Watergius's Journal

The world as I see it

Category Archives: Perjalanan

mau jujur atau berharap ‘dimudahkan’ – pakai tiket kereta orang lain…

Minggu, 1 Februari 2015

***

Tempat : Stasiun Kereta Api Sukabumi, Jawa Barat

Alur cerita perkara:

– Dua minggu sebelum tanggal 1 Februari aku sudah beli tiket untuk 5 orang dengan tujuan Bogor-Sukabumi-Bogor.

– Seminggu sebelum 1 Februari ada dua orang teman yang ingin ikutan ‘main2’ ke Sukabumi juga.

– Seminggu sebelum 1 Februari tiket tambahan Bogor-Sukabumi masih dapat namun tiket Sukabumi-Bogor yang jam 4 sore sudah habis.

– Sehari sebelum 31 Januari, seorang teman tidak jadi ikut dan seorang lagi memutuskan untuk bawa mobil agar bisa bawa temannya yang lain, katakanlah nama mereka P dan N.

– Sehari sebelum 31 Januari menelepon 121 menanyakan perihal penggantian nama di tiket dan ternyata tidak bisa.

– Tanggal 31 Januari, di St.Sukabumi, kita sepakat akan jujur ke petugas pemeriksa tiket bahwa tiket kereta atas nama P dan N akan kita berikan kedua orang teman kami yang lain.

– Tiba di meja pemeriksa tiket, P tiba-tiba mengeluarkan KTP-nya (yang secara refleks aku ikuti) sambil menunjukkan kelima tiket itu (dua diantaranya milik P dan N). Si petugas pun hanya mengecek KTP kami berdua dan memberikan stempel tanda “TELAH DIPERIKSA” untuk kelima tiket kami itu.

– Temanku P mengambil tiket2 itu dan menyerahkannya kepadaku. Lalu, aku dan dua orang temanku serta dua orang baru yang menggunakan tiket P dan N masuk ke dalam ruang tunggu stasiun, lewat di samping petugas yang tadi memeriksa tiket kami. Sementara itu, temanku si P jalan santai keluar menuju ke parkiran.

– Singkat cerita, dua tiket yang kami gunakan penggunanya tidak sesuai dengan nama yang tertera di tiket.

Dan aku pun menjadi bertanya-tanya, apakah petugas itu tidak nyadar temanku si P itu tidak masuk? Atau dia tahu tapi membiarkan saja? Atau kami lagi bernasib baik sehingga ‘dimudahkan’?

Entahlah.

Dan aku pun kembali dibuat penasaran, jika seandainya kami mengatakan hal sebenarnya, akankah kedua temanku tersebut bisa menggunakan tiket yang tidak atas nama mereka?

Entahlah.. lagi-lagi.

***

APT.

menjadi guru sehari – menjelaskan nikel dan insinyur ke anak SD

Senin, 15 September 2014

***

Kisah ini terjadi beratus kilometer dari Jakarta, di beberapa SD Negeri yang jumlah siswanya masing-masing tak sampai 150 orang, SDN di Tanah Grogot.

Tapi kita akan sampai ke cerita itu nanti. Bersabarlah.

*

Sabtu, 13 September 2014

Setelah menyebrangi lautan dan menumpang kendaraan umum dari Balikpapan, akhirnya lima jam kemudian kami pun sampai di Tanah Grogot, Kalimantan Timur. Pendopo Bupati Paser adalah tujuan kami, tempat kami akan menginap selama acara kelas inspirasi ini. Tapi tidak malam ini sebab malam ini temanku Shio sudah punya rencana lain buat kami.

Sesampainya di pendopo, Shio menunjukkan kamar tempat kami boleh menaruh barang2 dan sekaligus tempat kami akan tidur esok malam. Lalu mempersilahkan kami makan sambil briefing singkat tentang perjalanan selanjutnya.

“Jadi kita akan ke Selengot”, dia memulai pembicaraan. “Dari tempat ini kita akan naik mobil kurang lebih dua jam ke Tanjung Harapan dan dilanjutkan dengan menyebrang laut menumpang kapal nelayan”.

*

Kebun sawit, jalanan berbatu dan berdebu, dan truk2 yang lalu lalang adalah teman perjalanan kami selama dua jam itu. Namun kami cukup beruntung sebab mendapatkan pinjaman mobil dari Bapeda Paser sehingga bisa menggunakan AC dan terhindar dari debu. Bila tidak ada ini mobil, kami akan terpaksa menggunakan satu-satunya pengangkutan umum berupa mobil berukuran sedang dengan kaca terbuka yang tak tentu waktu berangkatnya (tergantung ada tidaknya penumpang).

*

Pukul 2 siang air laut di Tanjung Harapan masih surut. Terpaksa kami menunggu. Sejam, dua jam, hingga jam menunjukkan hampir pukul setengah 6 sore, saat laut sudah benar-benar pasang dan nelayan dari desa Selengot (orang tua asuh salah seorang Pengajar Muda Selengot) bisa datang menjemput kami.

Sinyal di kota saja terkadang susah, apalagi di pelosok Kalimantan seperti ini. Akibatnya, karena tidak dapat  berkomunikasi, bapak dari Selengot yang menjemput kami datang dengan kapal kecil sehingga tidak memungkinkan bagi kami semua untuk menyebrang sekaligus.  Apalagi saat itu keluarga bapak itu juga ikut menumpang dan lautan sangat berangin.

dua temanku bersiap menyebrang dan siap basah

dua temanku bersiap menyebrang dan siap basah

*

Desa Selengot adalah salah satu desa di Pulau Kandar, selain Desa Bengkalo, yang memiliki Pengajar Muda (PM) : Abdul di Selengot dan Arif di Bengkalo.  Kedua orang inilah yang ingin kami temui, sekalian melihat sekolah dan bertemu anak-anak muridnya.

pagi hari di depan SD Desa Selengot

pagi hari di depan SD Desa Selengot

Bila di Selengot kami hanya berfoto di depan SD-nya, maka di Bengkalo kami (aku dan teman2ku yang ikutan Kelas Inspirasi) diminta untuk bercerita singkat di depan kelas, di hadapan anak2 kelas 1-6 tentang siapa kami dan apa yang kami lakukan.

Mengajar anak SD apa sih sulitnya, itu yang awalnya ada di benakku. Apalagi bila kita hanya diminta untuk menceritakan tentang apa yang kita lakukan – pekerjaan kita. Namun kukatakan kepadamu teman, ternyata tidak semudah itu. Tidak semudah itu bila kau ingin membuat anak2 itu tertarik dengan apa yang kau lakukan dan berharap mereka mau mempunyai cita-cita sepertimu karena itulah yang kau lakukan di sini, memberi inspirasi. Memberi inspirasi kepada mereka bahwa masih banyak pekerjaan di luar sana selain menjadi guru, tentara, polisi, ataupun petambak.

Karena kedatangan kami ke SD di Bengkalo ini bukanlah bagian dari Kelas Inspirasi (KI), maka kami tidak diminta untuk menjelaskan terlalu lama, hanya dua menit perorang. Namun dua menit itu pun serasa berjam-jam ketika anak2 sudah mulai ribut dan tak tertarik lagi. Bagaimana mungkin mereka tertarik saat yang kuceritakan adalah nikel dan nikel itu gunanya ini itu tanpa ada alat peraga. Dan aku benar-benar kehabisan kata-kata saat itu, antara bingung, malu, dan merasa aneh. Untunglah PM-nya segera mengambil alih, menyelamatkanku.

*

Perjalanan pulang ke Tanah Grogot selama beberapa jam memberiku waktu berpikir akan metode mengajar yang akan aku pakai esok hari di kelas…

**

Pagi itu aku dan tiga orang profesional lainnya diberi mandat untuk mengajar di SDN 07 Pepara – sebuah SD Negeri berjarak kurang lebih 2 km dari Tanah Grogot, yang jumlah muridnya kurang lebih 150 orang. Sesuai arahan panitia KI, aku pun akan mengajar kelas 3-4 (mereka digabung menjadi satu kelas) di 45 menit pertama dan kelas 5-6 di 45 menit berikutnya.

“Halo”… Haaiii

“Hai”… Halooo

Bila aku mengatakan halo, maka anak-anak harus mengatakan hai, dan sebaliknya. Itulah salah satu metode yang kusampaikan di awal dan akan sering kugunakan untuk menenangkan anak2 tersebut bila mereka sudah mulai ribut, dan cara itu akan terbukti cukup ampuh.

Dan aku pun melanjutkan kelasku dengan bermain game.

“Bapak mau lima orang anak maju ke depan”, kataku kepada mereka, dan mereka berlomba-lomba untuk maju ke depan.

Lalu aku meminta mereka berbaris menghadap teman-temannya sambil bergandengan tangan. Kukatakan kepada kelima anak itu kalau sekarang mereka akan disebut besi.

“Bapak mau tiga orang anak lagi maju ke depan”, kataku lagi dan kali ini pun tetap sama, mereka rebutan berlari ke depan.

Untuk ketiga anak yang baru maju itu aku menamai mereka udara, air, dan pengotor.

Permainannya sederhana. Udara, air, dan pengotor akan berusaha menghabiskan besi dengan cara menarik satu per satu anak keluar dari kelompok lima anak yang disebut besi tadi.

“Biar besinya mudah ditarik keluar, yang ditarik dari sisi mana ya? ”

Butuh waktu bagi mereka untuk menjawab, bahkan agak sedikit kuarahkan. “Bila yang ditarik dari tengah-tengah, mudah tidak? ”

TIDAKK.

“Kalau yang paling kiri atau kanan?”

MUDAHH.

Pintar.. Itu karena mereka hanya dipegang di satu tangan kan..

Nah, sekarang… udara, air, dan pengotor, coba ditarik besi yang paling kanan dan paling kiri.. dan mereka pun sangat semangat melakukannya, tarik-tarikan mirip tarik tambang. Dan akhirnya salah satu besi pun lepas, disusul temannya yang lain sesama besi. Pada akhirnya, yang tinggal hanyalah dua besi dan permainan kuhentikan.

Nah anak-anak, inilah yang disebut dengan berkarat. Si udara, air, dan pengotor ini kita sebut karat, dan mereka akan merusak besi-besi yang ada di mesin-mesin motor dan kapal kita. Akibatnya lama kelamaan mesin motor dan kapal kita akan rusak, dan bisa hilang, kayak teman-teman kalian si besi yang tinggal 2 ini.

Sekarang, gimana caranya biar besinya tidak mudah rusak? Kalian tahu gak?

Melihat wajah-wajah kebingungan mereka, aku pun meminta delapan anak lagi maju ke depan. Lima menjadi besi dan tiga menjadi karat.

Kali ini, kelima anak itu kuminta untuk bergandengan tangan sambil membentuk lingkaran. Dan nama baru pun kuberikan kepada mereka, besi nikel.

Kutanyakan lagi pada seisi kelas, “Kali ini besinya mudah gak ditarik?”

ENGGAKKK.

Kenapa?

KARENA MELINGKARR.

Iya. Karena semuanya bergandengan. Gak ada lagi yang cuma dipegang satu tangan kayak besi yang pertama tadi kan.

Kuminta kepada karat untuk coba menarik satu anak keluar dari besi nikel itu, dan mereka kesusahan.

Nah anak-anak, inilah yang Bapak kerjakan. Bapak mencari nikel biar mesin-mesin motor dan kapal kalian tidak mudah berkarat. Jadi bapak adalah seorang insinyur yang bekerja mencari nikel.

Setelah itu aku pun mengedarkan materai yang memang sudah kupersiapkan dari Jakarta berisi gambar-gambar nikel, pabrik tempatku bekerja, dan digunakan untuk apa nikel itu nantinya. Sembari meminta mereka membuka halaman demi halaman, aku memberi penjelasan. Entahlah karena mereka semangat mendengarkan atau karena tertarik dengan gambar-gambar yang terpampang di hadapannya, mereka cukup tenang selamat beberapa menit itu.

Akhirnya tanpa terasa waktu pun hampir usai. Sebagi penutup, aku mengajarkan mereka lagu Aku Pasti Bisa (awalnya aku diajari PM juga lagu ini) yang kurasa sangat bagus untuk memotivasi mereka.

Aku bisa, aku pasti bisa.

Tuk meraih cita-citaku.

Kukan terus coba, sampai aku bisa.

Aku.. pasti.. BISA…

bersama anak-anak SDN07 Pepara

bersama anak-anak SDN07 Pepara

**

Selasa, 16 September 2014

Meskipun kelas inspirasi telah berakhir kemarin, namun semangat kami untuk menginspirasi masih menggebu-gebu. Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan naik pesawat, kapal, dan mobil untuk sampai ke Paser ini, sayang rasanya bila tidak berkunjung ke sekolah-sekolah lainnya tempat para PM mengajar.

SD Negri 015 Sungai Tuak adalah SD yang pertama kami kunjungi, tempat Shio, temanku yang juga seorang PM, mengajar.

temanku, Shio, sedang memperkenalkan temanku, Immanuel, ke anak-anak SD-nya

temanku, Shio, sedang memperkenalkan temanku, Immanuel, ke anak-anak SD-nya

SD tempat Shio mengajar terbagi menjadi dua gedung, satu gedung baru yang kondisinya cukup bagus dan layak untuk digunakan, dan satu lagi adalah gedung lama tempat kami sekarang berada seperti gambar di atas yang kondisinya sebenarnya sudah sangat memprihatinkan. Kepala Sekolahnya sudah berusaha dan melapor ke dinas dan pihak terkait meminta agar dilakukan perbaikan, namun setelah beberapa tahun, hal itu belum terkabul juga. Entahlah sampai berapa lama lagi mereka harus menunggu.

kondisi salah satu ruangan di gedung lama SDN Sungai Tuak

kondisi salah satu ruangan di gedung lama SDN 015 Sungai Tuak

*

Kunjungan terakhir dan paling berkesan buatku di hari itu adalah di  SDN 032 Tanah Grogot, tempat PM Esil mengajar. Begitu sampai, kami sudah disambut anak2 dengan wajah ceria. Waktu pulang mereka sebenarnya sudah lama usai, namun mereka masih tetap setia menunggu kami datang, entah kenapa.

