Watergius's Journal

The world as I see it

Category Archives: all about energy

tentang umur baterai

Rabu, 23 Desember 2015

***

Bagi pengguna perangkat elektronik, seperti telepon genggam, tablet, maupun komputer jinjing, hal yang mungkin sangat penting adalah cara menjaga umur baterai perangkat mereka agar bertahan lama. Dan dari salah satu mata kuliah yang aku ambil semester ini, ada beberapa hal praktis yang penting menurutku untuk dibagikan sebab selama ini persepsiku untuk menjaga baterai tetap awet ternyata salah.

Sebelum membahas mengenai hal-hal yang harus dihindari untuk mendapatkan umur baterai yang lama, sebaiknya kita mengenal dua jenis penuaan (aging) pada baterai.

1. Penuaan akibat pengisian (Cyclic Aging) – penuaan baterai akibat proses pengisian dan penggunaan daya baterai

Sel baterai energi-tinggi (high-energy) standar biasanya memiliki 500-1000 siklus pengisian penuh. Pada karakteristik penuaan ini, kita dapat mengelompokkannya lagi menjadi 3 fasa : Fasa I (sampai pada 50 kali siklus pengisian), Fasa II (sampai 500 kali siklus pengisian), dan Fasa III (sisanya).

Penuaan umur baterai akibat pengisian ini juga sangat dipengaruhi oleh siklus kedalaman pengosongan baterai (cycle depth of discharge (DOD)) :

DOD dan ekuivalensi siklus pengisian penuh

DOD dan ekuivalensi siklus pengisian penuh [1]

Secara singkat, maksud kurva di atas adalah sebagai berikut:

  • misalkan rentang 10-90 %, ini berarti bahwa baterai dikosongkan sampai tinggal 10% dan diisi penuh sampai 100%
  • Dengan melakukan pengisian dan pengosongan baterai seperti rentang ini, maka itu ekuivalen dengan kurang lebih 700 siklus pengisian penuh. Sementara itu,
  • dengan pengosongan dan pengisian di rentang 47.5-52.5%, maka ekuivalensinya adalah 3.000 lebih siklus pengisian penuh.
  • Setelah 3.000 kali ekuivalensi siklus pengisian penuh, yang berarti 3.000/5% = 60.000 kali siklus pengisian biasa, masih tersisa kapasistas baterai sekitar 93%.
  • Dari kurva di atas dapat dikatakan bahwa semakin besar perbedaan kapasitas pengosongan dan pengisian baterai, semakin pendek umur baterai.

 

2. Penuaan kalender – penuaan baterai akibat penyimpanan

Umur baterai secara kalender biasanya berkisar hingga beberapa tahun. Namun, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh State of Charge (SOC) – atau seberapa penuh kapasitas baterai tersebut dan suhu.

penuaan akibat penyimpanan

penuaan akibat penyimpanan [2]

Dari kurva di atas dapat dikatakan:

  • Penuaan semakin cepat untuk baterai yang diisi penuh (SOC 100%) dan disimpan pada suhu tinggi.
  • Penyimpanan baterai ideal adalah pada kondisi SOC 30% dan pada suhu rendah.
  • Penuaan kalender berbeda dengan pengosongan sendiri baterai (battery self-discharge).

**

Setelah sedikit teori di atas, hal-hal yang perlu kita hindari untuk memiliki umur baterai yang lama adalah sebagai berikut:

  • Jangan menyimpan maupun mengoperasikan baterai (dalam hal ini berarti perangkat elektronik Anda) pada suhu yang tinggi.
  • Hindari pengisian baterai pada kondisi SOC 100% (hindari trickle charge – kalau Anda pernah menggunakan aplikasi Battery Doctor, Anda akan menemukan istilah ini)
  • Hindari siklus pengisian penuh, lebih baik menggunakan siklus pengisian biasa pada SOC 50%.
  • Jangan melakukan pengisian baterai pada suhu di bawah 0 derajat Celcius.
  • Ketika akan menyimpan baterai untuk jangka waktu lama, lakukan pengisian dari waktu ke waktu untuk mencegah pengosongan kapasitas baterai berlebihan akibat proses pengosongan sendiri baterai (battery self-discharge).
  • Gunakan baterai pada rentang operasi yang diberikan oleh manufaktur.

**

sumber:

[1] Ecker, M., Nerea Nieto, et al. Calendar and cycle life study of Li(NiMnCo)O2-based 18650 lithium-ion batteries. Journal of Power Sources 248, 839-851 (2014)

[2] Grolleau, S., Arnaud Delaille, et al. Calendar aging of commercial graphite/LiFePO4 cell – Predicting capacity fade under time dependent storage conditions. Journal of Power Sources 255, 450-458 (2014)

[3] Electrochemical Energy Conversion and Storage lecture’s paper by Prof. Bessler (Hochschule Offenburg).

***

atampubolon

Advertisements

Indonesia, Lepaskan Ketergantunganmu Kepada BBM

Indonesia, Lepaskan Ketergantunganmu Kepada BBM

Oleh: Widjajono Partowidagdo

 

Indonesia memproduksi minyak sebesar 329 juta barel, mengekspor minyak mentah sebesar 132 juta barel, mengimpor minyak mentah sebesar 99 juta barel dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 182 juta barel pada tahun 2011 (Sumber ESDM 2012) dan mengkonsumsi BBM 479  juta barel. Terdapat defisit sebesar 150 juta barel per tahun. Cadangan terbukti minyak kita hanya 3,7 milyar barel atau 0,3 % cadangan terbukti dunia. Sebagai Negara net importer minyak dan yang tidak memiliki cadangan terbukti minyak yang banyak, kita tidak bijaksana apabila mengikuti harga BBM murah di Negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah.

