Watergius's Journal

The world as I see it

menjadi guru sehari – menjelaskan nikel dan insinyur ke anak SD

Senin, 15 September 2014

***

Kisah ini terjadi beratus kilometer dari Jakarta, di beberapa SD Negeri yang jumlah siswanya masing-masing tak sampai 150 orang, SDN di Tanah Grogot.

Tapi kita akan sampai ke cerita itu nanti. Bersabarlah.

*

Sabtu, 13 September 2014

Setelah menyebrangi lautan dan menumpang kendaraan umum dari Balikpapan, akhirnya lima jam kemudian kami pun sampai di Tanah Grogot, Kalimantan Timur. Pendopo Bupati Paser adalah tujuan kami, tempat kami akan menginap selama acara kelas inspirasi ini. Tapi tidak malam ini sebab malam ini temanku Shio sudah punya rencana lain buat kami.

Sesampainya di pendopo, Shio menunjukkan kamar tempat kami boleh menaruh barang2 dan sekaligus tempat kami akan tidur esok malam. Lalu mempersilahkan kami makan sambil briefing singkat tentang perjalanan selanjutnya.

“Jadi kita akan ke Selengot”, dia memulai pembicaraan. “Dari tempat ini kita akan naik mobil kurang lebih dua jam ke Tanjung Harapan dan dilanjutkan dengan menyebrang laut menumpang kapal nelayan”.

*

Kebun sawit, jalanan berbatu dan berdebu, dan truk2 yang lalu lalang adalah teman perjalanan kami selama dua jam itu. Namun kami cukup beruntung sebab mendapatkan pinjaman mobil dari Bapeda Paser sehingga bisa menggunakan AC dan terhindar dari debu. Bila tidak ada ini mobil, kami akan terpaksa menggunakan satu-satunya pengangkutan umum berupa mobil berukuran sedang dengan kaca terbuka yang tak tentu waktu berangkatnya (tergantung ada tidaknya penumpang).

*

Pukul 2 siang air laut di Tanjung Harapan masih surut. Terpaksa kami menunggu. Sejam, dua jam, hingga jam menunjukkan hampir pukul setengah 6 sore, saat laut sudah benar-benar pasang dan nelayan dari desa Selengot (orang tua asuh salah seorang Pengajar Muda Selengot) bisa datang menjemput kami.

Sinyal di kota saja terkadang susah, apalagi di pelosok Kalimantan seperti ini. Akibatnya, karena tidak dapat  berkomunikasi, bapak dari Selengot yang menjemput kami datang dengan kapal kecil sehingga tidak memungkinkan bagi kami semua untuk menyebrang sekaligus.  Apalagi saat itu keluarga bapak itu juga ikut menumpang dan lautan sangat berangin.

dua temanku bersiap menyebrang dan siap basah

dua temanku bersiap menyebrang dan siap basah

*

Desa Selengot adalah salah satu desa di Pulau Kandar, selain Desa Bengkalo, yang memiliki Pengajar Muda (PM) : Abdul di Selengot dan Arif di Bengkalo.  Kedua orang inilah yang ingin kami temui, sekalian melihat sekolah dan bertemu anak-anak muridnya.

pagi hari di depan SD Desa Selengot

pagi hari di depan SD Desa Selengot

Bila di Selengot kami hanya berfoto di depan SD-nya, maka di Bengkalo kami (aku dan teman2ku yang ikutan Kelas Inspirasi) diminta untuk bercerita singkat di depan kelas, di hadapan anak2 kelas 1-6 tentang siapa kami dan apa yang kami lakukan.

Mengajar anak SD apa sih sulitnya, itu yang awalnya ada di benakku. Apalagi bila kita hanya diminta untuk menceritakan tentang apa yang kita lakukan – pekerjaan kita. Namun kukatakan kepadamu teman, ternyata tidak semudah itu. Tidak semudah itu bila kau ingin membuat anak2 itu tertarik dengan apa yang kau lakukan dan berharap mereka mau mempunyai cita-cita sepertimu karena itulah yang kau lakukan di sini, memberi inspirasi. Memberi inspirasi kepada mereka bahwa masih banyak pekerjaan di luar sana selain menjadi guru, tentara, polisi, ataupun petambak.

Karena kedatangan kami ke SD di Bengkalo ini bukanlah bagian dari Kelas Inspirasi (KI), maka kami tidak diminta untuk menjelaskan terlalu lama, hanya dua menit perorang. Namun dua menit itu pun serasa berjam-jam ketika anak2 sudah mulai ribut dan tak tertarik lagi. Bagaimana mungkin mereka tertarik saat yang kuceritakan adalah nikel dan nikel itu gunanya ini itu tanpa ada alat peraga. Dan aku benar-benar kehabisan kata-kata saat itu, antara bingung, malu, dan merasa aneh. Untunglah PM-nya segera mengambil alih, menyelamatkanku.

