Watergius's Journal

The world as I see it

Category Archives: life in Germany

The dilemma of discounted foods

I visited a seminar provided by STUBE Baden Württemberg three weeks ago : Shoppen hier – Schuften dort: globale Zusammenhänge von Konsum und Arbeitsbedingungen (Shopping here – Labour there : global correlation between consumption and working conditions). One of the session discussed was about food waste.

I was a litte bit naive, I guess, by thinking that european countries would never waste foods. I never really informed my self about the topic and have never bothered to searched more, until this video was shown in the seminar.

The video talks about the amount of foods that are wasted by supermarket in Germany and France. More than half of our foods are ended up as carbage, even before they reach our plate. As a costumer we don’t want only one type of product in the supermarket’s shelves, but instead we want many options. The supermarket then have to buy all types of products to satisfy our needs, but not all these products will be sold. Those that are left will then go as a waste and be thrown away.

Another point that is mentioned in the video is about the expiration date. This date is given by the industry, not by an authority or government office. It doesn’t contain clues or indications of health risks. The date only guarantee a specific properties, for example that a yogurt will stay creamy. And it is also mentioned in the video, that this expiration date is getting shorter compared to years before, which mean “more waste”.

*

Instead of throwing away these foods, why don’t the supermarket give it to poor people or at least sell it at cheaper price?, you might ask.

One of the speaker of the seminar (she is German) shared, that before, it was ok for people to take these ‘unwanted foods’ from supermarket’s trash bins. However now days supermarket have installed fence around their property (and of course the trash bins are inside this fence) and all attempts to take foods from it will be counted as a trespassing and are considered against the law.

About selling at cheaper price, actually supermarket in Germany sell products that are near their expired date on a discounted price. However there are still a lot of foods waste that are produced everyday.

My theory, when I think as a businessman (or supermarket owner), then I will not put out all the discounted products (products at or past the expiration date). If I were to do that, people will only buy those products and I will not make profits. Could that also be the reason, why throwing ‘good foods’ is preferable than giving them away to the people who need it? I cannot really tell.

***

 

 

 

Advertisements

Finish your food or someone will call a cop?

In 2015, few weeks before I left Indonesia and headed to Germany, I somehow came across a short article. I can’t remember anymore, whether I read it in facebook or from someone’s blog, but this is what it’s about.

“A family of four: father, mother, and two childreen were eating in a restaurant in Germany. They are a tourist and are courious to try different foods. So they ordered a lot until their table was completely full. All eyes from the other customers were on them, looked surprise and probably shock at the same time. An hour later they called the waiter saying that they wanted to pay. Having seen so many foods left, the waiter asked whether they want to take the left over. They said no. As another customer saw what happened (the family have wasted so many foods), he intuitively called and informed ‘a local cop’, who few minutes later showed up. The cop asked why did the family ordered so many foods when they could not finish it. Not 100% aware of what just happened, the father replied that they are a tourist and want to try all local foods. He also said that they paid the full prices, so it should have not been a problem. “You may have paid full price for the food. But that food didn’t just use human effort to process it. It consumed a lot of natural resources too: water, fertilizer, and the packaging and shipping uses oil, among other things, that will also produce pollution,” the cop replied. “

Couple of days after I arrived in Germany, I was invited by a friend, who is German, to have dinner in a local restaurant, while also met with some of her friends. During waiting for our foods, I told them this story and wanted to know whether it is true. They said that they have never heard about it, neither did they know something like that really exist in Germany.

Having live in Germany for more that two years, I have never seen someone being asked to pay fine because he/she didn’t finish his/her food. When I eat in a local restaurant with some people, we either finish our foods or take away the left overs. Or when there are not much left, I also notice that some of friends just left it on the plate and nobody complains.

Germany is big and I cannot say that this story/article is not true just because I have never personally seen it. To my curiosity I then searched in on google and found this Quora : Can you be fined for wasting food in Germany? . The answer indicates that it can happen in some restaurants. Try and check it for more details.

***

Offenburg

Offenburg adalah sebuah kota kecil di bagian barat daya Jerman di provinsi Baden Württemberg. Layaknya kota2 di Jerman, Offenburg memiliki Hauptstraße (Jalan utama) yang di sepanjangnya terdapat toko2, bank2, dan restoran cepat saji. Jalan utama ini dimulai dari depan kantor polisi di ujung yang satunya dan berakhir di terminal bus/ stasiun kereta di ujung lainnya. Tidak butuh lama untuk menyusuri jalan ini. Seperti kata Umar, teman pertama yang kutemui di kota ini, “cuma butuh 15 menit kok gus untuk melihat-lihat kota Offenburg.”

Banyak yang bertanya kenapa aku ke kota kecil Offenburg, tepatnya kenapa aku memilih melanjutkan kuliah S2 di Hochschule Offenburg (HSO) atau University of Applied Sciences Offenburg. “Offenburg kan kecil dan tidak banyak yang mau dilihat di kota ini”, begitu umumnya kata orang2 yang tinggal di Offenburg.

Walaupun kota ini kecil dengan penduduk kurang lebih 60.000 orang, Offenburg cukup mudah dijangkau. Kereta cepat Jerman yakni ICE, berhenti di sini, yang menjadikan waktu tempuh bandara Frankfurt – Offenburg hanya sekitar 1,5 jam. Dengan menaiki kereta yang sama, sejam berikutnya ke arah Selatan kita juga bisa tiba di kota Basel, Swiss. Sementara itu, ke arah barat Offenburg, dengan menaiki kereta lokal selama 30 menit kita akan sampai ke kota Strasbourg, Prancis. Sarapan Croissant di Prancis, makan siang Maultasche dengan hidangan pencuci mulut Schwarzwälder Kirschtorte (kue Black Forest) di Jerman, dan makan malam Zwiebelkuchen di Swiss tidaklah mustahil buat seseorang yang tinggal di Offenburg.

Energi dan Manajemen, dua kata yang membangun nama jurusanku di HSO, yakni Energy Conversion and Management menjadi jawaban yang selalu kuutarakan. Namun kalau harus ditambahkan dan dijelaskan lebih jauh lagi, faktor biaya kuliah dan biaya hidup yang terjangkau serta kurikulum pelajaran yang menarik juga menjadi faktor pertimbangan, mengingat aku juga diterima di dua kampus lainnya di Jerman dengan nama jurusan yang mirip.

**

Kini, setelah menyelesaikan S2 dari HSO dan tinggal 2 tahun lebih di Offenburg, ada satu hal, yang tidak kuketahui dan pertimbangkan sebelumnya, yang membuat kuliah dan tinggal di sini menarik dan terasa seperti di “rumah” : Senior Service.

Senior Service merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan pensiunan yang tinggal di kota Offenburg dan sekitarnya. Anggota Senior Service ini cukup banyak dan masing2 dari mereka biasanya memiliki kontak dengan satu atau lebih mahasiswa/i HSO (khususnya mahasiswa Internasional). Mahasiswa/i ini kemudian akan diundang untuk masak dan makan bareng di rumahnya, melihat festival bersama, mendaki ke Schwarzwald (hutan hitam di barat daya Jerman), dan aktivitas lainnya. Tujuannya adalah memperkenalkan budaya dan cara hidup masyarakat Jerman ke mahasiswa internasional. Sementara itu buat mahasiswa/i ini merupakan kesempatan yang baik juga untuk memperkenalkan negaranya masing2, makanan khasnya, budayanya, dan tentu saja meningkatkan kemampuan berbahasa Jerman.

Seorang teman yang pernah tinggal di Hamburg dan kini kuliah di HSO pernah berkata, ” untung ada Senior Service ya. Kalau enggak pasti bosan banget tinggal di Offenburg.”

**

Offenburg dikelilingi oleh alam yang indah, demikian juga halnya dengan Hochschule Offenburg.

 

***

Belajar tidak mengenal usia

Senin, 22 Mei 2017

***

Sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu, sama halnya seperti universitas. Tapi bagi siapa … ? Bagi siswa/i dan mahasiswa/i terdaftar saja? Atau juga untuk umum?
Di sebuah kota kecil di Jerman, yang hanya memiliki satu universitas berukuran kecil juga, aku menemukan sebuah ‘hal baru’, tentang makna kalimat belajar tidak mengenal usia.

Kuliah Umum

Sewaktu dulu kuliah S1 di Bandung, makna kuliah umum adalah kuliah dengan dosen seorang pembicara tamu yang sengaja diundang kampus maupun jurusan. Atau, menurut KBBI, kuliah umum adalah ceramah tentang masalah tertentu yang boleh dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai jurusan.

Di sini (Offenburg), kuliah umum punya arti yang lebih luas. Bertempat di kampus, kuliah umum biasanya diberikan oleh seorang Professor atau peneliti atau siapa pun yang kompeten di bidangnya dengan tujuan mempresentasikan risetnya kepada publik. Publik di sini adalah civitas akademi kampus itu sendiri dan juga masyarakat sekitar yang tertarik. Dan ternyata warga di sini memang tertarik datang ke kampus untuk mendengarkan kuliah umum tersebut. Usia warga yang datang juga bervariasi, mulai dari yang masih bekerja sampai kepada pensiunan; mulai dari seorang yang bergerak di bidang teknik (atau pendidikan) hingga yang tidak. Mereka selalu berkata : aku merasa topiknya menarik dan kita selalu bisa belajar sesuatu yang baru.

Science Slam

Science Slam adalah sebuah bentuk kuliah umum yang ditemukan dan dikembangkan di Jerman pada tahun 2006. Seorang pembicara diberikan waktu selama 10 menit untuk membicarakan risetnya (atau keahliannya) di hadapan penonton yang sama sekali awam. Tujuan dari Science Slam ini adalah mengedukasi dari segi keilmuan dengan cara/metode yang menyenangkan/lucu/tidak membosankan. Di akhir presentasi mereka, setiap pembicara akan diberi nilai oleh penonton untuk dua kategori: Science (ilmu yang disampaikan) dan Slam (cara penyampaian yang tidak membosankan). Nilai2 ini kemudian akan ditotalkan sehingga diperoleh pemenang dengan nilai yang paling tinggi. Science Slam… siapa yang bilang science itu harus membosankan, eh?

Science Slam (gambar dari Baden Online)

 

 

Karena peraturan berlaku juga buat pengajar

Kamis, 3 November 2016

***

Awal pertama kelas setahun yang lalu, Prof. J sudah menunggu di ruangan lengkap dengan laptop dan presentasinya. Kelas dimulai. Satu-satunya sumber bunyi hanyalah suara profesor yang keras dan lantang, cukup untuk membuatmu tetap terjaga walaupun tidak paham sepenuhnya materi yang diajarkan.

Setengah jam berlalu. Nada pesan masuk di telepon genggam terdengar. Seorang teman merogoh sakunya, berusaha mematikan nada dering teleponnya. Namun sang profesor sudah terlatih mendengarkan nada-nada perangkat elektronik. Menyadari ini kelas pertama, dia hanya mengeluarkan ultimatum: “Jika dalam kelas saya seseorang menghasilkan bunyi dari perangkat elektronik, maka di kelas berikutnya orang tersebut harus membawa bir… untuk seisi kelas.”

Selama beberapa minggu tak ada lagi nada perangkat elektronik yang terdengar di kelas. Yang ada hanyalah suara getaran dari pesan masuk ke telepon genggam yang kebetulan diletakkan di atas meja. Hingga suatu hari seorang teman lupa mematikan alarmnya dan teleponnya berbunyi. Apa hendak dikata. Seisi kelas menatap dia, tak terkecuali sang profesor yang sambil tersenyum berkata: ” Di kelas berikutnya kamu harus membawa bir.”

Makan di kelas saat pelajaran berlangsung adalah hal yang lumrah di tempatku belajar saat ini. Meninggalkan kelas sambil menenteng tas di tengah pelajaran tepat saat seorang profesor sedang berbicara, juga ternyata dapat diterima. Namun kini, minum bir ketika pelajaran berlangsung dengan aba2 cheers dari sang profesor…  aku pun hanya bisa takjub sambil tak lupa mengangkat botol birku dan menyahut cheers.

Minum bir dalam kelas Prof. J

Minum bir dalam kelas Prof. J

 

Kejadian yang sama berulang tiga kali, namun dengan orang yang berbeda. Karena suara perangkat elektroniklah yang menjadi acuannya, maka suara Windows saat laptop pertama kali dinyalakan juga masuk kategori dan menyebabkan seorang teman membawa bir di kelas berikutnya.

**

Setahun berlalu sejak kelas pertama dengan Prof. J dan peraturan yang sama tetap berlaku. Hari ini sang profesor perlu menunjukkan materi pelajaran di youtube dan mau tak mau harus memasang suara agar video tersebut dapat dipahami. Dan coba tebak apa yang terjadi setelah video selesai dia putar?

“Sekarang saya yang harus membawa bir ya,” katanya sambil tertawa.

Dan di kelas berikutnya hari Rabu mendatang, kami akan menikmati bir lagi di dalam kelas untuk yang keenam kalinya.

***

atampubolon