Watergius's Journal

The world as I see it

Tag Archives: deutschland

Kerja, Kuliah, dan Tepian Black Forest

Kamis, 23 Agustus 2018

***

Danau Gifiz di Offenburg

Perjalanan menemukan ketertarikan studi baru

Setelah selesai sarjana aku bekerja selama tiga setengah tahun di perusahaan tambang multinasional. Aku diterima di program Management Trainee-nya sehingga di tahun pertama aku dan teman-teman seangkatan berkesempatan untuk belajar di berbagai departemen di perusahaan. Bahkan selesai program trainee, beberapa dari kita cukup beruntung untuk ditempatkan di departemen bernama Indonesian Growth Project(IGP) yang memiliki tanggung jawab meningkatkan kapasitas produksi pabrik pengolahan di Sulawesi Selatan.

Tahun pertama di IGP atasanku bernama Kevin, seorang warga negara Kanada yang telah tinggal hampir sepulah tahun di Indonesia. Orangnya teliti dan sabar dalam menjelaskan. Penugasan pertama dari dia adalah menghitung konsumsi listrik di salah satu gedung di pabrik. Dengan penugasan ini aku pun akhirnya mengunjungi Sulawesi Selatan dan bahkan diminta untuk tinggal selama beberapa bulan. Selain untuk membantu mencari data demi keperluan IGP, juga agar aku mengenal pabrik dan mulai membangun kontak dengan orang-orang yang bekerja di situ.

Dua tahun berlalu. Aku bekerja sebulan di Jakarta dan dua bulan di Sulawesi, seperti sebuah siklus. Aku tidak keberatan bekerja di lapangan, bahkan aku menikmatinya. Hanya saja dari penugasan selama dua tahun ini aku mengenal lebih jauh tentang diriku, tentang di mana aku cocoknya bekerja. Aku merasa bekerja di pabrik pengolahan hasil tambang bukanlah buatku.

Memasuki tahun ketiga Kevin pensiun dan balik ke Kanada. Aku pun mendapatkan bos baru, Juan dari Chile.

What can I do for you my young padawan?”, begitu selalu dia menyapaku tiap kali aku mengetuk pintu kantornya. Selain pekerjaan keteknikan, Juan memberikanku tugas dan tanggung jawab terkait manajerial. Aku diminta bekerja sama dengan perusahaan konsultan teknik untuk menyusul jadwal pekerjaan di pabrik, menentukan paket-paket pekerjaan yang harus mereka selesaikan selama periode kontrak, dan mengevaluasi seberapa jauh mereka telah menyelesaikan paket-paket pekerjaan tersebut, untuk tahu, apakah mereka berhak mendapatkan bayaran yang telah disepakati atau belum. Dengan penugasan ini aku jadi belajar cara membuat timeline sebuah proyek, menyusun metode evaluasipencapaian target pekerjaan, membangun sistem pembukuan untuk pembayaran upah, dan belajar banyak tentang diplomasi. Dari semua itu yang terpenting adalah aku menjadi tahu, kalau aku memiliki ketertarikan dengan bidang manajemen.

Mencari Jerman

Akhir Juli 2014 aku menemukan informasi akan sebuah program bernama “Make It in Germany” dari giz. Tertulis di situ bahwa Jerman kekurangan engineerdan membutuhkan tenaga-tenaga ahli dari berbagai negara, salah satunya dari Indonesia. Aku mendaftar, namun gagal di tahap wawancara. Kata mereka, tenaga ahli di bidang pertambangan tidak dibutuhkan lagi di Jerman.

Program “Make It in Germany” yang ditawarkan saat itu adalah program beasiswa untuk belajar bahasa Jerman sampai level B2 di Goethe Institut. Setelah lulus ujian level itu dan ketika ada kebutuhan dari Jerman, maka peserta yang lolos seleksi akan mendapatkan prioritas sebagai kanditat untuk posisi tersebut.

Saat itu aku sudah sadar bahwa masa depanku tidak lagi di perusahaan tambang. Terinspirasi dari kegiatan bakti sosial yang pernah kulakukan saat sarjana dan ditambah latar belakang pendidikanku di teknik elektro, aku pun memutuskan ingin bekerja di sektor energi, khususnya yang berhubungan dengan energi terbarukan. Hanya saja dengan berbekal pengalaman yang kumiliki saat itu, hal ini tidak akan mudah. Aku harus kuliah lagi.

Master“ dan “Energy and Management“ adalah kata-kata kunci yang kumasukkan di mesin pencari google. Dari sekian banyak hasil pencarian, ada menemukan tiga negara yang menawarkan jurusan di bidang Energy and Management, yakni Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Amerika Serikat dan Inggris sebernarnya pilihan yang lebih mudah sebab aku menguasai bahasanya. Hanya saja, biaya kuliahnya sangat mahal. Di masa itu aku memang tidak punya rencana untuk balik ke Indonesia setelah S2 sehingga tidak berniat untuk melamar beasiswa LPDP. Karenanya, pilihanku pun jatuh ke negara Jerman yang saat itu uang kuliahnya masih gratis.Energy Conversion and Management(ECM) adalah program studi di Offenburg University of Applied Science(Hochschule Offenburg) yang menjadi pilihanku. Walaupun programnya adalah program internasional, di semester tiga ada kuliah dalam bahasa Jerman sehingga sertifikat bahasa Jerman level A2 merupakan salah satu syarat pendaftarannya.

Aku cukup beruntung. Jadwal pekerjaanku di tahun ketiga mayoritas di Jakarta sehingga aku pun memutuskan untuk les bahasa Jerman di Goethe. Dengan sisa waktu delapan bulan kurang hingga batas akhir pendaftaran, aku mengambil kelas intensif (tiga kali seminggu).

Offenburg University of Applied Science

Memasuki Black Forest dan mendalami manajemen energi

Offenburg adalah sebuah kota kecil di barat daya Jerman di tepian Schwarzwald (Black Forest), yang terkenal tidak hanya karena alamnya yang indah, namun juga karena kue “Black Forest” asalnya dari daerah ini. Di Offenburg hanya terdapat sebuah universitas, Hochschule Offenburg, dengan salah satu program studinya, ECM, yang menawarkan modul pembelajaran yang menarik. Pada semester pertama dan ketiga kami kuliah di kampus, sementara di semester kedua dan keempat kami harus magang (internship) dan mengerjakan Tesis. Dengan besarnya peluang melakukan magang dan menulis tesis di perusahaan, ECM memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i yang baru saja lulus sarjana untuk mendapatkan gelar master sekaligus pengalaman kerja, setidaknya satu tahun.

ECM menawarkan mata kuliah yang bervariasi, mulai dari bidang keteknikan hingga manajemen energi. Ekonomi Energi adalah salah satu mata kuliah di semester pertama yang telah memperkenalkan konsep energi sebagai sebuah komoditas kepadaku. Berbeda dengan di Indonesia, di Jerman (bahkan di beberapa negara Eropa) listrik diperjualbelikan di sebuah bursa, layaknya jual beli saham di Bursa Efek Indonesia. Lalu di semester ketiga kami mendapatkan mata kuliah tambahannya, Operation Research in Energy Economics, yang menitikberatkan kepada metode untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya. Konsep listrik sebagai sebuah komoditas yang keuntungan penjualannya dapat dimaksimalkan dan biaya produksinya dapat diminimalkan benar-benar telah mencuri perhatianku. Aku pun berkeinginan untuk mendalaminya  sehingga aku memilih tema ini menjadi topik tesisku.

Demonstration of economical potential from Virtual Power Plant of Mini and Micro Combine Heat and Power (CHP) Plantsmerupakan judul tesisku. Sebagai informasi, CHP adalah mesin yang membangkitan tenaga listrik, layaknya genset, dan menghasilkan panas pada saat yang bersamaan. Panas ini kemudian digunakan untuk menghangatkan air yang akan dialirkan melalui pipa-pipa untuk menghangatkan rumah ataupun ruangan. Karena kemampuannya untuk menghasilkan energi listrik dan panas (thermal) pada saat yang bersamaan, CHP dikategorikan sebagai mesin yang mampu memaksimalkan utilisasi energi primer (baik gas ataupun bahan bakar minyak).

Dalam tesis ini aku mengembangkan sebuah metode optimisasi menggunakan Mixed-integer Linear Programming (MILP) untuk mengontrol suplai panas menggunakan CHP, boiler,dan thermal storage. Metode yang kutuliskan dalam algoritma ini akan mengatur produksi energi termal dan juga energi listrik, sehingga diperoleh laba yang maksimum berdasarkan harga jual beli listrik untuk tiap lima belas menit. Model ini kemudian aku aplikasikan pada beberapa utilitas yang memiliki CHP dan yang tergabung dalam proyek micro VKK. Hasilnya kemudian dianalisis berdasarkan objektif yang telah ditentukan sebelumnya, apakah sudah optimal atau belum.

*

Itulah sedikit kisah tentang kuliah lagi setelah bekerja.

***

atampubolon

Advertisements

Offenburg

Offenburg adalah sebuah kota kecil di bagian barat daya Jerman di provinsi Baden Württemberg. Layaknya kota2 di Jerman, Offenburg memiliki Hauptstraße (Jalan utama) yang di sepanjangnya terdapat toko2, bank2, dan restoran cepat saji. Jalan utama ini dimulai dari depan kantor polisi di ujung yang satunya dan berakhir di terminal bus/ stasiun kereta di ujung lainnya. Tidak butuh lama untuk menyusuri jalan ini. Seperti kata Umar, teman pertama yang kutemui di kota ini, “cuma butuh 15 menit kok gus untuk melihat-lihat kota Offenburg.”

Banyak yang bertanya kenapa aku ke kota kecil Offenburg, tepatnya kenapa aku memilih melanjutkan kuliah S2 di Hochschule Offenburg (HSO) atau University of Applied Sciences Offenburg. “Offenburg kan kecil dan tidak banyak yang mau dilihat di kota ini”, begitu umumnya kata orang2 yang tinggal di Offenburg.

Walaupun kota ini kecil dengan penduduk kurang lebih 60.000 orang, Offenburg cukup mudah dijangkau. Kereta cepat Jerman yakni ICE, berhenti di sini, yang menjadikan waktu tempuh bandara Frankfurt – Offenburg hanya sekitar 1,5 jam. Dengan menaiki kereta yang sama, sejam berikutnya ke arah Selatan kita juga bisa tiba di kota Basel, Swiss. Sementara itu, ke arah barat Offenburg, dengan menaiki kereta lokal selama 30 menit kita akan sampai ke kota Strasbourg, Prancis. Sarapan Croissant di Prancis, makan siang Maultasche dengan hidangan pencuci mulut Schwarzwälder Kirschtorte (kue Black Forest) di Jerman, dan makan malam Zwiebelkuchen di Swiss tidaklah mustahil buat seseorang yang tinggal di Offenburg.

Energi dan Manajemen, dua kata yang membangun nama jurusanku di HSO, yakni Energy Conversion and Management menjadi jawaban yang selalu kuutarakan. Namun kalau harus ditambahkan dan dijelaskan lebih jauh lagi, faktor biaya kuliah dan biaya hidup yang terjangkau serta kurikulum pelajaran yang menarik juga menjadi faktor pertimbangan, mengingat aku juga diterima di dua kampus lainnya di Jerman dengan nama jurusan yang mirip.

**

Kini, setelah menyelesaikan S2 dari HSO dan tinggal 2 tahun lebih di Offenburg, ada satu hal, yang tidak kuketahui dan pertimbangkan sebelumnya, yang membuat kuliah dan tinggal di sini menarik dan terasa seperti di “rumah” : Senior Service.

Senior Service merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan pensiunan yang tinggal di kota Offenburg dan sekitarnya. Anggota Senior Service ini cukup banyak dan masing2 dari mereka biasanya memiliki kontak dengan satu atau lebih mahasiswa/i HSO (khususnya mahasiswa Internasional). Mahasiswa/i ini kemudian akan diundang untuk masak dan makan bareng di rumahnya, melihat festival bersama, mendaki ke Schwarzwald (hutan hitam di barat daya Jerman), dan aktivitas lainnya. Tujuannya adalah memperkenalkan budaya dan cara hidup masyarakat Jerman ke mahasiswa internasional. Sementara itu buat mahasiswa/i ini merupakan kesempatan yang baik juga untuk memperkenalkan negaranya masing2, makanan khasnya, budayanya, dan tentu saja meningkatkan kemampuan berbahasa Jerman.

Seorang teman yang pernah tinggal di Hamburg dan kini kuliah di HSO pernah berkata, ” untung ada Senior Service ya. Kalau enggak pasti bosan banget tinggal di Offenburg.”

**

Offenburg dikelilingi oleh alam yang indah, demikian juga halnya dengan Hochschule Offenburg.

 

***