Satu kelas yang ukurannya cukup besar sengaja dibiarkan terbuka. Kami pun masuk ke dalamnya, aku dan temanku serta puluhan anak2 SD dari kelas 1-6.

Di kelas inspirasi aku bisa membuat anak2 sedikit fokus dengan ceritaku sebab aku mengajak mereka bermain. Namun di sini, di kelas ini, ukuran ruangan jauh lebih kecil dan orang berlipat kali lebih banyak. Aku kebingungan, namun tetap berdiri di depan mereka, memulai dengan basa-basa.

Hi… HELLOOO… Hello… HII…

“Siapa yang bisa tebak pekerjaan Bapak apa?”

SUPIRR… teriak mereka diiringi ledakan tawa anak2, anak SD dan teman-temanku.. dan tawaku sendiri.

Kalian tahu mobil? motor? Pesawat terbang?

TAHUU…

Siapa yang suka buat pesawat terbang mainan?

Banyak tangan teracung ke atas.

Siapa yang mau buat pesawat terbang benaran? Mobil benaran? Motor benaran?

Beberapa tangan teracung, sebagian malu-malu, sebagian lagi ragu-ragu. Kalau kalian mau buat motor maka kalian harus jadi insinyur. Mau buat mobil harus jadi insinyur. Mau buat pesawat terbang harus jadi insinyur juga.

Nah, jadi bapak itu seorang insinyur, kataku ke mereka tanpa menyinggung sedikit pun pekerjaanku di tambang nikel sebab akan sulit lagi menjelaskannya.

“Sekarang siapa yang mau jadi insinyur?”

Banyak tangan diacungkan, termasuk seorang anak yang sejak sebelum aku datang pun sudah punya cita-cita menjadi insinyur, menurut penuturan PM Esil.

menjelaskan "insinyur" ke anak SD

menjelaskan “insinyur” ke anak SD

Selesai menginspirasi, itulah kata yang digunakan PM untuk kegiatan yang kami lakukan, Bu Guru Esil mengundangku untuk maju ke depan kelas lagi sebab seorang anak ingin memberi sesuatu kepadaku. Imam nama anak itu dan dia memberiku tiga benda : sebuah lukisan yang digambarnya di atas buku gambar, sebuah penggaris, dan sebuah buku tulis. Aku tidak bisa ngomong apa2 saat itu selain mengucapkan terima kasih sambil memeluknya.

*

anak-anak berebutan untuk berfoto

anak-anak berebutan untuk berfoto

**

Kenapa aku melakukan ini? Perjalanan ini, beratus km dari Jakarta, naik pesawat, kapal, dan mobil? Aku tidak dapat menjawabnya dengan kata-kata yang dapat membuatmu tertegun dan tersenyum sehingga kau akan mengerti dan kemudian berkata, oke.. aku mengerti dan aku mau mencobanya. Tapi biarlah kuulang kata-kata seorang teman yang kukenal di KI ini: “Bukan kita sebenarnya yang menginspirasi anak-anak itu, tapi merekalah yang menginspirasi kita“. Cobalah, dan kau akan mengerti apa maksudnya.

sampai ketemu lagi  PM Ike, PM Shio, PM Esil

sampai ketemu lagi PM Ike, PM Shio, PM Esil

***

atampubolon

ke Baduy Dalam

Sabtu, 16 Agustus 2014

***
Selembar tiket seharga 15 ribu ditangan, setumpuk pakaian tersusun rapi di dalam plastik ziplock di ransel, dan seorang lelaki paruh baya lengkap dengan kaca mata hitamnya yang lalu lalang ke sana kemari – memeriksa semua pesertanya, mengawali perjalananku ke Badui Dalam. Dari Stasiun Tanah Abang ini, aku dan sekitar 26-an orang peserta lainnya akan menempuh perjalanan kereta selama kurang lebih 2-2,5 jam ke Stasiun Rangkas Bitung di Banten yang akan membawa kami sekian kilometer lebih dekat ke Badui.

Perjalanan kereta di pagi hari sekitar pukul 10 itu cukup nyaman. Di kereta banyak kursi kosong sehingga kami semua bisa menumpuk di satu gerbong… Kecuali mungkin ada sekitar 3 orang yang sudah keburu duduk nyaman di gerbongnya sehingga mereka malas untuk pindah lagi walaupun sebenarnya masih bisa pindah ke gerbong 2 itu saking banyaknya kursi kosong..

Gerbong yang penuh dengan anak muda yang haus akan petualangan bukanlah pilihan yang tepat jika kau ingin duduk santai menatap keluar jendela sambil berharap matamu terpejam, dan tahu2 saat bangun nanti tiba-tiba sudah sampai. Sebab ketika matamu baru menutup sekian detik, suara tawa yang membahana memenuhi seisi gerbong akan segera membangunkanmu lagi.

*

Masih ingat dengan lelaki paruh baya lengkap dengan kaca mata hitamnya yang tadi aku katakan sibuk memeriksa pesertanya? Nah, sesampainya di stasiun, dia kembali sibuk lagi. Setelah mendapat kepastian dari supir elf yang akan mengantarkan kami untuk lebih dekat ke Badui Dalam, dia pun memandu kami berjalan keluar dari stasiun, menyebrangi rel2 kereta, menuju sebuah tower pemancar telepon seluler, keluar dari gang sempit ke sebuah tempat lapang tempat kedua elf kami telah menunggu.

Satu per satu tas dinaikkan dan disusun rapi di atas kendaraan agar kendaraan yang memang sudah sempit itu tidak semakin sempit untuk kami naiki. Di tempat ini jugalah kami bertemu dengan dua orang lagi peserta trip ini yang telah menempuh perjalanan panjang dan ‘penuh cobaan’ dari Semarang. Ketika kukatakan ‘penuh cobaan’ itu berarti dimulai dari taksi mereka di Semarang yang salah jalan sehingga mereka ketinggalan kereta, lalu dilanjutkan dengan kejar-kejaran bus malam menuju Jakarta. Nyampai Jakarta, mereka masih harus naik taksi ke stasiun kereta lainnya untuk kemudian disambung dengan kereta api diesel 2 ribuan yang mengantarkan mereka sampai ke tempat ini. Tapi untunglah mereka sudah sampai dengan selamat, bahkan tiba hampir sejam lebih awal dari kami sebenarnya.

*

Perjalanan menuju tempat tujuan kami ‘sangat mengguncang perut’ – jalanan yang rusak parah, berbelok, dan menanjak. Belum lagi ditambah dengan banyaknya debu yang beterbangan masuk dari jendela elf yang memang sengaja dibuka karena panasnya cuaca siang itu. Segala gaya pun dicoba agar perjalanan terasa singkat: mulai dari ngobrol, tidur, terbangun karena diguncang-guncang, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, dan ternyata perjalanan masih panjang. Akhirnya, setelah 2,5 jam perjalanan yang cukup melelahkan, kami pun tiba di Cijahe, salah satu pintu masuk paling dekat ke Desa Baduy Dalam Cikeusik.

gambaran perjalanan kami - jangan percaya waktu tempuh google maps

gambaran perjalanan kami – jangan percaya waktu tempuh google maps

DSC_0022

foto sebelum diajak masuk oleh teman2 Baduy – mereka masih malu2 foto sama kami

DSC_0023

foto tentang peraturan adat suku Baduy – terpajang di Cijahe

*

Dari Cijahe, perjalanan pun dilanjutkan dengan mendaki bukit menuruni lembah sekitar kurang lebih 40 – 45 menit. Dan itu pun sebenarnya masih bisa lebih cepat sebab banyak waktu yang kami habiskan dengan foto2 di jalan. Oh ya, Cijahe itu termasuk daerah luar Baduy (bedakan dengan Baduy Luar) sehingga mulai sejak Cijahe sampai perbatasan dengan Baduy Dalam, kami masih diperkenankan untuk mengambil gambar.

Sebagai informasi, batas antara luar Baduy dengan Baduy Dalam sebenarnya hanya sebuah gubuk yang digunakan sebagai tempat menginap oleh suku Baduy Dalam saat mereka berladang.

DSC_0039

gubuk di persimpangan jalan yang menjadi penanda batas antara luar Baduy dengan Baduy Dalam

*

Setelah melewati jembatan bambu yang membentang di atas aliran sungai yang jernih, resmi sudahlah aku menginjakkan kaki di Cikeusik. Rumah-rumah panggung dari bambu yang berhadapan membentuk jalan setapak kecil ditengah-tengahnya adalah hal pertama yang tampak di hadapanku. Lalu, aku pun menyadari kalau suasana perkampungan sore itu cukup sepi. Kata pengantar kami itu karena penduduk kampung masih berada di ladang mereka.

Kami pun di persilahkan untuk duduk di teras rumah yang nantinya akan kami gunakan untuk menginap. Setelah semua orang sampai dan meletakkan barang-barangnya, kami pun diajak berkeliling kampung. Kami ditunjukkan rumah puun (tetua kampung) dari jauh – ada batas dari bambu yang tidak bisa dilewati oleh pengunjung seperti kami di sekitar rumah puun itu. Lalu, kami pun ditunjukkan tempat (mirip rumah mereka hanya saja berisi alat musik) yang mereka gunakan kalau mereka mengadakan acara kampung (kami tidak diperkenankan masuk saat itu).

*

Sore pun semakin larut dan kami mulai beres-beres. Setelah dipersilahkan tuan yang punya rumah untuk menyimpan tas ke dalam rumah, kami beramai-ramai menuju sungai untuk mandi. Wanita di sisi hulu (dekat dengan jembatan bambu yang tadi kami lewati) dan pria di sisi hilir cukup jauh dari situ. Inilah kali keduaku mandi di sungai (saat dewasa). Oh ya, di Baduy Dalam tidak diperkenankan untuk menggunakan segala macam bahan kimia, mulai dari sabun, shampo, hingga pasta gigi.

*

Malam tiba dan suasana perkampungan gelap gulita. Tanpa lampu senter yang kami bawa tak akan mungkin bagi kami untuk dapat berjalan di perkampungan itu. Suasananya benar-benar gelap. Dan… lampu-lampu senter ini jugalah yang menjadi sumber penerangan kami saat makan malam di dalam rumah penduduk. Dengan mengikatkannya di langit2 rumah, tampaklah makanan sederhana nan nikmat yang telah dipersiapkan oleh tour leader kami. Tak lupa kami mengajak serta orang-orang Baduy Dalam yang tadi sudah menuntun perjalanan kami dari Cijahe (dan tentu saja yang punya rumah) untuk ikut makan.

Selesai makan, agendanya adalah diskusi tentang Baduy Dalam dengan salah seorang yang cukup dituakan di situ. Karena bahasa utama Baduy adalah Bahasa Sunda dan rombongan kami ada beberapa orang orang Sunda, maka tetua itu pun ngomong dalam Bahasa Sunda, yang kemudian diterjemahkan ke kami. Banyak hal yang kami omongi, mulai dari adat istiadat mereka, cara hidup, isi rumah, hingga apa saja yang mereka lakukan kalau sedang di Jakarta. Jakarta? Ya. Dari Baduy Dalam ini mereka sesekali berkunjung ke Jakarta sambil membawa barang2 kerajinan dan madu hutan untuk dijual. Yang paling membuat luar biasa dari kunjungan mereka itu adalah mereka melakukan semua perjalanan itu dengan berjalan kaki dan dengan kaki telanjang.

*

Berada di daerah ketinggian dan di tengah hutan membuat suasana malam hari sangatlah dingin. Karenanya janganlah lupa membawa pakaian tebal dan termasuk kaos kaki.

**
Keesokan harinya setelah selesai berkemas dan sarapan, kami berpamitan kepada yang punya rumah. Saat berpamitan, jabat tangan adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Hanya saja, peserta yang lelaki tidak boleh berjabat tangan dengan suku Baduy Dalam yang perempuan sehingga dengan mereka kami hanya berpamitan lewat kata-kata.

*
Sebelum menuju Cijahe, kami diajak terlebih dahulu untuk melihat-lihat suasana perkampungan Baduy Luar. Dan berhubung hari minggu itu adalah tanggal 17 Agustus, kami pun mengadakan upacara bendera singkat di Baduy Luar.

DSC_0041

anak suku Baduy Dalam yang menemani kami selama 2 hari satu malam – ketiganya teman baik

DSC_0069

perkampungan Baduy Luar yang kami datangi

DSC_0075

sedang menyanyikan Indonesia Raya di Baduy Luar

**

Dalam perjalanan pulang dari Cijahe, ada seseorang yang ikut menumpang di elf kami. Awalnya aku tidak menyadari hal ini. Namun, karena posisi dia tepat di depanku (dia berdiri sambil bergantung di pintu elf), maka aku menyadari akan adanya sebuah peta tergambar di bagian belakang bajunya. Dan peta itu adalah peta perkampungan Baduy. Akhirnya, secara ‘diam-diam’, peta dibelakang bajunya itu kuabadikan lewat foto.

peta perkampungan Baduy

peta perkampungan Baduy

**

sedikit dokumentasi perjalanan ke Baduy Dalam

***
atampubolon

Jalan-jalan, murah-meriah, dan Air Asia

Jakarta, 11 Juli 2014

***

Jalan-jalan (atau bahasa gaulnya saat ini : traveling) itu membuat ketagihan. Saking membuat ketagihannya, kalender merah (selain hari Minggu tentunya) dalam setahun bisa hapal. Bila perlu, terkadang bahkan dibuat list-nya. Mana yang hari kejepit, kapan harus ngambil cuti, dan akan ke mana liburan dengan sekian hari itu. Namun, layaknya seperti ketagihan-ketagihan yang lain, ketagihan jalan-jalan juga memiliki dampak negatif : membuat kondisi kantong menipis, mulai dari biaya akomodasi, makan, oleh-oleh, dan terutama transportasi.

Bulan Oktober 2013 kemarin salah seorang temanku menikah di Hong Kong. Dia adalah seorang teman baikku dan dapat hadir di pernikahannya akan sangat membuatnya bahagia. Karenanya aku pun memutuskan akan datang, hitung-hitung sekalian jalan-jalan ke Hong Kong sebab dulu hanya pernah transit di bandaranya.

Saat itu masih sekitar bulan Juli dan teman kosanku (kita kebetulan satu kantor dan sama-sama kenal teman yang akan nikah di Hong Kong ini) mengatakan kalau Air Asia ada promo. Hanya saja, penerbangan ke Hong Kong itu akan transit di Kuala Lumpur dulu beberapa jam. Kita pun dilema. Mau naik penerbangan itu, ntar kelamaan nunggunya di LCCT. Mau keluar jalan-jalan ke Kuala Lumpur, waktunya mepet banget, bisa-bisa begitu sampai di Kuala Lumpur kita harus langsung balik ke bandara lagi… Dan pencarian tiket di hari itu pun hanya sebatas wacana.

Beberapa hari berikutnya, kita akhirnya mendapatkan ide yang luar biasa cemerlang ini. Dengan mengambil jatah cuti yang lebih banyak (6 hari cuti ditambah satu tanggal merah di hari Senin – inilah untungnya mempunyai list tanggal merah 🙂 ), kita pun mendapatkan total 11 hari untuk jalan-jalan. Horee. Akhirnya perburuan tiket pun dimulai lagi. Kali ini, rute kita berubah dari yang semula Jakarta-Hong Kong-Jakarta menjadi Jakarta-Kuala Lumpur-Hong Kong-naik ferry ke Macau-Bangkok-Phuket-Singapura-Jakarta.

Kenapa rutenya seperti itu?

Kuala Lumpur sudah jelas. Air Asia yang akan terbang ke Hong Kong akan transit dulu di Kuala Lumpur (gak tahu sekarang ya, tapi dulu yang kita temukan sih seperti itu), jadi, daripada hanya transit beberapa jam, kenapa tidak sekalian dijelajahin saja kotanya. Apalagi kami memang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Malaysia. Dan satu lagi, kata temanku hitung-hitung menambah stempel di paspor kita. Dan jadilah kami berpetualang di Kuala Lumpur seharian itu.

DSC_0017

Kuala Lumpur dari hotel tempat menginap di daerah Ampang Park

Hong Kong lebih jelas lagi – acara nikahannya di Hong Kong. Namun, karena acaranya baru di malam kedua saat kami berada di Hong Kong, hari pertama pun kami gunakan untuk jalan-jalan, termasuk mengunjungi Disney Land yang tersohor itu.

DSC_0161-2

Selamat datang di Disney Land Hong Kong

Macau? Jauh-jauh jalan-jalan ke Hong Kong sayang rasanya tidak sekalian menginjakkan kaki di Macau. Selain menambah cap di paspor (ini penting), kota yang terkenal dengan kasinonya ini menawarkan pengalaman yang ‘berbeda’. Mulai dari naik bus gratis, baik dari pelabuhan ke hotel maupun dari hotel ke tengah kota dengan bermodalkan muka tembok (caranya dengan menaiki bus hotel lain yang kebetulan dekat hotel kita), belanja oleh-oleh di daerah kota tua Macau setelah sempat diomelin karena nanya-nanya terus (ditanya harga, penjualnya nunjuk ke huruf kanji. Aku tanya lagi dong secara gak bisa baca tulisan kanji, eh penjualnya dengan muka kesal langsung membungkus pesananku sambil menyuruh masuk ke kasir untuk bayar), hingga masuk dan melihat langsung kasino (setelah selama ini hanya melihat kasino dari film-film).

DSC_0390

Salah satu sudut Kota Macau yang ramai dengan pengunjung

Bangkok? Tujuan awalnya sih pingin langsung mengunjungi Phuket saja, ingin melihat Maya Bay dan James Bond Island yang terkenal itu. Cuma, dengan beberapa pertimbangan, Bangkok pun masuk ke dalam itinerary kami. Dengan alokasi waktu hanya dua hari, kami hanya sempat jalan-jalan ke Asiatique (tidak lupa menonton kabaret Calypso tentunya), melihat Buddha tidur di Wat Pho, berkunjung ke istana raja, ke Siam Ocean World, dan tak lupa mengunjungi museum lilin Madame Tussaud.

DSC_0544-2

Di dalam Wat Pho

Singapura? Dari dulu aku memang penasaran dengan Singapura. Penasaran dengan alasan kenapa banyak sekali orang Indonesia yang ingin liburan ke negara ini. Selain murahnya tiket dari Jakarta ke negara ini (bahkan tak jarang jauh banget lebih murah dari tiket penerbangan domestik Indonesia), ada hal lain yang kusimpulkan sebagai alasan kenapa negara ini menjadi tujuan favorit : keteraturan. Orang kita mencari keteraturan dalam berbagai hal yang belum mereka temukan di Indonesia: mulai dari teratur dalam mengantri, naik bus dan kereta yang teratur waktu dan tempat berhentinya, bahkan untuk berfoto dengan tokoh tertentu di taman bermain pun mereka teratur. Dan kita tanpa sadar ikut-ikutan teratur seperti mereka, hanya saja ketika pulang ke Indonesia kebiasaan baik itu sulit dipertahankan. Tapi terlepas dari itu semua, perjalanan ke Singapura ini cukup berkesan sebagai perjalanan penutup liburan yang panjang ini (saking panjangnya, teman seperjalananku sudah merasa lelah, bahkan jenuh, dan memutuskan untuk balik ke hotel jauh lebih awal dan menikmati fast food-nya sambil menonton pertandingan bola).

DSC_0880 (4)

salah satu sudut kota Singapura yang menjajakan aneka makanan dan minuman di malam hari

*

Kenapa melakukan perjalanan ini?

Untuk hadir di pernikahan salah satu teman baik kami, itu sudah jelas. Tapi yang paling penting, karena kami dimungkinkan untuk melakukan perjalanan ini. Dengan menggunakan penerbangan Air Asia yang sangat murah meriah (kecuali dua penerbangan terakhir karena kami keburu kehabisan promo), kami telah mengunjungi tempat-tempat menakjubkan yang selama ini hanya kami dengar lewat cerita saja. Air Asia telah mengubah hidupku dengan penerbangan low cost-nya.

Kenapa tidak?

Dengan rute perjalanan sepanjang itu, total biaya yang kuhabiskan untuk transportasi pesawat tidak sampai 5 juta rupiah. Harga yang sangat sangat murah menurutku. Untuk mendapatkan ini semua, yang dibutuhkan hanyalah niat untuk mencari tiket promo jauh-jauh hari sebelum hari-H. Siapa paling update dengan promo dan penawaran Air Asia, dialah yang akan beruntung mendapatkan tiket murah. Karenanya, tidak ada salahnya berlangganan news letter mereka juga.

***

atampubolon

 

pesawat, antrian, dan bagasi

Minggu, 1 Juni 2014

***
Entah karena orang-orangnya yang kurang disiplin dan tak mau antri ataupun peraturannya yang kurang tegas, yang selalu kuhadapi adalah orang-orang yang berdesakan, berlomba masuk ke pesawat. Dan tak butuh waktu lama sejak pengumuman dikumandangkan sampai ‘kerusuhan’ itu terjadi.

Apa sih yang mereka kejar ?, pertanyaan itu cukup sering terngiang di benakku.

Aku pun sebenarnya tak jauh beda dengan mereka. Selalu mencari tempat duduk paling dekat dengan Pintu Gerbang keberangkatan. Alasanku? Agar dapat meletakkan bagasi2ku tepat berada di atas kepalaku.

Bila masih memungkinkan, sebisa mungkin aku tidak akan meletakkan barang bawaanku di bagasi pesawat. Malas menunggu lama di tempat pengambilan bagasi, itulah alasanku. Namun, dengan pengalaman hari ini, alasanku yang tadinya satu bertambah dua.

*

Beberapa orang temanku terbang dengan penerbangan jam 7.30 pagi dari Sorong. Mereka akan transit di Makassar hampir 6 jam sebelum akhirnya meneruskan penerbangan ke Jakarta sekitar pukul setengah 2 siang. Penerbangan yang sama yang juga akan aku naiki ke Jakarta, bedanya hanyalah di pesawatku dari Sorong yang baru berangkat sekitar jam setengah sebelas pagi.

Karena pesawat yang aku naiki dari Sorong ke Makassar adalah pesawat yang berasal dari Manokwari, maka kabin pesawat sudah cukup penuh (menurut penuturan penjaga loket di Sorong). Akibatnya, aku pun tidak diperkenankan membawa salah satu tasku ke dalam pesawat dan harus dimasukkan ke bagasi…

Ketika sudah di ruang tunggu bandara Makassar, aku pun sudah berkumpul lagi dengan teman2ku ketika salah seorang dari mereka mendapatkan kabar bahwa bagasi mereka telah sampai duluan di Jakarta. Ya, bagasinya diberangkatkan duluan dengan penerbangan sebelumnya sementara mereka masih menunggu pesawat yang tak kunjung berangkat di sini. Menurut penjelasan salah seorang perwakilan maskapai tersebut sih karena mereka tak ingin bagasi2 tersebut ditelantarkan lebih lama di Makassar sebab pesawat mereka baru nanti siangnya sekitar 6 jam lagi. Lalu, dengan mengirimkan bagasinya lebih dulu apakah justru tidak menelantarkan bagasi2 mereka di Jakarta? Sungguh sebuah penjelasan yang sangat tidak masuk akal.

Semoga bagasiku sampai bersamaan dengan sampainya aku di Jakarta, aku pun berharap dalam hatiku.

Singkat cerita, setelah pesawat yang di-delay hampir satu setengah jam, aku pun tiba di Jakarta dengan selamat. Begitu sampai di tempat pengambilan bagasi, aku menunggu beberapa lama sebelum akhirnya melihat tasku di kejauhan. Hanya saja, warnanya berubah – dari kering menjadi basah 😦

Kuraba bagian yang basah itu untuk memastikan kalau itu memang basah. Aku mengasumsikan itu mungkin karena hujan deras tadi pagi di Sorong saat aku hendak berangkat. Hanya saja, saat kuendus bau di tanganku yang memegang bagian tas yang basah tadi, tanganku berbau amis seperti air bekas ikan. Kubuka isi tas dan semua isinya basah. Untung saja semuanya tinnggal baja kotor peninggalan liburan kemarin.

Awalnya aku sempat melampiaskan kekesalanku kepada petugas yang memeriksa nomor bagasiku. Bahkan aku sempat bertanya kalau melapor dan komplain itu ke bagian mana. Hanya saja, setelah aku pikir2, gak ada gunanya juga. Malah aku jadi capek dan repot. Mungkin karena isi tasku emang sudah kain kotor kali ya sehingga tidak masalah kalaupun jadi basah. Kalau ini terjadi saat aku hendak memulai liburan, entahlah bagaimana reaksiku saat itu.

akhirnya punya alasan buat nyuci tas

akhirnya punya alasan buat nyuci tas

Kayaknya lain kali aku akan lebih ngotot agar tak perlu memasukkan tasku ke bagasi lagi (selama ukurannya masih masuk akal)…

***

atampubolon

 

 

Bukan supir (taksi) biasa

Senin, 26 Mei 2014

***

Saat itu waktu menunjukkan hampir setengah lima sore. Langit Kota Jakarta sedang gelap-gelapnya siap menumpahkan jutaan galon air ke jalanan ibukota yang mulai padat dengan kendaraan.

Aku baru saja keluar kosan, berjalan menuju jalan utama ibukota ketika hujan deras tiba-tiba saja turun. Rencana yang semula ingin naik bus harus dibatalkan dan secara refleks aku langsung memberhentikan Taksi Ekspress yang lewat di depanku.

“Bandara ya Pak, ” kataku kepada supir taksi itu sambil berusaha mengeringkan air hujan yang membasahi kepalaku.

Mobil sudah berjalan beberapa menit ketika dia akhirnya bertanya memastikan : ” Kita ke Bandara Soekarno-Hatta kan ya Pak?”

“Iya,” jawabku.

“Hanya memastikan saja Pak soalnya Halim juga kan sudah terbuka untuk umum…,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Bertanya tentang pool taksi berdasarkan kode mobil mereka adalah hal yang biasa kutanyakan untuk memulai pembicaraan dengan supir taksi.

” DT itu pool Depok ya? ”

” Depok-Tangerang Mas,” jawabnya. ” Tapi kita lagi dipinjamkan ke daerah ini (lupa nama daerahnya).”

Dan kita pun mulai cerita tentang banyak topik, mulai dari sistem kredit mobil di Ekspress (setelah 6 tahun mobil taksi ekspress akan menjadi hak milik supir),  jalanan yang macat akibat hujan, hingga pertanyaan supir taksi itu lebih suka macet atau jalanan lancar. Dan jawabannya, jalanan yang lancar, walaupun jarak antarnya hanya dekat.

” Bila macet gitu, palingan duit argonya pas-pasan buat menutupi biaya bensin saja,” katanya, “belum lagi kita jadi kecapekan dan ngantuk dibuatnya.”

” Ngomong2 masnya mau ke mana?”

” Papua Pak, Sorong.”

” Di mananya di Sorong? ”

Agak bingung sih ditanyain detail seperti itu.

” Saya soalnya sudah pernah ke Sorong, Manokwari, Jayapura, Biak, dan Wamena Mas. Dulu saya dipercaya bos menjadi koordinator pemasaran alat masak di daerah2 itu. Ya hitung-hitung sekalian kerja jalan2 gratislah Mas,” katanya.

Hebat juga bapak nih, pikirku.

” Yah mumpung dulu masih lajang mas,” katanya. Kalau sekarang mah kayaknya seribu dua ribu tuh sangat diperhitungkan.”

**

Bandara pun semakin dekat dan sebelum sampai si Bapak itu telah menyebutkan sederetan tempat2 di Indonesia : seluruh provinsi di Kalimantan, Aceh, Medan, dan beberapa provinsi lainnya di Sumatra, Ternate, dan Tidore, sebagai tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.

