Watergius's Journal

The world as I see it

tak seberuntung itu? : serba-serbi mendaftar di Goethe Jakarta

Rabu, 1 Oktober 2014

***

Pendaftaran kelas baru dibuka tanggal 1 dan 2 Oktober mulai pukul 10 pagi sampai 5 sore. Itulah isi pengumuman yang kubaca, dan pemahamanku akan hal itu sederhana : aku datang pukul 10 tepat maka aku kemungkinan jadi orang pertama yang datang; aku datang jam 11 maka aku akan menjadi orang kesekian belas dan harus ngantri sebentar. Tapi akan segera terbukti kalau aku salah… Salah BESAR.

Pukul 11 kurang aku baru tiba di Stasiun Gondangdia (kuputuskan untuk menggunakan KRL dari Sudirman). Setelah sempat salah jalan yang untungnya benar lagi akibat bantuan google maps, aku pun sampai di depan pintu gerbang Goethe Institut Jakarta.

Bukan satu atau belasan orang yang kulihat di situ mengantri, melainkan ratusan. Iya, ratusan… di saat pendaftaran baru buka satu jam. Sempat ragu juga saat mendekat petugas meminta nomor antrian takut2 pendaftaran sudah ditutup. “Masih buka,” kata bapak itu sambil memberiku sebuah nomor antrian, 550.

nomor antrian 550 di pukul 11 siang

nomor antrian 550 di pukul 11 siang

APAA?? 550 padahal jamku baru menunjukkan pukul 11 lewat beberapa menit. Segitunyakah orang-orang ingin belajar Bahasa Jerman? Pulang. Menunggu. Aku kebingungan. Apalagi di papan pengumuman di tempelkan daftar-daftar kelas yang sudah penuh. Kelas yang ingin kudaftar memang belum, tapi dengan nomor antrian saat itu yang baru sampai di 151, aku cukup pesimis.

Keringatan. Kehausan. Kelaparan. Aku benar-benar dibuat bingung. Untuk menenangkan diri, aku pun mencari tempat makan dulu dan akan melihat perkembangannya nanti.

*

Pukul 12 lewat beberapa menit aku tiba di tempat itu lagi. Kali ini nomor antrian sudah bergerak, bergerak lambat sebab baru sampai nomor antrian 200. Entah karena perutku sudah berisi atau karena hal lain, aku bisa berpikir jernih di siang terik itu : Aku akan menunggu, sampai aku masuk ke dalam atau sampai kelas yang aku ingin penuh… Dan aku pun menunggu. Duduk. Diri. Bersandar di tembok. Panas-panasan.

Awalnya aku hanya mendengar sayup2 suara itu: suara seorang Ibu yang marah-marah kepada petugas karena diperlakukan tidak adil. Kurang jelas juga aku penyebabnya apa, tapi sepertinya tentang nomor antrian. Keduanya saling emosi. Si Bapak yang menjaga pintu mulai terpojok. Si Ibu masih lanjut marah2, kali ini sambil turut mencari dukungan dari peserta yang lain, ibu-ibu juga. Teman si bapak itu datang membantu, berusaha menenangkan si Ibu tapi tidak berhasil. Si Bapak mengalah. Yang nomor urut 300-310 akhirnya dipersilahkan masuk oleh bapak itu padahal sebelumnya nomor terakhir adalah 210. Yang 210-an ke atas protes, mulai berkerumun di dekat pintu. Akhirnya si bapak bilang  “Setelah ini nomornya kembali dilanjut lagi dari 211 sampai seterusnya ya.”

What?? Reaksi seorang Ibu yang kebetulan di dekatku. Masa sih sistem pendaftaran seprimitif ini? Jerman lohh..

Dan aku pun hanya bisa tersenyum. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan entah siapa saja yang bisa diajak ngobrol di situ, terkuaklah suatu rahasia buatku : ada yang sudah datang mengambil nomor antrian dari jam 5 subuh. Benarkah? Mungkin saja. Sebab ada seorang bapak yang datang jam setengah 9 dan itupun dia kebagiannya nomor antrian 180-an.

Pendaftaran kelas baru dibuka tanggal 1 dan 2 Oktober mulai pukul 10 pagi sampai 5 sore. Namun pengambilan nomor antrian sudah bisa dilakukan dari pagi hari. Seharusnya mereka tidak lupa mencantumkan tambahan informasi penting itu di pengumuman agar orang-orang baru seperti aku ini tahu dan tidak syok.

*

Pukul 2 siang, antrian masih di nomor 400-an. Bosan, aku pun mengajak ngobrol seorang mas-mas yang ngantri. Tadi saat nyampai di tempat ini aku bareng dia dan topik itulah yang kupakai untuk memulai pembicaraan. Sambil merespon ke basa-basiku, dia pun menyodorkan selembar nomor antrian kepadaku “Nih, ada nomor antrian 493. Tadi dikasih orang yang sudah malas ngantri lagi,” katanya.

Tak perlu sampai ditawarkan dua kali sampai aku mengambil keputusan. Sambil mengucapkan terima kasih nomor 493 itu kuambil dan kumasukkan ke sakuku, sementara dia sendiri menyimpan yang nomor 494. Entah kenapa dia tidak memegang yang nomor 493 dan memberikan yang 494 kepadaku. Mungkin sama saja, pikirnya, sebab yang diizinkan masuk emang per sepuluh-sepuluh.

Akhirnya pukul 3 kami berdua pun masuk ke dalam ruang pendaftaran hanya untuk mendengarkan pengumuman kalau kelas yang ingin kami ambil sudah penuh (aku dan dia ternyata berniat mengambil kelas yang sama, intensif 3 x seminggu).. Hahaha. Ternyata walaupun sudah motong nomor antrian hampir 60 antiran tetap saja tidak kebagian itu kursi les, apalagi kalau gak motong ya. Akhirnya aku pun mendaftar di kelas ekstensif yang hanya 2 kali seminggu dan hanya sampai di level pemula.

Mau gimana lagi.. Persis kata-kata yang diucapkan mas-mas yang memberiku tiket bernomor 493 itu.

***

atampubolon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: