Watergius's Journal

The world as I see it

Category Archives: Inspiration

menjadi guru sehari – menjelaskan nikel dan insinyur ke anak SD

Senin, 15 September 2014

***

Kisah ini terjadi beratus kilometer dari Jakarta, di beberapa SD Negeri yang jumlah siswanya masing-masing tak sampai 150 orang, SDN di Tanah Grogot.

Tapi kita akan sampai ke cerita itu nanti. Bersabarlah.

*

Sabtu, 13 September 2014

Setelah menyebrangi lautan dan menumpang kendaraan umum dari Balikpapan, akhirnya lima jam kemudian kami pun sampai di Tanah Grogot, Kalimantan Timur. Pendopo Bupati Paser adalah tujuan kami, tempat kami akan menginap selama acara kelas inspirasi ini. Tapi tidak malam ini sebab malam ini temanku Shio sudah punya rencana lain buat kami.

Sesampainya di pendopo, Shio menunjukkan kamar tempat kami boleh menaruh barang2 dan sekaligus tempat kami akan tidur esok malam. Lalu mempersilahkan kami makan sambil briefing singkat tentang perjalanan selanjutnya.

“Jadi kita akan ke Selengot”, dia memulai pembicaraan. “Dari tempat ini kita akan naik mobil kurang lebih dua jam ke Tanjung Harapan dan dilanjutkan dengan menyebrang laut menumpang kapal nelayan”.

*

Kebun sawit, jalanan berbatu dan berdebu, dan truk2 yang lalu lalang adalah teman perjalanan kami selama dua jam itu. Namun kami cukup beruntung sebab mendapatkan pinjaman mobil dari Bapeda Paser sehingga bisa menggunakan AC dan terhindar dari debu. Bila tidak ada ini mobil, kami akan terpaksa menggunakan satu-satunya pengangkutan umum berupa mobil berukuran sedang dengan kaca terbuka yang tak tentu waktu berangkatnya (tergantung ada tidaknya penumpang).

*

Pukul 2 siang air laut di Tanjung Harapan masih surut. Terpaksa kami menunggu. Sejam, dua jam, hingga jam menunjukkan hampir pukul setengah 6 sore, saat laut sudah benar-benar pasang dan nelayan dari desa Selengot (orang tua asuh salah seorang Pengajar Muda Selengot) bisa datang menjemput kami.

Sinyal di kota saja terkadang susah, apalagi di pelosok Kalimantan seperti ini. Akibatnya, karena tidak dapat  berkomunikasi, bapak dari Selengot yang menjemput kami datang dengan kapal kecil sehingga tidak memungkinkan bagi kami semua untuk menyebrang sekaligus.  Apalagi saat itu keluarga bapak itu juga ikut menumpang dan lautan sangat berangin.

dua temanku bersiap menyebrang dan siap basah

dua temanku bersiap menyebrang dan siap basah

*

Desa Selengot adalah salah satu desa di Pulau Kandar, selain Desa Bengkalo, yang memiliki Pengajar Muda (PM) : Abdul di Selengot dan Arif di Bengkalo.  Kedua orang inilah yang ingin kami temui, sekalian melihat sekolah dan bertemu anak-anak muridnya.

pagi hari di depan SD Desa Selengot

pagi hari di depan SD Desa Selengot

Bila di Selengot kami hanya berfoto di depan SD-nya, maka di Bengkalo kami (aku dan teman2ku yang ikutan Kelas Inspirasi) diminta untuk bercerita singkat di depan kelas, di hadapan anak2 kelas 1-6 tentang siapa kami dan apa yang kami lakukan.

Mengajar anak SD apa sih sulitnya, itu yang awalnya ada di benakku. Apalagi bila kita hanya diminta untuk menceritakan tentang apa yang kita lakukan – pekerjaan kita. Namun kukatakan kepadamu teman, ternyata tidak semudah itu. Tidak semudah itu bila kau ingin membuat anak2 itu tertarik dengan apa yang kau lakukan dan berharap mereka mau mempunyai cita-cita sepertimu karena itulah yang kau lakukan di sini, memberi inspirasi. Memberi inspirasi kepada mereka bahwa masih banyak pekerjaan di luar sana selain menjadi guru, tentara, polisi, ataupun petambak.

Karena kedatangan kami ke SD di Bengkalo ini bukanlah bagian dari Kelas Inspirasi (KI), maka kami tidak diminta untuk menjelaskan terlalu lama, hanya dua menit perorang. Namun dua menit itu pun serasa berjam-jam ketika anak2 sudah mulai ribut dan tak tertarik lagi. Bagaimana mungkin mereka tertarik saat yang kuceritakan adalah nikel dan nikel itu gunanya ini itu tanpa ada alat peraga. Dan aku benar-benar kehabisan kata-kata saat itu, antara bingung, malu, dan merasa aneh. Untunglah PM-nya segera mengambil alih, menyelamatkanku.

*

Perjalanan pulang ke Tanah Grogot selama beberapa jam memberiku waktu berpikir akan metode mengajar yang akan aku pakai esok hari di kelas…

**

Pagi itu aku dan tiga orang profesional lainnya diberi mandat untuk mengajar di SDN 07 Pepara – sebuah SD Negeri berjarak kurang lebih 2 km dari Tanah Grogot, yang jumlah muridnya kurang lebih 150 orang. Sesuai arahan panitia KI, aku pun akan mengajar kelas 3-4 (mereka digabung menjadi satu kelas) di 45 menit pertama dan kelas 5-6 di 45 menit berikutnya.

“Halo”… Haaiii

“Hai”… Halooo

Bila aku mengatakan halo, maka anak-anak harus mengatakan hai, dan sebaliknya. Itulah salah satu metode yang kusampaikan di awal dan akan sering kugunakan untuk menenangkan anak2 tersebut bila mereka sudah mulai ribut, dan cara itu akan terbukti cukup ampuh.

Dan aku pun melanjutkan kelasku dengan bermain game.

“Bapak mau lima orang anak maju ke depan”, kataku kepada mereka, dan mereka berlomba-lomba untuk maju ke depan.

Lalu aku meminta mereka berbaris menghadap teman-temannya sambil bergandengan tangan. Kukatakan kepada kelima anak itu kalau sekarang mereka akan disebut besi.

“Bapak mau tiga orang anak lagi maju ke depan”, kataku lagi dan kali ini pun tetap sama, mereka rebutan berlari ke depan.

Untuk ketiga anak yang baru maju itu aku menamai mereka udara, air, dan pengotor.

Permainannya sederhana. Udara, air, dan pengotor akan berusaha menghabiskan besi dengan cara menarik satu per satu anak keluar dari kelompok lima anak yang disebut besi tadi.

“Biar besinya mudah ditarik keluar, yang ditarik dari sisi mana ya? ”

Butuh waktu bagi mereka untuk menjawab, bahkan agak sedikit kuarahkan. “Bila yang ditarik dari tengah-tengah, mudah tidak? ”

TIDAKK.

“Kalau yang paling kiri atau kanan?”

MUDAHH.

Pintar.. Itu karena mereka hanya dipegang di satu tangan kan..

Nah, sekarang… udara, air, dan pengotor, coba ditarik besi yang paling kanan dan paling kiri.. dan mereka pun sangat semangat melakukannya, tarik-tarikan mirip tarik tambang. Dan akhirnya salah satu besi pun lepas, disusul temannya yang lain sesama besi. Pada akhirnya, yang tinggal hanyalah dua besi dan permainan kuhentikan.

Nah anak-anak, inilah yang disebut dengan berkarat. Si udara, air, dan pengotor ini kita sebut karat, dan mereka akan merusak besi-besi yang ada di mesin-mesin motor dan kapal kita. Akibatnya lama kelamaan mesin motor dan kapal kita akan rusak, dan bisa hilang, kayak teman-teman kalian si besi yang tinggal 2 ini.

Sekarang, gimana caranya biar besinya tidak mudah rusak? Kalian tahu gak?

Melihat wajah-wajah kebingungan mereka, aku pun meminta delapan anak lagi maju ke depan. Lima menjadi besi dan tiga menjadi karat.

Kali ini, kelima anak itu kuminta untuk bergandengan tangan sambil membentuk lingkaran. Dan nama baru pun kuberikan kepada mereka, besi nikel.

Kutanyakan lagi pada seisi kelas, “Kali ini besinya mudah gak ditarik?”

ENGGAKKK.

Kenapa?

KARENA MELINGKARR.

Iya. Karena semuanya bergandengan. Gak ada lagi yang cuma dipegang satu tangan kayak besi yang pertama tadi kan.

Kuminta kepada karat untuk coba menarik satu anak keluar dari besi nikel itu, dan mereka kesusahan.

Nah anak-anak, inilah yang Bapak kerjakan. Bapak mencari nikel biar mesin-mesin motor dan kapal kalian tidak mudah berkarat. Jadi bapak adalah seorang insinyur yang bekerja mencari nikel.

Setelah itu aku pun mengedarkan materai yang memang sudah kupersiapkan dari Jakarta berisi gambar-gambar nikel, pabrik tempatku bekerja, dan digunakan untuk apa nikel itu nantinya. Sembari meminta mereka membuka halaman demi halaman, aku memberi penjelasan. Entahlah karena mereka semangat mendengarkan atau karena tertarik dengan gambar-gambar yang terpampang di hadapannya, mereka cukup tenang selamat beberapa menit itu.

Akhirnya tanpa terasa waktu pun hampir usai. Sebagi penutup, aku mengajarkan mereka lagu Aku Pasti Bisa (awalnya aku diajari PM juga lagu ini) yang kurasa sangat bagus untuk memotivasi mereka.

Aku bisa, aku pasti bisa.

Tuk meraih cita-citaku.

Kukan terus coba, sampai aku bisa.

Aku.. pasti.. BISA…

bersama anak-anak SDN07 Pepara

bersama anak-anak SDN07 Pepara

**

Selasa, 16 September 2014

Meskipun kelas inspirasi telah berakhir kemarin, namun semangat kami untuk menginspirasi masih menggebu-gebu. Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan naik pesawat, kapal, dan mobil untuk sampai ke Paser ini, sayang rasanya bila tidak berkunjung ke sekolah-sekolah lainnya tempat para PM mengajar.

SD Negri 015 Sungai Tuak adalah SD yang pertama kami kunjungi, tempat Shio, temanku yang juga seorang PM, mengajar.

temanku, Shio, sedang memperkenalkan temanku, Immanuel, ke anak-anak SD-nya

temanku, Shio, sedang memperkenalkan temanku, Immanuel, ke anak-anak SD-nya

SD tempat Shio mengajar terbagi menjadi dua gedung, satu gedung baru yang kondisinya cukup bagus dan layak untuk digunakan, dan satu lagi adalah gedung lama tempat kami sekarang berada seperti gambar di atas yang kondisinya sebenarnya sudah sangat memprihatinkan. Kepala Sekolahnya sudah berusaha dan melapor ke dinas dan pihak terkait meminta agar dilakukan perbaikan, namun setelah beberapa tahun, hal itu belum terkabul juga. Entahlah sampai berapa lama lagi mereka harus menunggu.

kondisi salah satu ruangan di gedung lama SDN Sungai Tuak

kondisi salah satu ruangan di gedung lama SDN 015 Sungai Tuak

*

Kunjungan terakhir dan paling berkesan buatku di hari itu adalah di  SDN 032 Tanah Grogot, tempat PM Esil mengajar. Begitu sampai, kami sudah disambut anak2 dengan wajah ceria. Waktu pulang mereka sebenarnya sudah lama usai, namun mereka masih tetap setia menunggu kami datang, entah kenapa.

Satu kelas yang ukurannya cukup besar sengaja dibiarkan terbuka. Kami pun masuk ke dalamnya, aku dan temanku serta puluhan anak2 SD dari kelas 1-6.

Di kelas inspirasi aku bisa membuat anak2 sedikit fokus dengan ceritaku sebab aku mengajak mereka bermain. Namun di sini, di kelas ini, ukuran ruangan jauh lebih kecil dan orang berlipat kali lebih banyak. Aku kebingungan, namun tetap berdiri di depan mereka, memulai dengan basa-basa.

Hi… HELLOOO… Hello… HII…

“Siapa yang bisa tebak pekerjaan Bapak apa?”

SUPIRR… teriak mereka diiringi ledakan tawa anak2, anak SD dan teman-temanku.. dan tawaku sendiri.

Kalian tahu mobil? motor? Pesawat terbang?

TAHUU…

Siapa yang suka buat pesawat terbang mainan?

Banyak tangan teracung ke atas.

Siapa yang mau buat pesawat terbang benaran? Mobil benaran? Motor benaran?

Beberapa tangan teracung, sebagian malu-malu, sebagian lagi ragu-ragu. Kalau kalian mau buat motor maka kalian harus jadi insinyur. Mau buat mobil harus jadi insinyur. Mau buat pesawat terbang harus jadi insinyur juga.

Nah, jadi bapak itu seorang insinyur, kataku ke mereka tanpa menyinggung sedikit pun pekerjaanku di tambang nikel sebab akan sulit lagi menjelaskannya.

“Sekarang siapa yang mau jadi insinyur?”

Banyak tangan diacungkan, termasuk seorang anak yang sejak sebelum aku datang pun sudah punya cita-cita menjadi insinyur, menurut penuturan PM Esil.

menjelaskan "insinyur" ke anak SD

menjelaskan “insinyur” ke anak SD

Selesai menginspirasi, itulah kata yang digunakan PM untuk kegiatan yang kami lakukan, Bu Guru Esil mengundangku untuk maju ke depan kelas lagi sebab seorang anak ingin memberi sesuatu kepadaku. Imam nama anak itu dan dia memberiku tiga benda : sebuah lukisan yang digambarnya di atas buku gambar, sebuah penggaris, dan sebuah buku tulis. Aku tidak bisa ngomong apa2 saat itu selain mengucapkan terima kasih sambil memeluknya.

*

anak-anak berebutan untuk berfoto

anak-anak berebutan untuk berfoto

**

Kenapa aku melakukan ini? Perjalanan ini, beratus km dari Jakarta, naik pesawat, kapal, dan mobil? Aku tidak dapat menjawabnya dengan kata-kata yang dapat membuatmu tertegun dan tersenyum sehingga kau akan mengerti dan kemudian berkata, oke.. aku mengerti dan aku mau mencobanya. Tapi biarlah kuulang kata-kata seorang teman yang kukenal di KI ini: “Bukan kita sebenarnya yang menginspirasi anak-anak itu, tapi merekalah yang menginspirasi kita“. Cobalah, dan kau akan mengerti apa maksudnya.

sampai ketemu lagi  PM Ike, PM Shio, PM Esil

sampai ketemu lagi PM Ike, PM Shio, PM Esil

***

atampubolon

It’s All About Women

found this writing this morning in my facebook news feeds … 

**

A sweet lesson on patience.

A NYC Taxi driver wrote:

I arrived at the address and honked the horn. After waiting a few minutes I honked again. Since this was going to be my last ride of my shift I thought about just driving away, but instead I put the car in park and walked up to the door and knocked.. ‘Just a minute’, answered a frail, elderly voice. I could hear something being dragged across the floor.

After a long pause, the door opened. A small woman in her 90’s stood before me. She was wearing a print dress and a pillbox hat with a veil pinned on it, like somebody out of a 1940’s movie.

By her side was a small nylon suitcase. The apartment looked as if no one had lived in it for years. All the furniture was covered with sheets.

There were no clocks on the walls, no knickknacks or utensils on the counters. In the corner was a cardboard
box filled with photos and glassware.

‘Would you carry my bag out to the car?’ she said. I took the suitcase to the cab, then returned to assist the woman.

She took my arm and we walked slowly toward the curb.

She kept thanking me for my kindness. ‘It’s nothing’, I told her.. ‘I just try to treat my passengers the way I would want my mother to be treated.’

‘Oh, you’re such a good boy, she said. When we got in the cab, she gave me an address and then asked, ‘Could you drive
through downtown?’

‘It’s not the shortest way,’ I answered quickly..

‘Oh, I don’t mind,’ she said. ‘I’m in no hurry. I’m on my way to a hospice.

I looked in the rear-view mirror. Her eyes were glistening. ‘I don’t have any family left,’ she continued in a soft voice..’The doctor says I don’t have very long.’ I quietly reached over and shut off the meter.

‘What route would you like me to take?’ I asked.

For the next two hours, we drove through the city. She showed me the building where she had once worked as an elevator operator.

We drove through the neighborhood where she and her husband had lived when they were newlyweds She had me pull up in front of a furniture warehouse that had once been a ballroom where she had gone dancing as a girl.

Sometimes she’d ask me to slow in front of a particular building or corner and would sit staring into the darkness, saying nothing.

As the first hint of sun was creasing the horizon, she suddenly said, ‘I’m tired.Let’s go now’.
We drove in silence to the address she had given me. It was a low building, like a small convalescent home, with a driveway that passed under a portico.

Two orderlies came out to the cab as soon as we pulled up. They were solicitous and intent, watching her every move.
They must have been expecting her.

I opened the trunk and took the small suitcase to the door. The woman was already seated in a wheelchair.

‘How much do I owe you?’ She asked, reaching into her purse.

‘Nothing,’ I said

‘You have to make a living,’ she answered.

‘There are other passengers,’ I responded.

Almost without thinking, I bent and gave her a hug.She held onto me tightly.

‘You gave an old woman a little moment of joy,’ she said. ‘Thank you.’

I squeezed her hand, and then walked into the dim morning light.. Behind me, a door shut.It was the sound of the closing of a life..

I didn’t pick up any more passengers that shift. I drove aimlessly lost in thought. For the rest of that day,I could hardly talk.What if that woman had gotten an angry driver,or one who was impatient to end his shift? What if I had refused to take the run, or had honked once, then driven away?

On a quick review, I don’t think that I have done anything more important in my life.

We’re conditioned to think that our lives revolve around great moments.

But great moments often catch us unaware-beautifully wrapped in what others may consider a small one.

***

9 beliefs

I was at my desk in my office this morning, did some work that I have to finished, when this email suddenly pop up. It was from my friend (he forwarded it from another sender too) and it’s an interesting article that he sent me :

**

I’m fortunate enough to know a number of remarkably successful people. Regardless of industry or profession, they all share the same perspectives and beliefs.

And they act on those beliefs:

1. Time doesn’t fill me. I fill time.

Deadlines and time frames establish parameters, but typically not in a good way. The average person who is given two weeks to complete a task will instinctively adjust his effort so it actually takes two weeks.

Forget deadlines, at least as a way to manage your activity. Tasks should only take as long as they need to take. Do everything as quickly and effectively as you can. Then use your “free” time to get other things done just as quickly and effectively.

Average people allow time to impose its will on them; remarkable people impose their will on their time.

2. The people around me are the people I chose.

Some of your employees drive you nuts. Some of your customers are obnoxious. Some of your friends are selfish, all-about-me jerks.

You chose them. If the people around you make you unhappy it’s not their fault. It’s your fault. They’re in your professional or personal life because you drew them to you–and you let them remain.

Think about the type of people you want to work with. Think about the types of customers you would enjoy serving. Think about the friends you want to have.

Then change what you do so you can start attracting those people. Hardworking people want to work with hardworking people. Kind people like to associate with kind people.

Successful people are naturally drawn to successful people.

3. I have never paid my dues.

Dues aren’t paid, past tense. Dues get paid, each and every day. The only real measure of your value is the tangible contribution you make on a daily basis.

No matter what you’ve done or accomplished in the past, you’re never too good to roll up your sleeves, get dirty, and do the grunt work. No job is ever too menial, no task ever too unskilled or boring.

Remarkably successful people never feel entitled–except to the fruits of their labor.

4. Experience is irrelevant. Accomplishments are everything.

You have “10 years in the Web design business.” Whoopee. I don’t care how long you’ve been doing what you do. Years of service indicate nothing; you could be the worst 10-year programmer in the world.