*

Perjalanan pulang ke Tanah Grogot selama beberapa jam memberiku waktu berpikir akan metode mengajar yang akan aku pakai esok hari di kelas…

**

Pagi itu aku dan tiga orang profesional lainnya diberi mandat untuk mengajar di SDN 07 Pepara – sebuah SD Negeri berjarak kurang lebih 2 km dari Tanah Grogot, yang jumlah muridnya kurang lebih 150 orang. Sesuai arahan panitia KI, aku pun akan mengajar kelas 3-4 (mereka digabung menjadi satu kelas) di 45 menit pertama dan kelas 5-6 di 45 menit berikutnya.

“Halo”… Haaiii

“Hai”… Halooo

Bila aku mengatakan halo, maka anak-anak harus mengatakan hai, dan sebaliknya. Itulah salah satu metode yang kusampaikan di awal dan akan sering kugunakan untuk menenangkan anak2 tersebut bila mereka sudah mulai ribut, dan cara itu akan terbukti cukup ampuh.

Dan aku pun melanjutkan kelasku dengan bermain game.

“Bapak mau lima orang anak maju ke depan”, kataku kepada mereka, dan mereka berlomba-lomba untuk maju ke depan.

Lalu aku meminta mereka berbaris menghadap teman-temannya sambil bergandengan tangan. Kukatakan kepada kelima anak itu kalau sekarang mereka akan disebut besi.

“Bapak mau tiga orang anak lagi maju ke depan”, kataku lagi dan kali ini pun tetap sama, mereka rebutan berlari ke depan.

Untuk ketiga anak yang baru maju itu aku menamai mereka udara, air, dan pengotor.

Permainannya sederhana. Udara, air, dan pengotor akan berusaha menghabiskan besi dengan cara menarik satu per satu anak keluar dari kelompok lima anak yang disebut besi tadi.

“Biar besinya mudah ditarik keluar, yang ditarik dari sisi mana ya? ”

Butuh waktu bagi mereka untuk menjawab, bahkan agak sedikit kuarahkan. “Bila yang ditarik dari tengah-tengah, mudah tidak? ”

TIDAKK.

“Kalau yang paling kiri atau kanan?”

MUDAHH.

Pintar.. Itu karena mereka hanya dipegang di satu tangan kan..

Nah, sekarang… udara, air, dan pengotor, coba ditarik besi yang paling kanan dan paling kiri.. dan mereka pun sangat semangat melakukannya, tarik-tarikan mirip tarik tambang. Dan akhirnya salah satu besi pun lepas, disusul temannya yang lain sesama besi. Pada akhirnya, yang tinggal hanyalah dua besi dan permainan kuhentikan.

Nah anak-anak, inilah yang disebut dengan berkarat. Si udara, air, dan pengotor ini kita sebut karat, dan mereka akan merusak besi-besi yang ada di mesin-mesin motor dan kapal kita. Akibatnya lama kelamaan mesin motor dan kapal kita akan rusak, dan bisa hilang, kayak teman-teman kalian si besi yang tinggal 2 ini.

Sekarang, gimana caranya biar besinya tidak mudah rusak? Kalian tahu gak?

Melihat wajah-wajah kebingungan mereka, aku pun meminta delapan anak lagi maju ke depan. Lima menjadi besi dan tiga menjadi karat.

Kali ini, kelima anak itu kuminta untuk bergandengan tangan sambil membentuk lingkaran. Dan nama baru pun kuberikan kepada mereka, besi nikel.

Kutanyakan lagi pada seisi kelas, “Kali ini besinya mudah gak ditarik?”

ENGGAKKK.

Kenapa?

KARENA MELINGKARR.

Iya. Karena semuanya bergandengan. Gak ada lagi yang cuma dipegang satu tangan kayak besi yang pertama tadi kan.

Kuminta kepada karat untuk coba menarik satu anak keluar dari besi nikel itu, dan mereka kesusahan.

Nah anak-anak, inilah yang Bapak kerjakan. Bapak mencari nikel biar mesin-mesin motor dan kapal kalian tidak mudah berkarat. Jadi bapak adalah seorang insinyur yang bekerja mencari nikel.

Setelah itu aku pun mengedarkan materai yang memang sudah kupersiapkan dari Jakarta berisi gambar-gambar nikel, pabrik tempatku bekerja, dan digunakan untuk apa nikel itu nantinya. Sembari meminta mereka membuka halaman demi halaman, aku memberi penjelasan. Entahlah karena mereka semangat mendengarkan atau karena tertarik dengan gambar-gambar yang terpampang di hadapannya, mereka cukup tenang selamat beberapa menit itu.

Akhirnya tanpa terasa waktu pun hampir usai. Sebagi penutup, aku mengajarkan mereka lagu Aku Pasti Bisa (awalnya aku diajari PM juga lagu ini) yang kurasa sangat bagus untuk memotivasi mereka.

Aku bisa, aku pasti bisa.

Tuk meraih cita-citaku.

Kukan terus coba, sampai aku bisa.

