Watergius's Journal

The world as I see it

Category Archives: surgery and post-it

akhirnya 6 minggu juga

Rabu, 31 Juli 2013

***

Hari ini tepat 6 minggu sejak aku menjalani operasi, 6 minggu sejak aku mulai menggunakan tongkat dan penyangga kaki, dan 6 minggu sejak aku tidak dapat berjalan dengan bebas di keramaian jalanan ibukota..

**

Taksi yang kutumpangi mulai melambat saat ingin masuk ke daerah Gedung Veteran. Dengan banyaknya kendaraan yang melaju di depan taksi yang kutumpangi, menunggu giliran untuk masuk ke area gedung untuk kemudian mengambil jalan potong melalui parkiran menuju ke rumah sakit Siloam sepertinya akan memakan waktu cukup lama. Bosan memandang layar hp yang sedari tadi kupegang, pandanganku pun kulayangkan keluar jendela, ke arah jembatan penyebrangan yang melintang tinggi sepanjang Plaza Semanggi : “Gosh, aku iri bangat pingin jalan kayak mereka“, kataku saat melihat para pejalan kaki yang melintas lalu lalang. Gak pernah kepikiran olehku kalau suatu hari nanti hal yang paling kuinginkan adalah bisa berjalan bebas, tanpa rasa sakit, tanpa tongkat, dan tanpa penyangga kaki. Tapi ternyata, sore ini hal itu baru saja terjadi… Aneh ya..

*

Perkembangannya bagus“, kata dokter Yudistira kepadaku. “Tinggal nunggu jaringan ikatnya saja menguat“, lanjutnya.

Seiringan dengan kabar baik ini, aku pun diperbolehkan untuk melepas penyangga kakiku bila beraktivitas di dalam ruangan. Selain karena sudah sangat-sangat bosan menggunakannya (bayangin aja selama 6 minggu dipakai terus, bahkan saat tidur), mencoba jalan tanpa itu juga akan membatu otot2 di pahaku pulih kembali lebih cepat.

Tapi kalau tidur tetap dipakai ya bos“, dokter Yudis tiba-tiba menambahkan. “Soalnya kita gak tahu posisi kaki kita kemana aja saat tidur, takutnya ntar putus lagi graft-nya“.

Oke dok“, kataku hampir tak rela. Paling gak nyaman itu¬†sebenarnya memakainya saat tidur. Tapi, daripada akhirnya gak jadi sembuh, apa artinyalah memakai penyangga itu beberapa minggu lagi.. ūüė¶

*

Tadi apa kata dokternya? “, Mbak Raida dari bagian fisioterapi bertanya.

Penyangga kaki tidak di-lock lagi di 90 derajat, tapi sudah di 120 derajat. Yang berarti aku dah boleh membengkokkan kaki kananku sampai 120 derajat. Terus, penyangganya udah boleh dilepas juga kalau gak ngelakuin aktivitas yang berat-berat,” kataku.

Oh, sip2.. “, katanya sambil mengangguk, sambil menuntunku menjalani serangkaian kegiatan fisioterapi agar penyembuhan lutut (terutama otot kaki kananku) lebih cepat.

photo(3)

temanku selama 6 minggu ini

**

INTERMEZZO

*

6 minggu penyembuhan pasca operasi

Minggu I : Kaki kanan masih dibalut perban dan penyangga kaki di-lock di posisi nol derajat. Jalan harus pakai 2 tongkat dan kaki kanan tidak boleh ditekan.

Minggu II : Perban dibuka dan penyangga kaki sudah di-lock ke 90 derajat. Kaki kanan mulai dilatih untuk bengkok (sakit bangat chuy awalnya..) dan sudah boleh menapak pelan. Hal yang paling mencolok adalah ukuran kaki kanan yang membesar, hampir seperti orang yang kena penyakit kaki gajah. Seram euy ngelihatnya..

Minggu III : Kaki sudah mulai bisa membengkok walaupun masih agak sakit. Sementara itu, ukuran kaki masih belum terlalu banyak berubah sebab belum dipakai untuk berpijak.

Minggu IV : Ukuran kaki mulai normal walaupun masih kelihatan jelas pembengkakan di sekitar lutut. Jalan sudah bisa mulai menapak dengan dua kaki dan bekas luka operasi sudah hampir kering sepenuhnya. Dan, di minggu ini kita sudah disarankan untuk memulai fisioterapi.

Minggu V : Bekas luka operasi sudah kering benar sehingga mandi normal (dengan shower) pun sudah boleh lagi.

Minggu VI : Kaki sudah mulai kuat untuk berjalan sehingga sudah dapat menggunakan satu tongkat saja.                     FYI : Bila yang sakit adalah kaki kanan, maka tongkat dipakainya di sebelah kiri.. Kenapa? Cobalah dicari tahu sendiri..

Minggu VII.….. : Menunggu hingga proses penyembuhan total di minggu ke-24…

photo(4)

setelah 6 minggu

***
atampubolon

ehm, berapa ya ongkos taksi ke Bandung?

Rabu, 31 Juli 2013

***

Besok tepat 1,5 bulan sejak aku operasi lutut. Dan sepanjang 6 minggu ini aku selalu menggunakan taksi untuk berpindah dari kosan ke kantor, dari kantor ke kosan, dan kadang-kadang ke rumah sakit. Jadi, ya.. sedikit banyak adalah pengalaman yang dapat dibagikan…

*

Paling asyik itu kalau si pengemudi membuka percakapan dengan menanyakan “Kenapa kakinya Mas?”. “Cedera karena olahraga Mas. Jadi ada ligamennya yang putus sehingga harus dioperasi-diganti dengan yang baru“, selalu jawabku. Dan jawaban ini sejauh ini mengarah ke dua arah, antara si pengemudi bercerita tentang pengalamannya juga menjalani operasi atau dia akan bercerita tentang tukang urut/dukun patah tulang/orang pintar lainnya yang ceritanya dia pernah dengar. Untuk kondisi seperti ini, supir taksi tipe yang pertama menjadi teman ngobrol yang paling asyik di tengah macatnya kota Jakarta. Bagaimana tidak, bila kita ternyata sama-sama menjalani prosedur operasi yang serupa – sama prosedur pembiusannya, sama letak ketakutannya dan sama pula letak kekuatirannya.

*

Sopir taksi juga bicara masalah politik dan perbankan. Dalam suatu perjalanan menuju daerah Rasuna Said dari daerah Sudirman, aku pun terlibat perbincangan dengan sopir taksi yang kutumpangi. Awalnya sih dimulai dari topik tentang macatnya Jakarta. Lalu dia melanjutkan ke topik kenapa sekarang motor2 keluaran baru jarang kelihatan di Jakarta? Hm, aku hanya bisa meocoba berpikir, namun tak ada satu jawaban pun yang terlontar. “Karena di zamannya Jokowi sekarang kredit motor tidak lagi semudah dulu Mas“, sang supir pun akhirnya lanjut berbicara. “Tidak lagi semudah dulu yang cukup hanya dengan DP beberapa ratus ribu bisa langsung bawa pulang motornya. Kalau sekarang, dealer yang ngasih kayak gituan sih bakalan ditangkap Mas“, kata dia.. dan aku pun mengangguk-anggukkan kepala tanda paham.

Lalu kita diam beberapa saat, hingga akhirnya memasuki daerah Rasuna Said. Entah apa awal mulanya, tapi pembicaraan kami akhirnya masuk ke topik “orang kaya jadi makin kaya, dan yang miskin tetap miskin”. “Gimana enggak Mas“, kata dia, “bayangin aja kalau dia punya duit katakanlah 1M. TInggal didepositoin aja, dia sudah bisa hidup dari bunganya Mas. Belum lagi kalau duitnya dimainin saham. Makin banyak aja dong duitnya.” Dan aku pun tidak ada alasan untuk tidak mengangguk setuju dengan apa yang telah dikatakannya.

*
Tidak narik lagi Pak“, jawab supir itu ke petugas keamanan rumah sakit saat ditanya apa masih narik atau tidak. Setelah sempat lewat dari lobi rumah sakit tempat aku menunggu taksi, taksi yang tadi mengatakan tidak akan nyari penumpang itu pun memundurkan kendaraannya dan berubah pikiran.

Tadi sebenarnya saya mau pulang ke pool Pak makanya saya tanya apakah searah dengan saya atau tidak, tapi ternyata tidak. Itulah sebabnya tadi saya sempat tidak mau. Tapi, setelah lihat penumpangnya orang sakit, saya ngerasa kasihan juga Pak“, supir itu pun menjelaskan keadaannya.

Makasih ya Mas“, kataku kepadanya. “Ngomong-ngomong, emang poolnya di mana Mas?” tanyaku lagi.

Lihat rangkaian huruf dan angka di kaca mobil dekat pintu Pak.. Nah, huruf awal itu menandakan kode poolnya Mas. Kalau saya “TL” yang berarti daerah Pondok Cabe“, lanjut supir itu. “Oohhh“, pun terucap dari mulutku sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti akan informasi baru yang baru kudapat itu. Ternyata kode huruf dan angka itu tidak sekadar ditulis asal saja..

*

Kita lewat kiri Bundaran Semanggi aja Pak, lebih dekat“, kataku. “Tadi saya habis ngantar sewa lewat situ Mas, macat bangat“, supir taksi yang kutumpangi pun balas menjawab sambil mengarahkan taksinya ke arah berlawanan.

Biasanya habis buka gini tidak macat Pak“, kataku dengan yakin saking seringya pulang di jam yang sama lewat jalan yang sama pula.

Dan supir taksi itu pun mengikuti kemauanku walaupun aku tahu dia tidak setuju (raut wajahnya langsung berubah dan dia muram sepanjang jalan). Sempat was-was juga sih jangan2 emang macat. Bisa-bisa diceramahin sama dia dong ntar aku. Tapi ternyata, akulah yang benar. Jalanan emang benar-benar sepi dan tak sampai 15 menit aku telah sampai di kosan. Sambil menyerahkan duit dan mengucapkan terima kasih aku pun keluar dari taksi itu — merasa senang karena aku telah benar dan si bapak itu kurang tepat perkiraannya.. hehe

*

Mau tahu berapa setoran minimal taksi Blue**rd.. Jawabannya adalah 400 ribu. Lalu, apa yang akan terjadi bila tidak sampai 400 ribu? Yaa mereka tetap menyetor berapa dapat hari itu, hanya saja absensi mereka akan berkurang, dalam artian, hari dimana mereka tidak mendapatkan setoran minimal 400 ribu, hari itu mereka seolah-olah tidak bekerja. Jadi, tiap kali mereka memenuhi syarat setoran minimal 400 ribu ini, hitungan hari mereka berkerja akan bertambah satu dan hitungan hari inilah nantinya yang akan mempengaruhi besarnya bonus yang akan mereka terima..

Lalu, berbicara soal persenan. Dari total setoran sehari yang mereka kasih, mereka hanya mendapatkan 10%-nya. Jadi, katakanlah supir A hari ini berhasil memperoleh duit 400 ribu. Hanya 40 ribu dari 400 ribu itulah yang akan dia bawa pulang ke rumah. Sisanya? Aku tidak akan bertanya apa yang terjadi dengan sisa duit itu..

*

Taksi Pu**ka dan Blue**rd berada di bawah payung perusahaan yang sama. Hanya saja, logo/simbol yang mereka pasang di atap mobil mereka berbeda. Yang satu berbentuk burung dan yang satu lagi berbentuk telur (aku juga baru tahu tentang hal ini).

Nah, katakanlah taksi yang berlogo “telur” ini membawa penumpang sampai kebablasan ke Bandung dari Jakarta, maka dia akan mudah dikenali oleh polisi Bandung sebab grup taksi Blue**rd ini di Bandung adalah taksi dengan logo “burung”. Demikian juga kalau taksi berlogo “burung” dibawa ke daerah dengan logo “telur”, maka akan menjadi santapan polisi pulalah nantinya taksi ini di daerah itu.

Itulah sebabnya, kalau penumpangnya sudah tahu, dia akan menggunakan taksi dengan logo “burung” untuk mengantarkannya sampai ke Bandung, yang ngomong-ngomong cukup biasa dilakukan menurut penuturan salah seorang supir taksi yang taksinya kunaiki hari ini.

Dan aku pun iseng menanyakan biayanya kira-kira berapaan…

Ehm, biayanya adalah 1,2 juta rupiah (tarif lama) untuk penumpang yang baik hati dan pengertian sebab biaya argonya sendiri sebenarnya hanyalah 800 ribu. Kenapa baik hati? Karena biaya 1,2 itu sudah termasuk tol ntar balik ke Jakarta lagi serta biaya jaga2 kalau misalnya dihentikan oleh polisi..

***

atampubolon

 

 

 

 

Operasi ACL – minggu I

Rabu, 19 Juni 2013

***

Pagi ini aku masih ngantor. Selain karena aku baru disuruh masuk ke rumah sakit jam 2-an, aku mikir ngapain juga lama-lama di rumah sakit, pasti bosan.

Akhirnya, setelah menyelesaikan setengah pekerjaan di kantor dan sudah sulit untuk fokus untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada, aku pun pamit dari bos aku dan beberapa teman kantor.

*

Berhubung aku tidak akan bisa lagi berjalan kaki saat akan pulang kantor untuk beberapa minggu (atau mungkin bulan) ke depan, siang itu aku pun memutuskan untuk jalan : menyusuri Jalan Sudirman, lewat di bawah kolong jembatan Semanggi, hingga akhirnya menyebrang dari jembatan penyebrangan Bendungan Hilir.

**

“Saya ingin lapor untuk rawat inap”, kataku kepada petugas yang berada di lobby rumah sakit Siloam. Setelah mengurus¬† dan menandatangani beberapa dokumen, aku pun diantar ke lantai 31 untuk memulai proses persiapan operasi keesokan harinya.

*

Sebelum dilakukan operasi, perlu dipastikan kalau kita dalam kondisi fit. Untuk itu, dilakukanlah serangkaian tes : EKG, pemeriksaan darah, serta rontgen.

ruangan rontgen di RS Siloam

ruangan rontgen di RS Siloam

Kamis, 20 Juni 2013

***

Inilah harinya, kataku dalam hati, beberapa menit setelah terbangun dari tidur. Kemudian, tak lama setelah itu, beberapa orang suster pun masuk ke ruangan dan memintaku mandi dulu dengan cairan antiseptik khusus (istilah rumah sakitnya microsil) agar setelahnya mereka dapat memasang infus di tanganku sebagai persiapan operasi.

microsil

microsil

*

dipasang infus - persiapan operasi

dipasang infus – persiapan operasi

Dan pukul 14.00 WIB operasi pun dimulai…

**

Begitu memasuki ruangan operasi, dinginnya ruangan dan bau obat pun berbaur menjadi satu. Setelah dibaringkan di meja operasi dan lampu-lampu terang operasi mulai dinyalakan, sedikit perasaan panik mulai menjalar ke dalam pikiranku. Lalu, tak lama kemudian, dokter anestesi pun masuk duluan. Dokter tersebut lalu menyuruhku untuk duduk dan membungkukkan badanku sambil memeluk bantal agar dia dapat menemukan bagian tertentu dari tulang belakangku tempat akan disuntikkannya obat bius tersebut. Yaa, mirip-mirip kayak wanita yang akan operasi caesar-lah kalau kata dokternya.

Awalnya punggungku disemprot dengan cairan antiseptik dingin. Lalu, si dokter tersebut menyuruhku menarik nafas dalam-dalam sambil dia mulai memasukkan jarum suntik tipis, tapi panjang, tersebut menembus kulit punggungku. Setelah sampai di posisi yang sesuai, dia pun memberitahuku kalau obatnya akan segera disuntikkan dan memintaku untuk menahan rasa sakitnya. Perlahan-lahan terasa sesuatu memasuki tubuhku, bercampur antara rasa sakit dan rasa dingin sebab sejak disuruh membungkuk tadi hingga saat ini aku tidak mengenakan sehelai baju pun di ruangan sedingin ini.

Tak lama kemudian seluruh obatnya telah disuntikkan dan aku pun dibaringkan dan dipasangkan selimut agar tidak kedinginan. Lalu, tak lama kemudian, kakiku mulai terasa kesemutan yang dimulai dari ujung jari hingga akhirnya menjalar ke seluruh tubuh bagian bawah. Dan, tak lama setelah itu, hal terakhir yang aku ingat adalah seorang doker memasukkan obat tidur ke saluran infusku sehingga saat aku bangun, tahu-tahu mereka sudah menjahit bekas operasiku dan mulai memasangkan perban dan pelindung lutut.

*

Tiga jam operasi dan hampir sejam pemulihan (di ruang operasi juga) dari yang semula aku pikir hanya 1,5 sampai 2 jam saja…

*

malam setelah selesai operasi

malam setelah selesai operasi

*

Sabtu, 21 Juni 2013

***

Setelah seharian beristirahat hari kemarin, hari ini aku pun memulai sesi fisioterapi-ku..

lagi nunggu sesi fisioterapi..

lagi nunggu sesi fisioterapi..

Minggu, 22 Juni 2013

***

Setelah 4 hari berada di rumah sakit, akhirnya aku pun diperbolehkan pulang. Bosan juga euy di rumah sakit… Dengan diguntingnya penanda pasien di pergelangan tangan kananku, berakhirlah statusku sebagai pasien rawat inap RS Siloam Semanggi..

akhirnya bisa pulang

akhirnya bisa pulang

Selasa, 25 Juni 2013

***

Hari ini adalah hari pertama kerja setelah kemarin beristirahat seharian di kosan. Benar-benar penuh perjuangan euy. Keringat yang bercucuran dan badan yang pegal pun menjadi santapan hari ini..

kertas di mulut dan tongkat di kedua tangan

kertas di mulut dan tongkat di kedua tangan

***

atampubolon