Watergius's Journal

The world as I see it

Semakin canggihnya penipuan – undian berhadiah ?

Kamis, 14 Mei 2015

***

Ada puluhan SMS mungkin yang telah masuk ke nomor Indosatku mengabarkan kalau aku menang undian ini dan itu. Wajar, nomor itu telah kugunakan sejak tahun 2008. Bahkan nomor yang baru dibeli saja bisa menerima SMS yang tidak jelas isi dan pengirimnya. Namun, hampir 99% SMS menang undian tersebut dikirimkan dari nomor telepon gengam pribadi, sehingga tentu saja mudah ditebak kalau itu penipuan. Kenapa 99%? Karena hari ini ada 1%-nya yang hampir membuatku tertipu.

*

SMS itu masuknya tadi siang sekitar pukul 2 siang. Namun baru kubaca sore ini sebab aku memang malas membaca pesan2 yang masuk dari pengirim ini. Isinya hampir selalu sama dan bisa ditebak : masa aktif, promo, dan bonus. Iya, pengirim itu adalah INDOSAT.

IMG_2661

SMS dari Indosat

Setelah dibuka, pesan yang disampaikan adalah sebagai berikut:

pengumuman yang sepertinya absah

pengumuman yang sepertinya absah

Awalnya aku sudah curiga kenapa laman yang dicantumkan di dalam SMS bukan indosat.com, tapi tetap saja aku masuk ke laman itu. Lalu, nomor yang diminta untuk dihubungi berbeda dengan nomor resmi Indosat yang ada di laman mereka, namun tetap saja aku menghubungi nomor itu.

Yang menjawab adalah seorang mas2. Orangnya kurang ramah dan bicaranya kurang jelas, namun prosedur seorang customer service dia melakukannya dengan benar. Hanya saja ada dia melakukan kesalahan cukup fatal yang membuatku meminta untuk memutuskan telepon sebentar dan akan menghubungi dia lagi.

Waktu sebentar yang kuminta ini memberiku kesempatan untuk memeriksa beberapa hal lagi termasuk menghubungi temanku yang bekerja di Indosat. Dan temanku itu langsung berkata itu jelas-jelas adalah PENIPUAN. Namun, kenapa masking-nya (nama pengirimnya bisa INDOSAT), dia juga tidak tahu.

Karena itu, berhati-hatilah dengan SMS undian berhadiah walaupun pengirimnya adalah penyedia jaringan itu sendiri. Ceklah benar-benar informasi yang disampaikan dan pelajari hal-hal detailnya apakah ada yang tidak masuk akal/mencurigakan.

**

Beberapa hal yang menurutku mencurigakan dari SMS Undian yang aku terima ini:

1. Tampilan laman yang kurang profesional untuk perusahaan sekelas Indosat.

laman yang kurang profesional

laman yang kurang profesional

2. Di bagian pengambilan hadiah poin nomor 6 dikatakan sebagai berikut:

Setelah pelaporan NO.PIN Pemenang,batas pengambilan Hadiah berlaku selama 2 hari.

PIN itu seharusnya unik dan hanya diketahui oleh pemenang. Namun, bila dilihat gambar laman di atas, PIN tersebut dituliskan juga di gambar masing2 hadiah. Apa gunanya PIN kalau begitu?

3. Di bagian pengambilan hadiah poin nomor 5 dikatakan sebagai berikut:

Pemenang wajib melaporkan biodata dan identitas lengkap sesuai Data KTP/SIM untuk pendaftaran dan pengurusan Hadiah

Namun tadi saat menelepon, mas2 itu tidak memeriksa identitasku secara lengkap. Dia hanya menanyakan nama, mengucapkan selamat, dan langsung menodong membacakan nomor rekening Bank.

