Watergius's Journal

The world as I see it

Category Archives: gak penting

Karena peraturan berlaku juga buat pengajar

Kamis, 3 November 2016

***

Awal pertama kelas setahun yang lalu, Prof. J sudah menunggu di ruangan lengkap dengan laptop dan presentasinya. Kelas dimulai. Satu-satunya sumber bunyi hanyalah suara profesor yang keras dan lantang, cukup untuk membuatmu tetap terjaga walaupun tidak paham sepenuhnya materi yang diajarkan.

Setengah jam berlalu. Nada pesan masuk di telepon genggam terdengar. Seorang teman merogoh sakunya, berusaha mematikan nada dering teleponnya. Namun sang profesor sudah terlatih mendengarkan nada-nada perangkat elektronik. Menyadari ini kelas pertama, dia hanya mengeluarkan ultimatum: “Jika dalam kelas saya seseorang menghasilkan bunyi dari perangkat elektronik, maka di kelas berikutnya orang tersebut harus membawa bir… untuk seisi kelas.”

Selama beberapa minggu tak ada lagi nada perangkat elektronik yang terdengar di kelas. Yang ada hanyalah suara getaran dari pesan masuk ke telepon genggam yang kebetulan diletakkan di atas meja. Hingga suatu hari seorang teman lupa mematikan alarmnya dan teleponnya berbunyi. Apa hendak dikata. Seisi kelas menatap dia, tak terkecuali sang profesor yang sambil tersenyum berkata: ” Di kelas berikutnya kamu harus membawa bir.”

Makan di kelas saat pelajaran berlangsung adalah hal yang lumrah di tempatku belajar saat ini. Meninggalkan kelas sambil menenteng tas di tengah pelajaran tepat saat seorang profesor sedang berbicara, juga ternyata dapat diterima. Namun kini, minum bir ketika pelajaran berlangsung dengan aba2 cheers dari sang profesor…  aku pun hanya bisa takjub sambil tak lupa mengangkat botol birku dan menyahut cheers.

Minum bir dalam kelas Prof. J

Minum bir dalam kelas Prof. J

 

Kejadian yang sama berulang tiga kali, namun dengan orang yang berbeda. Karena suara perangkat elektroniklah yang menjadi acuannya, maka suara Windows saat laptop pertama kali dinyalakan juga masuk kategori dan menyebabkan seorang teman membawa bir di kelas berikutnya.

**

Setahun berlalu sejak kelas pertama dengan Prof. J dan peraturan yang sama tetap berlaku. Hari ini sang profesor perlu menunjukkan materi pelajaran di youtube dan mau tak mau harus memasang suara agar video tersebut dapat dipahami. Dan coba tebak apa yang terjadi setelah video selesai dia putar?

“Sekarang saya yang harus membawa bir ya,” katanya sambil tertawa.

Dan di kelas berikutnya hari Rabu mendatang, kami akan menikmati bir lagi di dalam kelas untuk yang keenam kalinya.

***

atampubolon

meminjam buku di iJakarta lebih dari 3 hari?

Selasa, 24 Mei 2016

***

Pertama kali tahu iJakarta adalah saat menonton Mata Najwa per tanggal 11 Mei 2016 yang berjudul “Tak Sekadar Membaca”. iJakarta, terkesan seperti produk buatan Apple yang beken dengan huruf ‘i’ di depannya. Namun mungkin iJakarta ini memang kerabat jauhnya. Kerabat sebab ia memang bergerak di sektor digital dan teknologi, jauh sebab ia adalah sebuah perpustakaan.

Menarik sekali memang aplikasi dan konsep perpustakaan digital ini. Apalagi dalam tayangan Mata Najwa tersebut, sang penggagas iJakarta, Lasmo Sudharmo, semangat sekali menceritakannya. “Satu buku bisa dipinjam sampai tiga hari. Setelah tiga hari, buku tersebut akan otomatis dikembalikan. Apa yang terjadi? Orang2 mulai komplain. Mereka meminta agar waktu peminjaman bisa sampai lima hari. Namun antrian satu buku saja terkadang bisa sampai ratusan dengan tiga hari. Bila lima hari, bisa ribuan antriannya,” jelasnya sambil tersenyum.

Setelah hampir 2 minggu menggunakan aplikasi ini di Tab, ada satu pola yang saya temukan. Pertama kita harus mengunduh buku yang ingin kita baca ke dalam aplikasi iJakarta ini. Setelah buku tersebut diunduh, kita bisa membaca buku tersebut baik daring maupun tidak. Di sinilah celah yang saya temukan. Selama kita tidak terhubung dengan internet saat mengakses aplikasi iJakarta tersebut, maka database kita tidak akan diperbaharui. Dalam artian, buku yang kita punya, walaupun sudah lewat masa pinjamnya (3 hari), masih bisa kita baca.

Saya memiliki sebuah buku yang sedang saya baca di Tab. Saya tahu masa pinjamnya sudah lewat tiga hari, namun saya ingin memastikan lagi. Saat aplikasi iJakarta saya buka lewat komputer dan saya masuk ke akun saya, buku tersebut sudah dalam status dikembalikan dan hanya muncul di history. Namun di Tab, buku itu masih ada dan menunggu selesai dibaca.  Hanya saja perlu diperhatikan, buku tersebut harus terus dalam keadaan terbuka. Dalam artian, kita tidak boleh melakukan apapun di Tab (atau media apapun itu yang kita gunakan). Bila iya, maka akan segara terdeteksi bahwa masa pinjamnya sudah habis dan harus melakukan peminjaman ulang lagi. Syukur2 bila tidak perlu mengantri lagi.

***

atampubolon

 

mengutip data dari suatu sumber, periksa ulang!

25 April 2016

***

Berawal dari ketertarikan menulis tentang program Presiden Jokowi terkait perkembangan kelistrikan di Indonesia, sumber2 bacaan pun mulai dicari menggunakan mesin pencari google. Ada banyak sumber yang ditemukan, yang pada akhirnya dapat dikelompokkan menjadi dua: dokumen/laporan/presentasi (biasanya berupa file pdf) dan laman website (berupa tautan suatu laman). Salah satu laman website yang kutemukan adalah dari suara.com (tautan berita: http://www.suara.com/news/2015/03/09/074111/antisipasi-krisis-listrik-jokowi-tetapkan-dua-target).

Bila artikel tersebut dibaca sekilas sepertinya tidak ada yang salah. Sumber data yang digunakan juga terpercaya, Ditjen LPE Kementrian ESDM. Namun, karena telah mencari dan membaca terlalu banyak sumber, aku akhirnya menemukan sesuatu yang aneh. Sumber data dari ESDM yang digunakan tersebut dikeluarkan tahun 2009 dan sementara artikel tersebut dipublikasikan pada tahun 2015. Dan saat aku mengatakan sumber data dari ESDM, aku menduga sepertinya artikel berikutlah yang digunakan: http://www.esdm.go.id/berita/39-listrik/2719-rasio-elektrifikasi-14-provinsi-diatas-60.html

Bila kita menggunakan mesin pencari google dan mencari “rasio elektrifikasi 2015“, kira2 tampilan halaman utamanya adalah sebagai berikut:

halaman utama google saat mencari rasio elektrifikasi

halaman utama google saat mencari rasio elektrifikasi

Namun, bila kita mencari berita ini langsung dari arsip berita Kementrian ESDM, kita akan menemukan bahwa artikel ini dipublikasikan pada tanggal 6 Agustus 2009 seperti berikut:

artikel di halaman berita Kementrian ESDM

artikel di halaman berita Kementrian ESDM

**

Saat kita mencari suatu berita atau artikel dari google, lalu membukanya langsung, terkadang yang terjadi adalah kita membuka cache-nya. Akibatnya, tanggal publikasi berita/artikel tersebut, terutama bila tidak dituliskan pada isi berita/artikel, akan salah juga atau bahkan tidak muncul. Seperti yang terjadi di kasus ini, artikel yang sebenarnya dipublikasikan pada bulan Agustus 2009 keluar pada kata kunci pencarian “…. 2015”. Dan saat diklik langsung dari laman google tersebut, tanggal sebenar publikasi artikel juga tidak muncul sehingga timbullah kesalahan ini. Karena itu, penting untuk memeriksa ulang data2 yang digunakan terutama bila sumber yang digunakan adalah artikel/berita.

***

atampubolon

 

tidak pernah ngecek lagi struk belanjaan?

Senin, 30 Maret 2015

***

Sudah menjadi ritualku untuk belanja mingguan tiap hari Senin. Bukan Minggu, bukan pula Selasa. Dan sudah menjadi kebiasaan pula untuk melakukan ‘belanja mingguan ini’ di salah satu supermarket besar di sebuah pusat perbelanjaan yang kebetulan dekat kosanku. Bisa tinggal jalan soalnya.

*

Sabun cair yang biasa kugunakan sudah hampir habis sehingga begitu masuk di supermarket, hal itulah yang pertama kucari. Selain tentunya tulisan besar yang menyebutkan salah satu merek sabun cair ini “DISKON BESAR”.. dengan latar kertas kuning yang membuatnya lebih mencolok lagi. Kulihat harga awalnya dan menjadi berapa harganya setelah diskon. Setelah membandingkan dengan beberapa sabun cair lainnya, baik yang diskon maupun tidak, akhirnya kuputuskan mengambil sabun cair Dettol 450 ml. Harga sebelum diskon 27.990 dan setelah diskon menjadi 19.890. Lumayan kan diskon 8.100.

Lalu sabun itu pun kumasukkan ke dalam keranjang belanjaan dan melanjutkan dengan belanja barang lainnya….

*

Satu per satu barcode barang belanjaanku di-scan mbak yang menjaga kasir dan segera kumasukkan ke tas punggungku. Ke tas? iya. Aku tidak ingin menggunakan terlalu banyak kantong plastik. Lagipula, di kosanku sudah ada cukup banyak kantong plastik.

Total belanjaan pun disebutkan si Mbak itu. Aku membayar dan struk pembayaran pun keluar dari mesin kasir yang kemudian berpindah ke tanganku. Kubaca satu per satu barang belanjaan itu dan biasanya aku menjumlahkan juga kisaran totalnya untuk melihat apakah sesuai dengan yang kuperkirakan. Biasanya sih baik2 saja dan tidak ada yang salah. Cuma tadi, mataku terpaku di satu baris barang belanjaan yang angkanya tidak benar.

Diskon Dettol tidak dimasukkan

Diskon Dettol tidak dimasukkan

Potongan harga Dettol belum dimasukkan, atau dengan kata lain potongan harga yang terpajang di stand Dettol itu belum dimasukkan ke dalam sistem kasir supermarket. Mengetahui hal ini, aku pun segera melapor ke kasir lain yang sepertinya lebih senior. Setelah mengecek sana sini, akhirnya mereka mengembalikan duitku… 8.100.

Kalau ini memang karena data belum dimasukkan ke sistem, bisa2 semua orang yang beli itu Dettol ngerasa mereka mendapatkan harga diskon, padahal mereka tetap membayar dengan harga yang sama. Mungkin… Tapi ntahlah. Semoga mereka juga rajin mengecek struk belanjaannya seperti aku.

***

atampubolon

 

uang baru dari ATM, iyakah?

Senin, 2 Februari 2015

***
Pagi itu, di sebuah ATM dalam sebuah gedung perkantoran mewah dan bersebelahan pula dengan bank si empunya mesin, aku menarik sejumlah duit dalam pecahan ratusan ribu. Setelah duitnya keluar, langsung kuambil dan masukkan ke dompet. Tak pernah kuhitung sebab kalaupun kurang, apakah yang bisa kita lakukan. Tak ada. Karenanya buat apa melakukannya.

Sore harinya, duit itu kupakai untuk membayar keperluanku. Saat duit itu diterima oleh kasir dan dihitung secara manual, tiba2 orang itu bertanya apakah aku punya duit yang lain atau tidak? Ternyata ada dua pecahan seratus ribu yang kuserahkan kondisinya sangat memprihatinkan.

Yang satu ilustrasinya seperti gambar di bawah ini (bayangkanlah duit seratus ribu dalam kondisi seperti ini)

ilustrasi uang 100 ribu jelekku – lebih jelek dari ini sebenarnya, dengan isolasi transparan setengah bagian

Dan yang satu lagi, bagian tepinya tidak sobek2 seperti yang pertama, namun duitnya sudah terbagi dua dan disambungkan kembali pakai isolasi transparan. Hanya saja, ada bagian tengah duit itu yang hilang sehingga walaupun sudah disambungkan, ada kelihatan ruang kosong di tengah2nya.

Ternyata duit dari ATM tidak selalu baru dan bagus. Aku baru saja belajar tentang hal itu. Awalnya aku kepikiran ingin mengajukan protes ke bank yang bersangkutan dan meminta tukar dua lembar ratusan ribuku yang kondisinya memprihatinkan itu. Namun, karena bukti penarikan ATM tidak kucetak, maka niatan itu kuurungkan sebab aku berpikir itu tidak akan bisa dilakukan. Tapi ternyata kemudian kata teman2ku hal itu bisa dilakukan, walaupun tidak punya bukti penarikan. Bahkan, sekalipun beda antara ATiM dan banknya, bank punya kewajiban untuk menukar duit yang dimiliki oleh nasabah. Mungkin lain kali hal ini bisa dicoba.

Intinya, duit dari ATM itu tidak selalu baru. Periksalah!

***

APT.

 

 

 

Aku gak mau transjakarta yang kosong…

Selasa, 27 Januari 2015

***

Aku gak mau transjakarta yang kosong, bila datangnya serombongan, berbaris panjang layaknya kereta api.

Aku gak mau transjakarta yang kosong, bila aku harus mengantri lama hanya untuk padat-padatan naik bus yang pertama datang padahal bus-bus dibelakangnya sepi penumpang.

Aku gak mau transjakarta yang kosong, bila hanya dibuat sakit hati melihat banyaknya bus lain di belakang bus yang baru kunaiki, berhenti di halte hanya untuk formalitas.

Yang aku mau, transjakarta yang PASTI datang satu per satu TIAP sekian menit, bukan yang datang sekaligus keroyokan setelah sekian puluh menit.

Yang aku mau, transjakarta yang membuatku tidak perlu menunggu terlalu lama walaupun tidak memungkinkan untuk mendapatkan tempat duduk di dalam bus itu.

Yang aku mau, transjakarta yang dapat kuandalkan sebab aku tahu bus itu akan datang di saat yang sama seperti di hari-hari sebelumnya.

rombongan transjakarta

**

curahan hati setelah menunggu setengah jam lebih di salah satu halte transjakarta, lalu naik bus paling depan, dan setelah turun mendapati serombongan bus antri masuk halte tempatku turun dengan isi penumpang yang sedikit.

***
APT

 

mendaftar di Goethe Jakarta (lagi)

Rabu, 7 Januari 2015

***

Sedikit lanjutan dari ceritaku sebelumnya tentang mendaftar les di Goethe:

Masuk ke kelas pemula A1.1 ternyata ‘pilihan tepat’.

*

Di kelas ekstensif A1.1 aku ternyata sekelas dengan mas-mas (yang ternyata seumuranku) yang memberikanku nomor antrian 493. Cerita punya cerita, saat SMA di Sulawesi ternyata dia teman sekelas dari seorang temanku saat kuliah. Oke. Indonesia ini sempit sekali ternyata.

*

Ketika periode kursus selama hampir tiga bulan akan berakhir, para peserta kursus saat ini diberi kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya lewat pendaftaran terpisah tanpa perlu rebutan dan antri dengan peserta baru. Sebuah sistem yang bagus, hanya saja aku tidak punya cukup waktu untuk mengikuti sistem itu… karena…

Sistem di Goethe membagi-bagi tiap tingkatan menjadi beberapa bagian, misalnya A1 dibagi menjadi A1.1 sampai A1.3, baru setelah itu bisa lanjut ke A2.1 Namun, berhubung targetku adalah harus mendapatkan sertifikat A2 di awal tahun ini untuk keperluan S2, maka ada dua pilihan yang dapat diambil. Pertama, ikut ujian sertifikat A1 (biayanya cukup mahal juga). Bila lulus, maka saat pendaftaran ulang dapat langsung mendaftar ke A2.1. Hanya saja tentu harus lulus ujian A1 dan harus ikut mendaftar dengan peserta baru lainnya (yang berarti harus antri dan rebutan). Kedua, tidak perlu ikut ujian sertifikasi A1, melainkan ikut ujian penempatan saat nanti pendaftaran peserta baru dibuka. Tetap harus rebutan sih dan ujian, hanya saja biayanya jauhhh lebih murah..