I care about what you’ve done: how many sites you’ve created, how many back-end systems you’ve installed, how many customer-specific applications you’ve developed (and what kind)… all that matters is what you’ve done.

Successful people don’t need to describe themselves using hyperbolic adjectives like passionate, innovative, driven, etc.

Remarkably successful people don’t need to use any adjectives at all. They can just describe, hopefully in a humble way, what they’ve done.

5. Failure is something I accomplish; it doesn’t just happen to me.

Ask people why they have been successful. Their answers will be filled with personal pronouns: I, me, and the sometimes too occasional we.

Ask them why they failed. Most will revert to childhood and instinctively distance themselves, like the kid who says, “My toy got broken…” instead of, “I broke my toy.”

They’ll say the economy tanked. They’ll say the market wasn’t ready. They’ll say their suppliers couldn’t keep up.

They’ll say it was someone or something else.

And by distancing themselves, they don’t learn from their failures.

Occasionally something completely outside your control will cause you to fail. Most of the time, though, it’s you. And that’s okay. Every successful person has failed. Numerous times. Most of them have failed a lot more often than you. That’s why they’re successful now.

Embrace every failure: Own it, learn from it, and take full responsibility for making sure that next time, things will turn out differently.

6. Volunteers always win.

Whenever you raise your hand you wind up being asked to do more.

That’s great. Doing more is an opportunity: to learn, to impress, to gain skills, to build new relationships–to do something more than you would otherwise been able to do.

Success is based on action. The more you volunteer, the more you get to act. Successful people step forward to create opportunities.

Remarkably successful people sprint forward.

7. As long as I’m paid well, it’s all good.

Specialization is good. Focus is good. Finding a niche is good.

Generating revenue is great.

Anything a customer will pay you a reasonable price to do–as long as it isn’t unethical, immoral, or illegal–is something you should do. Your customers want you to deliver outside your normal territory? If they’ll pay you for it, fine. They want you to add services you don’t normally include? If they’ll pay you for it, fine. The customer wants you to perform some relatively manual labor and you’re a high-tech shop? Shut up, roll ’em up, do the work, and get paid.

Only do what you want to do and you might build an okay business. Be willing to do what customers want you to do and you can build a successful business.

Be willing to do even more and you can build a remarkable business.

And speaking of customers…

8. People who pay me always have the right to tell me what to do.

Get over your cocky, pretentious, I-must-be-free-to-express-my-individuality self. Be that way on your own time.

The people who pay you, whether customers or employers, earn the right to dictate what you do and how you do it–sometimes down to the last detail.

Instead of complaining, work to align what you like to do with what the people who pay you want you to do.

Then you turn issues like control and micro-management into non-issues.

9. The extra mile is a vast, unpopulated wasteland.

Everyone says they go the extra mile. Almost no actually one does. Most people who go there think, “Wait… no one else is here… why am I doing this?” and leave, never to return.

That’s why the extra mile is such a lonely place.

That’s also why the extra mile is a place filled with opportunities.

Be early. Stay late. Make the extra phone call. Send the extra email. Do the extra research. Help a customer unload or unpack a shipment. Don’t wait to be asked; offer. Don’t just tell employees what to do–show them what to do and work beside them.

Every time you do something, think of one extra thing you can do–especially if other people aren’t doing that one thing. Sure, it’s hard.

But that’s what will make you different.

And over time, that’s what will make you incredibly successful

***

Seorang nenek dan hakim

Pertama kali membaca kisah ini di hari Minggu yang lalu, tepatnya di bagian warta jemaat di tempat saya beribadah. Setelah membacanya, terbersit keinginan untuk mempostingnya di blog ini. Namun, entah kenapa, selesai beribadah warta jemaat itu lupa aku ambil dan baru nyadar saat telah nyampai di kosan. Sempat terpikir untuk menuliskannya ulang dengan kata-kata sendiri, tetapi sampai beberapa menit yang lalu tidak kesampaian juga. Hingga akhirnya aku menemukannya di salah satu status temanku di facebook..

**

…… diruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU thdp seorg nenek yg dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya lapar,….Namun manajer PT. X yang menuntutnya tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.

Hakim tersebut menghela nafas. Sebenarnya ia enggan menghakimi nenek ini. Tetapi, ia tidak punya pilihan lain., ‘Maafkan saya’, katanya sambil memandang nenek itu,. ‘Saya tak dpt membuat pengecualian hukum’, hukum tetap hukum, jd anda hrs dihukum. ‘Saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tdk mampu bayar maka anda hrs masuk penjara 2,5 tahun’, spt tuntutan jaksa PU.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, smentara hakim tadi mencopot topi toganya, ia membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang 1jt rupiah ke topi toganya serta berkata kpd hadirin :

‘Saya atas nama pengadilan juga menjatuhkan denda kpd tiap org yg hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap di kota ini yang membiarkan seseorang kelaparan sampai hrs mencuri utk memberi makan cucunya. Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kpd terdakwa.”

Sampai palu diketuk dan hakim tadi meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dgn mengantongi uang 3,5jt rupiah. Termasuk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT. X yg tersipu malu krn telah menuntutnya.

**

ternyata kisah ini banyak beredar di internet dengan beragam versi, Indonesia (dikatakan terjadi di Prabumulih, Lampung) dan Amerika (yang terjadi di sekitar tahun 1930-an) .. sumber: di sini

WE HAVE TIME

WE HAVE TIME

By Octavian Paller

Translated by Sorana Lucia Salomeia

©Sortvind

**

“We have time for everything:
to sleep, to run from one place to another,to regret having mistaken and to mistake again,
to judge the others and to forgive ourselves,

we have time for reading and writing,
for making corrections to our texts, to regret ever having written,
we have time to make projects and never respect them,
we have time to make illusions and gamble
through their ashes later on.

We have time for ambitions and illnesses,
to blame it all on ambitions and details,
we have time to watch the clouds, advertisements or some ordinary accident,
we have time to chase our wonders away
and to postpone the answers,

we have time to break a dream to pieces and then to reinvent it,
we have time to make friends, lose them,
we have time to learn our lessons and then
forget them quickly afterwards,
we have time to be given gifts and not understand them.
We have time for them all.

But there is no time for just a drop of tenderness.
When we are about to get to that too – we die.
I have learned some things during my lifetime,
experiences that I am now sharing with you!!

I have learned that you cannot make somebody love you; All you can do is be the beloved one.
Everything else… depends on the others.
I have learned that, no matter how much I might care,
Others might not care at all.
I have learned that it could take years to earn somebody’s confidence
And only a few seconds to lose it.,
I have learned that it is not WHAT you have in life,
But WHO is there for you to have.
I have learned that charms could be of use for only about 15 minutes,
Afterwards, nevertheless, you had better know something.
I have learned that you should never compare yourself to what others can do better than you,
but you what you can do yourself;
I have learned that what happens to the others is not as import as
what I can do to help;
I have learned that in whatever you might cut things,
They will always turn out to have two sides;

I have learned that when you have to depart from your dearest ones,
you should do it with the warmest words;
It could be the last time you see them.
I have learned that you could carry on for a long time
After stating you cannot take it anylonger;
I have learned that heroes are those who do what is right when the ought to,
regardless of the consequences;
I have that there are people who love you
But do not know how to show it;
I have learned that when I am upset I have the RIGHT to be so
But I do not have the right to be mean as well;
I have learned that true friendship continues to exist even when great distances are involved
And that goes for true love too.
I have learned that, if somebody does not love you the way you might want to be loved,
It does not mean they do not love you with all their heart.
I have learned that no matter how good a friend might be to you,
They will inevitably hurt you from time to time
And you will have to forgive;

I have learned that it is not always enough to be forgiven by others,
Sometimes you must learn how to forgive your own self;
I have learned that, regardless of how much you might suffer,
The world will never cease running because of your pain.
I have learned that the past and circumstances could alter your personality,
But it is certainly YOU to be held responsible for what you become;
I have learned that, if two people argue, it does not mean they do not love each other,
As well as their not arguing would not prove that they subsequently are in love.
I have learned that you should sometimes put the person in the first place
And not their deeds;
I have learned that two persons could be watching the very same thing
And perceive two totally different meanings;
I have learned that, in spite of any consequences,
Those who are fair and honest with themselves
reach higher peaks in life;
I have learned that one’s life could be changed in only a few hours’ time
By people who might have never even known them;

I have learned that when you believe there is
nothing more you could offer,
You will always find the strength to help a friend who in need.
I have learned that writing,
Just like speaking,
Could soothe your inner pain.
I have learned that the ones you hold dearest
Are taken away from you far too soon…
I have learned that it is far too difficult to realize
Where to draw the borders between kindness, not hurting the others
and firmly sustaining your ideas.
I have learned to love
In order to be loved in my turn.”

Octavian Paler, a Romanian writer, (2 .07. 1926, Lisa, county Făgăraș,, Romania— 7 May 2007)

Mimpiku Masuk ITB

Perkenalkan, namaku Radit. Rasanya masih seperti kemarin saat aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di kampus Ganesha ini. Menapakkan langkahku untuk memulai hari-hari sebagai seorang mahasiswa di kampus yang katanya adalah rumah putra-putri terbaik bangsa.

Bagiku masuk ITB adalah sebuah pemberian Tuhan terbesar dalam hidup. Lahir dan dibesarkan di kota kecil di salah satu pulau di negeri ini membuatku mengenal ITB hanya sebatas nama yang sering kudengar. Maklumlah, zaman aku SMA dulu internet belum sepopuler saat ini, apalagi saat itu jumlah warnet masihlah sangat sedikit. Namun, aku beruntung sebab beberapa orang alumni sekolahku telah berbaik hati untuk menyempatkan diri datang ke almamaternya dan berbagi segala sesuatunya tentang kampus mereka, termasuk kampus ITB ini. Cerita dan perjuangan mereka itu pun, tanpa kusadari, menjadi inspirasi tersendiri bagiku untuk berjuang meraih impianku, menjadi seorang mahasiswa ITB.

Awal kelas tiga SMA aku telah mengenal cukup banyak tentang ITB, dan menjelang berakhirnya masa-masaku sebagai seorang siswa aku telah menetapkan pilihanku. Aku ingin masuk Teknik Elektro ITB. Mengapa aku memilih jurusan itu? Pertama, aku menyenangi Matematika dan Fisika. Kedua, aku kurang menyenangi Biologi. Dan yang ketiga, masuk Teknik Elektro itu kedengarannya keren, apalagi saat aku SMA dulu jurusan itu memiliki passing grade SPMB yang tertinggi hehe.

Perjuangan itu tidak mudah, demikian jugalah yang kurasakan. Demi mencapai cita-citaku itu pun aku mengikuti les belajar di sekolah tiap sore dan les di bimbingan belajar saat malam harinya. Begitu terus dari Senin hingga Jumat, dari pukul 4 sore sampai pukul 9 malam. Sabtu dan Minggu pun terkadang aku tidak bisa bersantai. Sibuk mengikuti try out-lah, sibuk mengulangi pelajaran SMA dari kelas satulah, termasuk sibuk membahas soal-soal ujian SPMB dari zaman dulu kala. Namun semuanya itu serasa belum cukup. Dengan berakhirnya masa SMA, aku pun meninggalkan kota kelahiranku menuju kota yang lebih besar, ibukota provinsiku.

Sebulan lebih aku berada di kota itu. Bimbingan secara intensif, belajar di kosan, diskusi dengan teman dan pengajar, termasuk juga mengikuti try out, tanpa pernah terpikir untuk pulang sebentar ke rumah orang tuaku. Apalah arti sebulan ini demi sebuah impian, itu yang ada di benakku. Tekadku sudah bulat, aku harus bisa masuk ke jurusan itu.

Dengan semakin dekatnya akhir masa bimbingan berarti semakin dekat pulalah hari ujian SPMB. Pikiran positif dan rasa percaya diri yang telah kubangun sebulan ini akibat prestasi yang memuaskan selama try out di bimbingan membuatku merasa yakin bahwa aku sudah siap untuk bertempur. Bertempur melawan soal-soal dengan bersenjatakan pensil  2B dan sebuah penghapus.

Dua hari aku mengikuti SPMB dan dua hari itu pulalah aku berjuang. Berjuang menyelesaikan soal-soal itu dengan sebaik-baiknya dan menyerahkan hasilnya, apa pun itu, kepada Tuhan. Sama seperti sebuah ungkapan yang mengatakan: “Do your best and God will do the rest”, itulah yang persis kulakukan.

Penantianku selama sebulan akan hasil pengumuman SPMB pun terbayar sudah. Malam itu, di sebuah warnet di kotaku, aku mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku. Ya, aku diterima di Teknik Elektro ITB. Aku bahkan sampai harus memeriksanya beberapa kali hanya untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Hehe, kini aku sering senyum sendiri bila mengingat lagi kejadian di malam itu.

Empat tahun sudah berlalu dan sekarang aku telah menyelesaikan pendidikanku di kampus Ganesha ini. Kini saatnya aku mulai merajut mimpi-mimpi lain dan melangkah memasuki babak baru kehidupanku.

***

Agus Praditya T

How Deep a Life – Kedalaman Sebuah Kehidupan

How long we live is not for us to say;

We may have years ahead–or but a day.

The length of life is not of our control,

But length is not the measure of the soul.–

Not length, but width and depth define the span

By which the world takes measure of a man.

It matters not how long before we sleep,

But only how wide is our life–how deep.

–Helen Marshall

Berapa lama kita hidup bukanlah urusan kita;

Mungkin masih beberapa tahun lagi—atau hanya sehari saja.

Panjangnya kehidupan ini bukan berada di bawah kekuasaan kita,

Akan tetapi hidup yang panjang bukanlah ukuran dari jiwa seseorang.—

Bukan panjangnya hidup ini, tapi lebarnya dan dalamnya itulah

Yang dipakai di dunia ini untuk menilai kedalaman kehidupan seseorang.

Tidak ada artinya berapa lama waktu yang berlalu sebelum kita tidur,

Tetapi berapa luas kehidupan itu—berapa dalam.

***

Greatness is not found in possessions, power, position or prestige.

It is discovered in goodness, humility, service, and character.

            –William Arthur Ward

Kebesaran tidaklah ditemukan di dalam kekayaan, kekuasaan, kedudukan atau ketenaran.

Melainkan ditemukan di dalam kebaikan, kerendahan hati, pelayanan, dan kepribadian seseorang

***

  The stories we hear about the 19th century Italian patriot, Giuseppe Garibaldi, are usually about his courage as a soldier and his greatness as a leader, but there was another and perhaps unexpected side to his character.

            Late one evening as he and his men were returning to their quarters, they met a shepherd looking for a lost lamb. They all went off searching in different directions and Garibaldi’s men lost touch with their leader and eventually returned without him.

            Next morning Garibaldi’s servant was surprised to find him fast asleep long after he was usually up and about. The servant’s movements disturbed Garibaldi and he woke up. Then, reaching down under the bed clothes, Garibaldi brought out the lost lamb. He had found it, half-dead with cold, and revived it in the warmth of his own bed.

–Francis Gay

Biasanya yang kita dengar tentang cerita seorang pejuang bangsa Italia dari abad ke-19, Giuseppe Garibaldi, adalah betapa beraninya dia sebagai seorang prajurit dan kehebatannya sebagai seorang pemimpin. Akan tetapi ada cerita yang lain dan mungkin sisi yang tidak terduga dari karakternya.

Pada suatu senja, bersama dengan anak-buahnya dia sedang berjalan pulang ke markas besar mereka. Mereka bertemu dengan seorang gembala yang sedang mencari-cari anak dombanya yang hilang. Mereka semua lalu mencari ke berbagai penjuru, kemudian anak-buah Garibaldi kehilangan jejak pemimpin mereka sehingga pada akhirnya mereka lalu kembali tanpa pemimpinnya.

Keesokan harinya pembantu Garibaldi terkejut mendapati Garibaldi masih tertidur nyenyak tidak seperti biasanya, di mana dia melakukan kegiatan di pagi hari. Gerakan dari pembantu ini membangunkan Garibaldi. Menjangkau ke bawah seprei kasur itu, Garibaldi mengeluarkan domba yang hilang itu. Dia telah menemukannya, hampir mati beku kedinginan, dan berhasil menyelamatkannya melalui kehangatan ranjangnya sendiri.

***

      We can do no great things, only small things with great love.

            –Mother Teresa

Bukannya kebesaran yang dapat kita lakukan, melainkan hal-hal yang kecil dengan kasih yang besar.

***

One of the outstanding ironies of history is the utter disregard of ranks and titles in the final judgments men pass on each other. The final estimate of men shows that history cares not an iota for the rank or title a man has borne, or the office he has held, but only the quality of his deeds and the character of his mind and heart.

            –Samuel Logan Brengle

Salah satu ironi yang mencolok di dalam sejarah adalah bagaimana jabatan atau pangkat seseorang pada waktu kita memberikan penilaian terakhir terhadap satu sama lain sama sekali tidak dihiraukan. Penilaian terakhir yang diberikan menunjukkan bahwa sejarah tidak peduli sedikit pun tentang jabatan atau pangkat yang disandang oleh orang itu, atau tugas yang pernah diembannya. Yang diperhatikan hanyalah kwalitas dari perbuatannya serta karakter dari pikiran dan isi hatinya.

***

Everybody can be great … because anybody can serve. You don’t have to have a college degree to serve. You don’t have to make your subject and verb agree to serve. You only need a heart full of grace. A soul generated by love.

            — Martin Luther King, Jr.

Setiap orang bisa menjadi orang yang hebat … karena siapa saja bisa melayani. Anda tidak usah memiliki gelar sarjana untuk melayani seseorang. Anda tidak usah memiliki tatabahasa yang baik untuk melayani orang lain. Anda hanya memerlukan hati yang penuh oleh  kasih-karunia. Jiwa yang dibangkitkan oleh kasih.

***

            Even if perhaps you don’t have the most talent or experience, God can use you! In fact, that’s the way God usually works: He takes the weak things to confound the mighty and He takes the people that really aren’t the best in a worldly sense, so He can show what He can do!

            Although you may not be the greatest in the eyes of the world, you can be the greatest in the eyes of God by serving Him and others in love.–And He can make you strong when you’re weak, to show it’s His strength and His miraculous power!.

            –David Fontaine

Sekali pun mungkin anda tidak memiliki talenta atau pengalaman yang terbaik, Tuhan bisa mempergunakan diri anda! Sebenarnya, dengan cara itulah biasanya Tuhan bekerja: Dia mengambil hal-hal yang lemah untuk menaklukkan hal-hal yang kuat dan Dia memilih orang-orang yang sebenarnya bukan orang-orang yang terbaik dalam penilaian dunia ini, supaya Dia bisa menunjukkan apa yang bisa Dia lakukan!

Meski pun anda mungkin bukan yang terhebat di mata dunia, anda bisa menjadi yang terhebat di mata Tuhan dengan cara melayani Dia serta orang lain di dalam kasih.—Dan Dia bisa membuat anda menjadi kuat apabila anda lemah, untuk menunjukkan bahwa itu adalah kekuatanNya serta kuasaNya yang ajaib!

***

dari email temanku : Nicolas Pierre

Silicon Valley (Kisah Mahasiswi Indonesia)

di-repost dari tulisan Angelina Veni, medalis Olimpiade Komputer asal Indonesia, mahasiswi Stanford.

http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/

*************************************************

Bulan Desember 2009 lalu, waktu saya diterima di Stanford, admission officer yang baca aplikasi saya kirim email yang bilang, “Stanford will provide you with even more wonderful opportunities to explore your passion in computer science – and what better place than in Silicon Valley?“ Setelah menyelesaikan 1 academic year di sini, Stanford dan Silicon Valley turn out to be what I expected, and more. Kalau 6 bulan lalu saya menulis tentang Stanford, sekarang saya pengen share tentang Silicon Valley, lingkungan yang nggak terpisahkan dari the Stanford experience.

Saya sering denger effort untuk recreate Silicon Valley di negara lain.  Waktu saya kembali ke Indonesia tahun lalu, saya datang ke sebuah pembukaan kompleks yang cita-citanya mau membangun Silicon Valley di Indonesia – tapi yang ada di sana cuma peresmian bangunan kosong. Silicon Valley lebih dari sekedar bangunan, perusahaan, universitas – ada antusiasme di sini, idealisme, kultur. Banyak hal-hal yang you have to be here to feel .

Yup, so ini beberapa share sedikit experience dan observasi saya tentang SV selama setahun ini….

You’re not here to seek answers – you’re here to learn to ask the right questions. Itu salah satu kata-kata pertama yang saya denger di Stanford. Ketika kita puas dengan pertanyaan yang sekarang ada, kita berhenti berinovasi atau mempush boundaries. Ketika Peter Thiel, salah satu venture capitalist paling influential di Silicon Valley, bicara di Stanford tahun lalu, beliau bilang kalau web sudah nyaris terlalu pekat di US dan dia sekarang lebih excited untuk hal-hal baru yang bakal take over in the future: genetik/bioteknologi, solar cell, artificial intelligence. Saya honestly think that kemampuan komunitas di Silicon Valley untuk terus mendorong boundaries dan nggak settle dengan permasalahan yang masa kini lah yang bikin komunitas ini nggak cuma terus berkembang, tapi juga ada di depan dan nggak ngekor.

Entrepreneurs yang saya ketemu mostly sangat idealis – dalam arti: mereka mikir tentang masalah yang mau diselesaiin first, ciptain sesuatu yang solve itu, dan mikir tentang monetisasi belakangan. Ini mungkin karena saya masih di universitas, di mana orang-orangnya belum punya tanggungan keluarga – tapi mereka bikin bikin product, bikin startup karena itu sesuatu yang mereka senang lakukan dan karena startup itu solve a problem they want to be solved. Waktu ditanya gimana mereka menghasilkan pendapatan, cofounder Color (startup yang bikin heboh SV karena diinvest besar-besaran sama Sequoia) bilang, “Who cares?” dan lanjut bilang kalau prioritas mereka first and foremost adalah untuk build a good product. Waktu saya baru masuk Stanford dan ngobrol sama senior-senior, saya impressed banget denger mantan Facebook interns bilang kalau mereka suka magang di Facebook karena, “everyone genuinely wants to connect the world better. Everyone thinks that there are still a lot of work that can be done, and we are not nearly there yet.” Terdengar klise – tapi ketika jawaban kayak gitu disebut oleh beberapa orang yang berbeda, saya jadi percaya kalau itu genuinely true. Waktu ikut Intern Day di Facebook, saya juga dapet impresi yang sama: orang-orang di sini memang work untuk suatu tujuan dan idealisme yang baik.

startups are kings di sini. geeks are cool. orang-orang yang working on startups adalah the ‘cool people’ dibandingkan mereka yang work di perusahaan besar. those who fail are highly regarded, terutama kalo masih di universitas. waktu tau kalau bakal magang di Facebook, banyak juga yang komentar in the line of “great, but you should be interning at startup next year!” I think ini suatu mindset shift dibandingkan mindset general people (dan saya juga) di Indonesia. they also just shut up, sit and code. dan bikin product. ada hacker culture yang just do it (ato just start up, in this case) – lebih baik keluarin product yang nggak sempurna daripada nggak act sama sekali… motto Facebook yang saya sering banget denger adlaah “move fast and break things” – waktu Intern Day, ada yang bilang kalo selama internship ini, kami *mungkin* bakal bikin Facebook crash. nggak sedikit juga full-time developers yang pernah bikin down Facebook.  that happens and that’s ok. move fast and break things. mereka juga gak peduli what you wear or what time you go to the officethey care whether you get the job done.

Yang mungkin paling signifikan, lingkungan SV super connected – nggak cuma antar perusahaan, tapi juga dalam relasi dengan universitas. Saya baru bener-bener ngeh tentang ini sejak saya mulai organize events untuk ACM, organisasi Computer Science chapter Stanford.. Quarter lalu saya bantu organize acara Tech Talk, acara 2 minggu sekali di mana orang-orang industri atau Stanford students bicara di depan komunitas Computer Science di Stanford tentang kerjaan / research / hack baru mereka. Kalau sebelumnya saya cuma dateng ke talk-talk orang Silicon Valley, sekarang saya berhubungan langsung untuk ngundang mereka. Dan ternyata – wow, mereka bener2 gampang untuk di-reach. Color, walau udah kaya (dengan investment 41 juta dollar), ngirim eksekutifnya, cofounder sama chief officer. Mereka juga masih on-hand ngurus langsung info session mereka di Stanford, yang kami juga organize. Begitu berhubungan dengan 1 company / orang, mereka refer kami ke temen mereka di startup atau research facilities lain. the network just keeps on going. Dan tentu aja, awesome people are all around di sini. Salah satu highlight quarter ini adalah ketemu Marissa Mayer, Google VP yang juga salah satu perempuan paling influential di Silicon Valley, orang yang saya highly respect. Di sisi lain, di dorm saya juga ada sesama freshman yang working on multiple startups. Di sekitar orang-orang ini, di atas langit selalu ada langit.

On a casual note, menarik banget kalo inget bahwa orang-orang yang casual dinner bareng kamu ternyata punya andil dalam produksi barang-barang yang kamu pake. Dari lingkungan orang Indonesia aja, ada temen yang ngerjain iPhone sama MacBook. ada dari LinkedIn. ada yang ikut bikin algoritma News Feed di Facebook. saya ketemu kakak saya hampir tiap bulan, tapi saya baru tau kalau dia selama ini ngerjain SandyBridge untuk Mac (dan jadi sering brag kalo dia bikin FaceTime di Mac possible). Di pembicaraan lunch (yang aneh), 3 orang temen berspekulasi kapan MacBook Pro terbaru bakal keluar – sementara di sebelah mereka ada 2 orang Apple yang under Non-Disclosure Agreement, yang cuma senyum-senyum rese. Very random, tapi saya selalu find very amusing – hal-hal kecil yang bikin saya inget (dan thankful!) kalau saya sekarang ada di Silicon Valley.

Last but not least, tentang recruitingkarena ini proses cari-kerja pertama saya, pengalaman ini sangat eye-opening- stressful, tapi akhirnya sangat rewarding.

Yang sangat eye-opening adalah bahwa di sini kebutuhan itu dua arah. Kata salah satu professor saya, referring ke career fair yang lagi berlangsung: “They’re here to woo you.“ Bukan cuma applicants yang butuh cari kerja, tapi companies juga butuh cari good employees / interns. Terutama di Stanford di mana kebanyakan students punya banyak pilihan, juga untuk bikin company sendiri. Ini perubahan mindset yang gila banget. Di awal proses recruiting ini saya cukup pesimis bisa dapet kerjaan baru – after all, saya anak bawang, anak tingkat satu, yang pengalaman web programmingnya relatif sedikit dibandingkan kebanyakan orang lain – saya merasa butuh kerjaan dan company nggak butuh saya. Tapi the way companies treat applicants bikin saya sadar kalau hubungan ini memang dua arah. Interview nggak cuma tempat company menguji applicant, tapi juga sebaliknya. Setelah proses interview selesai dan offer diextend, ada proses negosiasi salary. waktu applicants nolak offernya, company kadang-kadang masih berusaha persuade lebih lanjut. Kaget aja bisa merasain first-hand hubungan dua-arah kayak gini begitu cepet.

Kebutuhan dua arah ini mengarah ke banyaknya perks (nilai tambah) di setiap company IT di sini. Facebook punya cafetaria (dengan chef) di mana makan pagi, siang, malam gratis. (And the cafetaria’s good – really, really good. kayak restoran top) Ada laundry dan dry-cleaning gratis. Di Amazon, ada banyak giftcard Amazon. Microsoft terkenal loyal sama intern-internnya, dengan banyak freebie. Apartemen intern Microsoft lengkap sama Xbox, Kinect dan produk-produk baru Microsoft. Google, tentunya, punya gym, cafetaria gratis, laundry, dan banyak lagi. Hampir semua punya game room. Perusahaan di sini berlomba-lomba jadi tempat kerja paling hip. Ini juga berlaku selama proses recruiting. Microsoft nerbangin semua applicant tahap akhir dari seluruh US ke Seattle (headquarter Microsoft terletak di Redmond, sekitar 40 menit dari Seattle) di mana mereka ditaroh di hotel bintang 4/5 selama 2 malem (kamar 2 ranjang besar, padahal cuma buat 1 orang!). Facebook nerbangin semua siswa yang dapet offer internship ke Palo Alto untuk Intern Day, di mana mereka explain tentang  life at Facebook, engineering at Facebook, dan tentu aja kenapa Facebook is a great place to work. Perusahaan IT kecil yang bergerak di paid search management, Marin Software di San Francisco, jemput applicants dari Stanford pake limousine untuk final interview. Talent war is really here. Saya pernah nyebut nama perusahaan saingan waktu nolak offer suatu perusahaan, dan nada suara si recruiter berubah drastis. Dan ini nggak cuma sekali atau cuma di satu perusahaan…

Tentang sumber informasi kerja: Career fair diadain at least sekali tiap quarter, bisa sampai > 100 employer. Ada career fair khusus Computer Science, dan ada juga career fair khusus startup. Information session di mana individual company dateng dan ngomong, ada hampir setiap hari di recruiting season – ini cuma di bidang Computer Science aja. Banyak companies yang ngadain interviews onsite, di Stanford. Selain onsite interview ini, kebanyakan interview sama startup lewat telepon – biasanya ada 3/4 phone interview sebelum diundang ke office mereka untuk final interview. Recruiting process ini mostly berlalu sangat, sangat cepat – hari ini interview, 2 hari lagi udah dapet result interviewnya. Pengecualian adalah Google, yang super lama (2 bulan sebelum dapet result).

Recruiting dan pendidikan IT di sini sangat language-agnostic, atau nggak menyamakan ‘skill as programmer’ dengan ‘penguasaan bahasa’. Kelas-kelas memang diajarkan di bahasa tertentu, tapi di kelas yang bukan pemula, kita diekspek untuk mempelajari bahasa itu sendiri. Fokus ditekankan di algoritma yang baru, cara penyelesaian yang baru. Sama halnya dengan recruiting. Rasanya dibandingkan applicant lain, pengalaman web programming saya termasuk minim. Tapi ternyata, selama interview2 dengan perusahaan2, interviewernya selalu membebaskan saya memilih bahasa apapun. Waktu saya tanya tentang masalah bahasa ini sama interviewer dari Facebook (karena denger2 Facebook banyak pake bahasa aneh2), dia bilang, “kalau kamu bisa pass interview kami, kita yakin kok kalau kamu bisa quickly catch up dengan whatever language we use.” Senior saya di ACM (yang cukup beken di lingkungan SV) waktu ditanya bahasa apa yang sebaiknya dipelajari duluan, bilang kalau buat dia, lebih penting untuk cari project yang pengen kita kerjain, terus pick and learn on demand bahasa yang perlu buat mewujudkan itu.

Material interviewnya itu sendiri bikin saya sangat, sangat bersyukur pernah lama di Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Kebiasaan coding kertas dan coding papan tulis sambil ngomong bener2 membantu. Apalagi, pertanyaan2 Amazon dan Facebook sangat TOKI-like (algoritma dan logika) yang nyaman buat saya. Microsoft sangat design-oriented (design class, atau design remote control atau semacamnya), Google agak random (kadang algoritma, kadang design, kadang general). Tingkat kesulitan soal-soal algoritma yang sampe sekarang pernah saya dapet di interviews kira-kira se-TopCoder Div 1 easy-medium. Interview algoritma tersulit datang dari imo.im, startup web instant messenger, yang anggotanya banyak dari kompetisi pemrograman. Tapi, secara general, interview dengan Google is a very humbling experience, ngingetin kalo there’s just a lot to learn. 2 konversasi yang particularly menarik selama interviews: sama product manager Bing tentang feud Bing-Google beberapa bulan lalu, dan sama engineer Facebook tentang the Social Network.

Terakhir, kemaren sempet ditanya company apa yang punya image bagus di SV – I’d say Facebook dan Google masih tempat idaman utama, tapi Palantir Technologies terkenal punya interview process paling ketat (dan banyak senior2 khatam yang masuk sana).

Yup, that’s it! Banyak yang mungkin remeh, tapi dalam beberapa tahun ke depan, ketika saya sudah take lingkungan ini for granted, saya pengen bisa look back, inget tentang antusiasme tahun pertama ini, dan inget untuk be thankful. Waktu interview udah jadi ‘rutin’, pengen look back dan inget ke-stres-an interview pertama dan hepinya waktu dapet offer pertama bulan Desember lalu. Mungkin observasi tahun pertama ini kelewat idealis, mari nanti tahun-tahun depan saya evaluasi lagi =p Well, on a side note, melihat pekatnya kompetisi web startup di sini, jadi sadar kalau ada bener2 banyak opportunities di Indo sih. Pengguna internet yang banyak dan early adopters in nature, tapi relatif sedikit web startup…

Anyway, saya akan kerja di Facebook selama 3 bulan summer ini. Mudah-mudahan bakal jadi good experience!