4. Penasaran dengan laman infoindosat.net, aku pun mengecek identitas laman tersebut dan memperoleh informasi sebagi berikut:

siapa pemilik infoindosat.net

siapa pemilik infoindosat.net

Ternyata laman tersebut dibuat oleh CV.JOGJACAMP. Bila ditelusuri di google, CV ini benar adanya dan memang bergerak di bidang domain dan hosting. Namun, siapa klien mereka yang membeli domain ini, itu lain hal yang akan butuh sumber daya lebih untuk bisa ditelusuri.

***

atampubolon

Advertisements

gedung, film, dan menunggu

Sabtu, 9 Mei 2015

***

Gedung itu sangat dingin. Aku pun memilih untuk keluar sebentar. Lagipula, kelasku baru akan dimulai setengah jam lagi dan di ruang tunggu gedung ini tidak ada lagi kursi kosong untuk ditempati.

Kududuk di tempat duduk batu, sengaja di bagian pinggir. Tak lama, seorang wanita keluar dari dalam gedung dan duduk di dekatku. Dia mengeluarkan rokok, mencari koreknya sebentar di antara tumpukan barang-barang dalam tas punggungnya, dan mulai merokok. Ternyata di dekat tempat duduk itu ada tempat sampah dari logam yang bagian atasnya di desain mirip asbak. Kayaknya aku duduk di tempat yang salah, pikirku.

Seorang wanita yang lain pun keluar dari dalam gedung dan berjalan ke arahku. Melihat kemungkinan bagi dia untuk masih dapat duduk di antara kami, dia pun duduk di situ, setelah bertanya tentunya.

Butuh beberapa menit untuk kami duduk di dalam keheningan sampai aku bertanya tentang film apa yang baru saja ditonton. Saat itu memang sedang ada pemutaran film di IFI Thamrin sebagai rangkaian dari Europe on Screen 2015. “Film Hungaria”, jawabnya. Dan kita diam-diaman lagi.

“Gimana filmnya?” keluar pertanyaan kedua dariku, dan itulah pertanyaan kunci yang memulai serangkaian percakapan malam itu.

Hanna, wanita yang duduk tepat di sebelahku, mulai menjelaskan tentang filmnya yang memiliki genre komedi romantis.Tentang bagaimana penonton dibawa ke sana ke sini, hingga tiba-tiba filmnya berakhir begitu saja. Tanpa ada akhir yang jelas.

“Mirip film Jerman dong,” respon yang keluar dari mulutku. Sudah sebulan ini, sejak mengambil les intensif bahasa Jerman, aku meminjam 2 DVD tiap minggu dari Goethe dan menontonya. Dan hampir semua film-film Jerman yang telah kutonton mempunyai akhir cerita yang “tidak selesai”. Tak jarang aku berkata “Apa???” saat film-film itu tiba2 berakhir.

Wanita yang satu lagi, Tazia, pun ikut menimpali. Dan dimulailah percakapan diantara tiga orang yang baru kenal saat itu.

Mereka berdua adalah penikmat film, namun tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang aku kenal. Bukan film-film yang ditayangkan di Cinema 21 yang mereka cari, melainkan film-film yang diputar di teater alternatif (mengutip istilah yang digunakan Tazia). Dan salah satu tempat untuk menyaksikan ini adalah di Kineforum, khususnya untuk film-film Indonesia. Acara Europe on Screen 2015 di IFI ini juga merupakan salah satu teater alternatif, namun sayangnya hanya selama beberapa minggu dalam setahun.

Percakapan saat itu berkembang dari perfilman Indonesia ke foto selfie bahkan ke topik-topik lainnya. Dan oh ya, ternyata kantornya Tazia dan kantornya Hanna memiliki hubungan dan Hanna sedang ditugaskan untuk menuliskan laporan untuk diserahkan kepada orang dari kantor Tazia. Hanya saja, Hanna kurang paham tentang kantor itu dan tidak kenal orang2nya. Namun kini, Hanna lebih dari sekedar tahu informasi tentang kantor itu, dia kenal seseorang di kantor itu yang memiliki minat sama dengan dia.

**

Janganlah segan untuk memulai pembicaraan. Jika benefitnya bukan untukmu secara langsung, mungkin buat orang lain yang sedang berada di dekatmu. Mengobrol saat menunggu terkadang jauh lebih menyenangkan daripada menatap layar kecil berukuran beberapa inchi.

***
atampubolon

Menambah nama di paspor

Sabtu, 2 Mei 2015

***

Ada dua jenis penambahan nama di paspor : penambahan nama di halaman 4 (dikenal dengan nama endorsement) dan penambahan nama di halaman identitas (halaman 1) yang disertai dengan penggantian paspor.

*

Bulan Desember 2014 ,saat sedang pulang kampung, aku mengunjungi kantor imigrasi kota kelahiranku. Tujuanku adalah untuk memperpanjang paspor (bulan Desember itu masa berlakunya masih sekitar 1 tahun 2 bulan) sekaligus memperbaiki namaku di paspor (nama belakangku tidak dituliskan di paspor). Untuk perpanjangan paspor aku mendapatkan penolakan sebab penggantian hanya bisa dilakukan bila masa berlaku tinggal 6 bulan lagi atau kurang, menurut penuturan petugas imigrasi. Kenapa? Aku tidak tahu! Sementara untuk penambahan nama mereka dapat memprosesnya yakni dalam bentuk endorsement (catatan pengesahan).

*

Awal April 2015, masa berlaku pasporku tinggal 10 bulan lagi. Aku pun memutuskan untuk melakukan perpanjangan paspor sekaligus memperbaiki namaku di halaman identitas. Kali ini Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Selatan-lah yang kudatangi.

Saat meminta formulir isian, petugasnya sempat menolak dengan alasan yang sama yakni masa aktifnya masih lebih dari 6 bulan. Setelah kujelaskan keperluanku kenapa harus memperpanjang saat ini, petugasnya pun menyerahkan formulir isian dan menyuruhku menunggu nomor antrian BAP (Berita Acara Perkara). Jadi ternyata, untuk segala macam urusan selain pembuatan paspor baru dan penggantian paspor lama, loket yang harus didatangi adalah loket BAP. Bersamaku saat itu ada seorang Ibu yang paspornya terbakar dan seorang Mbak yang paspornya sepertinya habis terendam air.

Aku mendapatkan nomor antrian pertama untuk BAP (pagi itu aku datang jam 6). Loket dibuka dan aku pun berjalan menujunya. Setelah dipersilahkan duduk dan ditanya apa yang bisa dibantu, aku pun menjelaskan kalau aku ingin menambah nama belakangku di paspor sekaligus memperpanjang paspor saat ini.

Petugas itu meminta pasporku. Membuka halaman 1 dan segera bertanya “Dulu buatnya di Bandung ya?”

“Iya Pak,” jawabku.

“Kalau buat paspornya di Bandung penambahan namanya juga harus di Bandung Pak. Data-datanya ada di mereka semua soalnya.”

“Tapi kan sudah online Pak?”

” Iya, tapi masing-masing kantor ada SISTEM KEAMANAN-nya sehingga tidak memungkinkan mengambil data tersebut.”

Sial. Masa harus bolak-balik Jakarta-Bandung sih buat mengurus ini?

*

Aku meminta tolong seorang kenalan di Bandung untuk bertanya langsung tentang hal ini ke kantor imigrasi Bandung. Setelah bertanya, menurut informasi yang dia peroleh, penambahan nama bisa dilakukan di kantor imigrasi mana saja kok, tidak harus di tempat pertama kali paspor tersebut dibuat.

Berbekalkan informasi tadi, aku menelepon Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, tapi tidak ada jawaban. Kucoba lagi sampai beberapa kali, tapi tetap sama. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon nomor pengaduannya. Seorang Ibu menjawab dan kuceritakan kasusku. Ujung-ujungnya dia menyuruh ke Bandung saja terlepas dari penjelasan panjang lebar yang sudah aku sampaikan, bahkan tanpa berusaha untuk menghubungi atasannya.

Masih belum puas, aku pun menelepon ke Kantor Imigrasi Jakarta Pusat dan seorang Mbak2 menerima panggilanku. Yang kutelepon ini adalah nomor kantor mereka, bukan nomor pengaduan. Plus 1 buat Jakarta Pusat. Kepada si mbak itu kujelaskan kasusku dan dia menanggapinya dengan ramah dan responsif. Plus 2 buat Jakarta Pusat. Aku tahu dia tidak berada dalam posisi untuk membuat keputusan. Karena itu, dia pun mengatakan akan berkonsultasi dengan atasannya dulu dan akan menghubungiku lagi bila telah mendapatkan jawaban. Tak sampai sejam, mbak tadi meneleponku dan memberikan jawaban yang sama: aku harus ke Bandung. Namun, aku menghargai usahanya dan mungkin tidak ada jalan lain selain ke Bandung. Oh ya, Plus 3 untuk Jakarta Pusat.

Sore itu aku pun memutuskan untuk ke Bandung. Namun, sebelum berangkat, aku memutuskan untuk menuliskan surel berisi kronologi kasusku ke kantor imigrasi pusat dan mengirimkan tembusan ke kantor imigrasi jakarta selatan. Surel inilah yang akhirnya kemudian dibalas dalam bentuk surat resmi olah Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Pak Yudi K. Potongan isi suratnya dapat dilihat di bawah.

*

Keesokan harinya di Kantor Imigrasi Bandung, aku kembali mendatangi BAP (di lantai 2). Setelah menunggu antrian, aku pun dipanggil masuk dan menjelaskan kasusku. Mereka pun membongkar berkas/map pendaftaranku hampir 5 tahun yang lalu dan memeriksa serta mencocokkannya dengan dokumen2 yang kubawa. Oh ya, berhubung masa aktif pasporku masih lebih dari 6 bulan, aku pun diminta menuliskan surat pernyataan kepada kepala kantor imigrasi berisi alasan kenapa ingin melakukan perpanjangan paspor ini serta membubuhkan tanda tangan di atas materai.

Urusanku di kantor imigrasi Bandung pun selesai. Aku akan dikabari apakah permohonanku disetujui atau tidak. Dan bila iya, aku akan diminta datang lagi untuk berfoto dan pengambilan sidik jari (mirip perpanjangan paspor biasa).

Selang tiga hari telepon dari kantor imigrasi Bandung pun datang menyampaikan kalau permohonanku diterima. Aku pun diminta untuk datang kembali ke kantor itu untuk pengambilan foto dan sidik jari, yang baru bisa kulakukan minggu depannya.

Sejak adanya kuota harian pembuatan paspor, mau tak mau orang2 pun antri agar mendapatkan nomor. Untuk memastikan aku mendapatkan nomor awal, pukul 5 subuh aku telah nongkrong di luar gerbang Kantor Imigrasi Bandung. Bersamaku, hanya ada seorang lagi yang datang 10 menit lebih awal dariku.

Mendapatkan nomor antrian awal (nomor 4), pukul 9 kurang aku telah selesai foto dan diambil sidik jarinya. Namun, karena data-dataku harus diperiksa oleh kantor imigrasi jakarta pusat terlebih dahulu, resi pembayaran pasporku belum bisa dicetak sebab status pasporku masih menunggu verifikasi. Aku pun diminta datang seminggu lagi untuk mengambil resi lalu melakukan pembayaran lewat bank BNI. Setelah bayar, barulah datang lagi sekitar tiga hari berikutnya untuk mengambil paspor. Jadi, secara total akan ada empat kali aku harus bolak balik Jakarta-Bandung. Seribet itukah???

Untunglah untuk pengambilan resi bisa diwakilkan, termasuk pembayarannya. Dan untuk pengambilan paspor pun bisa diwakilkan dengan menggunakan surat kuasa.

*

Kini, paspor baruku telah ditanganku dan aku telah mendapatkan kembali nama belakangku yang sempat hilang selama hampir lima tahun ini.

**

Berikut adalah potongan surat dari Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Selatan:

 

keterangan penambahan nama

keterangan penambahan nama

***

atampubolon

Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar?

Rabu, 29 April 2015

***

Aku lahir di awal tahun 90-an dan aku pikir itu membuatku menjadi generasi 90-an, salah satu generasi yang merasakan perubahan teknologi yang sangat cepat. Aku masih ingat betapa dulu kaset adalah sesuatu yang lazim ditemui dan CD atau VCD adalah hal baru yang sepertinya hanya dimiliki oleh segelintir orang. Betapa komputer adalah barang mewah dan rasanya mustahil untuk dimiliki. Betapa telepon genggam adalah kepunyaan orang kaya saja sebab harganya yang mahal untuk benda “sekecil” itu – pada saat itu tentunya.

Lalu di awal tahun 2000-an komputer pribadi mulai dikenal orang-orang dan semakin lama harganya semakin terjangkau. Teknologi komputer berkembang dan demikian jugalah interkoneksi diantaranya. Internet mulai dikenal orang dan infrastrukturnya perlahan-lahan dibangun. Orang-orang pun mulai kenal dan menggunakannya. Namun saat itu kemajuannya masih lambat dan tidak banyak orang yang terlalu peduli tentangnya. Tidak banyak yang peduli jika waktu yang dibutuhkan untuk membuka suatu laman jaringan adalah beberapa detik atau satu menit ataupun beberapa menit, selama itu terbuka.

Tahun demi tahun di tahun 2000 pun bertambah. Kini teknologi berkembang sangat pesat, tak terkecuali internet. Saat ini kecepatan akses internet menjadi salah satu hal yang penting dan bahkan diberikan rangkingnya untuk negara-negara dengan koneksi internet tercepat. Semakin cepat akses internet, semakin mudah dan cepatlah kita mendapatkan informasi dari manapun yang kita mau. Dan terkadang akses internet ini secara tidak langsung berhubungan dengan tingkat kemajuan suatu negara.

Namun, tahukah kita bahwa tanpa kita sadari, dengan semua perkembangan ini, penggunaan bahasa Indonesia kita juga terpengaruh. Berhubung karena perkembangan teknologi itu asalnya dari barat, maka banyak istilah-istilah dalam bahasa Inggris yang mau tak mau harus kita pakai langsung sebab tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kita menuliskan kata-kata ini dalam huruf miring sebab begitulah kita diajarkan. Bila kata-kata itu sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia, maka tak perlu lagilah kita menuliskannya miring sebab kata itu telah menjadi kosakata kita. Namun ahli bahasa kita bukannya tak menyadari hal ini. Istilah-istilah dalam bahasa Inggris tadi pun mulai dibuat padanannya dalam bahasa Indonesia sehingga kata-kata inilah yang seharusnya kita gunakan.

Menuliskan email jauh lebih sering kita gunakan daripada surel atau download dibandingkan unduh. Tak hanya itu, rasanya saat ini bahkan kata-kata yang bahasa Indonesianya memang ada sedari dulu, cukup sering juga kita menggunakan bahasa Inggrisnya hanya karena kata-kata bahasa Inggris itu lebih sering kita dengar atau baca dan terkadang kita perlu mikir untuk menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Seberapa seringkah Anda menggunakan kata-kata meeting dan bukannya rapat, weekend dan bukannya akhir pekan, share dan bukannya dibagikan, serta banyak lagi kata-kata lainnya? Aku? Dulu sering, bahkan tanpa sadar. Kini aku #BeraniLebih membutuhkan lebih banyak waktu untuk menemukan padanan sebuah kata dalam bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa “campur-campur”.

#BeraniLebih!

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek di Blog #BeraniLebih bersama Light of Women. (http://www.meetup.com/lightofwomen/messages/boards/thread/48861990)

Fb        : Agus Praditya Tampubolon

Twitter : watergius

tidak pernah ngecek lagi struk belanjaan?

Senin, 30 Maret 2015

***

Sudah menjadi ritualku untuk belanja mingguan tiap hari Senin. Bukan Minggu, bukan pula Selasa. Dan sudah menjadi kebiasaan pula untuk melakukan ‘belanja mingguan ini’ di salah satu supermarket besar di sebuah pusat perbelanjaan yang kebetulan dekat kosanku. Bisa tinggal jalan soalnya.

*

Sabun cair yang biasa kugunakan sudah hampir habis sehingga begitu masuk di supermarket, hal itulah yang pertama kucari. Selain tentunya tulisan besar yang menyebutkan salah satu merek sabun cair ini “DISKON BESAR”.. dengan latar kertas kuning yang membuatnya lebih mencolok lagi. Kulihat harga awalnya dan menjadi berapa harganya setelah diskon. Setelah membandingkan dengan beberapa sabun cair lainnya, baik yang diskon maupun tidak, akhirnya kuputuskan mengambil sabun cair Dettol 450 ml. Harga sebelum diskon 27.990 dan setelah diskon menjadi 19.890. Lumayan kan diskon 8.100.

Lalu sabun itu pun kumasukkan ke dalam keranjang belanjaan dan melanjutkan dengan belanja barang lainnya….

*

Satu per satu barcode barang belanjaanku di-scan mbak yang menjaga kasir dan segera kumasukkan ke tas punggungku. Ke tas? iya. Aku tidak ingin menggunakan terlalu banyak kantong plastik. Lagipula, di kosanku sudah ada cukup banyak kantong plastik.

Total belanjaan pun disebutkan si Mbak itu. Aku membayar dan struk pembayaran pun keluar dari mesin kasir yang kemudian berpindah ke tanganku. Kubaca satu per satu barang belanjaan itu dan biasanya aku menjumlahkan juga kisaran totalnya untuk melihat apakah sesuai dengan yang kuperkirakan. Biasanya sih baik2 saja dan tidak ada yang salah. Cuma tadi, mataku terpaku di satu baris barang belanjaan yang angkanya tidak benar.

Diskon Dettol tidak dimasukkan

Diskon Dettol tidak dimasukkan

Potongan harga Dettol belum dimasukkan, atau dengan kata lain potongan harga yang terpajang di stand Dettol itu belum dimasukkan ke dalam sistem kasir supermarket. Mengetahui hal ini, aku pun segera melapor ke kasir lain yang sepertinya lebih senior. Setelah mengecek sana sini, akhirnya mereka mengembalikan duitku… 8.100.

Kalau ini memang karena data belum dimasukkan ke sistem, bisa2 semua orang yang beli itu Dettol ngerasa mereka mendapatkan harga diskon, padahal mereka tetap membayar dengan harga yang sama. Mungkin… Tapi ntahlah. Semoga mereka juga rajin mengecek struk belanjaannya seperti aku.

***

atampubolon

 

die Regeln für sie

ein Tag im Februar

***

Wann du wolltest heiraten, wirst du Regeln für sie machen? ja? nein?

Mein Lehrer hat uns seine Regeln gesagt und ich interessiere mich für eine Regel. Er sagte nach seine Frau: “Wann wir heiraten, du musst meine Mutter ein mal pro Monat telefonieren”

Ich denke, das ist eine gute Regel. Wenn ein Mann verheiratet, manchmal vergisst er seine Mutter. Die Mutter kann dann denken, dass die Frau die Situationen verursachen. Und das ist schlecht. So, diese Idee ist sehr gut, denke ich. Außerdem, dieser Aufforderung nicht so kompliziert.

***

atampubolon

 

uang baru dari ATM, iyakah?

Senin, 2 Februari 2015

***
Pagi itu, di sebuah ATM dalam sebuah gedung perkantoran mewah dan bersebelahan pula dengan bank si empunya mesin, aku menarik sejumlah duit dalam pecahan ratusan ribu. Setelah duitnya keluar, langsung kuambil dan masukkan ke dompet. Tak pernah kuhitung sebab kalaupun kurang, apakah yang bisa kita lakukan. Tak ada. Karenanya buat apa melakukannya.

Sore harinya, duit itu kupakai untuk membayar keperluanku. Saat duit itu diterima oleh kasir dan dihitung secara manual, tiba2 orang itu bertanya apakah aku punya duit yang lain atau tidak? Ternyata ada dua pecahan seratus ribu yang kuserahkan kondisinya sangat memprihatinkan.

Yang satu ilustrasinya seperti gambar di bawah ini (bayangkanlah duit seratus ribu dalam kondisi seperti ini)

ilustrasi uang 100 ribu jelekku – lebih jelek dari ini sebenarnya, dengan isolasi transparan setengah bagian

Dan yang satu lagi, bagian tepinya tidak sobek2 seperti yang pertama, namun duitnya sudah terbagi dua dan disambungkan kembali pakai isolasi transparan. Hanya saja, ada bagian tengah duit itu yang hilang sehingga walaupun sudah disambungkan, ada kelihatan ruang kosong di tengah2nya.

Ternyata duit dari ATM tidak selalu baru dan bagus. Aku baru saja belajar tentang hal itu. Awalnya aku kepikiran ingin mengajukan protes ke bank yang bersangkutan dan meminta tukar dua lembar ratusan ribuku yang kondisinya memprihatinkan itu. Namun, karena bukti penarikan ATM tidak kucetak, maka niatan itu kuurungkan sebab aku berpikir itu tidak akan bisa dilakukan. Tapi ternyata kemudian kata teman2ku hal itu bisa dilakukan, walaupun tidak punya bukti penarikan. Bahkan, sekalipun beda antara ATiM dan banknya, bank punya kewajiban untuk menukar duit yang dimiliki oleh nasabah. Mungkin lain kali hal ini bisa dicoba.

Intinya, duit dari ATM itu tidak selalu baru. Periksalah!

***

APT.

 

 

 

Jakarta Stadtrundfahrt

Samstag, 24. Januar 2015

***

Heute traf ich mit meiner Freundin, Mona. Sie brachte ihre Freundin,  Mie. Dann, sind wir für die Stadtrundfahrt gegangen.

Erste, sind wir nach Glodok gegangen. Mona wollte einen Schrein zu sehen.

Kerzen in den Schrein

Kerzen in den Schrein

in den Schrein (1)

in den Schrein (1)

in den Schrein (2)

in den Schrein (2)

eine Wanduhr in den Schrein

eine Wanduhr in den Schrein

Wenn Sie diesen Ort gehen möchten, können Sie Transjakarta benutzen und stoppen Sie bei Glodok Busbahnhof. Dann können Sie “Vihara/Klenteng Petak Sembilan” bis Menschen fragen.

Wir haben 1,5 Stunden bei diese Vihara verbracht.

**

Dann haben wir nach “Kota Tua Jakarta” gegangen. Danach, gingen wir nach Nautischmuseum in Sunda Kelapa Port.

Anzeige im Museum

Anzeige im Museum

Zustand vor dem Museum

Zustand vor dem Museum

**

Das war alles Stadtrundfahrt  für mich, aber sind Mona und Mie nach dem Sunda Kelapa Port gegangen. Sie hatten eine gute Zeit dort.

***

APT