Watergius's Journal

The world as I see it

Kerja, Kuliah, dan Tepian Black Forest

Kamis, 23 Agustus 2018

***

Danau Gifiz di Offenburg

Perjalanan menemukan ketertarikan studi baru

Setelah selesai sarjana aku bekerja selama tiga setengah tahun di perusahaan tambang multinasional. Aku diterima di program Management Trainee-nya sehingga di tahun pertama aku dan teman-teman seangkatan berkesempatan untuk belajar di berbagai departemen di perusahaan. Bahkan selesai program trainee, beberapa dari kita cukup beruntung untuk ditempatkan di departemen bernama Indonesian Growth Project(IGP) yang memiliki tanggung jawab meningkatkan kapasitas produksi pabrik pengolahan di Sulawesi Selatan.

Tahun pertama di IGP atasanku bernama Kevin, seorang warga negara Kanada yang telah tinggal hampir sepulah tahun di Indonesia. Orangnya teliti dan sabar dalam menjelaskan. Penugasan pertama dari dia adalah menghitung konsumsi listrik di salah satu gedung di pabrik. Dengan penugasan ini aku pun akhirnya mengunjungi Sulawesi Selatan dan bahkan diminta untuk tinggal selama beberapa bulan. Selain untuk membantu mencari data demi keperluan IGP, juga agar aku mengenal pabrik dan mulai membangun kontak dengan orang-orang yang bekerja di situ.

Dua tahun berlalu. Aku bekerja sebulan di Jakarta dan dua bulan di Sulawesi, seperti sebuah siklus. Aku tidak keberatan bekerja di lapangan, bahkan aku menikmatinya. Hanya saja dari penugasan selama dua tahun ini aku mengenal lebih jauh tentang diriku, tentang di mana aku cocoknya bekerja. Aku merasa bekerja di pabrik pengolahan hasil tambang bukanlah buatku.

Memasuki tahun ketiga Kevin pensiun dan balik ke Kanada. Aku pun mendapatkan bos baru, Juan dari Chile.

What can I do for you my young padawan?”, begitu selalu dia menyapaku tiap kali aku mengetuk pintu kantornya. Selain pekerjaan keteknikan, Juan memberikanku tugas dan tanggung jawab terkait manajerial. Aku diminta bekerja sama dengan perusahaan konsultan teknik untuk menyusul jadwal pekerjaan di pabrik, menentukan paket-paket pekerjaan yang harus mereka selesaikan selama periode kontrak, dan mengevaluasi seberapa jauh mereka telah menyelesaikan paket-paket pekerjaan tersebut, untuk tahu, apakah mereka berhak mendapatkan bayaran yang telah disepakati atau belum. Dengan penugasan ini aku jadi belajar cara membuat timeline sebuah proyek, menyusun metode evaluasipencapaian target pekerjaan, membangun sistem pembukuan untuk pembayaran upah, dan belajar banyak tentang diplomasi. Dari semua itu yang terpenting adalah aku menjadi tahu, kalau aku memiliki ketertarikan dengan bidang manajemen.

Mencari Jerman

Akhir Juli 2014 aku menemukan informasi akan sebuah program bernama “Make It in Germany” dari giz. Tertulis di situ bahwa Jerman kekurangan engineerdan membutuhkan tenaga-tenaga ahli dari berbagai negara, salah satunya dari Indonesia. Aku mendaftar, namun gagal di tahap wawancara. Kata mereka, tenaga ahli di bidang pertambangan tidak dibutuhkan lagi di Jerman.

Program “Make It in Germany” yang ditawarkan saat itu adalah program beasiswa untuk belajar bahasa Jerman sampai level B2 di Goethe Institut. Setelah lulus ujian level itu dan ketika ada kebutuhan dari Jerman, maka peserta yang lolos seleksi akan mendapatkan prioritas sebagai kanditat untuk posisi tersebut.

Saat itu aku sudah sadar bahwa masa depanku tidak lagi di perusahaan tambang. Terinspirasi dari kegiatan bakti sosial yang pernah kulakukan saat sarjana dan ditambah latar belakang pendidikanku di teknik elektro, aku pun memutuskan ingin bekerja di sektor energi, khususnya yang berhubungan dengan energi terbarukan. Hanya saja dengan berbekal pengalaman yang kumiliki saat itu, hal ini tidak akan mudah. Aku harus kuliah lagi.

Master“ dan “Energy and Management“ adalah kata-kata kunci yang kumasukkan di mesin pencari google. Dari sekian banyak hasil pencarian, ada menemukan tiga negara yang menawarkan jurusan di bidang Energy and Management, yakni Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Amerika Serikat dan Inggris sebernarnya pilihan yang lebih mudah sebab aku menguasai bahasanya. Hanya saja, biaya kuliahnya sangat mahal. Di masa itu aku memang tidak punya rencana untuk balik ke Indonesia setelah S2 sehingga tidak berniat untuk melamar beasiswa LPDP. Karenanya, pilihanku pun jatuh ke negara Jerman yang saat itu uang kuliahnya masih gratis.Energy Conversion and Management(ECM) adalah program studi di Offenburg University of Applied Science(Hochschule Offenburg) yang menjadi pilihanku. Walaupun programnya adalah program internasional, di semester tiga ada kuliah dalam bahasa Jerman sehingga sertifikat bahasa Jerman level A2 merupakan salah satu syarat pendaftarannya.

Aku cukup beruntung. Jadwal pekerjaanku di tahun ketiga mayoritas di Jakarta sehingga aku pun memutuskan untuk les bahasa Jerman di Goethe. Dengan sisa waktu delapan bulan kurang hingga batas akhir pendaftaran, aku mengambil kelas intensif (tiga kali seminggu).

Offenburg University of Applied Science

Memasuki Black Forest dan mendalami manajemen energi

Offenburg adalah sebuah kota kecil di barat daya Jerman di tepian Schwarzwald (Black Forest), yang terkenal tidak hanya karena alamnya yang indah, namun juga karena kue “Black Forest” asalnya dari daerah ini. Di Offenburg hanya terdapat sebuah universitas, Hochschule Offenburg, dengan salah satu program studinya, ECM, yang menawarkan modul pembelajaran yang menarik. Pada semester pertama dan ketiga kami kuliah di kampus, sementara di semester kedua dan keempat kami harus magang (internship) dan mengerjakan Tesis. Dengan besarnya peluang melakukan magang dan menulis tesis di perusahaan, ECM memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i yang baru saja lulus sarjana untuk mendapatkan gelar master sekaligus pengalaman kerja, setidaknya satu tahun.

ECM menawarkan mata kuliah yang bervariasi, mulai dari bidang keteknikan hingga manajemen energi. Ekonomi Energi adalah salah satu mata kuliah di semester pertama yang telah memperkenalkan konsep energi sebagai sebuah komoditas kepadaku. Berbeda dengan di Indonesia, di Jerman (bahkan di beberapa negara Eropa) listrik diperjualbelikan di sebuah bursa, layaknya jual beli saham di Bursa Efek Indonesia. Lalu di semester ketiga kami mendapatkan mata kuliah tambahannya, Operation Research in Energy Economics, yang menitikberatkan kepada metode untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya. Konsep listrik sebagai sebuah komoditas yang keuntungan penjualannya dapat dimaksimalkan dan biaya produksinya dapat diminimalkan benar-benar telah mencuri perhatianku. Aku pun berkeinginan untuk mendalaminya  sehingga aku memilih tema ini menjadi topik tesisku.

Demonstration of economical potential from Virtual Power Plant of Mini and Micro Combine Heat and Power (CHP) Plantsmerupakan judul tesisku. Sebagai informasi, CHP adalah mesin yang membangkitan tenaga listrik, layaknya genset, dan menghasilkan panas pada saat yang bersamaan. Panas ini kemudian digunakan untuk menghangatkan air yang akan dialirkan melalui pipa-pipa untuk menghangatkan rumah ataupun ruangan. Karena kemampuannya untuk menghasilkan energi listrik dan panas (thermal) pada saat yang bersamaan, CHP dikategorikan sebagai mesin yang mampu memaksimalkan utilisasi energi primer (baik gas ataupun bahan bakar minyak).