Salut Pak. Dirimu telah bertualang ke lebih banyak tempat di negara ini dibandingkan aku.

***

Solaria Terminal 1B sembari menunggu keberangkatan pesawat yang baru 4 jam lagi.

hanya badai…

berdasarkan kejadian sebenarnya…

**

Siang itu cuaca masih terang benderang saat sekelompok orang memutuskan untuk melanjutkan penyelaman mereka yang kedua. Dengan menaiki kapal yang sama, sebuah kapal kecil dengan perahu motor berkapasitas kira-kira 8 orang (tidak termasuk tabung dan peralatan menyelam), mereka pun menuju ke sebuah tempat penyelaman yang terkenal dengan bawah lautnya yang sangat luar biasa.

Tidak ada yang bisa benar-benar memprediksi alam. Cuaca yang tadinya cerah menyengat tiba-tiba berubah mendung dan sepertinya akan hujan. Bahkan mungkin lebih dari itu…

” Pak, itu apa ya?” seorang penyelam bertanya kepada kapten kapal sambil menunjuk gerombolan awan hitam pekat tepat di arah kemana kapal mereka sedang menuju saat ini.

“BADAI”, jawab sang kapten singkat, tanpa nada cemas..

Penyelam yang berjumlah lima orang di atas kapal itu pun mulai was-was. Dan memang benar. Tak lama kemudian kapal mereka pun berada di tengah laut yang sedang mengamuk disertai hujan dan angin kencang.

Salah seorang penyelam yang kebetulan berkewarganegaraan asing secara perlahan mulai menjulurkan tangannya mengambil snorkeling + mask dan segera memakainya. Sementara para penyelam Indonesia lainnya sepertinya hanya terkesima melihat kesigapan dia dan tidak terpikir untuk melakukan hal yang sama.

Tak lama berselang, di kejauhan mereka melihat sebuah kapal seperti sedang mencari keberadaan mereka. Ternyata itu adalah kapal bantuan yang dipanggil oleh kapten kapal. Namun, dengan kondisi di tengah badai seperti itu, jarak pandang pun sangat terbatas sehingga mereka terpaksa melambai-lambaikan fin mereka untuk menarik perhatian kapal tersebut.

Dengan kondisi kapal mereka yang kalah kuat terhadap badai, mereka pun terseret gelombang sehingga posisi mereka bergeser jauh. Alhasil, kapal yang tadi mencari mereka pun tidak berhasil menemukan mereka sehingga berputar arah dan tinggallah mereka sendiri, luntang lantung.

“Gob**k !! Orang sedang dalam musibah malah ditinggalin ! ,” si kapten kapal sepertinya sedang memarahin kapten kapal yang berbalik arah tadi…

**

Singkat cerita, mereka pun berhasil menepi ke sebuah perkampungan kecil dan menunggu badai reda di situ..

**

PERTANYAAN PENTING :

Jika kau merupakan salah satu penyelam yang ada di atas kapal itu, peralatan apakah yang akan kau ambil?

(Yang berada di atas kapal saat itu kurang lebih adalah tabung udara, BCD + regulator, snorkeling + mask, dan fin)

***

atampubolon

 

Yogyakarta_Jomblang-Boko-Prambanan-Merapi

Sabtu-Minggu, 10-11 Mei 2014

***

Tidak ada hari libur di Jumat maupun Seninnya, hanya akhir pekan biasa. Akhir pekan biasa yang kami buat menjadi luar biasa dengan bertualang di Yogyakarta…

**

Sekitar pukul 7 malam, kereta api ekonomi AC Bogowonto yang kami tumpangi pun perlahan meninggalkan Stasiun Pasar Senen Jakarta menuju Stasiun Tugu Yogyakarta…

Tak lama setelah kereta meninggalkan stasiun, seorang bapak di dekatku mulai mengeluarkan terpal dan menggelarnya di jalanan di tengah gerbong. Aku kiraian hanya dia. Saat kulihat ke ujung gerbong tiga tempatku berada, ternyata hampir semua orang melakukan hal yang sama, bahkan sepertinya di satu rangkaian kereta ini juga orang-orang melakukan hal yang sama.

Setelah mendengar cerita dari seorang mas-mas (aku perkirakan umurnya sekitar 30an) yang tepat duduk di depanku, ternyata itu adalah hal yang wajar di kereta malam seperti ini. Bahkan dia juga biasa melakukannya. Hanya saja, dia tidak tidur di lorong yang aku maksud tadi, melainkan tepat di bawah kursi tempat kami duduk saat ini, memanjang dari bawah kursi yang satu ke kursi yang lainnya..

Semakin malam, semakin banyak pula orang yang melakukan hal yang sama. Berusaha untuk tidur, beristirahat untuk mengumpulkan tenaga beraktivitas di Yogyakarta esok harinya.

di kereta api

suasana malam kereta ekonomi AC

**

– Sekitar pukul 4 subuh hari Sabtunya tiba di Yogyakarta (hampir 2 jam telat dari perkiraan waktu ketibaan di tiket)

– Beres2 sebentar lalu menuju parkiran untuk bertemu orang dari rental mobil Iwan (infonya dapat dicari dari Yogyes).

– Membayar duit sejumlah 550 ribu untuk rental mobil satu setengah hari. Harga yang dikenakan untuk 12 jam adalah 250 ribu dan untuk 24 jam sebesar 300 ribu (lepas kunci dengan jaminan 2 buah KTP).

– Jam 5an meninggalkan stasiun menuju Hotel Rene menjemput seorang teman lagi, sebut saja namanya Deri, yang sudah sampai sehari sebelumnya.

– Jam setengah 7 berangkat dari Hotel Rene : nyari sarapan dalam perjalanan menuju daerah Gunung Kidul.

*

Tujuan pertama kami adalah Wisata Gua Jomblang. Dengan minimnya informasi yang tersedia di internet mengenai jalan ke tempat ini, kami pun sempat agak terseok-seok. Rute ke sana dari Yogyakarta kira2 seperti ini:

– Ambil jalan raya yang menuju Wonosari.

– Setelah sampai Wonosari, cari jalan yang menuju ke Semanu. Tanya saja orang2 di Wonosari, mereka pasti tahu.

– Kira-kira sudah dekat Semanu, perhatikan Gardu Listrik PLN di sebelah kiri jalan (orang Wonosari menyebutnya dengan kantor PLN sehingga sempat membuat kami kesasar). Setelah lewat gardu listrik, nanti akan ada jembatan besar 2 jalur.

– Putar arah setelah lewat jembatan ini lalu belok kiri ke sebuah jalan yang tidak terlalu lebar (hanya ada satu jalan persis setelah putar arah melewati jembatan).

– Lurus terus sampai nanti ketemu pertigaan dan di simpang pertigaan itu ada warung. Lalu belok kanan.

– Lurus terus sampai nanti di sebelah kiri jalan (kira2 gang keempat) ada tulisan Jalan Jomblang dan beloklah ke jalan itu. Jalannya terbuat dari beton dengan bagian tengahnya batu2an.

– Lurus lagi sampai di penghujung jalan dan akan ada papan penunjuk kecil bertuliskan Jomblang yang menyuruh belok kanan.

– Setelah itu ikutilah jalan yang ada. Jalannya akan sangat berbatu-batu dan melewati ladang-ladang penduduk.

– Di penghujung jalan, hanya akan ada satu penginapan yakni penginapan si empunya tur buat turun ke Gua Jomblang ini.

– Sebagai acuan, koordinat penginapan di Jomblang tersebut yang tercatat di hpku adalah : 8 derajat 01′ 40″ S & 110 derajat 38′ 17″ E

rute jalan ke Gua Jomblang

gambaran jalan ke Gua Jomblang

Untuk turun dan masuk ke Gua Jomblang menyaksikan permainan cahaya yang disebut orang-orang dengan ‘cahaya surga’ ini, tiap orang dikenakan biaya 450 ribu rupiah. Dengan biaya itu, kita akan mendapatkan suguhan teh (sebelum turun), sepatu boat (bahkan ukuran kakiku, 44, pun ada), helm, biaya turun dan naik gua, serta makan siang. Wajar sih, terutama bila dilihat dari pengalaman yang akan didapatkan dan usaha yang harus mereka keluarkan untuk menarikmu keluar dari mulut gua.

foto pakai 'tongsis' dulu sebelum turun

foto pakai ‘tongsis’ dulu sebelum turun

Untuk turun ke dekat mulut Gua Jomblang satu-satunya cara adalah dengan menggunakan tali. Jarak tempuh ke bawah adalah sekitar 60 meter dan di dasar itu masih berupa hutan yang disebut orang-orang dengan nama hutan purba. Lalu, dari mulut gua, kita masih harus berjalan sekitar 250 meteran lagi dengan diterangi lampu yang telah dipasang oleh mereka hingga akhirnya sampai di ujung satunya dan disambut oleh langit2 gua yang terbuka dan cahaya berebutan masuk menciptakan pemandangan yang sangat indah.

turun dengan menggunakan tali temali

turun dengan menggunakan tali temali

'cahaya surga' dan petualang

‘cahaya surga’ dan petualang

Sempat terlintas pertanyaan “Mengapa tidak pakai mesin untuk menarik orang-orang naik ke atas?” ke tour guide kami, dan dia menjawab soalnya orang-orang yang menarik kita2 naik nantinya akan mendapatkan bayaran. Oke, masuk akal. Sepertinya inilah salah satu alasan mengapa tarif yang dikenakan mencapai 450 ribu rupiah per orang.

Oh ya, urutan kalian turun ke dalam gua tidak menjadi patokan urutan kalian ditarik naik ke atas. Urutan ditarik naik atas akan dimulai dari orang yang paling berat dulu hingga akhirnya yang paling ringan. Tujuannya? Cobalah pikirkan sendiri.

orang-orang perkasa yang menarik kami naik setinggi 60m

orang-orang perkasa yang menarik kami naik setinggi 60 m

Oh ya, di tempat itu juga tersedia kamar mandi jika kalian ingin membersihkan diri. Atau, jika ingin lanjut main2 air, terdapat Kali Suci (mirip2 wisata Gua Pindul) yang tidak jauh dari situ.

**
Perjalanan kami selanjutnya pun diteruskan ke Candi Ratu Boko (dekat2 Prambanan) melihat matahari terbenam.

matahari terbenam di Candi Ratu Boko

matahari terbenam di Candi Ratu Boko

Oh ya, jika kebetulan kalian membawa gopro dan tongsisnya, kalian boleh coba naik ke semacam punden berundak di daerah tempat banyak orang2 ngumpul dan mengambil foto. Lebih bagusnya lagi, jika latar belakang kalian adalah matahari tenggelam. Sayangnya hal ini baru kami sadari saat telah meninggalkan tempat itu.

gopro dan tongsis _ salah latar..

gopro dan tongsis _ salah latar sih tapi..

**

Matahari telah tenggelam dan kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan untuk menonton Sendra Tari Ramayana.

Ada empat kelas kategori tiket (tiga sih untuk umum soalnya yang satu lagi untuk pelajar dan harus rombongan) yang dijual dan kami memilih yang paling murah seharga 100 ribu rupiah per orangnya. Biaya tambahan lain yang akan dikenakan adalah jika kalian ingin mengambil gambar pertunjukan itu. Untuk satu kameranya dikenakan biaya sebesar 5 ribu rupiah, yaaa, walaupun tidak pernah diperiksa juga sih kupon kamera ini.

Melihat tingginya animo turis menonton pertunjukan ini, memiliki tiket menonton tidak menjamin kalian akan mendapatkan tempat duduk. Entah karena saat kita ke sana penonton lagi banyak2nya atau tidak, tapi yang pasti banyak orang tidak dapat tempat duduk (bahkan aku hampir saja tidak dapat) sehingga mereka terpaksa duduk di mana pun yang mereka bisa duduk (baca: tangga antar lantai tempat duduk)..

Namun, secara keseluruhan, jika kalian berkunjung ke daerah Prambanan, sempatkanlah untuk menonton pertunjukan ini..

Sendra Tari Ramayana @Prambanan

Sendra Tari Ramayana @Prambanan

Sendra Tari Ramayana (2) @Prambanan

Sendra Tari Ramayana (2) @Prambanan

*

Kami hanya menonton sesi pertama dari pertunjukan tersebut sebab beberapa dari kami sepertinya sudah mengantuk dan kami belum mendapatkan hotel tempat menginap malam itu. Akhirnya, setelah telepon sana sini, kami berhasil mendapatkan satu kamar (Family Room) di hotel tempat semalam teman kami Deri menginap. Harga yang dikenakan untuk malam minggu itu adalah sebesar 400 ribu.

**

Akibat kelelahan kurang tidur di kereta malam sebelumnya ditambah lagi capek dengan aktivitas seharian kemarin, saat bangun tidur pagi itu kami malas-malasan. Karenanya, kami baru meninggalkan hotel sekitar jam setengah 8 pagian menuju daerah Gunung Merapi untuk ‘jeep touring’.

Jalan menuju Gunung Merapi tempat banyaknya tour agent menyediakan ‘jeep tour’ Merapi cukup mudah dicari. Sebagai acuan, ini adalah koordinat tour Merapi yang kami ambil : 7 derajat 35′ 26″ S & 110 derajat 26′ 33″ E.

Dikarenakan kami ada berenam, maka lima orang dari kami naik jeep dan satu orang lagi naik motor. Dan bila kau bisa bawa motor, pilihlah motor sebab pengalamannya benar-benar luar biasa.

tugu di museum letusan Gunung Merapi

tugu di museum letusan Gunung Merapi

foto 'prewed' di jeep :)

foto ‘prewed’ di jeep 🙂

narsis sebelum pulang di jembatan kuning

narsis sebelum pulang di jembatan kuning

**

Tidak lengkap rasanya ke Yogyakarta bila tidak membawa oleh2 Bakpia. Dan karenanya kami pun mampir sebentar ke Mirota Batik dan membeli Bakpia Raminten.

patung selamat datang di Mirota Batik

patung selamat datang di Mirota Batik

**

untuk lebih lengkapnya, silahkan cek video di bawah ini 🙂

***

atampubolon