Negara2 Amerika Latin yang anti Neolib seperti Brasil, Argentina dan Chili BBM nya tidak disubsidi, akibatnya BBN (Bahan Bakar Nabati) dan Industri Nasional (mobil, pesawat, senjata dan pertanian) nya berkembang. Bahkan Brasil sekarang menjadi Negara Idola disamping Rusia, India, Cina dan Korea (BRICK). Brasil bahkan sudah menguasai Teknologi Migas Lepas Pantai disamping Cadangan dan produksi minyaknya meningkat pesat, Petrobras adalah Perusahaan Migas terpandang di Dunia. Di India dan Pakistan maupun Cina  dan Vietnam (Komunis) tidak ada subsidi BBM tetapi transportasi umum disubsidi sehingga nyaman dan Industri Nasionalnya meningkat pesat. Cina menggunakan gas dan listrik untuk transporasi umum dan sepeda motor menggunakan  listrik. BBM murah hanya diterapkan di negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah seperti Arab Saudi,  Irak, Lybia dan Venezuela. Bahkan harga bensin di Iran ($ 0,67/l) yang cadangan minyaknya 138 milyar barel lebih mahal dari di Indonesia sekarang ( $ 0,59/l) yang cadangan minyaknya hanya 3,7 milyar barel karena mereka mengutamakan gas untuk transportasi, rumah tangga dan listrik. Iran mempunyai cadangan terbukti gas  nomor dua di dunia yaitu 982 TCF, sesudah Rusia. Sedangkan cadangan terbukti gas Indonesia adalah 112 TCF.

Indonesia adalah Negara yang tidak kaya minyak. Kita lebih banyak memiliki energi lain seperti batubara, gas, CBM (Coal Bed Methane), shale gas, panas bumi, air, BBN (Bahan Bakar Nabati) dan sebagainya. Harga BBM (Bahan Bakar Minyak) menyebabkan terkurasnya dana Pemerintah untuk subsidi harga BBM, ketergantungan kita kepada BBM yang berkelanjutan serta kepada impor minyak dan BBM yang makin lama makin besar serta makin sulitnya energi lain berkembang.

Tahun 2011 Indonesia memproduksi minyak  900 ribu B/D (barel per hari), gas 1,5 juta B/D (ekivalen minyak) dan batubara 3,4 juta B/D. Indonesia mengekspor gas 797 ribu B/D dan batubara 2,4 juta B/D. Cadangan terbukti gas lima kali cadangan terbukti minyak dan cadangan terbukti batubara sepuluh kali. Akibat terobosan teknologi di CBM (gas di lapisan batubara dengan dewatering atau memproduksikan air lebih dulu) dan di shale gas (gas yang tertinggal di batuan induk dengan fracturing atau merekahnya) menyebabkan Amerika Serikat kebanjiran gas. Apabila Indonesia menerapkan teknologi tersebut maka akan mempunyai kesempatan yang sama. Batubara juga bisa diubah menjadi gas dan cairan. Biaya listrik di Sumatera Selatan Rp 800/kWh karena memakai gas dan batubara sedangkan di Sumatera Utara Rp 3.500/kWh karena memakai BBM. Potensi panasbumi Indonesia terbesar di dunia yaitu 29 GW, potensi airnya 76  GW dan potensi biomass 50 GW. Sulawesi selatan mempunyai danau Poso dengan potensi 900 MW yang kalau dikembangkan membutuhkan biaya Rp 800/kWh, tetapi saat ini 90 MW pembangkit listriknya sebagian besar memakai BBM dengan biaya Rp 3.500/kWh. Seharusnya, sedapat mungkin kita tidak menggunakan BBM untuk listrik.

Dulu waktu harga BBM Rp 6.000/ l sudah banyak yang berpindah ke busway dan transportasi umum.  Begitu harga BBM Rp 4.500/l maka kembali naik kendaraan pribadi lagi. Orang tidak menghemat energi tetapi menghemat uang. Orang yang mau naik kendaraan umum layak disebut Pahlawan karena menghemat dana Pemerintah, energi dan polusi. Program konversi minyak tanah ke BBG berhasil karena subsidi minyak tanah dihilangkan. Program jarak pagar dan konversi premium ke BBG belum berhasil karena premium harganya Rp 4.500/l.

Kalau seseorang menyikapi kenaikan harga BBM dengan arif maka pengeluarannya justru berkurang kalau di hari-hari kerja dia menggunakan transportasi umum dan hanya menggunakan mobil pribadi di akhir pekan atau silaturahmi. Medco memberi converter kit untuk CNG (Compressed Natural Gas) yang harga CNGnya Rp 4.100/l untuk stafnya dan menyediakan bus kantor untuk pegawainya. Kalau kebanyakan perusahaan berperilaku seperti Medco maka Jakarta tidak macet. Daerah luar Jawa penghasil Migas bisa beralih ke BBG lebih cepat.

Naiknya harga BBM justru akan menyebabkan energi lain yaitu batubara, gas, panasbumi, air dan biofuel banyak dibutuhkan dan diproduksikan yang akan memberikan lapangan kerja, penghasilan dan pertumbuhan ekonomi serta berkembangnya daerah-daerah terutama di luar Jawa. Minggu 11 Maret 2012 Wakil Menteri Pertanian dan penulis mengunjungi Pesantren Sunan Drajat di Lamongan dan melihat pengembangan Kemiri Sunan disana. Kemiri Sunan ini disamping baik untuk penghijauan sehingga mencegah bajir dan tanah longsor juga buahnya bisa dibuat biodiesel yang dapat menjadikan suatu desa disamping asri juga mandiri energi. Pesantren mempunyai jaringan di seluruh Indonesia dan menurut informasi jumlahnya sekitar 20.000 di Indonesia.