Dalam tesis ini aku mengembangkan sebuah metode optimisasi menggunakan Mixed-integer Linear Programming (MILP) untuk mengontrol suplai panas menggunakan CHP, boiler,dan thermal storage. Metode yang kutuliskan dalam algoritma ini akan mengatur produksi energi termal dan juga energi listrik, sehingga diperoleh laba yang maksimum berdasarkan harga jual beli listrik untuk tiap lima belas menit. Model ini kemudian aku aplikasikan pada beberapa utilitas yang memiliki CHP dan yang tergabung dalam proyek micro VKK. Hasilnya kemudian dianalisis berdasarkan objektif yang telah ditentukan sebelumnya, apakah sudah optimal atau belum.

*

Itulah sedikit kisah tentang kuliah lagi setelah bekerja.

***

atampubolon

Advertisements

The dilemma of discounted foods

I visited a seminar provided by STUBE Baden Württemberg three weeks ago : Shoppen hier – Schuften dort: globale Zusammenhänge von Konsum und Arbeitsbedingungen (Shopping here – Labour there : global correlation between consumption and working conditions). One of the session discussed was about food waste.

I was a litte bit naive, I guess, by thinking that european countries would never waste foods. I never really informed my self about the topic and have never bothered to searched more, until this video was shown in the seminar.

The video talks about the amount of foods that are wasted by supermarket in Germany and France. More than half of our foods are ended up as carbage, even before they reach our plate. As a costumer we don’t want only one type of product in the supermarket’s shelves, but instead we want many options. The supermarket then have to buy all types of products to satisfy our needs, but not all these products will be sold. Those that are left will then go as a waste and be thrown away.

Another point that is mentioned in the video is about the expiration date. This date is given by the industry, not by an authority or government office. It doesn’t contain clues or indications of health risks. The date only guarantee a specific properties, for example that a yogurt will stay creamy. And it is also mentioned in the video, that this expiration date is getting shorter compared to years before, which mean “more waste”.

*

Instead of throwing away these foods, why don’t the supermarket give it to poor people or at least sell it at cheaper price?, you might ask.

One of the speaker of the seminar (she is German) shared, that before, it was ok for people to take these ‘unwanted foods’ from supermarket’s trash bins. However now days supermarket have installed fence around their property (and of course the trash bins are inside this fence) and all attempts to take foods from it will be counted as a trespassing and are considered against the law.

About selling at cheaper price, actually supermarket in Germany sell products that are near their expired date on a discounted price. However there are still a lot of foods waste that are produced everyday.

My theory, when I think as a businessman (or supermarket owner), then I will not put out all the discounted products (products at or past the expiration date). If I were to do that, people will only buy those products and I will not make profits. Could that also be the reason, why throwing ‘good foods’ is preferable than giving them away to the people who need it? I cannot really tell.

***

 

 

 

Finish your food or someone will call a cop?

In 2015, few weeks before I left Indonesia and headed to Germany, I somehow came across a short article. I can’t remember anymore, whether I read it in facebook or from someone’s blog, but this is what it’s about.

“A family of four: father, mother, and two childreen were eating in a restaurant in Germany. They are a tourist and are courious to try different foods. So they ordered a lot until their table was completely full. All eyes from the other customers were on them, looked surprise and probably shock at the same time. An hour later they called the waiter saying that they wanted to pay. Having seen so many foods left, the waiter asked whether they want to take the left over. They said no. As another customer saw what happened (the family have wasted so many foods), he intuitively called and informed ‘a local cop’, who few minutes later showed up. The cop asked why did the family ordered so many foods when they could not finish it. Not 100% aware of what just happened, the father replied that they are a tourist and want to try all local foods. He also said that they paid the full prices, so it should have not been a problem. “You may have paid full price for the food. But that food didn’t just use human effort to process it. It consumed a lot of natural resources too: water, fertilizer, and the packaging and shipping uses oil, among other things, that will also produce pollution,” the cop replied. “

Couple of days after I arrived in Germany, I was invited by a friend, who is German, to have dinner in a local restaurant, while also met with some of her friends. During waiting for our foods, I told them this story and wanted to know whether it is true. They said that they have never heard about it, neither did they know something like that really exist in Germany.

