Watergius's Journal

The world as I see it

Category Archives: travelling

Jalan-jalan, murah-meriah, dan Air Asia

Jakarta, 11 Juli 2014

***

Jalan-jalan (atau bahasa gaulnya saat ini : traveling) itu membuat ketagihan. Saking membuat ketagihannya, kalender merah (selain hari Minggu tentunya) dalam setahun bisa hapal. Bila perlu, terkadang bahkan dibuat list-nya. Mana yang hari kejepit, kapan harus ngambil cuti, dan akan ke mana liburan dengan sekian hari itu. Namun, layaknya seperti ketagihan-ketagihan yang lain, ketagihan jalan-jalan juga memiliki dampak negatif : membuat kondisi kantong menipis, mulai dari biaya akomodasi, makan, oleh-oleh, dan terutama transportasi.

Bulan Oktober 2013 kemarin salah seorang temanku menikah di Hong Kong. Dia adalah seorang teman baikku dan dapat hadir di pernikahannya akan sangat membuatnya bahagia. Karenanya aku pun memutuskan akan datang, hitung-hitung sekalian jalan-jalan ke Hong Kong sebab dulu hanya pernah transit di bandaranya.

Saat itu masih sekitar bulan Juli dan teman kosanku (kita kebetulan satu kantor dan sama-sama kenal teman yang akan nikah di Hong Kong ini) mengatakan kalau Air Asia ada promo. Hanya saja, penerbangan ke Hong Kong itu akan transit di Kuala Lumpur dulu beberapa jam. Kita pun dilema. Mau naik penerbangan itu, ntar kelamaan nunggunya di LCCT. Mau keluar jalan-jalan ke Kuala Lumpur, waktunya mepet banget, bisa-bisa begitu sampai di Kuala Lumpur kita harus langsung balik ke bandara lagi… Dan pencarian tiket di hari itu pun hanya sebatas wacana.

Beberapa hari berikutnya, kita akhirnya mendapatkan ide yang luar biasa cemerlang ini. Dengan mengambil jatah cuti yang lebih banyak (6 hari cuti ditambah satu tanggal merah di hari Senin – inilah untungnya mempunyai list tanggal merah 🙂 ), kita pun mendapatkan total 11 hari untuk jalan-jalan. Horee. Akhirnya perburuan tiket pun dimulai lagi. Kali ini, rute kita berubah dari yang semula Jakarta-Hong Kong-Jakarta menjadi Jakarta-Kuala Lumpur-Hong Kong-naik ferry ke Macau-Bangkok-Phuket-Singapura-Jakarta.

Kenapa rutenya seperti itu?

Kuala Lumpur sudah jelas. Air Asia yang akan terbang ke Hong Kong akan transit dulu di Kuala Lumpur (gak tahu sekarang ya, tapi dulu yang kita temukan sih seperti itu), jadi, daripada hanya transit beberapa jam, kenapa tidak sekalian dijelajahin saja kotanya. Apalagi kami memang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Malaysia. Dan satu lagi, kata temanku hitung-hitung menambah stempel di paspor kita. Dan jadilah kami berpetualang di Kuala Lumpur seharian itu.

DSC_0017

Kuala Lumpur dari hotel tempat menginap di daerah Ampang Park

Hong Kong lebih jelas lagi – acara nikahannya di Hong Kong. Namun, karena acaranya baru di malam kedua saat kami berada di Hong Kong, hari pertama pun kami gunakan untuk jalan-jalan, termasuk mengunjungi Disney Land yang tersohor itu.

DSC_0161-2

Selamat datang di Disney Land Hong Kong

Macau? Jauh-jauh jalan-jalan ke Hong Kong sayang rasanya tidak sekalian menginjakkan kaki di Macau. Selain menambah cap di paspor (ini penting), kota yang terkenal dengan kasinonya ini menawarkan pengalaman yang ‘berbeda’. Mulai dari naik bus gratis, baik dari pelabuhan ke hotel maupun dari hotel ke tengah kota dengan bermodalkan muka tembok (caranya dengan menaiki bus hotel lain yang kebetulan dekat hotel kita), belanja oleh-oleh di daerah kota tua Macau setelah sempat diomelin karena nanya-nanya terus (ditanya harga, penjualnya nunjuk ke huruf kanji. Aku tanya lagi dong secara gak bisa baca tulisan kanji, eh penjualnya dengan muka kesal langsung membungkus pesananku sambil menyuruh masuk ke kasir untuk bayar), hingga masuk dan melihat langsung kasino (setelah selama ini hanya melihat kasino dari film-film).

DSC_0390

Salah satu sudut Kota Macau yang ramai dengan pengunjung

Bangkok? Tujuan awalnya sih pingin langsung mengunjungi Phuket saja, ingin melihat Maya Bay dan James Bond Island yang terkenal itu. Cuma, dengan beberapa pertimbangan, Bangkok pun masuk ke dalam itinerary kami. Dengan alokasi waktu hanya dua hari, kami hanya sempat jalan-jalan ke Asiatique (tidak lupa menonton kabaret Calypso tentunya), melihat Buddha tidur di Wat Pho, berkunjung ke istana raja, ke Siam Ocean World, dan tak lupa mengunjungi museum lilin Madame Tussaud.

DSC_0544-2

Di dalam Wat Pho

Singapura? Dari dulu aku memang penasaran dengan Singapura. Penasaran dengan alasan kenapa banyak sekali orang Indonesia yang ingin liburan ke negara ini. Selain murahnya tiket dari Jakarta ke negara ini (bahkan tak jarang jauh banget lebih murah dari tiket penerbangan domestik Indonesia), ada hal lain yang kusimpulkan sebagai alasan kenapa negara ini menjadi tujuan favorit : keteraturan. Orang kita mencari keteraturan dalam berbagai hal yang belum mereka temukan di Indonesia: mulai dari teratur dalam mengantri, naik bus dan kereta yang teratur waktu dan tempat berhentinya, bahkan untuk berfoto dengan tokoh tertentu di taman bermain pun mereka teratur. Dan kita tanpa sadar ikut-ikutan teratur seperti mereka, hanya saja ketika pulang ke Indonesia kebiasaan baik itu sulit dipertahankan. Tapi terlepas dari itu semua, perjalanan ke Singapura ini cukup berkesan sebagai perjalanan penutup liburan yang panjang ini (saking panjangnya, teman seperjalananku sudah merasa lelah, bahkan jenuh, dan memutuskan untuk balik ke hotel jauh lebih awal dan menikmati fast food-nya sambil menonton pertandingan bola).

DSC_0880 (4)

salah satu sudut kota Singapura yang menjajakan aneka makanan dan minuman di malam hari

*

Kenapa melakukan perjalanan ini?

Untuk hadir di pernikahan salah satu teman baik kami, itu sudah jelas. Tapi yang paling penting, karena kami dimungkinkan untuk melakukan perjalanan ini. Dengan menggunakan penerbangan Air Asia yang sangat murah meriah (kecuali dua penerbangan terakhir karena kami keburu kehabisan promo), kami telah mengunjungi tempat-tempat menakjubkan yang selama ini hanya kami dengar lewat cerita saja. Air Asia telah mengubah hidupku dengan penerbangan low cost-nya.

Kenapa tidak?