Aku pun akhirnya memilih nomor 1… dan berhasil lulus dengan nilai “sehr gut”. Wow.

**

Belajar dari pengalaman, aku pun tiba di Goethe Institut Jakarta di hari Rabu pagi itu pukul 06.00 tepat. Itupun setelah bela-belain naik taksi dari kosan. Ternyata benarlah kata orang2 bahwa ada yang rela datang subuh2 untuk mengantri sebab saat nyampai di tempat itu, aku sudah kebagian tempat duduk di luar.

jam 6 pagi - sudah ngantri di luar

jam 6 pagi – sudah ngantri di luar

Bila sebelum-sebelumnya aku dapat cerita ada yang datang subuh2 ngantri dari jam 5, bahkan 4, maka kali ini aku dengar ada yang datang lebih awal lagi, pukul 2. Ntahlah itu benar atau enggak. Tapi yang pasti, orang yang katanya datang pukul 2 subuh itu dapat nomor antrian 1 sedangkan aku dapat nomor 74. Oh ya, nomor antrian baru dibagikan pukul 7 pagi, jadi walaupun datang subuh2, maka harus tetap duduk di tempat duduknya sampai nomor dibagikan.

dapat nomor antrian segini...

dapat nomor antrian segini…

**

Dapat nomor antrian, aku balik dulu ke kantor. Lagipula, pendaftaran juga baru dibuka jam 10. Sangat merepotkan bukan, tapi ya begitulah sistemnya…

*

Pukul setengah 11 akhirnya giliranku untuk masuk ke ruangan pendaftaran. Dengan banyak faktor pendukung yang tidak dapat disebutkan satu per satu, akhirnya aku pun mendapatkan kelas A2.1 di hari yang aku inginkan.

***

APT

tak seberuntung itu? : serba-serbi mendaftar di Goethe Jakarta

Rabu, 1 Oktober 2014

***

Pendaftaran kelas baru dibuka tanggal 1 dan 2 Oktober mulai pukul 10 pagi sampai 5 sore. Itulah isi pengumuman yang kubaca, dan pemahamanku akan hal itu sederhana : aku datang pukul 10 tepat maka aku kemungkinan jadi orang pertama yang datang; aku datang jam 11 maka aku akan menjadi orang kesekian belas dan harus ngantri sebentar. Tapi akan segera terbukti kalau aku salah… Salah BESAR.

Pukul 11 kurang aku baru tiba di Stasiun Gondangdia (kuputuskan untuk menggunakan KRL dari Sudirman). Setelah sempat salah jalan yang untungnya benar lagi akibat bantuan google maps, aku pun sampai di depan pintu gerbang Goethe Institut Jakarta.

Bukan satu atau belasan orang yang kulihat di situ mengantri, melainkan ratusan. Iya, ratusan… di saat pendaftaran baru buka satu jam. Sempat ragu juga saat mendekat petugas meminta nomor antrian takut2 pendaftaran sudah ditutup. “Masih buka,” kata bapak itu sambil memberiku sebuah nomor antrian, 550.

nomor antrian 550 di pukul 11 siang

nomor antrian 550 di pukul 11 siang

APAA?? 550 padahal jamku baru menunjukkan pukul 11 lewat beberapa menit. Segitunyakah orang-orang ingin belajar Bahasa Jerman? Pulang. Menunggu. Aku kebingungan. Apalagi di papan pengumuman di tempelkan daftar-daftar kelas yang sudah penuh. Kelas yang ingin kudaftar memang belum, tapi dengan nomor antrian saat itu yang baru sampai di 151, aku cukup pesimis.

Keringatan. Kehausan. Kelaparan. Aku benar-benar dibuat bingung. Untuk menenangkan diri, aku pun mencari tempat makan dulu dan akan melihat perkembangannya nanti.

*

Pukul 12 lewat beberapa menit aku tiba di tempat itu lagi. Kali ini nomor antrian sudah bergerak, bergerak lambat sebab baru sampai nomor antrian 200. Entah karena perutku sudah berisi atau karena hal lain, aku bisa berpikir jernih di siang terik itu : Aku akan menunggu, sampai aku masuk ke dalam atau sampai kelas yang aku ingin penuh… Dan aku pun menunggu. Duduk. Diri. Bersandar di tembok. Panas-panasan.

Awalnya aku hanya mendengar sayup2 suara itu: suara seorang Ibu yang marah-marah kepada petugas karena diperlakukan tidak adil. Kurang jelas juga aku penyebabnya apa, tapi sepertinya tentang nomor antrian. Keduanya saling emosi. Si Bapak yang menjaga pintu mulai terpojok. Si Ibu masih lanjut marah2, kali ini sambil turut mencari dukungan dari peserta yang lain, ibu-ibu juga. Teman si bapak itu datang membantu, berusaha menenangkan si Ibu tapi tidak berhasil. Si Bapak mengalah. Yang nomor urut 300-310 akhirnya dipersilahkan masuk oleh bapak itu padahal sebelumnya nomor terakhir adalah 210. Yang 210-an ke atas protes, mulai berkerumun di dekat pintu. Akhirnya si bapak bilang  “Setelah ini nomornya kembali dilanjut lagi dari 211 sampai seterusnya ya.”

What?? Reaksi seorang Ibu yang kebetulan di dekatku. Masa sih sistem pendaftaran seprimitif ini? Jerman lohh..

Dan aku pun hanya bisa tersenyum. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan entah siapa saja yang bisa diajak ngobrol di situ, terkuaklah suatu rahasia buatku : ada yang sudah datang mengambil nomor antrian dari jam 5 subuh. Benarkah? Mungkin saja. Sebab ada seorang bapak yang datang jam setengah 9 dan itupun dia kebagiannya nomor antrian 180-an.

Pendaftaran kelas baru dibuka tanggal 1 dan 2 Oktober mulai pukul 10 pagi sampai 5 sore. Namun pengambilan nomor antrian sudah bisa dilakukan dari pagi hari. Seharusnya mereka tidak lupa mencantumkan tambahan informasi penting itu di pengumuman agar orang-orang baru seperti aku ini tahu dan tidak syok.

*

Pukul 2 siang, antrian masih di nomor 400-an. Bosan, aku pun mengajak ngobrol seorang mas-mas yang ngantri. Tadi saat nyampai di tempat ini aku bareng dia dan topik itulah yang kupakai untuk memulai pembicaraan. Sambil merespon ke basa-basiku, dia pun menyodorkan selembar nomor antrian kepadaku “Nih, ada nomor antrian 493. Tadi dikasih orang yang sudah malas ngantri lagi,” katanya.

Tak perlu sampai ditawarkan dua kali sampai aku mengambil keputusan. Sambil mengucapkan terima kasih nomor 493 itu kuambil dan kumasukkan ke sakuku, sementara dia sendiri menyimpan yang nomor 494. Entah kenapa dia tidak memegang yang nomor 493 dan memberikan yang 494 kepadaku. Mungkin sama saja, pikirnya, sebab yang diizinkan masuk emang per sepuluh-sepuluh.

Akhirnya pukul 3 kami berdua pun masuk ke dalam ruang pendaftaran hanya untuk mendengarkan pengumuman kalau kelas yang ingin kami ambil sudah penuh (aku dan dia ternyata berniat mengambil kelas yang sama, intensif 3 x seminggu).. Hahaha. Ternyata walaupun sudah motong nomor antrian hampir 60 antiran tetap saja tidak kebagian itu kursi les, apalagi kalau gak motong ya. Akhirnya aku pun mendaftar di kelas ekstensif yang hanya 2 kali seminggu dan hanya sampai di level pemula.

Mau gimana lagi.. Persis kata-kata yang diucapkan mas-mas yang memberiku tiket bernomor 493 itu.

***

atampubolon