Having live in Germany for more that two years, I have never seen someone being asked to pay fine because he/she didn’t finish his/her food. When I eat in a local restaurant with some people, we either finish our foods or take away the left overs. Or when there are not much left, I also notice that some of friends just left it on the plate and nobody complains.

Germany is big and I cannot say that this story/article is not true just because I have never personally seen it. To my curiosity I then searched in on google and found this Quora : Can you be fined for wasting food in Germany? . The answer indicates that it can happen in some restaurants. Try and check it for more details.

***

Offenburg

Offenburg adalah sebuah kota kecil di bagian barat daya Jerman di provinsi Baden Württemberg. Layaknya kota2 di Jerman, Offenburg memiliki Hauptstraße (Jalan utama) yang di sepanjangnya terdapat toko2, bank2, dan restoran cepat saji. Jalan utama ini dimulai dari depan kantor polisi di ujung yang satunya dan berakhir di terminal bus/ stasiun kereta di ujung lainnya. Tidak butuh lama untuk menyusuri jalan ini. Seperti kata Umar, teman pertama yang kutemui di kota ini, “cuma butuh 15 menit kok gus untuk melihat-lihat kota Offenburg.”

Banyak yang bertanya kenapa aku ke kota kecil Offenburg, tepatnya kenapa aku memilih melanjutkan kuliah S2 di Hochschule Offenburg (HSO) atau University of Applied Sciences Offenburg. “Offenburg kan kecil dan tidak banyak yang mau dilihat di kota ini”, begitu umumnya kata orang2 yang tinggal di Offenburg.

Walaupun kota ini kecil dengan penduduk kurang lebih 60.000 orang, Offenburg cukup mudah dijangkau. Kereta cepat Jerman yakni ICE, berhenti di sini, yang menjadikan waktu tempuh bandara Frankfurt – Offenburg hanya sekitar 1,5 jam. Dengan menaiki kereta yang sama, sejam berikutnya ke arah Selatan kita juga bisa tiba di kota Basel, Swiss. Sementara itu, ke arah barat Offenburg, dengan menaiki kereta lokal selama 30 menit kita akan sampai ke kota Strasbourg, Prancis. Sarapan Croissant di Prancis, makan siang Maultasche dengan hidangan pencuci mulut Schwarzwälder Kirschtorte (kue Black Forest) di Jerman, dan makan malam Zwiebelkuchen di Swiss tidaklah mustahil buat seseorang yang tinggal di Offenburg.

Energi dan Manajemen, dua kata yang membangun nama jurusanku di HSO, yakni Energy Conversion and Management menjadi jawaban yang selalu kuutarakan. Namun kalau harus ditambahkan dan dijelaskan lebih jauh lagi, faktor biaya kuliah dan biaya hidup yang terjangkau serta kurikulum pelajaran yang menarik juga menjadi faktor pertimbangan, mengingat aku juga diterima di dua kampus lainnya di Jerman dengan nama jurusan yang mirip.

**

Kini, setelah menyelesaikan S2 dari HSO dan tinggal 2 tahun lebih di Offenburg, ada satu hal, yang tidak kuketahui dan pertimbangkan sebelumnya, yang membuat kuliah dan tinggal di sini menarik dan terasa seperti di “rumah” : Senior Service.

Senior Service merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan pensiunan yang tinggal di kota Offenburg dan sekitarnya. Anggota Senior Service ini cukup banyak dan masing2 dari mereka biasanya memiliki kontak dengan satu atau lebih mahasiswa/i HSO (khususnya mahasiswa Internasional). Mahasiswa/i ini kemudian akan diundang untuk masak dan makan bareng di rumahnya, melihat festival bersama, mendaki ke Schwarzwald (hutan hitam di barat daya Jerman), dan aktivitas lainnya. Tujuannya adalah memperkenalkan budaya dan cara hidup masyarakat Jerman ke mahasiswa internasional. Sementara itu buat mahasiswa/i ini merupakan kesempatan yang baik juga untuk memperkenalkan negaranya masing2, makanan khasnya, budayanya, dan tentu saja meningkatkan kemampuan berbahasa Jerman.

Seorang teman yang pernah tinggal di Hamburg dan kini kuliah di HSO pernah berkata, ” untung ada Senior Service ya. Kalau enggak pasti bosan banget tinggal di Offenburg.”

**

Offenburg dikelilingi oleh alam yang indah, demikian juga halnya dengan Hochschule Offenburg.

 

***

Belajar tidak mengenal usia

Senin, 22 Mei 2017

***

Sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu, sama halnya seperti universitas. Tapi bagi siapa … ? Bagi siswa/i dan mahasiswa/i terdaftar saja? Atau juga untuk umum?
Di sebuah kota kecil di Jerman, yang hanya memiliki satu universitas berukuran kecil juga, aku menemukan sebuah ‘hal baru’, tentang makna kalimat belajar tidak mengenal usia.

Kuliah Umum

Sewaktu dulu kuliah S1 di Bandung, makna kuliah umum adalah kuliah dengan dosen seorang pembicara tamu yang sengaja diundang kampus maupun jurusan. Atau, menurut KBBI, kuliah umum adalah ceramah tentang masalah tertentu yang boleh dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai jurusan.

Di sini (Offenburg), kuliah umum punya arti yang lebih luas. Bertempat di kampus, kuliah umum biasanya diberikan oleh seorang Professor atau peneliti atau siapa pun yang kompeten di bidangnya dengan tujuan mempresentasikan risetnya kepada publik. Publik di sini adalah civitas akademi kampus itu sendiri dan juga masyarakat sekitar yang tertarik. Dan ternyata warga di sini memang tertarik datang ke kampus untuk mendengarkan kuliah umum tersebut. Usia warga yang datang juga bervariasi, mulai dari yang masih bekerja sampai kepada pensiunan; mulai dari seorang yang bergerak di bidang teknik (atau pendidikan) hingga yang tidak. Mereka selalu berkata : aku merasa topiknya menarik dan kita selalu bisa belajar sesuatu yang baru.

Science Slam

Science Slam adalah sebuah bentuk kuliah umum yang ditemukan dan dikembangkan di Jerman pada tahun 2006. Seorang pembicara diberikan waktu selama 10 menit untuk membicarakan risetnya (atau keahliannya) di hadapan penonton yang sama sekali awam. Tujuan dari Science Slam ini adalah mengedukasi dari segi keilmuan dengan cara/metode yang menyenangkan/lucu/tidak membosankan. Di akhir presentasi mereka, setiap pembicara akan diberi nilai oleh penonton untuk dua kategori: Science (ilmu yang disampaikan) dan Slam (cara penyampaian yang tidak membosankan). Nilai2 ini kemudian akan ditotalkan sehingga diperoleh pemenang dengan nilai yang paling tinggi. Science Slam… siapa yang bilang science itu harus membosankan, eh?

Science Slam (gambar dari Baden Online)

 

 

Karena peraturan berlaku juga buat pengajar

Kamis, 3 November 2016

***

Awal pertama kelas setahun yang lalu, Prof. J sudah menunggu di ruangan lengkap dengan laptop dan presentasinya. Kelas dimulai. Satu-satunya sumber bunyi hanyalah suara profesor yang keras dan lantang, cukup untuk membuatmu tetap terjaga walaupun tidak paham sepenuhnya materi yang diajarkan.

Setengah jam berlalu. Nada pesan masuk di telepon genggam terdengar. Seorang teman merogoh sakunya, berusaha mematikan nada dering teleponnya. Namun sang profesor sudah terlatih mendengarkan nada-nada perangkat elektronik. Menyadari ini kelas pertama, dia hanya mengeluarkan ultimatum: “Jika dalam kelas saya seseorang menghasilkan bunyi dari perangkat elektronik, maka di kelas berikutnya orang tersebut harus membawa bir… untuk seisi kelas.”

Selama beberapa minggu tak ada lagi nada perangkat elektronik yang terdengar di kelas. Yang ada hanyalah suara getaran dari pesan masuk ke telepon genggam yang kebetulan diletakkan di atas meja. Hingga suatu hari seorang teman lupa mematikan alarmnya dan teleponnya berbunyi. Apa hendak dikata. Seisi kelas menatap dia, tak terkecuali sang profesor yang sambil tersenyum berkata: ” Di kelas berikutnya kamu harus membawa bir.”

Makan di kelas saat pelajaran berlangsung adalah hal yang lumrah di tempatku belajar saat ini. Meninggalkan kelas sambil menenteng tas di tengah pelajaran tepat saat seorang profesor sedang berbicara, juga ternyata dapat diterima. Namun kini, minum bir ketika pelajaran berlangsung dengan aba2 cheers dari sang profesor…  aku pun hanya bisa takjub sambil tak lupa mengangkat botol birku dan menyahut cheers.

Minum bir dalam kelas Prof. J

Minum bir dalam kelas Prof. J

 

Kejadian yang sama berulang tiga kali, namun dengan orang yang berbeda. Karena suara perangkat elektroniklah yang menjadi acuannya, maka suara Windows saat laptop pertama kali dinyalakan juga masuk kategori dan menyebabkan seorang teman membawa bir di kelas berikutnya.

**

Setahun berlalu sejak kelas pertama dengan Prof. J dan peraturan yang sama tetap berlaku. Hari ini sang profesor perlu menunjukkan materi pelajaran di youtube dan mau tak mau harus memasang suara agar video tersebut dapat dipahami. Dan coba tebak apa yang terjadi setelah video selesai dia putar?

“Sekarang saya yang harus membawa bir ya,” katanya sambil tertawa.

Dan di kelas berikutnya hari Rabu mendatang, kami akan menikmati bir lagi di dalam kelas untuk yang keenam kalinya.

***

atampubolon

meminjam buku di iJakarta lebih dari 3 hari?

Selasa, 24 Mei 2016

***

Pertama kali tahu iJakarta adalah saat menonton Mata Najwa per tanggal 11 Mei 2016 yang berjudul “Tak Sekadar Membaca”. iJakarta, terkesan seperti produk buatan Apple yang beken dengan huruf ‘i’ di depannya. Namun mungkin iJakarta ini memang kerabat jauhnya. Kerabat sebab ia memang bergerak di sektor digital dan teknologi, jauh sebab ia adalah sebuah perpustakaan.

Menarik sekali memang aplikasi dan konsep perpustakaan digital ini. Apalagi dalam tayangan Mata Najwa tersebut, sang penggagas iJakarta, Lasmo Sudharmo, semangat sekali menceritakannya. “Satu buku bisa dipinjam sampai tiga hari. Setelah tiga hari, buku tersebut akan otomatis dikembalikan. Apa yang terjadi? Orang2 mulai komplain. Mereka meminta agar waktu peminjaman bisa sampai lima hari. Namun antrian satu buku saja terkadang bisa sampai ratusan dengan tiga hari. Bila lima hari, bisa ribuan antriannya,” jelasnya sambil tersenyum.