Ketergantungan yang berlebihan terhadap minyak dan luar negeri adalah ketidakmandirian. Tidak menggunakan energi yang kita miliki secara optimal adalah tidak bijaksana. Mengkonsumsi barang yang mahal tetapi tidak mengkonsumsi barang murah yang kita miliki adalah kebodohan. Cara meminimalkan subsidi BBM untuk transportasi dan listrik adalah dengan sesedikit mungkin memakai BBM. Akibatnya, Indonesia mempunyai dana lebih banyak untuk membuat Indonesia lebih cepat menjadi Negara Terpandang di Dunia. Dengan mengurangi ketergantungan kepada BBM maka Insya Allah Indonesia menjadi lebih baik.

***

diposting ulang dari tulisan yang didapat di milis EL-ITB

Bukan Hanya Masalah antara Energi Terbarukan vs Energi Fosil

Pernahkan Anda terpikir akan perdebatan antara pendukung Energi Terbarukan dengan Energi Fosil ?

Pendukung energi fosil (minyak, gas, dan batu bara) serta energi nuklir akan berkata kita harus mengembangkan jenis energi ini walaupun resikonya besar dan terkadang berbahaya. Kalau tidak, manusia akan hidup seperti zaman batu lagi.

Sementara itu, pendukung energi terbarukan juga akan berkata kita harus berpindah ke energi yang lebih bersih dan menghindarkan energi fosil, seraya menunjukkan contoh-contoh kasus pencemaran oleh energi fosil seperti tumpahan minyak yang mencemari lautan dan krisis nuklir yang terjadi di Jepang setahun yang lalu.

Namun, lagi-lagi pendukung energi fosil akan menyerang dengan dalih energi terbarukan belum siap untuk mengambil alih posisi energi fosil sebagai sumber energi utama..

Tetapi, apakah permasalahannya hanya menyangkut itu saja? Ternyata tidak.

Return on Investment

Thomas Homer-Dixon, direktur Trudeau Center for Peace and Conflict Studies di University of Toronto, mengatakan : “ Ukuran terbaik untuk menyatakan harga produksi minyak atau sumber energi apapun adalah jumlah energi yang diperlukan untuk menghasilkan energi tadi.” Hal inilah yang dikenal oleh ahli ekonomi dan ahli fisika sebagai E.R.O.I (Energy Return on Investment).

Sebagai contoh, untuk sebuah pertambangan batu bara, kita menghitung EROI-nya dengan membagi besarnya energi yang dihasilkan oleh batu bara tersebut dengan total energi yang diperlukan untuk menambangnya hingga pengolahannya menjadi batu bara yang siap dipakai — termasuk energi bahan bakar diesel untuk mesin-mesin, off-road dump trucks, energi listrik pada mesin yang menghancurkan dan memilah-milah batu bara, termasuk juga energi yang dibutuhkan untuk membangun dan merawat mesin-mesin ini.

Besarnya EROI ini sendiri untuk bahan bakar fosil dari tahun ke tahun sepertinya mengalami penurunan. Misalnya EROI untuk minyak di Amerika yang awalnya bernilai 25 banding 1 pada tahun  1970-an, kini telah turun menjadi sekitar 15 berbanding 1. Demikian juga halnya dengan gas alam. Mungkin hal ini disebabkan semakin lama lokasi yang diperlukan untuk mengekstrak minyak dan gas tadi juga semakin ekstrim sehingga semakin banyak energi yang harus dihabiskan untuk mendapatkan energi.

Sementara itu, untuk energi terbarukan sendiri, menurut Professor Charles Hall dari SUNY College of Environmental Science and Forestry gambaran EROI-nya adalah sebagai berikut (bervariasi untuk berbagai daerah)

EROI table

**

Dan dari hasil ini, kita dapat melihat secara sekilas bahwa EROI untuk energi alternatif — angin, geothermal, surya, dan air — lebih besar atau sama dengan EROI bahan bakar fosil dan nuklir.

Namun, ianya bukan hanya masalah antara energi fosil vs energi terbarukan, tetapi juga menyangkut masalah sentralisasi dan desentralisasi.

The National Academic Press mengatakan:

Saat energi ditransmisikan ke konsumen dalam bentuk yang dapat digunakan, ianya telah mengalami beberapa konversi (perubahan). Tiap kali energi berubah bentuk, sebagian kecil darinya akan hilang menjadi bentuk yang tidak kita inginkan ataupun tidak dapat kita gunakan, yaitu dalam bentuk panas.

Usaha untuk mengurangi besarnya energi yang hilang ini (meningkatkan efisiensi) sangat penting untuk masa depan energi dunia sebab jumlahnya jumlah energi yang hilang saat konversi energi sangatlah besar. Contoh yang paling nyata adalah energi listrik. Secara umum, prosesnya dimulai dari pembakaran batu bara di pembangkit. Energi kimia yang tersimpan di dalam batu bara itu pun kemudian akan berubah menjadi energi panas melalui pembakaran yang kemudian akan digunakan untuk menghasilkan uap. Lalu uap akan memutar turbin dan energi mekanis ini akan digunakan untuk memutar generator guna menghasilkan listrik.

Selama proses tersebut, energi awal yang tersimpan dalam batu bara telah mengalami empat kali perubahan menjadi empat jenis energi yang berbeda, tentunya mengalami empat kali rugi-rugi dalam proses konversinya juga. Sebuah pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batu bara setidaknya memiliki efisiensi sebesar 38% sehingga setidaknya hanya lebih dari sepertiga energi kimia yang tersimpan di dalam batu bara ini saja yang dikonversi menjadi listrik. Dengan kata lain, sebanyak 62% energi kimia yang ada di batu bara tidak berhasil mencapai jaringan listrik.

Lalu, saat listrik telah berada di jaringan, ianya juga akan mengalami rugi-rugi. Akhirnya, energi listrik ini akan mencapai bola lampu dan kemudian memanaskan filamen di dalamnya hingga berpijar, tetap menghasilkan rugi-rugi dalam bentuk panas. Dari proses ini, hanya sekitar 2% dari energi kimia yang terkandung di batu bara-lah yang digunakan untuk menghasilkan cahaya lampu.

Jadi, bagaimana cara kita untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi rugi-rugi?

Menggunakan peralatan-peralatan hemat energi dan menggunakan sistem yang pintar (misalnya peralatan power controlling yang akan memastikan bahwa hanya sejumlah besar energi yang diperlukan pada saat tertentu saja yang ditransfer) tentu salah satu cara yang dapat dilakukan. Namun, itu hanyalah gambaran kecilnya. Gambaran besarnya sendiri adalah mendesentralisasi pembangkitan dan transmisi energi tersebut.

Seperti yang ditulis oleh Institut Rocky Mountain : “Terkadang metode paling murah dan paling dapat diandalkan dalam distribusi energi adalah energi yang dibangkitkan pada atau dekat dengan konsumen yang dikenal dengan nama distributed energy atau micro power.”

Hal ini sangatlah jauh bertentangan dengan sistem tradisional yang ada sekarang, dimana energi listrik dibangkitkan di lokasi yang terpencil menggunakan pembangkit skala besar yang kemudian akan ditransmisikan kepada pelanggan melalui saluran transmisi.

Adapun energi mikro ini sendiri dapat berupa panel surya rumahan, turbin angin, hydro, geothermal, dan bahkan pembangkit nuklir yang digunakan secara lokal pada skala kecil, yang tentunya akan lebih aman dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir ukuran besar seperti yang dimiliki Tepco maupun GE.

Tak hanya itu, energi mikro ini juga dapat dihasilkan menggunakan energi panas, menggunakan piezo-electric, serta menggunakan nano teknologi sebagai berikut :

 

**

Sebagai penutup, dengan mendesentralisasi energi (power) kita juga akan membantu mengembalikan demokrasi dan kebebasan kita:

“ Banyak perang yang terjadi karena memperebutkan minyak bumi, diantaranya termasuk monopoli perusahaan-perusahaan energi besar. Selama kita bergantung kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan energi kita, kita tidak akan memperoleh keadilan dan kebebasan kita. Namun, saat kita menginstal panel surya, turbin angin, atau apapun jenis energi mikro lainnya, kita akan mendesentralisasi distribusi energi yang pada akhirnya akan mendesentralisasi kekuasaan jauh dari genggaman perusahaan-perusahaan energi dan sekutu politik mereka.”

***

Agus Praditya T, ST

sumber:

http://www.washingtonsblog.com/2011/12/nanotechnology-can-go-a-long-way-towards-solving-our-energy-shortage.html

http://www.washingtonsblog.com/2011/04/its-not-just-alternative-energy-versus-fossil-fuels-or-nuclear-energy-has-to-become-decentralized.html

http://www.theoildrum.com/story/2006/10/17/18478/085

Nuclear Energy in Indonesia

by Agus Praditya – for an online course assignment

***

1.      Introduction

The increasing of demand and supply of energy is a reality and a necessity to support social-economic development of a country. Indonesia, as a developing country, has a high electricity demand due to National Economic Development based on industrialization and supported by a strong agriculture base. It can be noted that in the last five years, the annual electricity growth rate has been assumed at around 9% per annum.

The main energy source fueling Indonesia’s economy is oil, although decreasing domestic production, increasing domestic consumption, and global price hikes over the past few years have reduced oil consumption and prompted effort to develop other energy resources, coal. Coal will be the primary domestic energy resource, especially to fuel new power generation capacities since Indonesia’s plans to rapidly expand the use of coal for power generation by building more  than 3,000 MW of new coal-fired power generation in Western Java alone by 2010.

Figure 1 : Primary energy supply by source in Indonesia

The expanded use of coal will significantly increase emissions of SOx, NOx, PM10, and other pollutants. Therefore, this will cause health impacts, like asthma attacks, lower respiratory illness (children), respiratory symptoms, and other respiratory diseases. And for this reason, Indonesia’s goverment intends to applying an optimum energy mix comprising all viable energy sources. The Presidential Regulation No.5 year 2006 indicates the target of energy mix until 2025 and the share of nuclear energy is about 2% of primary energy or 4% of electricity.

 

2.      Indonesia’s Nuclear Energy Development

Indonesia has several decades of history of activities towards the peaceful use of nuclear energy, including planning for power generation as can be seen from this figure below:

Figure 2 : Indonesia’s nuclear power program history

And towards the plan in introducing Indonesia’s first Nuclear Power Plant (NPP), the Act number 31 year 1964 does not suffice anymore with the current developing situation. Therefore it is replaced with Act number 10 year 1997, which seperating the regulatory body from implementing agency by the forming of two seperate agencies, the Nuclear Regulatory Agency (BAPETEN) and National Nuclear Energy Agency (BATAN) as the executing body which have the task to execute the use of nuclear energy. Then, in 2007, goverment release another act, Act number 17 year 2007 on Long Term National Development Plan of Indonesia for 2005 to 2025.

BATAN, as the executing body, have the main duties to conduct government activities in the field of research, development, and the beneficial applications of nuclear energy in accordance with the law and regulation. These means that BATAN is responsible in general surveys, explorations and exploitations of nuclear ore, raw material production for manufacturing and fabrication of nuclear fuel, production of radioisotopes for research and development, and radioactive waste management. And in order to prepare manpower to support construction, operation and maintenance of the future NPP in Indonesia, BATAN has performed the R&D in reactor technology, nuclear safety, fuel cycles, instrumentation and control system, and radioactive waste management.

At present BATAN have 3 research reactors which are spread out in the Nuclear Research Centers in Bandung, Yogyakarta, and Serpong.

1)   Bandung Nuclear Complex has the Triga Mark II Reactor which started with a power of 250 kW in 1965. The power of this reactor was then increased to 1000 kW in 1971 and further to 2000 kW in the year 2000. Other facilities in this area are the laboratory for physics, chemistry and biology, production of isotopes and labeled compounds. In addition, nuclear medicine firstly developed in Bandung nuclear complex was the embryo of the nuclear medicine in Indonesia. The activities of nuclear medicine was then further developed in several hospitals in Indonesia.

2)   Kartini Reactor is a nuclear reactor with a power of 100 kW in operation since 1979 at Yogyakarta Nuclear Research Center. The purpose of this reactor is for education and training facility. In addition, supervision of occupational radiation safety and that of environmental radioactivity are also conducted.

3)   The Multipurpose 30 MW Research Reactor (completed at 1992) at Serpong Nuclear Research Center have been used mainly for material testing, nuclear analytical analysis, isotope production, neutron beam experiment, and for education. This reactor also having been built with the objectives to support development of the nuclear industry and for preparation, development as well as the operation of Nuclear Power Plants in Indonesia.

 

In order to support the nuclear energy program, several research facilities have been built in the Serpong Nuclear Research Center, among the multipurpose 30 MW reactor. There is also Pasar Jum’at Nuclear Complex with its 3 units of Co 60 Gamma Irradiators for Application of Isotope and Radiation Technology and the Exploration Area in West Kalimantan for researching in exploration and test mining of nuclear ores.

Indonesia has done extensive prepatory work on most infrastructure issues that would allow the country to make decision to further consider introduction of nuclear power, i.e. to go from phase 1 to phase 2 to in Milestone methodology.

Figure 3 : Indonesia’s nuclear infrastructure development program

Another important issue in nuclear power introduction is the human resources development for the safety of nuclear facilities and technology development. Indonesia through its nuclear energy agency (BATAN) has made and devoted special efforts to prepare highly competence personnel in preservation and enhancement of nuclear knowledge towards Indonesia’s plan to operate the first NPP by 2016. This aim is further supported by sending personnel abroad to obtain Master or Doctoral degree, and sending personnel aboard for on the job training (i.e. to General Electric and Westinghouse companies to participate in their NPP design activities or to the research institute in Japan or Republic of Korea). BATAN also nominates its staff to participate in the International Training Courses organized abroad by the IAEA, RCA, FNCA or foreign institutions under the bilateral cooperation.

 

3.      Introduce Nuclear Power in Indonesia

Public Acceptance is one of the most important issues in the introduction of nuclear power. Public acceptance is derived from public understanding that the nuclear programme is indispensable and beneficial to the Indonesian economy and environment. And public understanding may results in public support for nuclear power programme.

The first step is the public information has to be intensified in line with the dissemination of proven nuclear technology application activities already carried out for couple years in various provinces together with various research and development institutes and local governments, universities, private companies, and non-governmental organizations. Secondly, tell the information about nuclear power, not only NPP, but rather the role of this energy source within the context of objectives for the social, political and economic development of a country. Government and nuclear industry must also create open and transparent policy in the nuclear decision making process to fulfill the “right to know” of the public.

In the top of that, training for the journalists must be given in the first priority. Experiences show that the mass media has becoming an important factor in the role of forming public opinion as well as informing and educating the people. Therefore maintaining a friendly relationship with the journalist is one of the classical ways. BATAN has organized the nuclear science and technology training programme for Indonesian scientific journalists on September 2003.

 

4.      Conclusion

The social-economic development are increasing demand and supply of energy to a limited number of sources of energy currently available. Due to the secure long-term energy supply, nuclear power is the only alternative at present for replacing the fossil base load generation, especially in Java.

Indonesia through its nuclear energy agency (BATAN) has made and devoted special efforts to build a nuclear science and technology (using three its Nuclear Research Center) and to prepare highly competence personnel in preservation and enhancement of nuclear knowledge towards Indonesia’s plan to operate the first NPP by 2016.

 

Reference:

[1] United States Agency for International Development (USAID) ASIA. Indonesia Country Report. From Ideas to Action : Clean Energy Solutions for Asia to Address Climate Change. June 2007.

[2] Sastratenaya, Achmad S. and Ariyanto Sudi. Nuclear Energy Development in Indonesia. IAEA TC workshop long range planning.Vienna, June 14-17, 2010.

[3] Soetrisnanto, Arnold. Status of Nuclear Power Development in Indonesia. Nuclear Power Asia Conference 2010.

[4] Ardisasmita, M.S. Preservation and Enchancement of Nuclear Knowledge Towards Indonesia’s Plan to Operate First Nuclear Power Plant by 2016. National Nuclear Energy Agency. Jakarta. 2006.

[5] Presentation on BATAN : National Nuclear Energy Agency (BATAN) Indonesia. RCARO. December 2009.

[6] http://www-pub.iaea.org/MTCD/publications/ PDF/cnpp2003/CNPP_Webpage/country-profiles/Indonesia/ Indonesia2003.htm

Jasa Konstruksi dan Kelistrikan Indonesia

Sabtu, 30 April 2011

***

Pagi ini, sekitar pukul 10.00 WIB,  kuliah umum yang diadakan di Auditorium CC Timur ITB mengambil topik “Tantangan Proyek Kelistrikan Indonesia di Masa Depan“. Pembicaranya sendiri ada dua orang, yakni :

  1. Dr. Ir. Herry Winarno (Presiden Direktur PT. Meta Epsi Engineering)
  2. Ir. Agus Sofiandi (Direktur Utama PT. Indokomas Buana Perkasa)

Kedua pembicara ini menanggapi topik yang diberikan di atas dengan meninjaunya dari sisi jasa konstruksi sesuai dengan bidang yang mereka geluti. Pak Herry, selaku pembicara pertama mengambil judul ” Mengoptimalkan Peluang Industri Jasa Konstruksi Menyonsong Masa Depan yang Lebih Baik” dan Pak Agus, selaku pembicara terakhir mengambil judul ” Contracting Company

***

Sebelum berbicara tentang peranan jasa kontruksi terhadap kelistrikan di Indonesia, mari kita coba lihat sejenak beberapa kondisi sektor kelistrikan kita tersebut :

* Rasio elektrifikasi totalnya berkisar 65 % dan masih terpusat di pulau Jawa

* Terdapat sekitar 140 juta orang di pulau Jawa yang menggunakan kebutuhan listrik sekitar 24.000 MW (76%), sekitar 50 juta di pulau Sumatra yang menggunakan kebutuhan listrik sebesar 5000 MW (17%), dan sisanya berada di pulau-pulau lainnya di Indonesia.

* Efisiensi kelistrikan yang rendah disebabkan oleh penggunaan BBM yang berlebihan sehingga kebutuhan subsidi listrik sangat besar ,

* dan beberapa kondisi sektor kelistrikan lainnya

Sekarang, apa peranan jasa konstruksi dalam sektor kelistrikan Indonesia?

Jasa konstruksi merupakan kebutuhan penting dalam sektor kelistrikan, mulai dari pembangungan pembangkit dan gardu induknya, pembangunan jalur transmisi dan distribusi, dan fasilitas-fasilitas pendukung kelistrikan lainnya. Bahkan, beberapa kontribusi jasa konstruksi untuk perekonomian negara seperti yang disampaikan oleh Pak Herry diantaranya adalah :

  1. Investasi konstruksi adalah fixed capital investment yang merupakan investasi perekonomian masa depan suatu negara
  2. Investasi konstruksi sebagai alat penting kebijakan publik
  3. Investasi jasa konstruksi tumbuh rata-rata di atas 5,5% per tahun dalam kurun waktu 2005-2010 sehingga merupakan investasi yang bernilai positif,
  4. dan beberapa kontribusi lainnya

Pak Herry, di sela-sela presentasinya, juga sempat membagikan bahwa salah satu faktor yang membangkitkan perekonomian Indonesia keluar dari krisis 1998 dan krisis dunia 2008 adalah perilaku konsumsi yang disalurkan dengan membuka pasar-pasar baru jasa konstruksi.

Mengingat besarnya peranan jasa konstruksi ini dengan perkembangan kelistrikan Indonesia, maka pemerintah seharusnya menyadari bahwa investasi proyek kelistrikan bukanlah tanggung jawab pihak swasta saja, melainkan pemerintah juga. Dengan demikian, maka pasal yang mengatur tentang pembagian peranan pemerintah sebesar 30% dan pihak swasta 70% dalam undang-undang menyangkut pembangunan pembangkit sudah selayaknya dikaji ulang.

Disamping kendala dari segi undang-undang tersebut, salah satu tantangan lain yang dialami oleh jasa konstruksi yang perlu dibenahi adalah mahalnya harga material, yakni semen sebagai komponen dasar konstruksi. Dan salah satu faktor penyebab hal ini adalah inefisiensi di segi transportasinya (penggunaan energi primer).

Dengan prediksi gambaran industri jasa konstruksi yang akan tumbuh sekitar 7,2 % pertahun untuk periode 2011-2015, sudah selayaknyalah pemerintah turut ambil bagian disamping tetap berusaha menarik investor swasta dengan memberi mereka kemudahan-kemudahan yang diperlukan. Diharapkan dengan memulai hal ini maka sektor kelistrikan di Indonesia akan semakin membaik.

***

Pak Herry  bercerita : Sekitar 3 tahun yang lalu, saat beliau ke China, pembangunan kereta cepat itu adalah suatu wacana. Namun, saat  beberapa bulan yang lalu beliau ke China lagi, kereta cepatnya itu sudah ada.

Hal inilah yang diperlukan oleh bangsa kita. Jangan kebanyakan wacana, melainkan tindakan nyata.

*****

Biaya dalam Pembangkitan Tenaga Listrik

tulisan ini merupakan ringkasan dari setengah catatan kuliah Ekonomi Energi saya beserta tugasnya

***

Berbicara tentang biaya dalam pembangkitan tenaga listrik, berarti kita berbicara tentang harga yang jelas-jelas berbeda dengan tarif. Bila harga itu nilainya ditentukan oleh besarnya investment yang dilakukan, maka tarif itu sendiri tergantung kepada kebijakan pemerintah. Itulah sebabnya biaya tagihan listrik yang kita bayar setiap bulannya itu dikenal dengan nama tarif listrik.

Dalam pembangkitan tenaga listrik ada empat komponen biaya yang biasanya harus diperhitungkan, komponen A,B,C, dan D.  Namun, dalam kasus-kasus tertentu, ada tambahan satu komponen lagi yang dikenal dengan komponen E.

  • Komponen A

Merupakan fixed cost, yakni biaya yang harus tetap dikeluarkan terlepas dari pembangkit listrik tersebut dioperasikan atau tidak. Komponen ini umumnya terdiri dari biaya konstruksi PLT (Pembangkit Listrik Tenaga …) seperti pekerjaan sipil, biaya pembelian turbin, generator, dan lain-lain.

  • Komponen B dan D

Kedua komponen ini dikenal dengan nama variable cost dan biasanya nilainya kecil. Selain itu, keduanya juga sering disebut sebagai OM Cost yang berarti biaya yang dikeluarkan untuk operasi dan maintenance si pembangkit.

–       komponen B

merupakan fixed OM Cost, seperti gaji pegawai/karyawan, biaya manajemen, dan lain-lain

–       komponen D

merupakan variable OM Cost, seperti biaya untuk pelumas. Semakin sering dan berat kerja si pembangkit, semakin dibutuhkan pulalah pelumas. Maka, biaya komponen D ini akan meningkat. Dan demikian pulalah sebaliknya.

  • Komponen C

Komponen ini merupakan fuel cost atau biaya bahan bakar. Beberapa faktor yang mempengaruhi harga komponen ini misalnya banyaknya konsumsi bahan bakar yang diperlukan, jenis bahan bakarnya, lama waktu penyalaan pembangkit, dan beberapa hal lainnya.

  • Komponen E (optional)

Biaya ini tidak merupakan biaya wajib yang harus ada dalam komponen biaya pembangkitan. Namun, saat kita berada dalam posisi IPP (Independent Power Producer) atau penyedia listrik non-PLN (Pemerintah), terkadang komponen biaya ini turut kita perhitungkan.

Komponen E ini adalah komponen biaya saluran dari trafo step-up yang ada di pembangkit kita ke gardu induk PLN terdekat. Misalnya kita membangun PLTU sendiri di pinggir pantai. Sementara itu, gardu induk PLN terdekat berada pada jarak 5 km dari PLTU Anda. Nah, untuk menghubungkan output trafo step-up di pembangkit Anda ke gardu induk tersebut tentu dibutuhkan saluran listrik kan. Biaya instalasi saluran inilah yang dikenal dengan nama komponen E dan biasanya dibebankan ke PLN selaku pembeli.

***

Kemudian, setelah komponen-komponen tadi diketahui nilainya, kita tinggal menjumlahkannya untuk mendapatkan nilai yang dikenal dengan nama BPP (Biaya Pokok Pembangkitan). Inilah biaya pembangkitan sebenarnya yang dikeluarkan oleh si pembangkit.

Berikut ini adalah contoh perhitungan beberapa komponen biaya :

1. Komponen A

Capital Cost (CC) adalah biaya konstruksi PLT. Biaya ini meliputi biaya turbin, generator, switchgear, BOP (Balance of Plant), dll.

CRF (Capital Recovery Factor) atau faktor pengembalian investasi biasanya direpresentasikan oleh persamaan berikut:

dengan  i = interest dan n = masa manfaat

– kapasitas merupakan kapasitas total pembangkit.

– 8760 dinyatakan dalam jam, yang merupakan lamanya jam dalam satu tahun. Hal ini mewakili waktu nyala si pembangkit dalam selama satu tahun.

CF (Capacity Factor) merupakan faktor kesediaan PLT dalam memproduksi listrik. Nilai CF ini umumnya bervariasi antara 0,8-0,9.

2. Komponen C

Besarnya komponen C dipengaruhi oleh harga bahan bakar per satuan (misalnya Rp/liter untuk diesel) dan harga SFC (Specific Fuel Consumption) yang dinyatakan dalam satuan per kwh (misalnya liter/kwh untuk diesel)

Contoh kasus:

Sebuah pembangkit memiliki kapasitas 3×1000 kW dengan masa manfaat 5 tahun. Harga capital cost adalah $ 300/kWh. Bahan bakar solar (diesel) yang digunakan memiliki efisiensi 0,275 liter/kWh. Besarnya komponen B dan D adalah sebagai berikut berturut-turut (dalam cent dollar) 0,3 dan 0,6. Hitunglah BPP bila:

(a) Take or Pay

(b) PLT bekerja sebagai peaker yang hanya menyala 2 jam/hari

Jawab

Total kapasitas pembangkit adalah 3X1000 kW.

Capital cost totalnya adalah : $ 300/kW x 3000 kW = $ 900.000

Masa manfaatnya (n) adalah 5 tahun

Dengan mengasumsikan nilai i = 30%, maka

Dengan menggunakan harga diesel untuk industri (Rp 8.800/kWh), komponen C akan bernilai : Rp 8.800/liter x 0,275 liter/kWh = Rp 2420/kWh

CF sendiri kita asumsikan sebesar 0,8. Jadi:

(a) Saat pembangkit digunakan take or pay, itu berarti pembangkit akan menjadi IPP yang menjual listriknya sepanjang tahun. Maka

Dan dengan mengambil kurs 1$ = Rp 9.000, maka BPP menjadi :

BPP = (0,018 x 9000) + ((0,3+0,6)/100 x 9000) + 2420

= Rp 2663/kWh

(b) Saat pembangkit digunakan sebagai peaker dengan waktu menyala 2 jam/hari = 2 x 365 hari = 730 jam/tahun, maka

Dan dengan mengambil kurs 1$ = Rp 9.000, maka BPP menjadi :

BPP = (0,211 x 9000) + ((0,3*+0,6)/100 x 9000) + 2420

= Rp 4400/kWh

*menurut dosen saya, nilai komponen B juga akan mengalami perubahan saat PLT digunakan sebagai peaker. Namun, saya masih kurang paham akan hal itu. Karenanya saya masih menuliskan hal yang saya tangkap. Namun yang pasti, nilai komponen A saat digunakan sebagai peaker jauh lebih besar dibandingkan saat penggunaan biasa.

***

Agus Praditya T

kurva beban dan alasan memiliki beragam pembangkit

Kurva beban, secara sederhana dapat diartikan sebagai kurva yang menggambarkan penggunaan beban (listrik) dalam suatu waktu. Dikatakan dalam suatu waktu karena  selangnya itu dapat berupa tahunan, mingguan, bahkan harian. Namun, penggunaan yang paling umum adalah kurva beban harian seperti yang dapat kita lihat dari website http://p3bjawabali.pln.co.id/ berikut:

kurva beban Jawa-Bali pukul 16.45

Kurva di atas merupakan contoh kurva beban  daerah Jawa Bali untuk tanggal 2 Maret 2011. Kurva yang berwarna biru merupakan perkiraan bentuk kurva beban tanggal 2 Maret 2011 selama 24 jam dan nilai 18099,78 MW merupakan beban puncak yang diperkirakan bakalan terjadi. Sementara itu, kurva yang berwarna merah mewakili keadaan beban (listrik) sebenarnya yang dipakai.

***

Bagaimana memprediksi kurva beban?

-> Prediksi kurva beban di lakukan oleh P3B (Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban) Jawa Bali yang berada di Gandul. Metode prediksinya sendiri ada beragam (cari di google dengan keyword “load curve prediction”). Namun, saat saya melakukan kerja praktik di P3B bulan Juni-Juli tahun lalu, metode yang digunakan P3B adalah metode koefisien. Bagaimana cara kerjanya dan pengaplikasiannya? Tidak akan saya bahas di sini.

Apa gunanya memprediksi kurva beban?

-> Secara sederhana agar PLN dan masyarakat tidak rugi. PLN akan rugi bila ternyata  daya yang dibangkitkan sangat besar sementara kebutuhan sedikit (rugi bahan bakar). Maka, bila kurva beban ada, PLN dapat memperkirakan kebutuhan daya sehingga pembangkitan juga dapat diatur. Sedangkan masyarakat sendiri akan dirugikan bila ternyata daya yang dibangkitkan jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan. Kenapa? Karena PLN akan melakukan pemadaman (untuk mempertahankan kestabilan sistem) sampai pasokan daya ditambah. Selain itu, tujuan lain dari prediksi kurva beban adalah agar dapat mengatur jenis-jenis pembangkit yang akan dinyalakan/digunakan.

***

jenis-jenis beban

Secara sederhana, kurva beban yang ada (termasuk kurva beban Jawa Bali untuk tanggal 5 Maret 2011) dapat dibagi menjadi tiga bagian: beban puncak, beban menengah, dan beban dasar. Pengelompokan beban inilah yang menyebabkan perlunya diatur jenis-jenis pembangkit yang perlu dinyalakan.

Misalnya, untuk beban dasar (base load) -> pembangkit yang digunakan adalah pembangkit yang biaya bahan bakarnya murah dan standby operasinya lama (waktu penyalaan pembangkit sampai dapat memproduksi listrik). Karenanya, pembangkit yang digunakan untuk jenis beban ini adalah PLTU dengan bahan bakar batu bara atau bahkan dapat juga PLTGU.

Untuk beban puncak -> pembangkit yang digunakan adalah pembangkit yang standby operasinya cepat. Maksudnya, saat dibutuhkan tambahan pasokan daya, pembangkit dapat langsung menyuplai tambahan daya tersebut. Jenis pembangkit yang sesuai untuk beban ini misalnya PLTD dan PLTG.

Jadi, kenapa kita memiliki beragam pembangkit?

Karena bentuk kurva beban kita yang jelek (tidak datar). Bila kita hanya membangun PLTU dengan bahan bakar batu bara, biaya bahan bakarnya mungkin murah. Namun, saat beban puncak, kita akan mengalami kerugian. Karena waktu untuk mengoperasikan PLTU itu sangat lama (mencapai 5 hari), maka untuk mengatasi beban puncak yang akan terjadi, PLTU tersebut tentu sudah dinyalakan sejak lama. Sementara itu, durasi beban puncaknya itu sendiri hanyalah beberapa jam (2-4 jam). Tentu saja  tidak sebanding pemasukan dengan pengeluaran. Itulah sebabnya kita memiliki pembangkit-pembangkit seperti PLTD dan PLTG. Untung saja durasi beban puncak hanya beberapa jam sehingga pengeluaran untuk bahan bakar pembangkit2 tersebut tidak besar (walaupun tetap memberatkan).

***
mendapat ide untuk menulis setelah kuliah Ekonomi Energi yang kebetulan menyinggung tentang hal ini

MDG (Millenium Development Goals)

 

MDGs chart

MDGs (Millenium Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Millenium terdiri dari delapan bagian, antara lain :

  1. Mengentaskan kemiskinan dan kelaparan
  2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua
  3. Mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
  4. Penurunan tingkat kematian anak
  5. Peningkatan kesehatan Ibu
  6. Pencegahan HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit menular lainnya
  7. Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup
  8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

****

 

MDGs-1

MDGs-2

MDGs-3

MDGs-4

MDGs-5

MDGs-6

MDGs-7

MDGs-8

****

sumber :

ENERGY ACCESS, LINKAGE BETWEEN ENERGY AND MDGs

S. Kumar
Professor, Asian Institute of Technology
Thailand