Watergius's Journal

The world as I see it

gedung, film, dan menunggu

Sabtu, 9 Mei 2015

***

Gedung itu sangat dingin. Aku pun memilih untuk keluar sebentar. Lagipula, kelasku baru akan dimulai setengah jam lagi dan di ruang tunggu gedung ini tidak ada lagi kursi kosong untuk ditempati.

Kududuk di tempat duduk batu, sengaja di bagian pinggir. Tak lama, seorang wanita keluar dari dalam gedung dan duduk di dekatku. Dia mengeluarkan rokok, mencari koreknya sebentar di antara tumpukan barang-barang dalam tas punggungnya, dan mulai merokok. Ternyata di dekat tempat duduk itu ada tempat sampah dari logam yang bagian atasnya di desain mirip asbak. Kayaknya aku duduk di tempat yang salah, pikirku.

Seorang wanita yang lain pun keluar dari dalam gedung dan berjalan ke arahku. Melihat kemungkinan bagi dia untuk masih dapat duduk di antara kami, dia pun duduk di situ, setelah bertanya tentunya.

Butuh beberapa menit untuk kami duduk di dalam keheningan sampai aku bertanya tentang film apa yang baru saja ditonton. Saat itu memang sedang ada pemutaran film di IFI Thamrin sebagai rangkaian dari Europe on Screen 2015. “Film Hungaria”, jawabnya. Dan kita diam-diaman lagi.

“Gimana filmnya?” keluar pertanyaan kedua dariku, dan itulah pertanyaan kunci yang memulai serangkaian percakapan malam itu.

Hanna, wanita yang duduk tepat di sebelahku, mulai menjelaskan tentang filmnya yang memiliki genre komedi romantis.Tentang bagaimana penonton dibawa ke sana ke sini, hingga tiba-tiba filmnya berakhir begitu saja. Tanpa ada akhir yang jelas.

“Mirip film Jerman dong,” respon yang keluar dari mulutku. Sudah sebulan ini, sejak mengambil les intensif bahasa Jerman, aku meminjam 2 DVD tiap minggu dari Goethe dan menontonya. Dan hampir semua film-film Jerman yang telah kutonton mempunyai akhir cerita yang “tidak selesai”. Tak jarang aku berkata “Apa???” saat film-film itu tiba2 berakhir.

Wanita yang satu lagi, Tazia, pun ikut menimpali. Dan dimulailah percakapan diantara tiga orang yang baru kenal saat itu.

Mereka berdua adalah penikmat film, namun tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang aku kenal. Bukan film-film yang ditayangkan di Cinema 21 yang mereka cari, melainkan film-film yang diputar di teater alternatif (mengutip istilah yang digunakan Tazia). Dan salah satu tempat untuk menyaksikan ini adalah di Kineforum, khususnya untuk film-film Indonesia. Acara Europe on Screen 2015 di IFI ini juga merupakan salah satu teater alternatif, namun sayangnya hanya selama beberapa minggu dalam setahun.

Percakapan saat itu berkembang dari perfilman Indonesia ke foto selfie bahkan ke topik-topik lainnya. Dan oh ya, ternyata kantornya Tazia dan kantornya Hanna memiliki hubungan dan Hanna sedang ditugaskan untuk menuliskan laporan untuk diserahkan kepada orang dari kantor Tazia. Hanya saja, Hanna kurang paham tentang kantor itu dan tidak kenal orang2nya. Namun kini, Hanna lebih dari sekedar tahu informasi tentang kantor itu, dia kenal seseorang di kantor itu yang memiliki minat sama dengan dia.

**

Janganlah segan untuk memulai pembicaraan. Jika benefitnya bukan untukmu secara langsung, mungkin buat orang lain yang sedang berada di dekatmu. Mengobrol saat menunggu terkadang jauh lebih menyenangkan daripada menatap layar kecil berukuran beberapa inchi.

***
atampubolon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: