Tanpa lampu senter yang kami bawa tak akan mungkin bagi kami untuk dapat berjalan di perkampungan itu. Suasananya benar-benar gelap. Dan… lampu-lampu senter ini jugalah yang menjadi sumber penerangan kami saat makan malam di dalam rumah penduduk. Dengan mengikatkannya di langit2 rumah, tampaklah makanan sederhana nan nikmat yang telah dipersiapkan oleh tour leader kami. Tak lupa kami mengajak serta orang-orang Baduy Dalam yang tadi sudah menuntun perjalanan kami dari Cijahe (dan tentu saja yang punya rumah) untuk ikut makan.

Selesai makan, agendanya adalah diskusi tentang Baduy Dalam dengan salah seorang yang cukup dituakan di situ. Karena bahasa utama Baduy adalah Bahasa Sunda dan rombongan kami ada beberapa orang orang Sunda, maka tetua itu pun ngomong dalam Bahasa Sunda, yang kemudian diterjemahkan ke kami. Banyak hal yang kami omongi, mulai dari adat istiadat mereka, cara hidup, isi rumah, hingga apa saja yang mereka lakukan kalau sedang di Jakarta. Jakarta? Ya. Dari Baduy Dalam ini mereka sesekali berkunjung ke Jakarta sambil membawa barang2 kerajinan dan madu hutan untuk dijual. Yang paling membuat luar biasa dari kunjungan mereka itu adalah mereka melakukan semua perjalanan itu dengan berjalan kaki dan dengan kaki telanjang.

*

Berada di daerah ketinggian dan di tengah hutan membuat suasana malam hari sangatlah dingin. Karenanya janganlah lupa membawa pakaian tebal dan termasuk kaos kaki.

**
Keesokan harinya setelah selesai berkemas dan sarapan, kami berpamitan kepada yang punya rumah. Saat berpamitan, jabat tangan adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Hanya saja, peserta yang lelaki tidak boleh berjabat tangan dengan suku Baduy Dalam yang perempuan sehingga dengan mereka kami hanya berpamitan lewat kata-kata.

*
Sebelum menuju Cijahe, kami diajak terlebih dahulu untuk melihat-lihat suasana perkampungan Baduy Luar. Dan berhubung hari minggu itu adalah tanggal 17 Agustus, kami pun mengadakan upacara bendera singkat di Baduy Luar.

DSC_0041

anak suku Baduy Dalam yang menemani kami selama 2 hari satu malam – ketiganya teman baik

DSC_0069

perkampungan Baduy Luar yang kami datangi

DSC_0075

sedang menyanyikan Indonesia Raya di Baduy Luar

**

Dalam perjalanan pulang dari Cijahe, ada seseorang yang ikut menumpang di elf kami. Awalnya aku tidak menyadari hal ini. Namun, karena posisi dia tepat di depanku (dia berdiri sambil bergantung di pintu elf), maka aku menyadari akan adanya sebuah peta tergambar di bagian belakang bajunya. Dan peta itu adalah peta perkampungan Baduy. Akhirnya, secara ‘diam-diam’, peta dibelakang bajunya itu kuabadikan lewat foto.

peta perkampungan Baduy

peta perkampungan Baduy

**

sedikit dokumentasi perjalanan ke Baduy Dalam

***
atampubolon

4 responses to “ke Baduy Dalam

  1. nate October 3, 2014 at 5:25 pm

    dalam rangka apa gus?

  2. Dicky Prakoso Triadi Wijaya February 3, 2015 at 5:35 am

    Halo bro watergius, saya sedang mengumpulkan informasi untuk skripsi tugas akhir saya tentang suku baduy, bila tidak keberatan boleh bertukar contact ga? Thankyou🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: