Watergius's Journal

The world as I see it

Tag Archives: goethe institut jakarta

Mein Goethe Leben

Letzte Woche war meine letzte Woche im Goethe Institut Jakarta. Ich habe seit 9 Monate oder 3 Quartal oder 216 Stunden da untersucht. Und ich habe 3 verschiedene Klassen besucht.

Meine erste Klasse war Extensiv A1.1.  

-> Ich war neue und ehrgeizig. Ich war auf dem Erhalten der Bestnote und auch in Goethe A1 Prüfung konzentriert. Und ja, ich hatte das beste Ergebnis in der Klasse und sehr gut in A1. Aber ich kenne nicht gut meine Klassenkamerad, und das ist schade.

Meine zweite Klasse war Extensiv A2.1

-> Ich traf neue Leute und ich kann sagen, dass ich besser meine Klassenkamerad weiß, obwohl ich immer noch auf dem Erhalten der Bestnote und auch in Goethe A2 Prüfung konzentriert.

Meine dritte und auch meine letzte Klasse war Intensiv A2.2-B1.1

-> Ich bin noch dem Erhalten der Bestnote konzentriert, aber nicht so leidenschaftlich mehr. Und ich habe keine anderen Goethe-Zertifikat für meine Universität Anwendung gebraucht, und so ja, ich kann die Klasse mehr genießen. Ich weiß meine Klassenkamerad besser und ich hatte gute Zeit mit ihnen. Und ich denke, treffen 3 Tage pro Woche uns besser kennen machen als nur 2 Tage.

Auf Wiedersehen meine Freunde.

Auf Wiedersehen meine Freunde.

***

atampubolon

mendaftar di Goethe Jakarta (lagi)

Rabu, 7 Januari 2015

***

Sedikit lanjutan dari ceritaku sebelumnya tentang mendaftar les di Goethe:

Masuk ke kelas pemula A1.1 ternyata ‘pilihan tepat’.

*

Di kelas ekstensif A1.1 aku ternyata sekelas dengan mas-mas (yang ternyata seumuranku) yang memberikanku nomor antrian 493. Cerita punya cerita, saat SMA di Sulawesi ternyata dia teman sekelas dari seorang temanku saat kuliah. Oke. Indonesia ini sempit sekali ternyata.

*

Ketika periode kursus selama hampir tiga bulan akan berakhir, para peserta kursus saat ini diberi kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya lewat pendaftaran terpisah tanpa perlu rebutan dan antri dengan peserta baru. Sebuah sistem yang bagus, hanya saja aku tidak punya cukup waktu untuk mengikuti sistem itu… karena…

Sistem di Goethe membagi-bagi tiap tingkatan menjadi beberapa bagian, misalnya A1 dibagi menjadi A1.1 sampai A1.3, baru setelah itu bisa lanjut ke A2.1 Namun, berhubung targetku adalah harus mendapatkan sertifikat A2 di awal tahun ini untuk keperluan S2, maka ada dua pilihan yang dapat diambil. Pertama, ikut ujian sertifikat A1 (biayanya cukup mahal juga). Bila lulus, maka saat pendaftaran ulang dapat langsung mendaftar ke A2.1. Hanya saja tentu harus lulus ujian A1 dan harus ikut mendaftar dengan peserta baru lainnya (yang berarti harus antri dan rebutan). Kedua, tidak perlu ikut ujian sertifikasi A1, melainkan ikut ujian penempatan saat nanti pendaftaran peserta baru dibuka. Tetap harus rebutan sih dan ujian, hanya saja biayanya jauhhh lebih murah..

Aku pun akhirnya memilih nomor 1… dan berhasil lulus dengan nilai “sehr gut”. Wow.

**

Belajar dari pengalaman, aku pun tiba di Goethe Institut Jakarta di hari Rabu pagi itu pukul 06.00 tepat. Itupun setelah bela-belain naik taksi dari kosan. Ternyata benarlah kata orang2 bahwa ada yang rela datang subuh2 untuk mengantri sebab saat nyampai di tempat itu, aku sudah kebagian tempat duduk di luar.

jam 6 pagi - sudah ngantri di luar

jam 6 pagi – sudah ngantri di luar

Bila sebelum-sebelumnya aku dapat cerita ada yang datang subuh2 ngantri dari jam 5, bahkan 4, maka kali ini aku dengar ada yang datang lebih awal lagi, pukul 2. Ntahlah itu benar atau enggak. Tapi yang pasti, orang yang katanya datang pukul 2 subuh itu dapat nomor antrian 1 sedangkan aku dapat nomor 74. Oh ya, nomor antrian baru dibagikan pukul 7 pagi, jadi walaupun datang subuh2, maka harus tetap duduk di tempat duduknya sampai nomor dibagikan.

dapat nomor antrian segini...

dapat nomor antrian segini…

**

Dapat nomor antrian, aku balik dulu ke kantor. Lagipula, pendaftaran juga baru dibuka jam 10. Sangat merepotkan bukan, tapi ya begitulah sistemnya…

*

Pukul setengah 11 akhirnya giliranku untuk masuk ke ruangan pendaftaran. Dengan banyak faktor pendukung yang tidak dapat disebutkan satu per satu, akhirnya aku pun mendapatkan kelas A2.1 di hari yang aku inginkan.

***

APT

tak seberuntung itu? : serba-serbi mendaftar di Goethe Jakarta

Rabu, 1 Oktober 2014

***

Pendaftaran kelas baru dibuka tanggal 1 dan 2 Oktober mulai pukul 10 pagi sampai 5 sore. Itulah isi pengumuman yang kubaca, dan pemahamanku akan hal itu sederhana : aku datang pukul 10 tepat maka aku kemungkinan jadi orang pertama yang datang; aku datang jam 11 maka aku akan menjadi orang kesekian belas dan harus ngantri sebentar. Tapi akan segera terbukti kalau aku salah… Salah BESAR.

Pukul 11 kurang aku baru tiba di Stasiun Gondangdia (kuputuskan untuk menggunakan KRL dari Sudirman). Setelah sempat salah jalan yang untungnya benar lagi akibat bantuan google maps, aku pun sampai di depan pintu gerbang Goethe Institut Jakarta.

Bukan satu atau belasan orang yang kulihat di situ mengantri, melainkan ratusan. Iya, ratusan… di saat pendaftaran baru buka satu jam. Sempat ragu juga saat mendekat petugas meminta nomor antrian takut2 pendaftaran sudah ditutup. “Masih buka,” kata bapak itu sambil memberiku sebuah nomor antrian, 550.

nomor antrian 550 di pukul 11 siang

nomor antrian 550 di pukul 11 siang

APAA?? 550 padahal jamku baru menunjukkan pukul 11 lewat beberapa menit. Segitunyakah orang-orang ingin belajar Bahasa Jerman? Pulang. Menunggu. Aku kebingungan. Apalagi di papan pengumuman di tempelkan daftar-daftar kelas yang sudah penuh. Kelas yang ingin kudaftar memang belum, tapi dengan nomor antrian saat itu yang baru sampai di 151, aku cukup pesimis.

Keringatan. Kehausan. Kelaparan. Aku benar-benar dibuat bingung. Untuk menenangkan diri, aku pun mencari tempat makan dulu dan akan melihat perkembangannya nanti.

*

Pukul 12 lewat beberapa menit aku tiba di tempat itu lagi. Kali ini nomor antrian sudah bergerak, bergerak lambat sebab baru sampai nomor antrian 200. Entah karena perutku sudah berisi atau karena hal lain, aku bisa berpikir jernih di siang terik itu : Aku akan menunggu, sampai aku masuk ke dalam atau sampai kelas yang aku ingin penuh… Dan aku pun menunggu. Duduk. Diri. Bersandar di tembok. Panas-panasan.

Awalnya aku hanya mendengar sayup2 suara itu: suara seorang Ibu yang marah-marah kepada petugas karena diperlakukan tidak adil. Kurang jelas juga aku penyebabnya apa, tapi sepertinya tentang nomor antrian. Keduanya saling emosi. Si Bapak yang menjaga pintu mulai terpojok. Si Ibu masih lanjut marah2, kali ini sambil turut mencari dukungan dari peserta yang lain, ibu-ibu juga. Teman si bapak itu datang membantu, berusaha menenangkan si Ibu tapi tidak berhasil. Si Bapak mengalah. Yang nomor urut 300-310 akhirnya dipersilahkan masuk oleh bapak itu padahal sebelumnya nomor terakhir adalah 210. Yang 210-an ke atas protes, mulai berkerumun di dekat pintu. Akhirnya si bapak bilang  “Setelah ini nomornya kembali dilanjut lagi dari 211 sampai seterusnya ya.”

What?? Reaksi seorang Ibu yang kebetulan di dekatku. Masa sih sistem pendaftaran seprimitif ini? Jerman lohh..

Dan aku pun hanya bisa tersenyum. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan entah siapa saja yang bisa diajak ngobrol di situ, terkuaklah suatu rahasia buatku : ada yang sudah datang mengambil nomor antrian dari jam 5 subuh. Benarkah? Mungkin saja. Sebab ada seorang bapak yang datang jam setengah 9 dan itupun dia kebagiannya nomor antrian 180-an.

Pendaftaran kelas baru dibuka tanggal 1 dan 2 Oktober mulai pukul 10 pagi sampai 5 sore. Namun pengambilan nomor antrian sudah bisa dilakukan dari pagi hari. Seharusnya mereka tidak lupa mencantumkan tambahan informasi penting itu di pengumuman agar orang-orang baru seperti aku ini tahu dan tidak syok.

*

Pukul 2 siang, antrian masih di nomor 400-an. Bosan, aku pun mengajak ngobrol seorang mas-mas yang ngantri. Tadi saat nyampai di tempat ini aku bareng dia dan topik itulah yang kupakai untuk memulai pembicaraan. Sambil merespon ke basa-basiku, dia pun menyodorkan selembar nomor antrian kepadaku “Nih, ada nomor antrian 493. Tadi dikasih orang yang sudah malas ngantri lagi,” katanya.

Tak perlu sampai ditawarkan dua kali sampai aku mengambil keputusan. Sambil mengucapkan terima kasih nomor 493 itu kuambil dan kumasukkan ke sakuku, sementara dia sendiri menyimpan yang nomor 494. Entah kenapa dia tidak memegang yang nomor 493 dan memberikan yang 494 kepadaku. Mungkin sama saja, pikirnya, sebab yang diizinkan masuk emang per sepuluh-sepuluh.

Akhirnya pukul 3 kami berdua pun masuk ke dalam ruang pendaftaran hanya untuk mendengarkan pengumuman kalau kelas yang ingin kami ambil sudah penuh (aku dan dia ternyata berniat mengambil kelas yang sama, intensif 3 x seminggu).. Hahaha. Ternyata walaupun sudah motong nomor antrian hampir 60 antiran tetap saja tidak kebagian itu kursi les, apalagi kalau gak motong ya. Akhirnya aku pun mendaftar di kelas ekstensif yang hanya 2 kali seminggu dan hanya sampai di level pemula.

Mau gimana lagi.. Persis kata-kata yang diucapkan mas-mas yang memberiku tiket bernomor 493 itu.

***

atampubolon