Setelah hampir 2 minggu menggunakan aplikasi ini di Tab, ada satu pola yang saya temukan. Pertama kita harus mengunduh buku yang ingin kita baca ke dalam aplikasi iJakarta ini. Setelah buku tersebut diunduh, kita bisa membaca buku tersebut baik daring maupun tidak. Di sinilah celah yang saya temukan. Selama kita tidak terhubung dengan internet saat mengakses aplikasi iJakarta tersebut, maka database kita tidak akan diperbaharui. Dalam artian, buku yang kita punya, walaupun sudah lewat masa pinjamnya (3 hari), masih bisa kita baca.

Saya memiliki sebuah buku yang sedang saya baca di Tab. Saya tahu masa pinjamnya sudah lewat tiga hari, namun saya ingin memastikan lagi. Saat aplikasi iJakarta saya buka lewat komputer dan saya masuk ke akun saya, buku tersebut sudah dalam status dikembalikan dan hanya muncul di history. Namun di Tab, buku itu masih ada dan menunggu selesai dibaca.  Hanya saja perlu diperhatikan, buku tersebut harus terus dalam keadaan terbuka. Dalam artian, kita tidak boleh melakukan apapun di Tab (atau media apapun itu yang kita gunakan). Bila iya, maka akan segara terdeteksi bahwa masa pinjamnya sudah habis dan harus melakukan peminjaman ulang lagi. Syukur2 bila tidak perlu mengantri lagi.

***

atampubolon

 

mengutip data dari suatu sumber, periksa ulang!

25 April 2016

***

Berawal dari ketertarikan menulis tentang program Presiden Jokowi terkait perkembangan kelistrikan di Indonesia, sumber2 bacaan pun mulai dicari menggunakan mesin pencari google. Ada banyak sumber yang ditemukan, yang pada akhirnya dapat dikelompokkan menjadi dua: dokumen/laporan/presentasi (biasanya berupa file pdf) dan laman website (berupa tautan suatu laman). Salah satu laman website yang kutemukan adalah dari suara.com (tautan berita: http://www.suara.com/news/2015/03/09/074111/antisipasi-krisis-listrik-jokowi-tetapkan-dua-target).

Bila artikel tersebut dibaca sekilas sepertinya tidak ada yang salah. Sumber data yang digunakan juga terpercaya, Ditjen LPE Kementrian ESDM. Namun, karena telah mencari dan membaca terlalu banyak sumber, aku akhirnya menemukan sesuatu yang aneh. Sumber data dari ESDM yang digunakan tersebut dikeluarkan tahun 2009 dan sementara artikel tersebut dipublikasikan pada tahun 2015. Dan saat aku mengatakan sumber data dari ESDM, aku menduga sepertinya artikel berikutlah yang digunakan: http://www.esdm.go.id/berita/39-listrik/2719-rasio-elektrifikasi-14-provinsi-diatas-60.html

Bila kita menggunakan mesin pencari google dan mencari “rasio elektrifikasi 2015“, kira2 tampilan halaman utamanya adalah sebagai berikut:

halaman utama google saat mencari rasio elektrifikasi

halaman utama google saat mencari rasio elektrifikasi

Namun, bila kita mencari berita ini langsung dari arsip berita Kementrian ESDM, kita akan menemukan bahwa artikel ini dipublikasikan pada tanggal 6 Agustus 2009 seperti berikut:

artikel di halaman berita Kementrian ESDM

artikel di halaman berita Kementrian ESDM

**

Saat kita mencari suatu berita atau artikel dari google, lalu membukanya langsung, terkadang yang terjadi adalah kita membuka cache-nya. Akibatnya, tanggal publikasi berita/artikel tersebut, terutama bila tidak dituliskan pada isi berita/artikel, akan salah juga atau bahkan tidak muncul. Seperti yang terjadi di kasus ini, artikel yang sebenarnya dipublikasikan pada bulan Agustus 2009 keluar pada kata kunci pencarian “…. 2015”. Dan saat diklik langsung dari laman google tersebut, tanggal sebenar publikasi artikel juga tidak muncul sehingga timbullah kesalahan ini. Karena itu, penting untuk memeriksa ulang data2 yang digunakan terutama bila sumber yang digunakan adalah artikel/berita.

***

atampubolon