Dengan rute perjalanan sepanjang itu, total biaya yang kuhabiskan untuk transportasi pesawat tidak sampai 5 juta rupiah. Harga yang sangat sangat murah menurutku. Untuk mendapatkan ini semua, yang dibutuhkan hanyalah niat untuk mencari tiket promo jauh-jauh hari sebelum hari-H. Siapa paling update dengan promo dan penawaran Air Asia, dialah yang akan beruntung mendapatkan tiket murah. Karenanya, tidak ada salahnya berlangganan news letter mereka juga.

***

atampubolon

 

Advertisements

Misool – a place to visit (2)

Misool, Raja Ampat, West Papua, Indonesia

(May 27 – June 1, 2014)

***

DAY 3 (Jellyfish Lake)

**

I would say that what’s coming next was the crown jewel of this day 3 trip, if not of the entire trip.

Not long after we left Yapap, we anchored in one of the big island. According to Moory (our tour’s owner), not long after the climbing that we’re going to have, we will arrive in a lake where sting-less jellyfish live. One of the few places on earth where they exist.

The climbing was not easy, I would say, nor it was as hard as climbing Wayag. It was not sharp rock all the way to the lake, only some of it along the way. The trekking was not that long too, only around 20-30 minutes in total. Wearing gloves would totally help, like what I used.

*

G0722078

me and jellyfish

G0711835

sting-less jellyfish

*

This jelly-fish, since they’re not going to sting you, is so fragile. That is why, when entering the lake, you and your group should never wear any fin. Because even without fin, your bare feet will break them easily, more over with fin.

As a hint : Jelly-fish (or at least this is what happened there) love light a lot. Therefore, find a spot within the lake that has the most sunlight exposure, and you’ll surely surrounded by hundreds of jelly-fishes.

**

DAY 4 (Harfat Jaya Hill and Jaam)

**

Harfat Jaya is the name of the hill that we’re going to climb on this fourth day. This name was given by the owner of the homestay where we lived since day 3. Harfat came from Harun-Fatimah, the owner’s name and his wife. He has privilege of giving this name because he’s the first person found this hill and also climbed it. He even kind enough with setting-up path-way to the peak of the hill so people can easily climbing it. Respect to you sir.

G0722083

half-way to the top with our local guide

*

It was long way to the top – took me roughly more than half an hour. But, once you reach the peak, the view would enchant you. It just so magnificent. I could stay here, doing nothing.. just looking to the open ocean where small islands beautifully creating that pattern – pattern that helps creating color gradation on the sea.

DSC_0384

view from the top of Harfat Jaya

G0722088

me and the boat crews (first people of our group to reach the peak)

**

It has been so cloudy since morning. Eventually, it started raining. Because there was not really a wide sheltered area from where we started the climbing, boat captain (with suggestion from the guide) suggested to have lunch at Jaam Island. This island is located not far from where we were and has white sand beach. More importantly, it has some shelter belongs to natural conservation on it. That is why, to Jaam we headed.

Once we arrived in Jaam, we were told that many baby sharks like to play around the shore. That is why, once we finished the lunch voraciously, we headed for the beach despite the rain that still pouring. We were lucky to witness many small sharks playing around like that. And that’s conclude the end of this amazing trip.

G0722094

baby shark, rain, and cold.. but happy

**

for video documentation of this amazing trip, please watch this video:

for more pictures of this amazing trip, please visit this flickr:

https://www.flickr.com/photos/53457293@N05/sets/72157644679454460/

***

atampubolon

Misool – a place to visit (1)

Misool, Raja Ampat, West Papua, Indonesia

(May 27 – June 1, 2014)

***
Misool, one of the most beautiful places on earth… seriously !!

*

Trip to Raja Ampat always started from Sorong, a port city in West Papua that I once guessed as the capital (turned out I was wrong even though this city is more developed than the capital, Manokwari).

There are some flights from Jakarta to Sorong, like Garuda, Sriwijaya, or Express. But, only express that I know have direct flight to Sorong for 4 hours straight. But, if you prefer to take a walk after 2 hours flight, transit in Makassar’s airport is not too bad, even though there’s nothing to see in the night.

*

DAY 1 (Kampung Harapan Jaya)

**

Bright orange morning sunrise greeted us as we landing on Dominique Edward Osok in Sorong. If you can, choose left window seat because the view in the morning is amazing. Too bad I cannot kept my camera bag with me that time to shoot the picture because I sat on the emergency row.

Not long after we landed and headed outside the airport, our tour guides came : Dwie (@Tukang_Jalan) and Moory (@WisataRajaAmpat). They offered a very reasonable price (around 5 million rupiah for 6 days 5 nights all in excluding plane ticket) for amazing adventure that we’re going to have.

*

Around 8 a.m. we left port in Sorong and headed for Misool. After 3 hours boat ride, we stopped at our first destination, Lenmakana.

G0010686

selfie after had lunch at Lenmakana

Then, from Lenmakana, we headed for another hour to Kampung Harapan Jaya, where we will stay in these few days.

*

Kampung (Indonesian word for village) Harapan Jaya is a fisherman village. Nothing really special about that place actually, other than friendly people, curious children, and amazing view – day and night for visitors like us.

G0080787

kids at Harapan Jaya love playing in the water

G0100804

They love having their picture taken (with some style of course)

**

DAY 2 (Balbubol-Gamfi-Panun-Dafalen)

**

As the jetty in Harapan Jaya is facing east to the open ocean, sunrise would have been amazing. Too bad that morning it was so cloudy and we couldn’t get any shot. Just FYI, the best timing to visit Misool is between late October to late May. From June-October it will be rainy season and the wind and tides will be so strong.

DSC_0193

disappointed with the sunrise, they posed selfie

*

After breakfast, we continued the trip by doing island hopping and Balbulol was the first destination.

G0210970

underwater view in Balbulol

If you had a chance to dive here, then dive. I am sure there are more amazing things down there that is waiting to be discovered.

*

The best thing about being here in Raja Ampat is that you will always have lunch with an exotic view. After Lenmakana yesterday, today will also had lunch in a white sand beach called Gamfi.

G0321150

this is what I called ‘walk after lunch’ – view from hill at Gamfi

*

Then, we headed to another white sand beach called Panun and the day was closed by visiting another snorkeling spot, Dafalen.

DSC_0253

peace and quite white sand beach

G0471379

let’s take picture on the boat

**

DAY 3 (Sacred Cave-Sacred Cave’s Lake-Yapap _ cont.)

**

Looks like the weather this morning was friendlier than yesterday, even though thick cloud still blocked the sunrise.

DSC_0280

sunrise hunter

**

Your visit to Misool will not complete without visiting Sacred Cave. In the entrance of the cave there are tombs. People here said that those tombs belong to two Arabian people who brought Islam to Misool long time ago.

G0521469

Sacred Cave entrance

From one end to another end of the cave, we took almost half an hour. You can either using life vest + swimming or snorkeling + fin to cross this cave. The cave is not that dark because you can almost see it from end to end. But, having extra light is helpful (you’ll need waterproof lamps though). The water inside the cave is not too deep, I think maximum 3 meter. The deeper you dived, the warmer the temperature. But you need to be careful of rocks. This is another reason why you’ll need underwater flashlight.

After got out in the other end, we walked crossed a ‘jungle’ until we reached our final destination, a salt water lake. Nothing really special about this lake actually, other than it’s remote location, surrounded by tall karst, and warm water underneath.

G0591583

so quite… so private…

*
This Sacred Cave tour was closed by having lunch at the jetty near the entrance. Perfect place to complete our list of having exotic place to have lunch.

**

After Sacred Cave and its surrounding, next destination is Jellyfish Lake. But before that, we stopped by at Yapap, a place where you might questioned the reason behind all those amazing stone’s structure. And of course, Yapap also offers amazing view with its crystal clear water that you cannot forget.

DSC_0318

This place is also known as “Batu Candi” by local people

G0681773

look to the camera… 1..2..3..

**

for video documentation of this amazing trip, please watch this youtube:

for more pictures of this amazing trip, please visit this flickr:

https://www.flickr.com/photos/53457293@N05/sets/72157644679454460/

 

***

atampubolon

Yogyakarta_Jomblang-Boko-Prambanan-Merapi

Sabtu-Minggu, 10-11 Mei 2014

***

Tidak ada hari libur di Jumat maupun Seninnya, hanya akhir pekan biasa. Akhir pekan biasa yang kami buat menjadi luar biasa dengan bertualang di Yogyakarta…

**

Sekitar pukul 7 malam, kereta api ekonomi AC Bogowonto yang kami tumpangi pun perlahan meninggalkan Stasiun Pasar Senen Jakarta menuju Stasiun Tugu Yogyakarta…

Tak lama setelah kereta meninggalkan stasiun, seorang bapak di dekatku mulai mengeluarkan terpal dan menggelarnya di jalanan di tengah gerbong. Aku kiraian hanya dia. Saat kulihat ke ujung gerbong tiga tempatku berada, ternyata hampir semua orang melakukan hal yang sama, bahkan sepertinya di satu rangkaian kereta ini juga orang-orang melakukan hal yang sama.

Setelah mendengar cerita dari seorang mas-mas (aku perkirakan umurnya sekitar 30an) yang tepat duduk di depanku, ternyata itu adalah hal yang wajar di kereta malam seperti ini. Bahkan dia juga biasa melakukannya. Hanya saja, dia tidak tidur di lorong yang aku maksud tadi, melainkan tepat di bawah kursi tempat kami duduk saat ini, memanjang dari bawah kursi yang satu ke kursi yang lainnya..

Semakin malam, semakin banyak pula orang yang melakukan hal yang sama. Berusaha untuk tidur, beristirahat untuk mengumpulkan tenaga beraktivitas di Yogyakarta esok harinya.

di kereta api

suasana malam kereta ekonomi AC

**

– Sekitar pukul 4 subuh hari Sabtunya tiba di Yogyakarta (hampir 2 jam telat dari perkiraan waktu ketibaan di tiket)

– Beres2 sebentar lalu menuju parkiran untuk bertemu orang dari rental mobil Iwan (infonya dapat dicari dari Yogyes).

– Membayar duit sejumlah 550 ribu untuk rental mobil satu setengah hari. Harga yang dikenakan untuk 12 jam adalah 250 ribu dan untuk 24 jam sebesar 300 ribu (lepas kunci dengan jaminan 2 buah KTP).

– Jam 5an meninggalkan stasiun menuju Hotel Rene menjemput seorang teman lagi, sebut saja namanya Deri, yang sudah sampai sehari sebelumnya.

– Jam setengah 7 berangkat dari Hotel Rene : nyari sarapan dalam perjalanan menuju daerah Gunung Kidul.

*

Tujuan pertama kami adalah Wisata Gua Jomblang. Dengan minimnya informasi yang tersedia di internet mengenai jalan ke tempat ini, kami pun sempat agak terseok-seok. Rute ke sana dari Yogyakarta kira2 seperti ini:

– Ambil jalan raya yang menuju Wonosari.

– Setelah sampai Wonosari, cari jalan yang menuju ke Semanu. Tanya saja orang2 di Wonosari, mereka pasti tahu.

– Kira-kira sudah dekat Semanu, perhatikan Gardu Listrik PLN di sebelah kiri jalan (orang Wonosari menyebutnya dengan kantor PLN sehingga sempat membuat kami kesasar). Setelah lewat gardu listrik, nanti akan ada jembatan besar 2 jalur.

– Putar arah setelah lewat jembatan ini lalu belok kiri ke sebuah jalan yang tidak terlalu lebar (hanya ada satu jalan persis setelah putar arah melewati jembatan).

– Lurus terus sampai nanti ketemu pertigaan dan di simpang pertigaan itu ada warung. Lalu belok kanan.

– Lurus terus sampai nanti di sebelah kiri jalan (kira2 gang keempat) ada tulisan Jalan Jomblang dan beloklah ke jalan itu. Jalannya terbuat dari beton dengan bagian tengahnya batu2an.

– Lurus lagi sampai di penghujung jalan dan akan ada papan penunjuk kecil bertuliskan Jomblang yang menyuruh belok kanan.

– Setelah itu ikutilah jalan yang ada. Jalannya akan sangat berbatu-batu dan melewati ladang-ladang penduduk.

– Di penghujung jalan, hanya akan ada satu penginapan yakni penginapan si empunya tur buat turun ke Gua Jomblang ini.

– Sebagai acuan, koordinat penginapan di Jomblang tersebut yang tercatat di hpku adalah : 8 derajat 01′ 40″ S & 110 derajat 38′ 17″ E

rute jalan ke Gua Jomblang

gambaran jalan ke Gua Jomblang

Untuk turun dan masuk ke Gua Jomblang menyaksikan permainan cahaya yang disebut orang-orang dengan ‘cahaya surga’ ini, tiap orang dikenakan biaya 450 ribu rupiah. Dengan biaya itu, kita akan mendapatkan suguhan teh (sebelum turun), sepatu boat (bahkan ukuran kakiku, 44, pun ada), helm, biaya turun dan naik gua, serta makan siang. Wajar sih, terutama bila dilihat dari pengalaman yang akan didapatkan dan usaha yang harus mereka keluarkan untuk menarikmu keluar dari mulut gua.

foto pakai 'tongsis' dulu sebelum turun

foto pakai ‘tongsis’ dulu sebelum turun

Untuk turun ke dekat mulut Gua Jomblang satu-satunya cara adalah dengan menggunakan tali. Jarak tempuh ke bawah adalah sekitar 60 meter dan di dasar itu masih berupa hutan yang disebut orang-orang dengan nama hutan purba. Lalu, dari mulut gua, kita masih harus berjalan sekitar 250 meteran lagi dengan diterangi lampu yang telah dipasang oleh mereka hingga akhirnya sampai di ujung satunya dan disambut oleh langit2 gua yang terbuka dan cahaya berebutan masuk menciptakan pemandangan yang sangat indah.

turun dengan menggunakan tali temali

turun dengan menggunakan tali temali

'cahaya surga' dan petualang

‘cahaya surga’ dan petualang

Sempat terlintas pertanyaan “Mengapa tidak pakai mesin untuk menarik orang-orang naik ke atas?” ke tour guide kami, dan dia menjawab soalnya orang-orang yang menarik kita2 naik nantinya akan mendapatkan bayaran. Oke, masuk akal. Sepertinya inilah salah satu alasan mengapa tarif yang dikenakan mencapai 450 ribu rupiah per orang.

Oh ya, urutan kalian turun ke dalam gua tidak menjadi patokan urutan kalian ditarik naik ke atas. Urutan ditarik naik atas akan dimulai dari orang yang paling berat dulu hingga akhirnya yang paling ringan. Tujuannya? Cobalah pikirkan sendiri.

orang-orang perkasa yang menarik kami naik setinggi 60m

orang-orang perkasa yang menarik kami naik setinggi 60 m

Oh ya, di tempat itu juga tersedia kamar mandi jika kalian ingin membersihkan diri. Atau, jika ingin lanjut main2 air, terdapat Kali Suci (mirip2 wisata Gua Pindul) yang tidak jauh dari situ.

**
Perjalanan kami selanjutnya pun diteruskan ke Candi Ratu Boko (dekat2 Prambanan) melihat matahari terbenam.

matahari terbenam di Candi Ratu Boko

matahari terbenam di Candi Ratu Boko

Oh ya, jika kebetulan kalian membawa gopro dan tongsisnya, kalian boleh coba naik ke semacam punden berundak di daerah tempat banyak orang2 ngumpul dan mengambil foto. Lebih bagusnya lagi, jika latar belakang kalian adalah matahari tenggelam. Sayangnya hal ini baru kami sadari saat telah meninggalkan tempat itu.

gopro dan tongsis _ salah latar..

gopro dan tongsis _ salah latar sih tapi..

**

Matahari telah tenggelam dan kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan untuk menonton Sendra Tari Ramayana.

Ada empat kelas kategori tiket (tiga sih untuk umum soalnya yang satu lagi untuk pelajar dan harus rombongan) yang dijual dan kami memilih yang paling murah seharga 100 ribu rupiah per orangnya. Biaya tambahan lain yang akan dikenakan adalah jika kalian ingin mengambil gambar pertunjukan itu. Untuk satu kameranya dikenakan biaya sebesar 5 ribu rupiah, yaaa, walaupun tidak pernah diperiksa juga sih kupon kamera ini.

Melihat tingginya animo turis menonton pertunjukan ini, memiliki tiket menonton tidak menjamin kalian akan mendapatkan tempat duduk. Entah karena saat kita ke sana penonton lagi banyak2nya atau tidak, tapi yang pasti banyak orang tidak dapat tempat duduk (bahkan aku hampir saja tidak dapat) sehingga mereka terpaksa duduk di mana pun yang mereka bisa duduk (baca: tangga antar lantai tempat duduk)..

Namun, secara keseluruhan, jika kalian berkunjung ke daerah Prambanan, sempatkanlah untuk menonton pertunjukan ini..

Sendra Tari Ramayana @Prambanan

Sendra Tari Ramayana @Prambanan

Sendra Tari Ramayana (2) @Prambanan

Sendra Tari Ramayana (2) @Prambanan

*

Kami hanya menonton sesi pertama dari pertunjukan tersebut sebab beberapa dari kami sepertinya sudah mengantuk dan kami belum mendapatkan hotel tempat menginap malam itu. Akhirnya, setelah telepon sana sini, kami berhasil mendapatkan satu kamar (Family Room) di hotel tempat semalam teman kami Deri menginap. Harga yang dikenakan untuk malam minggu itu adalah sebesar 400 ribu.

**

Akibat kelelahan kurang tidur di kereta malam sebelumnya ditambah lagi capek dengan aktivitas seharian kemarin, saat bangun tidur pagi itu kami malas-malasan. Karenanya, kami baru meninggalkan hotel sekitar jam setengah 8 pagian menuju daerah Gunung Merapi untuk ‘jeep touring’.

Jalan menuju Gunung Merapi tempat banyaknya tour agent menyediakan ‘jeep tour’ Merapi cukup mudah dicari. Sebagai acuan, ini adalah koordinat tour Merapi yang kami ambil : 7 derajat 35′ 26″ S & 110 derajat 26′ 33″ E.

Dikarenakan kami ada berenam, maka lima orang dari kami naik jeep dan satu orang lagi naik motor. Dan bila kau bisa bawa motor, pilihlah motor sebab pengalamannya benar-benar luar biasa.

tugu di museum letusan Gunung Merapi

tugu di museum letusan Gunung Merapi

foto 'prewed' di jeep :)

foto ‘prewed’ di jeep 🙂

narsis sebelum pulang di jembatan kuning

narsis sebelum pulang di jembatan kuning

**

Tidak lengkap rasanya ke Yogyakarta bila tidak membawa oleh2 Bakpia. Dan karenanya kami pun mampir sebentar ke Mirota Batik dan membeli Bakpia Raminten.

patung selamat datang di Mirota Batik

patung selamat datang di Mirota Batik

**

untuk lebih lengkapnya, silahkan cek video di bawah ini 🙂

***

atampubolon

Bunaken – we’ve dived and we love it

Friday – Sunday, 18 – 20 April 2014

***

Nothing is as excited as going out from your routine and do things that you love.  Even if it is only for a short period, you’ll always hope that after that, you’ll fell refresh and be ready to face whatever it is you’re dealing with everyday.

*

With only two days planning, I would say that we were quite lucky. We managed to get cheap flight from Makassar to Manado. We managed to book two rooms in a luxury hotel with a discounted price, and we also managed to book our dive for the Saturday plus its ‘accommodation’ with a decent price.

*

Around 11.30 am central Indonesian time we arrived in Sam Ratulangi Airport in Manado. The airport is located quite far from the town Manado it self, but it should be located not too far from the hotel where we will stay tonight, Grand Luley, according to Google Maps. With this in mind, we screened all the offers for taxi (a regular family car that they called taxi) and decided to go with one driver that offered 150k rupiah to take us there. We did not even bother to bargain the price because I’d called the hotel a day before to ask whether they can pick us or not and what’s the price and the front desk said they were fully booked and the price is 175 k per car. So, 150 k is way cheaper.

And so we dropped all our bags and hopped in into that Avanza car…

I was enjoying the view outside along the road when I finally realized that we were getting closer to the downtown. Something’s wrong here. I then opened my phone, turned on my gps-google maps and told the driver that we’re heading the wrong way. He then RE-ASKED our destination and instead of Hotel Grand Luley where we want to go to, he was thinking other ‘luley’ somewhere in the downtown. Oh come on…

He was kind of upset I guess and so did we.. But hey, look at the bright side, we got free city tour… even though in the end after we arrived in Grand Luley, he charged us additional 50 K rupiah.

Grand Luley Dive and Resort has experienced management changing few times. Last time, this resort was owned by Santika group thus called Hotel Santika. But I guess, they decided to sell it due to economic reason.

Find more about this Grand Luley Dive and Resort here : http://www.luleyhotels.com/

Point to be noted :

– As per our stay here, the bar is still under construction and so did the dive center. So, the pictures of these places is not as it’s shown it the website.

– Some trees were still being planted and there was still some works happening at the walkway to the jetty.

**

After check in, the first thing that we hit was the dive center. Looks like the luck was still on our side. We manged to secure 5 seats in the boat for snorkeling, which will leave at 2 pm sharp (in about one hour), and we also got discounted price, around 150 k per person. We then changed our clothes, had lunch (which is not too bad by the way), and headed to the end of the jetty where the boat waits.

jetty - Grand Luley

jetty – Grand Luley

**

The spot that we went to called Lekuan 2. It’s located South of Bunaken Island and North of our hotel. Yeah… Bunaken is so close from Luley, only about half an hour by boat straight to the north.

The boat is actually used to bring divers to their dive spot. But since that spot is beautiful too for snorkeling, they also open a trip for snorkeling and there we were. In total, there were almost 20 people on the boat; half dive and the other half snorkel.

sitting on the ocean _ photo by Azhar Haslian

sitting on the ocean _ photo by Azhar Haslian

The spot was beautiful with many fishes and beautiful corals. We even saw two turtles swam not too deep from us that we managed to free dive so close to them. If you have chances to visit this place, you should dive (I am serious) or at least snorkel.

*

After snorkel and swam in the pool, we were so hungry. We had enough hotel’s food, but looking for dinner outside hotel is out of the options. Since this place is so far from the downtown and we did not have car, we then decided to try our luck (again) and order McDonalds.

After few hours and many phone calls, our order finally came. horeeyy.. The person who brought our orders admitted that he was the fourth person who was asked to bring our order after the other three before him declined it. We assumed it must be because this hotel is so far north from the town. But anyway, we were having the best McDonalds dinner that night and we tipped him greatly.

McDonalds

**

The next morning we were picked up from the hotel around 7 by a driver from La Rascasse who eventually brought us to La Rascasse to do our diving.

From all the diving resorts in Manado and Bunaken that we’ve asked, La Rascasse is the cheapest one. Not only cheap, according to review, they are also so professional and we’re about to find it out.

La Rascasse is a France word to say Lion Fish. For more information about this place, you can visit their website : http://www.larascasseresort.com/

The price list may not shown there yet. But here’s detail of our expense there :
– Two or three dives are charged the same amount of money. But since we’re going to fly out the next day, we were only allowed two dives and one snorkeling.

– La Rascasse accommodation was full the day we were there. So, Pak Katiman Herlambang (La Rascasse manager) put us in another hotel not too far from La Rascasse that has working agreement with them called Villa-Dahlia. I would recommend you to stay in Villa-Dahlia better than La Rascasse because their view is so much better. Find more about Villa Dahlia here : http://www.villa-dahlia.com/

– With two dives, one snorkeling, three meals (lunch, dinner, and breakfast) we were charged 1,2 million rupiah per person in total. But this is not included with dive gears that you might need to borrow.

**

outside appearance can deceive you - Villa Dahlia

outside appearance can deceive you – Villa Dahlia

When we left La Rascasse for our dive, we saw Villa Dahlia in a distance. It’s outside appearance is not promising. It looks like some under constructed hotel (again-after Luley) and not beautiful at all. But our assumption were proven to be wrong when we entered that hotel late in the afternoon.

'trader' in the middle of the ocean

‘trader’ in the middle of the ocean

During our break between dive 1 and 2, a small motor boat came closer. From it came out a lady with all crafts that she made put together in two big plastic bags. This is the way they sell things here in Bunaken, by boat in the middle of the ocean. And, they’re price is cheaper I guess then the price in the downtown.

let's explore Bunaken !! - photo from Miska's ipad

let’s explore Bunaken !! – photo from Miska’s ipad

after dive and snorkeling

after dived and snorkeled

Since La Rascasse was having so many visitors during our visit there, Pak Katiman asked two freelance divers to be our guide. Their name is Jodha (instructor_on the further right in the first picture above) and Adi (I kind of forgot the name but he is a dive master_on the further left in the first picture above).

They’re both so professional and very helpful during the dive. I would recommend them if you are planning to dive in Bunaken. For information, they’re both currently opening their dive center called ManadoDiveClub. I lost their card, but you can follow their twitter here: https://twitter.com/ManadoDiveClub  for more information.

outside appearance can deceive you - Villa Dahlia

sunset view from Villa Dahlia

sunset view from Villa Dahlia is so amazing with Manado Tua and Bunaken right in from of you…

***

atampubolon

greencanyon ke galunggung

Jumat – Senin, 28-31 Maret, 2014

***

– Jumat malam, sekitar pukul setengah 11, lari2an mengejar Bus Budiman karena takut kehabisan tempat duduk ditengah banyaknya antrian orang yang mau ke Tasikmalaya..

DSC_0013

Terminal Kampung Rambutan di malam hari

– Jakarta – Tasikmalaya ditempuh dalam waktu kurang lebih sepuluh jam.. Mulai dari macat yang berkepanjangan, ditambah lagi ban bus yang bocor di sekitar Garut…

– Di pool Budiman di Tasikmalaya kita sudah ditunggu oleh seorang teman dan kita langsung tancap gas ke green canyon..

body rafting Greencanyon

selfie dulu kaka di greencanyon

– Pulang dari Greencanyon kita nginap semalam di Pangandaran. Tempat tinggal kita berupa sebuah rumah dilengkapi dengan kipas angin dengan 2 buah kamar tidur dan berlokasi dekat dengan Pantai Timur Pangandaran.. Harganya 500 ribu semalam.

– Besoknya, kita menikmati matahari terbit di Pantai Timur Pangandaran..

Pantai Timur Pangandaran di pagi hari

Pantai Timur Pangandaran di pagi hari

matahari terbit di Pantai Timur Pangandaran

matahari terbit di Pantai Timur Pangandaran

– Selesai menikmati matahari terbit, aktivitas di Pangandaran akhirnya kita tutup dengan bermain olahraga air (di pantai timur itu juga).. Paket main air yang ditawarkan seharga 85 ribu (setelah ditawar) untuk tiga atraksi air..

– Puas bermain di Pangadaran, kita pun lanjut ke sebuah pantai terpencil bernama Madasari untuk makan siang sekalian menikmati pemandangan dari sisi tebingnya..

di sisi tebing Pantai Madasari

di sisi tebing Pantai Madasari

– sorenya, kita singgah dulu di sebuah mercu suar dekat Pantai Madasari sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Tasikmalaya..

– Esok paginya kita punya rencana untuk menyaksikan matahari terbit dari puncak Gunung Galunggung. Namun, berhubung semua orang sudah kecapaian, kita baru mulai mendaki sekitar jam setengah 8 pagi..

kecapaian di tengah jalan pendakian

kecapaian di tengah jalan pendakian

DCIM100GOPRO

semangkuk mie rebus yang sangat enak di puncak gunung

bapak yg perkasa - tiap harinya naik 400an lebih tangga sambil membawa jualannya

bapak yg perkasa – tiap harinya naik 400an lebih anak tangga sambil membawa jualannya

**

untuk benar-benar merasakan serunya tempat2 di atas, mungkin video di bawah ini akan membantu memberikan gambarannya.. 🙂

 

***

atampubolon

Surabaya, Gunung Kelud, dan Madiun

13-15 Februari 2014

***

Kubeli tiketku sekitar enam bulan yang lalu, tepatnya pada pertengahan bulan Agustus 2013, untuk keberangkatan Februari 2014. Tepat dua hari sebelum hari pernikahan temanku, sehari sebelum Hari Valentine, dan tanpa kuduga, tepat pada hari dimana Gunung Kelud meletus.

Dengan harga promo 75 ribu untuk penerbangan Jakarta-Surabaya dan 45 ribu untuk arah sebaliknya, dulu aku mikirnya, yaaa, kalau batal juga paling ruginya gak seberapalah. Dan memang kejadian, sebab aku tidak dapat menggunakan tiket pulang Surabaya-Jakarta itu..

*

Citilink punya kebijakan baru untuk menyertakan biaya airport tax mereka dengan biaya tiketnya. Hanya saja, karena kebijakan ini sendiri baru berlangsung beberapa minggu, tiket2 yang dibeli sebelum kebijakan baru ini diterapkan masih tetap diharuskan membayar airport tax. Sayang sekali, padahal tadi sudah sempat membayangkan akan menghemat duit 40 ribu.. haha

Ada satu kejadian mengenai tempat duduk di pesawat yang sudah beberapa kali aku alami, yang entahlah karena kebetulan ataupun ….. kebetulan (sih sepertinya).

Belakangan ini hampir semua maskapi penerbangan memungkinkan kita untuk melakukan check-in secara online melalui internet. Saat check-in, biasanya tempat duduk kita sudah ditentukan (yang kita pilih sebelumnya saat membeli tiket online), kecuali di maskapai Garuda Indonesia (yang aku tahu). Nah, posisi tempat duduk ini sendiri memiliki harga yang berbeda-beda, yang pada akhirnya mempengaruhi harga akhir tiket kita. Tempat duduk deretan paling depan dan di deretan jendela darurat itu biasanya yang paling mahal, dan sialnya yang selalu kuinginkan sebab jarak antar bangkunya yang lebih lapang. Karenanyalah, biasanya aku memilih tempat duduk di bagian lorong (aisle) tepat satu baris di depan ataupun di belakang jendela darurat tadi. Dengan adanya persyaratan bahwa orang yang duduk di baris itu harus mampu membantu melakukan evakuasi, maka tak jarang saat orang tua, anak2, maupun orang2 yang dirasa pramugari pesawat kurang sesuai untuk duduk di situ, duduk di barisan itu, aku mendapatkan tawaran dari sang pramugari untuk menggantikan tempat mereka. Tawaran yang tentu saja kusambut dengan jawaban mantap, boleh mbak, seraya lekas berdiri…

**

Satu jam lima belas menit adalah waktu tempuh Jakarta Surabaya. Setelah duduk manis hampir setengah jam lebih di dekat pintu keluar bandara, temanku, sekaligus tuan rumah tempat aku akan menginap malam ini, pun menelepon mengatakan kalau dia sudah menunggu di luar.

Tujuan pertama kita adalah mencari makan siang. Kalau baca dari blog-blog traveler, mereka bilang tidak lengkap rasanya ke Surabaya kalau belum makan Rawon Setan (berlokasi tepat di depan hotel JW Marriot), dan ke sanalah kita pergi siang itu..

seporsi Rawon Setan seharga 35 ribu

seporsi Rawon Setan seharga 35 ribu

Aku tidak ahli tentang makanan yang namanya rawon ini. Yang kutahu adalah, dagingnya lembut, bumbunya sangat terasa, dan pedasnya di atas rata-rata. Sedangkan asal usul kenapa diberi nama “setan”, kata temanku sih karena bumbunya itu yang sangat terasa. Tapi, ya entahlah. Yang pasti tempat ini sudah sangat terkenal sebab di tiap sisi dindingnya dipenuhi figura foto2 orang terkenal yang menyempatkan diri makan di situ.

Tepat saat kami hampir selesai makan, hujan deras turun. Gak di Jakarta, gak di Surabaya, masa hujan terus, gerutuku. Setelah beres makan, kami pun berpidah posisi duduk ke bagian depan warung sambil menikmati udara sejuk.

Hujan turun deras sederas-derasnya. Seakan tak cukup hanya itu, angin kencang pun turut datang membuat posisi duduk kami di depan warung harus dimundurkan beberapa langkah ke belakang, jika tidak mau basah. Genangan air pun mulai terbentuk di depan kami, bahkan ada bagian jalan raya di depan kami yang sudah terendam air cukup tinggi sebab telah berhasil membuat beberapa pengendara motor yang melewatinya kesusahan (baca : motornya mogok). Cukup mencekam memang situasi sore itu, terlebih lagi saat kami menyaksikan sendiri puluhan bahkan ratusan kecoak merangkak keluar berusaha menyelamatkan diri dari lubang persembunyiannya yang mulai terendam air, tepat di depan kami..

di depan warung, dengan banyak kecoak mati di bawah sendal

di depan warung, dengan banyak kecoak mati di bawah sandal

**

Hampir sejam lebih kami menunggu, hujan deras pun akhirnya berubah menjadi gerimis. Dan kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk segera melaju ke tempat kontrakan temanku ini, di sekitar daerah ITS.

*

Lalalalala…. lililililiilili….. lulululululu……

Tak terasa beberapa jam berlalu ngobrol ke sana kemari sama temanku itu, sebut saja namanya Rudi, dan teman-teman kosannya, yang kebetulan berasal dari satu almamater SMA denganku. Mungkin karena latar belakang yang sama itulah kali ya kami bisa ngobrol selama itu sampai jam telah menunjukkan hampir pukul 8 malam, padahal aku belum tur keliling Surabaya sama sekali.

Ternyata, Rudi sudah punya rencana di benaknya untuk mengajakku menikmati indahnya cahaya lampu di malam hari di kota Surabaya…

**

Perjalanan dimulai dengan menyebrangi jembatan Suramadu, menginjakkan kaki di Madura, putar arah menuju Surabaya, dan kembali menyebrangi jembatan lagi menuju Surabaya – setelah berhenti dan berfoto di atas jembatan dulu tentunya.

curi-curi foto di atas Jembatan Suramadu

turun dri motor, foto, langsung lanjut jalan – di atas Jembatan Suramadu

Setelah sampai di Surabaya lagi, kita lanjut ke suatu daerah yang aku tidak hapal namanya untuk melihat makan W.R.Supratman (aku baru tahu saat itu kalau ternyata pencipta lagu kebangsaan Indonesia ini dimakamkan di Surabaya). Kemudian, kita lanjut melihat Tugu Pahlawan dibilangan pusat kota Surabaya.

patung proklamator Indonesia di dengan latar belakang Tugu Pahlawan

patung proklamator Indonesia di dengan latar belakang Tugu Pahlawan

Belum cukup dengan wisata sejarahnya, Rudi pun mengajakku ke daerah Jembatan Merah, melewati Hotel Yamato (sekarang sudah berganti nama menjadi Hotel Majapahit), serta terakhir melihat patung Sura dan Buaya yang menjadi ikon kota Surabaya.

Karena perut sudah keroncongan akibat terakhir diisi dengan makanan “berat” adalah tadi siang, kita pun lanjut mencari makan di Warung Sedap Malam “Kalkulator” di Taman Bungkul yang terkenal itu. Menurut penuturan Rudi, tempat ini cukup terkenal juga dan makanannya juga enak. Hanya ada dua menu yang dihidangkan, nasi rawon dan nasi soto. Karena aku telah makan rawon tadi siang, akhirnya malam itu pun kuputuskan untuk mencoba nasi soto campurnya.

nasi soto campur

nasi soto campur

Setelah perut terisi penuh, tur pun dilanjut lagi dengan mengunjungi Rumah “hantu” Darmo. Bukan mengunjungi sih sebenarnya istilah yang tepat sebab kami hanya lewat sekilas di depan rumah itu, yang ternyata di luarnya ada banyak orang berkumpul, menunggu waktu yang tepat buat masuk sepertinya. Sempat ditawari Rudi untuk masuk sih, cuma tawaran itu kutolak mentah-mentah.

Keluar dari kompleks perumahan Darmo, kami pun melanjutkan perjalanan untuk melihat sekilas lokalisasi Dolly. Sempat agak takut juga sebenarnya melewati tempat itu. Apalagi bila motor yang kau gunakan melaju pelan, orang tidak akan segan memegang pundakmu sambil menunjukkan arah ke parkiran motor, yang kemudian tinggal dilanjutkan dengan sedikit jalan kaki ke arah etalase-etalase kaca dengan wanita-wanita berpakaian seksi di dalamnya. Untunglah ujung jalan itu segera kelihatan dan kami segera melanjutkan perjalanan pulang.

Waktu telah menunjukkan pukul setengah 12 malam dan ban depan motor kami bocor. Sungguh suatu kejadian yang sangat tidak diinginkan di waktu selarut itu. Sambil terus melihat ke segala arah, mencari tukang tambal ban, kami tetap meneruskan perjalanan pulang pelan-pelan. Akhrinya, setelah cukup jauh berkendara, kami menemukan tukang tambal ban yang masih buka, tak jauh setelah melewati Universitas Airlangga. Sungguh kami sangat beruntung.

menambal ban motor beberapa menit sebelum tengah malam

menambal ban motor beberapa menit sebelum tengah malam

**

Malam berlalu dan besok paginya saat bangun tidur aku tanpa sengaja mendengarkan berita tentang meletusnya Gunung Kelud dari televisi di kamar Rudi yang memang sengaja dibiarkan menyala sejak tadi malam. Cukup parah letusan gunung itu sebab di berita dikatakan kalau debunya sampai ke daerah-daerah yang jaraknya bahkan mencapai ratusan kilometer darinya, termasuk Surabaya.

Mendengar itu, aku segera bergegas keluar kosan dan mendapati kalau motor yang diparkir di luar telah diselimuti oleh debu abu vulkanik yang cukup tebal. Wow, kataku pelan, sambil bergumam kalau ini adalah kali kedua aku melihat langsung debu letusan gunung berapi. Bagaimana nasibnya nanti perjalanan keretaku ke Madiun ya, tanyaku dalam hati.

PERJALANAN KERETA API DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH TIDAK TERGANGGU …. begitulah kira-kira isi pesan yang terdapat di bagian bawah layar salah satu stasiun TV yang saat itu sedang kutonton, dan memang benar bahwa keretanya tetap jalan. Hanya saja, kejadian yang akan terjadi kemudian tidak aku bayangkan sebelumnya..

*

Kereta api yang aku naiki adalah kereta api Ekonomi AC Logawa dengan tujuan akhir Purwokerto. Oke, keretanya pakai AC, seharusnya udara dari luar tidak akan masuk, termasuk debu abu vulkanik itu, pikirku. Namun ternyata aku salah…

Kereta ekonomi jauh berbeda dengan kereta eksekutif. Tak hanya dari segi harga tiket, tapi juga dari kualitas interior gerbong dan ventilasi kereta. Dengan tidak rapatnya ventilasi gerbong yang aku naiki, udara atau lebih tepatnya debu vulkanik, masih dapat menerobos masuk sehingga memenuhi gerbong. Ditambah lagi dengan adanya beberapa jendela kaca di gerbong itu yang berlubang  atau pecah setengah atau apapun namanya, semakin banyaklah debu yang masuk ke dalam gerbongku. Gerbong itu seakan membawa muatan debu yang berterbangan mencari tempatnya diantara kerumunan manusia. Mengisi ruang-ruang kosong. Bahkan tak akan segan-segan masuk ke tubuhmu bila tidak segera kau lindungi.

Saat berhenti di salah satu stasiun aku sempat hendak turun untuk mencari masker. Namun, kata seorang bapak yang berdiri di dekat tangga turun dari gerbong, dia sudah bertanya ke orang-orang di situ dan mereka tidak menjual masker sama sekali. Akhirnya, sebelum aku mabuk karena debu, kuputuskan untuk menggunakan salah satu bajuku menjadi masker dadakan.

dengar masker ala kadarnya - warna putih di luar jendela adalah debu yg diterbangkan angin

dengar masker ala kadarnya – warna putih di luar jendela adalah akibat debu vulkanik yg diterbangkan angin

**

Dua setengah jam berlalu dan aku pun sampai di Madiun. Tak lama setelah keluar dari kereta dan menginjakkan kaki di stasiun, hujan deras turun.. Lagi ?! gumamku. Tapi tanpa kusadari, hujan itu menjadi berkah sebab udara di Madiun menjadi bersih.

*

Lalu kejadian selanjutnya pun berlangsung kira-kira seperti ini :

– dijemput teman yang sekaligus menjadi tuan rumahku, sebut saja namanya Titus, di tengah lebatnya “hujan lumpur”.. walaupun pakai jas hujan, badanku yang tinggi membuat penggunaannya tidak maksimum sehingga celana panjangku basah kuyup dengan lumpur

– ke tempat nikahan temanku bantu-bantu membersihkan tempat itu dari lumpur debu abu vulkanik..

– bantu-bantu ngejemput sepeda dari rumah orang2 sebab tema nikahan temanku besok ada hubungannya dengan sepeda..

– duduk-duduk di tempat nikahan ngedengarin orang2 ngobrol dalam bahasa Jawa (sebgai catatan : aku hanya mengerti segelas dari seember yang mereka bicarakan – jika kau paham maksudku)..

– ngejemput sepeda lagi dari orang-orang..

– pulang ke rumah Titus, makan malam sama keluarganya, istirahat, dan bangun keesokan harinya mendapati rumah Titus telah dipenuhi para penumpang gelap seperti aku yang membutuhkan tempat untuk bersolek sebelum berangkat ke tempat nikahan..

capek mengayuh becak mengantarkan kedua mempelai ke gedung resepsi

capek mengayuh becak mengantarkan kedua mempelai ke gedung resepsi

para pengayuh sepeda (dan yang diboncengnya) berfoto sama kedua mempelai

para pengayuh sepeda (dan yang diboncengnya) berfoto sama kedua mempelai

membuat "kegaduhan" di acara resepsi..

membuat “kegaduhan” di acara resepsi..

– dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan pulang malamnya ke Jakarta.. kali ini bukan dengan kereta ekonomi lagi…

***
atampubolon

 

Merpati, Makassar, dan Garuda

Jumat, 10 Januari 2014

***

Tak ada yang aneh pagi itu. Cuaca cerah dan pesawatku dari Sorowako mendarat tepat waktu di Bandara Sultan Hasanuddin. Sengaja tidak memasukkan tas carrier yang kubawa ke bagasi, aku pun segera melaju ke tempat check-in. Oke, aku masih punya waktu hampir 2,5 jam ini sebelum boarding, pikirku.

Mendekati tempat check-in Merpati tujuan Sorong aku tidak melihat adanya antrian yang panjang. Mungkin karena penerbangan masih 3 jam lagi. Setelah menunggu orang yang didepanku bergeser dari posisinya, aku pun maju mendekat beberapa langkah sambil menunjukkan tiket yang baru kucetak sehari sebelumnya.

Maaf mas, penerbangan Merpati ke Sorong hari ini dibatalkan.

Itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Mbak yang menjaga counter check-in Merpati itu. Kalimat yang membuatku terdiam selama beberapa saat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, berharap aku salah dengar.

Melihat aku masih terpaku berdiri di hadapannya, si mbak itu menambahkan : Kita dari pihak Merpati minta maaf mas. Pesawatnya tiba-tiba rusak di Yogyakarta pagi ini sehingga kita tidak dapat memberikan pemberitahuan sebelumnya.

Berusaha menahan emosi, saya berusaha menjelaskan : saya harus sampai di Sorong siang ini Mbak soalnya saya sudah ditunggu untuk melanjutkan perjalanan ke Raja Ampat. Saya bahkan sudah membayar jutaan (pada saat kejadian kata-kata yang terucap adalah puluhan juta). Apakah pihak Merpati mau mengganti kerugian saya?

Maaf Mas, kebijakan Merpati hanyalah memberikan biaya penginapan malam ini dan kemudian akan diberangkatkan esok hari. Sebenarnya kita dapat mencarikan penerbangan ke Sorong, tapi satu-satunya penerbangan lain ke Sorong hari ini adalah XpressAir dan mereka juga sudah penuh.

Dengan wajah kecewa dan panik, aku pun berjalan ke loket penjualan tiket Merpati yang ternyata sudah dipadati oleh banyak “mantan penumpang”. Diantara mereka ada yang minta duit pembelian tiketnya dikembalikan, dan ada pula yang mengurus biaya hotel yang disediakan oleh Merpati. Sementara aku, hanya berdiri terpaku menyesali diri sendiri kenapa dulu lebih memilih membeli Merpati ini ketimbang XpressAir padahal harganya hanya berbeda dua ratus ribuan.

Tak lama menunggu di depan loket, seorang bapak dari pihak Merpati yang dari penampilannya sepertinya memiliki posisi tinggi menghampiriku dan menanyakan hal yang bisa dibantunya.

Saya harus sampai ke Sorong siang ini Pak soalnya saya masih harus melanjutkan perjalanan ke Raja Ampat. Saya bahkan rela duduk di bagasi pesawat XpressAir yang penuh itu selama saya bisa sampai di Sorong, kataku.

Gak mungkinlah Mas, jawabnya sambil senyum setengah ketawa, sambil berlalu meninggalkanku.

**

Pukul 11 WITA pesawat Merpati dari Jakarta (yang ternyata tujuan akhirnya ke Merauke) mendarat di Sultan Hasanuddin dan aku pun akhirnya bertemu dengan Angky, salah seorang peserta tur Raja Ampat lainnya, di ruang tunggu bandara.

Jadi, tak beberapa lama setelah kejadian di loket penjualan tiket Merpati itu, si bapak yang ngobrol denganku tadi datang lagi dan mengumumkan kalau ada kemungkinan kita jadi berangkat sebab pesawatnya katanya sudah diperbaiki. Itulah sebabnya kenapa aku bisa check-in dan akhirnya masuk ke ruang tunggu ini.

Sejam akhirnya berubah menjadi dua jam. Dan dua jam menjadi tiga jam. Setelah kebosanan menunggu, akhirnya diumumkanlah lewat pengeras suara kalau penerbangan kami ke Sorong hari itu akhirnya benar-benar dibatalkan.

Mendengar kembali pengumuman itu aku tidak lagi segalau tadi. Mungkin karena sudah menduga hal ini akan terjadi. Atau mungkin juga karena tenagaku sudah habis terkuras menunggu selama tiga jam. Tapi, terlepas dari itu, memiliki teman senasib sepenanggungan (baca Angky) itu cukup membantu..

**

Mbak, kita sudah booking 2 tiket Xpressair berangkat jam 3 subuh esok harinya ke Sorong. Kita pingin pihak Merpati yang bantu pembayarannya, bisa tidak Mbak? , tanya Angky ke mbak yang menjaga loket penjualan tiket Merpati.

Enggak bisa Mas, jawabnya, ditambah penjelasan panjang lainnya.

Singkat cerita, akhirnya aku dan Angky meminta duit pembelian tiket Merpati kita dibalikin dan kita beli sendiri tiket Xpressair itu. Harganya? Harganya dua kali lipat tiket Merpati yang aku beli. Tapi yaa, mau gimana lagi.

Merpati kok gitu sih? - di depan loket penjualan tiket

Merpati kok gitu sih? – di depan loket penjualan tiket

**

Pukul 14.00 WITA tiket baru sudah di tangan kami dan masih ada waktu 13 jam lebih sebelum kami berangkat.

Angky, yang kebetulan punya banyak koneksi dari tempat kerjanya, punya kenalan juga di Makassar. Setelah menghubungi beberapa orang, akhirnya kami dijemput di Bandara Sultan Hasanuddin dan dibawa mengelilingi kota itu.

Awalnya kita singgah dulu di tempat teman dia. Setelah ngobrol ngobrol ngobrol, kita pun lanjut ke Pantai Losari dan diteruskan dengan makan pisang epe. Setelah kenyang, kita lanjut dengan singgah di Benteng Rotterdam yang kemudian ditutup dengan makan malam Palubasa serigala ditraktir temannya Angky. Bila dipikir-pikir, ada sisi positifnya juga dari pesawatku yang dibatalkan itu sebab aku menjadi punya kesempatan untuk melihat-lihat kota Makassar plus mencicipi dua makanan khasnya.

hujan rintik-rintik di Pantai Losari

hujan rintik-rintik di Pantai Losari

pisang epe - sebelum dibakar dan dibentuk

pisang epe – sebelum dibentuk dan dikasih gula

**

pukul setengah 1 pagi keesokan harinya kami telah berada di Bandara Sultan Hasanuddin. Setelah check-in, kami pun masuk ke ruang tunggu dan bersiap untuk berangkat pukul 3 paginya ke Sorong (kali ini penerbangannya tepat waktu dan tidak dibatalkan lagi tentunya).

**

11-14 Januari 2014 -> menikmati keindahan Raja Ampat

**

15 Januari 2014

*

Setelah kejadian penerbanganku yang dibatalkan itu, aku sebenarnya sudah bertekad untuk tidak menggunakan Merpati lagi. Namun sayangnya aku sudah terlanjur membeli tiket pulang ke Makassar naik Merpati juga.

Takut kejadian yang sama terulang lagi (sebenarnya kalau terulang pun aku gak bakalan bisa berbuat apa2), beberapa jam sebelum keberangkatan aku menelepon customer service Merpati.

Mbak, nama saya Agus. Saya akan terbang menaiki Merpati dari Sorong ke Makassar dengan nomor penerbangan bla bla bla. Sejauh ini ada perubahan rencana tidak ya? Kayak misalnya penerbangannya dibatalkan gitu.

Sejauh ini penerbangan bla bla bla masih tepat waktu kok Mas, jawabnya tenang sambil berusaha menahan tawa yang masih bisa kudengar pelan.

Oke Mbak, terima kasih ya, jawabku sambil mematikan telepon.

*

Sejam sebelum boarding aku telah berada di Bandara Dominique Edward Osok di Sorong dan telah selesai check-in juga. Lalu, aku pun menghampiri teman-temanku lainnya peserta tur yang akan balik ke Jakarta dengan menaiki Garuda.

Mendekati loket Garuda, aku melihat sepertinya ada sesuatu yang salah. Seorang petugas Garuda menghampiri mereka (yang kemudian kususul) dan menjelaskan kalau pesawat Garuda dari Sorong ke Makassarnya mengalami kendala teknis. Jadi, satu mesinnya mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berputar maksimal, katanya. Karenanya, kalau mau, penerbangan ke Makassar kita pindahkan naik Merpati yang jam keberangkatannya juga sama.

Mendengar penjelasan itu, aku hanya bisa tersenyum sebab telah berada di dua tempat yang berbeda dengan situasi yang sama. Bedanya, jika di penerbangan sebelumnya Merpati menjadi penyebab kejadian, di penerbangan ini Merpati menjadi penyelamat. Tanpa Merpati, mungkin teman-temanku tidak akan dapat tiba di Makassar untuk mengejar penerbangan mereka selanjutnya ke Jakarta. Sulit diprediksi memang penerbangan ke daerah timur Indonesia ini.

teman-temanku kebingungan di depan loket Garuda

teman-temanku kebingungan di depan loket Garuda

***

atampubolon