Aku.. pasti.. BISA…

bersama anak-anak SDN07 Pepara

bersama anak-anak SDN07 Pepara

**

Selasa, 16 September 2014

Meskipun kelas inspirasi telah berakhir kemarin, namun semangat kami untuk menginspirasi masih menggebu-gebu. Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan naik pesawat, kapal, dan mobil untuk sampai ke Paser ini, sayang rasanya bila tidak berkunjung ke sekolah-sekolah lainnya tempat para PM mengajar.

SD Negri 015 Sungai Tuak adalah SD yang pertama kami kunjungi, tempat Shio, temanku yang juga seorang PM, mengajar.

temanku, Shio, sedang memperkenalkan temanku, Immanuel, ke anak-anak SD-nya

temanku, Shio, sedang memperkenalkan temanku, Immanuel, ke anak-anak SD-nya

SD tempat Shio mengajar terbagi menjadi dua gedung, satu gedung baru yang kondisinya cukup bagus dan layak untuk digunakan, dan satu lagi adalah gedung lama tempat kami sekarang berada seperti gambar di atas yang kondisinya sebenarnya sudah sangat memprihatinkan. Kepala Sekolahnya sudah berusaha dan melapor ke dinas dan pihak terkait meminta agar dilakukan perbaikan, namun setelah beberapa tahun, hal itu belum terkabul juga. Entahlah sampai berapa lama lagi mereka harus menunggu.

kondisi salah satu ruangan di gedung lama SDN Sungai Tuak

kondisi salah satu ruangan di gedung lama SDN 015 Sungai Tuak

*

Kunjungan terakhir dan paling berkesan buatku di hari itu adalah di  SDN 032 Tanah Grogot, tempat PM Esil mengajar. Begitu sampai, kami sudah disambut anak2 dengan wajah ceria. Waktu pulang mereka sebenarnya sudah lama usai, namun mereka masih tetap setia menunggu kami datang, entah kenapa.

Satu kelas yang ukurannya cukup besar sengaja dibiarkan terbuka. Kami pun masuk ke dalamnya, aku dan temanku serta puluhan anak2 SD dari kelas 1-6.

Di kelas inspirasi aku bisa membuat anak2 sedikit fokus dengan ceritaku sebab aku mengajak mereka bermain. Namun di sini, di kelas ini, ukuran ruangan jauh lebih kecil dan orang berlipat kali lebih banyak. Aku kebingungan, namun tetap berdiri di depan mereka, memulai dengan basa-basa.

Hi… HELLOOO… Hello… HII…

“Siapa yang bisa tebak pekerjaan Bapak apa?”

SUPIRR… teriak mereka diiringi ledakan tawa anak2, anak SD dan teman-temanku.. dan tawaku sendiri.

Kalian tahu mobil? motor? Pesawat terbang?

TAHUU…

Siapa yang suka buat pesawat terbang mainan?

Banyak tangan teracung ke atas.

Siapa yang mau buat pesawat terbang benaran? Mobil benaran? Motor benaran?

Beberapa tangan teracung, sebagian malu-malu, sebagian lagi ragu-ragu. Kalau kalian mau buat motor maka kalian harus jadi insinyur. Mau buat mobil harus jadi insinyur. Mau buat pesawat terbang harus jadi insinyur juga.

Nah, jadi bapak itu seorang insinyur, kataku ke mereka tanpa menyinggung sedikit pun pekerjaanku di tambang nikel sebab akan sulit lagi menjelaskannya.

“Sekarang siapa yang mau jadi insinyur?”

Banyak tangan diacungkan, termasuk seorang anak yang sejak sebelum aku datang pun sudah punya cita-cita menjadi insinyur, menurut penuturan PM Esil.

menjelaskan "insinyur" ke anak SD

menjelaskan “insinyur” ke anak SD

Selesai menginspirasi, itulah kata yang digunakan PM untuk kegiatan yang kami lakukan, Bu Guru Esil mengundangku untuk maju ke depan kelas lagi sebab seorang anak ingin memberi sesuatu kepadaku. Imam nama anak itu dan dia memberiku tiga benda : sebuah lukisan yang digambarnya di atas buku gambar, sebuah penggaris, dan sebuah buku tulis. Aku tidak bisa ngomong apa2 saat itu selain mengucapkan terima kasih sambil memeluknya.

*

anak-anak berebutan untuk berfoto

anak-anak berebutan untuk berfoto

**

Kenapa aku melakukan ini? Perjalanan ini, beratus km dari Jakarta, naik pesawat, kapal, dan mobil? Aku tidak dapat menjawabnya dengan kata-kata yang dapat membuatmu tertegun dan tersenyum sehingga kau akan mengerti dan kemudian berkata, oke.. aku mengerti dan aku mau mencobanya. Tapi biarlah kuulang kata-kata seorang teman yang kukenal di KI ini: “Bukan kita sebenarnya yang menginspirasi anak-anak itu, tapi merekalah yang menginspirasi kita“. Cobalah, dan kau akan mengerti apa maksudnya.

sampai ketemu lagi  PM Ike, PM Shio, PM Esil

sampai ketemu lagi PM Ike, PM Shio, PM Esil

***

atampubolon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: