Watergius's Journal

The world as I see it

Yogyakarta_Jomblang-Boko-Prambanan-Merapi

Sabtu-Minggu, 10-11 Mei 2014

***

Tidak ada hari libur di Jumat maupun Seninnya, hanya akhir pekan biasa. Akhir pekan biasa yang kami buat menjadi luar biasa dengan bertualang di Yogyakarta…

**

Sekitar pukul 7 malam, kereta api ekonomi AC Bogowonto yang kami tumpangi pun perlahan meninggalkan Stasiun Pasar Senen Jakarta menuju Stasiun Tugu Yogyakarta…

Tak lama setelah kereta meninggalkan stasiun, seorang bapak di dekatku mulai mengeluarkan terpal dan menggelarnya di jalanan di tengah gerbong. Aku kiraian hanya dia. Saat kulihat ke ujung gerbong tiga tempatku berada, ternyata hampir semua orang melakukan hal yang sama, bahkan sepertinya di satu rangkaian kereta ini juga orang-orang melakukan hal yang sama.

Setelah mendengar cerita dari seorang mas-mas (aku perkirakan umurnya sekitar 30an) yang tepat duduk di depanku, ternyata itu adalah hal yang wajar di kereta malam seperti ini. Bahkan dia juga biasa melakukannya. Hanya saja, dia tidak tidur di lorong yang aku maksud tadi, melainkan tepat di bawah kursi tempat kami duduk saat ini, memanjang dari bawah kursi yang satu ke kursi yang lainnya..

Semakin malam, semakin banyak pula orang yang melakukan hal yang sama. Berusaha untuk tidur, beristirahat untuk mengumpulkan tenaga beraktivitas di Yogyakarta esok harinya.

di kereta api

suasana malam kereta ekonomi AC

**

– Sekitar pukul 4 subuh hari Sabtunya tiba di Yogyakarta (hampir 2 jam telat dari perkiraan waktu ketibaan di tiket)

– Beres2 sebentar lalu menuju parkiran untuk bertemu orang dari rental mobil Iwan (infonya dapat dicari dari Yogyes).

– Membayar duit sejumlah 550 ribu untuk rental mobil satu setengah hari. Harga yang dikenakan untuk 12 jam adalah 250 ribu dan untuk 24 jam sebesar 300 ribu (lepas kunci dengan jaminan 2 buah KTP).

– Jam 5an meninggalkan stasiun menuju Hotel Rene menjemput seorang teman lagi, sebut saja namanya Deri, yang sudah sampai sehari sebelumnya.

– Jam setengah 7 berangkat dari Hotel Rene : nyari sarapan dalam perjalanan menuju daerah Gunung Kidul.

*

Tujuan pertama kami adalah Wisata Gua Jomblang. Dengan minimnya informasi yang tersedia di internet mengenai jalan ke tempat ini, kami pun sempat agak terseok-seok. Rute ke sana dari Yogyakarta kira2 seperti ini:

– Ambil jalan raya yang menuju Wonosari.

– Setelah sampai Wonosari, cari jalan yang menuju ke Semanu. Tanya saja orang2 di Wonosari, mereka pasti tahu.

– Kira-kira sudah dekat Semanu, perhatikan Gardu Listrik PLN di sebelah kiri jalan (orang Wonosari menyebutnya dengan kantor PLN sehingga sempat membuat kami kesasar). Setelah lewat gardu listrik, nanti akan ada jembatan besar 2 jalur.

– Putar arah setelah lewat jembatan ini lalu belok kiri ke sebuah jalan yang tidak terlalu lebar (hanya ada satu jalan persis setelah putar arah melewati jembatan).

– Lurus terus sampai nanti ketemu pertigaan dan di simpang pertigaan itu ada warung. Lalu belok kanan.

– Lurus terus sampai nanti di sebelah kiri jalan (kira2 gang keempat) ada tulisan Jalan Jomblang dan beloklah ke jalan itu. Jalannya terbuat dari beton dengan bagian tengahnya batu2an.

– Lurus lagi sampai di penghujung jalan dan akan ada papan penunjuk kecil bertuliskan Jomblang yang menyuruh belok kanan.

– Setelah itu ikutilah jalan yang ada. Jalannya akan sangat berbatu-batu dan melewati ladang-ladang penduduk.

– Di penghujung jalan, hanya akan ada satu penginapan yakni penginapan si empunya tur buat turun ke Gua Jomblang ini.

– Sebagai acuan, koordinat penginapan di Jomblang tersebut yang tercatat di hpku adalah : 8 derajat 01′ 40″ S & 110 derajat 38′ 17″ E

rute jalan ke Gua Jomblang

gambaran jalan ke Gua Jomblang

Untuk turun dan masuk ke Gua Jomblang menyaksikan permainan cahaya yang disebut orang-orang dengan ‘cahaya surga’ ini, tiap orang dikenakan biaya 450 ribu rupiah. Dengan biaya itu, kita akan mendapatkan suguhan teh (sebelum turun), sepatu boat (bahkan ukuran kakiku, 44, pun ada), helm, biaya turun dan naik gua, serta makan siang. Wajar sih, terutama bila dilihat dari pengalaman yang akan didapatkan dan usaha yang harus mereka keluarkan untuk menarikmu keluar dari mulut gua.

foto pakai 'tongsis' dulu sebelum turun

foto pakai ‘tongsis’ dulu sebelum turun

Untuk turun ke dekat mulut Gua Jomblang satu-satunya cara adalah dengan menggunakan tali. Jarak tempuh ke bawah adalah sekitar 60 meter dan di dasar itu masih berupa hutan yang disebut orang-orang dengan nama hutan purba. Lalu, dari mulut gua, kita masih harus berjalan sekitar 250 meteran lagi dengan diterangi lampu yang telah dipasang oleh mereka hingga akhirnya sampai di ujung satunya dan disambut oleh langit2 gua yang terbuka dan cahaya berebutan masuk menciptakan pemandangan yang sangat indah.

turun dengan menggunakan tali temali

turun dengan menggunakan tali temali

'cahaya surga' dan petualang

‘cahaya surga’ dan petualang

Sempat terlintas pertanyaan “Mengapa tidak pakai mesin untuk menarik orang-orang naik ke atas?” ke tour guide kami, dan dia menjawab soalnya orang-orang yang menarik kita2 naik nantinya akan mendapatkan bayaran. Oke, masuk akal. Sepertinya inilah salah satu alasan mengapa tarif yang dikenakan mencapai 450 ribu rupiah per orang.

Oh ya, urutan kalian turun ke dalam gua tidak menjadi patokan urutan kalian ditarik naik ke atas. Urutan ditarik naik atas akan dimulai dari orang yang paling berat dulu hingga akhirnya yang paling ringan. Tujuannya? Cobalah pikirkan sendiri.

orang-orang perkasa yang menarik kami naik setinggi 60m

orang-orang perkasa yang menarik kami naik setinggi 60 m

Oh ya, di tempat itu juga tersedia kamar mandi jika kalian ingin membersihkan diri. Atau, jika ingin lanjut main2 air, terdapat Kali Suci (mirip2 wisata Gua Pindul) yang tidak jauh dari situ.

**
Perjalanan kami selanjutnya pun diteruskan ke Candi Ratu Boko (dekat2 Prambanan) melihat matahari terbenam.

matahari terbenam di Candi Ratu Boko

matahari terbenam di Candi Ratu Boko

Oh ya, jika kebetulan kalian membawa gopro dan tongsisnya, kalian boleh coba naik ke semacam punden berundak di daerah tempat banyak orang2 ngumpul dan mengambil foto. Lebih bagusnya lagi, jika latar belakang kalian adalah matahari tenggelam. Sayangnya hal ini baru kami sadari saat telah meninggalkan tempat itu.

gopro dan tongsis _ salah latar..

gopro dan tongsis _ salah latar sih tapi..

**

Matahari telah tenggelam dan kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan untuk menonton Sendra Tari Ramayana.

Ada empat kelas kategori tiket (tiga sih untuk umum soalnya yang satu lagi untuk pelajar dan harus rombongan) yang dijual dan kami memilih yang paling murah seharga 100 ribu rupiah per orangnya. Biaya tambahan lain yang akan dikenakan adalah jika kalian ingin mengambil gambar pertunjukan itu. Untuk satu kameranya dikenakan biaya sebesar 5 ribu rupiah, yaaa, walaupun tidak pernah diperiksa juga sih kupon kamera ini.

Melihat tingginya animo turis menonton pertunjukan ini, memiliki tiket menonton tidak menjamin kalian akan mendapatkan tempat duduk. Entah karena saat kita ke sana penonton lagi banyak2nya atau tidak, tapi yang pasti banyak orang tidak dapat tempat duduk (bahkan aku hampir saja tidak dapat) sehingga mereka terpaksa duduk di mana pun yang mereka bisa duduk (baca: tangga antar lantai tempat duduk)..

Namun, secara keseluruhan, jika kalian berkunjung ke daerah Prambanan, sempatkanlah untuk menonton pertunjukan ini..

Sendra Tari Ramayana @Prambanan

Sendra Tari Ramayana @Prambanan

Sendra Tari Ramayana (2) @Prambanan

Sendra Tari Ramayana (2) @Prambanan

*

Kami hanya menonton sesi pertama dari pertunjukan tersebut sebab beberapa dari kami sepertinya sudah mengantuk dan kami belum mendapatkan hotel tempat menginap malam itu. Akhirnya, setelah telepon sana sini, kami berhasil mendapatkan satu kamar (Family Room) di hotel tempat semalam teman kami Deri menginap. Harga yang dikenakan untuk malam minggu itu adalah sebesar 400 ribu.

**

Akibat kelelahan kurang tidur di kereta malam sebelumnya ditambah lagi capek dengan aktivitas seharian kemarin, saat bangun tidur pagi itu kami malas-malasan. Karenanya, kami baru meninggalkan hotel sekitar jam setengah 8 pagian menuju daerah Gunung Merapi untuk ‘jeep touring’.

Jalan menuju Gunung Merapi tempat banyaknya tour agent menyediakan ‘jeep tour’ Merapi cukup mudah dicari. Sebagai acuan, ini adalah koordinat tour Merapi yang kami ambil : 7 derajat 35′ 26″ S & 110 derajat 26′ 33″ E.

Dikarenakan kami ada berenam, maka lima orang dari kami naik jeep dan satu orang lagi naik motor. Dan bila kau bisa bawa motor, pilihlah motor sebab pengalamannya benar-benar luar biasa.

tugu di museum letusan Gunung Merapi

tugu di museum letusan Gunung Merapi

foto 'prewed' di jeep :)

foto ‘prewed’ di jeep🙂

narsis sebelum pulang di jembatan kuning

narsis sebelum pulang di jembatan kuning

**

Tidak lengkap rasanya ke Yogyakarta bila tidak membawa oleh2 Bakpia. Dan karenanya kami pun mampir sebentar ke Mirota Batik dan membeli Bakpia Raminten.

patung selamat datang di Mirota Batik

patung selamat datang di Mirota Batik

**

untuk lebih lengkapnya, silahkan cek video di bawah ini🙂

***

atampubolon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: